The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)

The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)
4.10. Seseorang Terhanyut


__ADS_3

”Jika suatu saat aku tidak mengenali dirimu bahkan terhadap diriku sendiri, maka kau jangan terkejut. Jika terjadi sesuatu yang buruk padaku, maka kalianlah yang akan melanjutkan misi ini ... demi Gunggali. Berjanjilah untuk itu ...,” pinta Taja lirih.


”Maka dari itu, kita harus pergi dari Tanapura, karena tempat ini terlalu lama menjerat kita!” Lorr En kembali bersemangat.


”Ya, kita harus pergi, menjauh dari Tanapura,” Taja mengiyakan, ”Tetapi tidak sekarang, karena kita masih ada urusan di Tanapura,” kata Taja dan diprotes Lorr En.


"Kita tinggalkan saja Tanapura. Untuk apa berlama-lama di tempat membahayakan kita.


”Kita tidak mungkin meninggalkan Tanapura begitu saja. Pikirkan bagaimana Ketua Sujinsha dan orang-orang di pihak kita. Mereka terancam resiko hukuman. Terlalu berat resiko yang akan ditanggung mereka karena kepergian kita. Padahal kamu tahu sendiri hukum Tanapura, sedikit-sedikit eksekusi, sedikit-sedikit pengusiran. Tidak akan kubiarkan Paduka Raghapati menghukumnya karena menganggap kita kabur dengan sengaja. Kita adalah sahabat, dan sahabat tidak akan meninggalkan sahabatnya,” Taja mengingatkan Lorr En.


”Begini saja, tunggulah aku di sini. Sementara Aku akan menemui Ketua Sujinsha diam-diam datang. Lalu setelah aku kembai ke sini, kita pergi. Bagaimana?” Lorr En mengajukan usul Tidak lama Taja memikirkannya dan memberi jawaban.


”Menunggu? Sementara ... banyak mahkluk aneh di belakangku masih mengejar? Setelah kalian tiba di sini, mungkin aku sudah ...,” Taja tak melanjutkan kalimatnya.


”Lalu, harus bagaimana?” Lorr En kehabisan akal. Taja sejenak diam untuk mencari cara. Pandangan matanya menyisir sepintas hutan bambu di sekitarnya, mencari-cari celah aman menuju ke arah puncak menara yang tenggelam di antara pucuk-pucuk pohon-pohon.

__ADS_1


”Kita harus kembali ke Tanapura,” kata Taja akhirnya, jawaban tidak cukup memuaskan tetapi itulah pilihannya.


Tanpa terasa, sampai juga keduanya di pertigaan aliran sungai besar. Dari tempat mereka berada, masih tampak salah satu puncak menara tertinggi kerajaan, tenggelam di antara panorama hijau membiru. Seakan terjangkau dan dekat, namun sesungguhnya butuh waktu paling singkat lima hari berjalan kaki untuk sampai ke sana.


Sraaaak ...! Sraaak ...!


Sayup-sayup semakin jelas, terdengar suara seperti kicau serak gagak dari arah tidak pasti. Taja dan Lorr En memasang waspada karena itu pertanda situasi tidak aman.


”Lihat itu!” Lorr En spontan berteriak sambil menunjuk ke tengah sungai yang deras arusnya. Taja juga melihatnya ke arah yang ditunjuk Lorr En, ada sesosok terkatung-katung di permukaan air yang menghanyutkan semakin menuju jatuhnya air terjun curam ratusan kaki.


”Benar, seorang murid Tanapura!” Lorr En juga mengenali identitas yang sama.


”Hei, apa yang akan kaulakukan!” teriak Taja saat melihat Lorr En mendekat ke hilir sungai.


”Arusnya deras! Berhati-hatilah!” seru Taja lagi. Tanpa banyak bicara, Lorr En melompat ke sungai, tubuhnya hilang dalam riak air yang tenang. Sesaat saja, Lorr En kembali muncul di dekat sosok terapung itu, kemudian menariknya ke hilir.

__ADS_1


”Dia, Praja Kelas Naga!” seru Lorr En mendekat ke hilir. Taja menghampiri, terkejut tidak kepalang karena sesosok tak berkutik yang terhanyut itu tidak lain praja yang cukup dikenal di Tanapura.


”Raojhin?!” Taja terkejut. Tidak percaya kondisi tragis yang terjadi pada Raojhin. Terlihat luka memar di kepala dan tubuh Raojhin banyak tergores batu-batu cadas. Sebentar-sebentar ia memeriksa nafas dan detak jantung Raojhin, setelah itu baru agak lega, ”Syukurlah, dia masih hidup!”


”Ayo kita bawa ke bebatuan sana!” pinta Lorr En. Kebetulan melihat celah bebatuan cukup besar, tidak jauh dari tepian sungai untuk tempat persembunyian dan beristirahat di sana. Selama Taja mencari dedaunan obat untuk meringankan luka Raojhin. Lorr En iku mengumpulkan buah-buahan yang didapat dari sekitar. Menghabiskan setengah hari dengan membicarakan topik seputar Tanapura dan terdamparnya mereka hingga ke tempat ini, sambil menunggu Raojhin siuman.


Siang berlalu cepat, dan suasana gelapnya kabut kembali menggulung hutan di saat-saat bayang-bayang di bawah matahari sudah setinggi dua tombak. Raojhin akhirnya tersadar, bergerak-gerak dan merintih.


”Di mana aku ...?” ketika sepasang kelopak mata terbuka, Taja dan Lorr En sudah berada di dekatnya dan mengulas senyum di tengah-tengah situasi kurang tepat untuk cukup merasa bahagia.


”Kalian ...?” Raojhin terheran-heran melihat dua wajah yang sudah tidak asing lagi. Tidak habis pikir, sejak kapan ia bersama mereka dan berada di tempat sejauh Hutan Terlarang.


”Syukurlah kamu sudah sadar, Raojhin! Beruntung sekali, kami menemukanmu tepat waktu. Jika tidak, entah apa yang akan terjadi padamu jika sampai terjatuh ke air terjun sangat curam,” ujar Taja. Lorr En mengambil seputik bunga madu dan sebuah apel tidak cukup matang.


...* * *...

__ADS_1


__ADS_2