
Dinding tebing menjulang tinggi ratusan kaki, mengelilingi tepian sungai besar di depan Taja. Tak berhenti pandangannya pada pesona alam, takjub, heran, sekaligus aneh berbaur dalam pikirannya.
“Tulisan apa itu?” gumam Taja sendirian ketika pandangan matanya tertuju pada tebing membentang di seberang sungai.
JURUS RAHASIA.
Itulah tulisan yang terpahat di sana. Terbersit dalam pikirannya rasa aneh semakin menjadi-jadi, “Siapa yang bisa memahat tulisan di tebing setinggi itu? Jika ada orang yang bisa melakukannya, pasti butuh alat pahat sebesar 3 kali ukuran pedang … pasti orang berilmu tinggi …,” simpul dia.
TATAP AKU.
MALAM MEMBERIMU PETUNJUK.
Begitulah tulisan kedua yang dibacanya, “Apa maksudnya?” tanya dia tertegun.
Angin menyibak rambut anak itu seiring suara kicauan burung-burung membahana tertiup angin. Sunyi, tidak ada orang lain selain dirinya di tempat itu. Berkali-kali dia berusaha mencari jawaban atas teka-teki tulisan itu.
“Apa-apaan ini?” hampir dia menyerah, kalau saja tidak ingat pesan gendra yang menyuruhnya sampai ke tempat itu. namun lama-kelamaan Taja merasa jenuh, gusar karena tulisan-tulisan misterius itu. beberapa jam dia menatap ke arah sana, tetapi masih juga tidak ada tanda-tanda keajaiban yang muncul. Manakala lapar dan haus menggelitik dan mendorong tubuhnya.
Byur!!!
Taja menceburkan diri ke dalam sungai, bermain-main lama di dalamnya, mencari buah-buahan air, lalu menghabiskan sisa siang di tepi sungai sambil sesekali menengok ke tebing itu lagi.
“Huh!” dia mulai kesal, sampai sore begini tidak ada petunjuk apapun selain tebing dan sungai yang bisu.
“Apa maksudnya?” gumam dia ke sekian kalinya sambil merebahkan diri di dahan sebuah pohon. Angannya menerawang ke segala waktu, mulai kenangan bersama ibunya hingga bayangan liontin yang membuatnya terlibat jauh ke negeri manusia.
__ADS_1
“Siapa aku? siapa ayahku?” bisik Taja lirih pada angin yang berhembus. Kedua bola matanya menatap dalam-dalam liontin yang terikat kalut di lehernya. Rasanya seperti belenggu, bahkan dia pun tidak bisa melepasnya, kecuali dengan mantera Shachini. Liontin itulah satu-satunya petunjuk tentang jati diri dan masa lalu ibunya. Bisa saja dia memutuskan untuk kembali ke Gunggali, melanjutkan kehidupan di sana yang serba nikmat, jauh dari pandangan manusia yang lebih mengerikan daripada serigala-serigala hutan, lebih jahat dari yang pernah dia kira, lebih tidak berhati. Tapi kalaupun dia hidup di Gunggali, pikiran dan hatinya terdorong untuk melakukan sesuatu, yakni mencari tahu tentang siapa dirinya yang sebenarnya. Dan lebih dari itu, seperti ada kekuatan lain entah darimana membuatnya sangat antusias pergi ke negeri manusia hingga hari ini. Mengapa? Ketika hatinya bertanya seperti itu, dirinya pun tidak pernah tahu jawabannya.
“Apa yang membuatmu merasa bahagia, Taja?” sebuah suara lembut datang terduga, merasuk ke telinganya, sangat dekat, bahkan terasa aroma tubuhnya yang harum dan sejuk bunga Shachini. Itu sudah lama tidak dia rasakan semenjak meninggalkan Gunggali. Sosok tidak asing lagi baginya, memancarkan sinar keperakan, berpendar ke segala arah. Shachini, Sang Ratu Peri yang sangat cantik.
Taja membalas tatapan mata Shachini yang elok, kelopak matanya sangat indah, rambut bergelombang keemasan terurai panjang menutupi gaun belakang putih keperakan.
“Shachini ...,” seakan tidak percaya Sang Ratu menemuinya.
“Aku bisa melihatmu sangat tertekan … tapi inilah jalan yang kamu pilih. Jangan menyesal …,” Ratu Shachini tersenyum.
“Aku hanya ingin tahu siapa ayahku dan mengapa kami harus terpisah seperti ini?” lanjut Taja.
“Kamu adalah bangsa kami, apa lagi yang engkau risaukan?” tanya Shachini sambil menyentuh tangan Taja yang menggenggam liontin.
“Ibuku, mengapa dia harus meninggal seperti itu? Apakah benar ayah yang melakukannya seperti yang mereka katakan? Mengapa ayahku?”
“Shachini , Jangan pergi!” Taja terjaga dengan nafas memburu. Angin malam menyibak rambut di keningnya dan ternyata itu yang telah membuatnya terbangun. Hanya hembusan angin malam, bukan nafas Shachini . Rupanya dia baru saja bermimpi tentang dia.
Taja menghela nafas, cukup tertekan selama mengenal dunia manusia, itu membuat dia tiba-tiba merasa rindu akan dunia yang menjadi separuh kodratnya.
“Huh!” dia menghela nafas panjang ke sekian kali, baru tersadar bahwa hari telah gelap. Cahaya bulan purnama merasuk ke sela-sela rerimbunan daun, menimpa wajahnya. Sementara api unggun di tepi sungai yang dibuatnya tadi sore perlahan-lahan meredup.
Kali ini pandangan Taja beralih ke tebing seberang sungai lagi, di bawah cahaya purnama tampak sesuatu dari tulisan-tulisan di sana. Perlahan-lahan, tulisan-tulisan itu menyala seperti bara api karena pantulan cahaya bulan dan semakin lama semakin banyak bermunculan yang lainnya hingga memadati hampir seluruh permukaan tebing.
Gerakkan lenganmu secepat angin
__ADS_1
Satukan alam ke dalam dirimu
Hempaskan ke satu titik
Gerakan pedang berputar
Pusatkan pikiran pada kekuatan alam
Hempaskan ke satu titik
jadikan gerakan pedang seperti topan
Satukan pedangmu dengan alam
Pusatkan jiwamu pada angin
Hempaskan ke satu titik
“Oh, aku tahu sekarang.” akhirnya Taja mengerti maksud tulisan-tulisan itu.
Taja segera menyalakan api anggun lagi, lalu konsentrasi menghadap arah tebing, dan menatap dalam-dalam tulisan-tulisan membara di sana. Kemudian mengangkat sebilah ranting, mengambil sikap kuda-kuda yang tepat.
“Gerakkan lengan dan pedangmu bersatu dengan angin!” aba-aba gaib mengulang tulisan pertama.
Hup! Hup! Hup!
__ADS_1
Gerakan pertama cukup membuat jantungnya berdegup lebih kencang.
...* * *...