
"Di perpustakaan khusus tempat pelatihan, terdapat beberapa ilmu pedang," kata Raojhin.
“Siapa orang yang terus melihat kita sejak kita datang?“ Taja mengikuti telunjuk Raojhin mengarah pada seseorang yang duduk di kursi deretan depan ruangan dan belum berhenti memperhatikan sejak mereka masuk. Taja dan Raojhin mencuri pandang dari balik rak-rak.
“Dia, ayahnya Birrawa. Muka bengis. Sudahlah, jangan pedulikan dia! Sejak dulu dia memang orang yang aneh dan menyebalkan sama seperti anaknya,“ kata Raojhin berbisik.
Sesaat Taja memperhatikan gerak-gerik sang Jendral berseragam rapi yang sedang serius membaca buku-bukunya, sesekali gerak matanya mengawasi penuh curiga ke seluruh ruangan.
“Hei, ke sebelah sini!“ Raojhin menarik lengan Taja yang masih memperhatikan jendral itu. Mereka berbelok di blok deretan rak-rak lain.
Setelah sesaat mencari-cari buku, akhirnya Raojhin mendapatkan sebuah buku dari rak kayu paling besar dan tinggi. Ia meraihnya.
“Kamu tahu ini apa?“ Raojhin memperlihatkan buku itu dan ingin Taja menebak. Tetapi sayang, Taja hanya menggeleng.
“Ini kitab Senjata Rahasia Tanapura,“ jawab Raojhin.
“Bukankah itu kitab penting?“ tanya Taja.
“Ya, benar!” jawab Raojhin singkat.
“Apa penjaga tidak marah kalau tahu kita membacanya?“ tanya Taja lagi.
“Tentu tidak. Aku punya izin ini khusus dari Paduka, banyak yang bisa ‘kulakukan di dalam istana sesukaku, tetapi tidak semua murid beruntung mendapatkan benda ini,“ kata Raojhin menjelaskan sambil menunjukkan liontin itu sekali lagi dari sakunya.
“Sebenarnya apa itu?“ tanya Taja belum paham benar.
“Aku menjadi murid terbaik praja dalam 1 tahun dan menjuarai berbagai cabang pertandingan dalam kompetisi Jawata, bahkan aku mengalahkan rekor senior praja Tanapura. Karena itu Paduka menghadiahkan liontin emas ini untukku,“ jawab Raojhin.
“Wow, hebat!“ ujar Taja takjub.
“Sampai saat ini hanya ada 10 murid saja yang punya liontin ini. Aku salah satunya. Kamu datang bersamaku ke sini, maka kau juga dapat izin karena aku,” ujar Raojhin sedikit menjelaskan perihal liontin miliknya.
Mereka berdua masing-masing menyeret bangku, lalu duduk. Beberapa saat Raojhin membuka-buka kitab di pegangannya.
“Taja, salin kitab ini. Aku akan mencari kitab jurus pedang untukmu,” Raojhin beranjak dari kursinya dan menuju ke rak lain. Sementara Taja melakukan yang dikatakan Raojhin baru saja. Lalu dia kembali dengan dua buah kitab yang lebih tebal lagi.
"Menyalin?" Taja ragu.
__ADS_1
“Nah! Yang ini adalah kitab jurus pedang andalan Praja Muda,“ kata Raojhin dan menyodorkan kitab hijau itu.
“Kalau yang ini, kitab jurus Satria Tanapura selama 100 tahun terakhir,“ Lanjutnya sambil mengetuk-ketuk jari telunjuknya ke kitab yang kelihatan paling tebal di antara 3 kitab yang ada di hadapan mereka itu.
Taja hampir tak berkedip menatap kitab-kitab itu, “Wah, aku bisa mempelajari salah satunya untuk ujian nanti!“
“Cari yang termudah!“
“Kamu punya waktu 3 minggu 5 hari untuk mempelajarinya sebelum waktu ujian tiba,“ kata Raojhin mengingatkan.
“Lalu, kamu sendiri? Apa sudah punya jurus andalan untuk ujian nanti?“ tanya Taja sambil terus menyalin.
“Tentu sudah, tetapi itu rahasia … kamu pun tidak boleh tahu.”
“Kamu takut tersaingi olehku?” tebak Taja.
Raojhin tertawa mendengarnya, “Boleh saja kamu menjadi sainganku, tetapi bukan itu maksudku … aku hanya ingin membuat kejutan saat ujian nanti. Tidak ada yang boleh meniru jurus khas keluargaku.“
“Pasti salah jurus beladiri yang ada di kitab ini!“ tebak Taja dan berharap tebakannya tidak meleset. Tapi ternyata Raojhin menggeleng.
Lagi-lagi memuji, “Oh, keluargamu pasti orang-orang hebat,” lanjut Taja disambut tawa Raojhin yang lebih lantang dari sebelumnya hingga menarik perhatian banyak orang yang sedang berada di sana. Untuk beberapa saat, mereka sangat asyik bergurau dan membicarakan jurus-jurus hebat sampai-sampai tidak sadar kalau ada yang memperhatikan mereka berdua sejak tadi di sudut ruangan perpustakaan itu.
Senja menyelimuti langit di atas asrama belakang, sayup-sayup terdengar alunan kecapi seperti biasa pada waktu itu. Sementara sekeliling halaman asrama juga sepi dari murid-murid yang lalu-lalang.
Lainnya di teras-teras gelap asrama, sesosok bayang tengah melangkah menuju kamar 503. Sampai di depan kamar itu, sosok itu masuk mengejutkan anka-anak seisi kamar.
“Taja, dari mana saja kamu?“ tanya Lorr En, menghampiri Taja di dekat pintu. Dia tersenyum melihat sahabatnya itu kelihatan panik, “Aku mencarimu kemana-mana," lanjut Lorr En mulai curiga gelagat Taja aneh.
“Jangan senyum-senyum. Seharian akau panik dan bingung mencarimu, tetapi kau justru enak-enakan, dari mana saja?“ tanya Lorr En lagi.
“Jangan khawatir. aku baik saja-saja," jawab Taja
“Mengapa tidak mengajakku?” Lorr En protes.
“Tadi kau sedang makan di ruang belakang, jadi aku tinggal saja, lagipula aku harus sendiri menemui Raojhin,“ jawab Taja.
“Raojhin? Kamu menemui dia?!" Lorr En membuntuti Taja melangkah. Terakhir, dia menyandarkan diri di tepi ranjang Taja.
__ADS_1
“Dia murid yang baik dan sangat membantuku,” Taja mengeluarkan gulungan lontar salinan dari perpustakaan ilmu pedang.
“Apa yang kay dapat, Taja?“ tanya Yuangga, teman-teman lain yang sejak tadi hanya melihat tanpa arti, sekarang menoleh ke arah Taja di depan mejanya.
“Ini salinan kitab jurus pedang dan senjata rahasia!” jawaban Taja mengheningkan semua yang mendengar, sebagian dari mereka sangat merasa tidak yakin kalau Taja bisa mendapatkan salinan kitab itu.
“Dari mana kamu menyalinnya?“ tanya Kaning yang tampak paling heran.
“Perpustakaan ilmu pedang,“ jawab Taja.
“Gila! Kamu dapat izin dari mana?” tanya Rambiloto terbelalak.
“Bersama Raojhin aku dapat izin ke sana,” jawab Taja membuat semuanya jadi terbengong.
”Raojhin?!” hampir bersamaan mereka menyebut satu nama.
“Apa ini benar-benar salinan dari kitab yang asli?!“ kecuali Yuangga, masih tidak yakin sambil membolak-balik gulungan lontar. Yang lain mengikuti.
”Jurus-jurus pedang rahasia! Sayang sekali, tulisanmu berantakan, aku sulit membacanya.”
“Ha … ha … maaf. Kalian harap maklum kalau aku belum bisa menulis sebagus kalian karena baru dua bulan ini aku belajar membaca dan menulis dan berbahasa manusia, maksudku bahasa Tanapura. Tidak seperti kalian yang pernah belajar di Sekolah Rakyat," Taja tertawa lebar.
“Apa?!“ serempak teman-teman tim Kancil terkejut, lalu menatap satu sama lain dengan heran, “Apa maksudnya, dia berbahasa manusia? Bukankah dia juga manusia?” terdengar bisik-bisik di antara teman-temannya.
Lorr En langsung melotot ke arah Taja, memberi kode agar segera menyadari kalau barusan kelepasan bicara.
“Kemana saja kalian berdua selama ini?“ celetuk Yuangga heran, memandangi satu persatu antara Taja dan Lorr En.
“Sudah pernah aku mengatakan bahwa berasal dari hutan barat. Dan di sana, adalah tempat sangat jauh dari Jawata, tidak ada sekolah seperti di negeri kalian,” Taja mencoba berdalih untuk menghindari kecurigaan.
“Ya, benar! Kami memang tidak pernah belajar di Sekolah Rakyat seperti kalian. Sebelumnya kami tidak pernah menulis dan membaca bahasa Jawata,” timpal Lorr En meyakinkan.
Brukk ...!!!
Keempat temannya ambruk, sementara yang lain terbatuk-batuk karena terlalu kagetnya, kecuali Purwa tak berkutik dengan mulut menganga lebar.
...* * *...
__ADS_1