
Ghrroaaaar ...!
Geraman semakin keras, mendekat, dan terasa kehadiran makhluk-mahkluk menakutkan menuju keberadaan dua anak itu.
”Arroragh!” pekik Lorr En menyadari yang sedang terjadi, ”Mengapa bisa?” Ia heran melihat tatapan Taja yang mengartikan sesuatu.
”Maaf, aku menggunakan sihir membangkitkan api untuk menyelamatkan Lanting, ” ucapnya lirih.
”Apa? Celakalah kita! Pasti banyak Arroragus yang mencium keberadaan kita!” Lorr En mendadak lebih takut dari Taja, ”Ti ... dak ...,” karena terlalu takutnya ia sampai mukanya tegang.
Ghrooooar ...!
Dua anak itu saling merapat.
”Mereka ada di sekita kita, mungkin puluhan ...,” desis Taja. Lorr En bergidik mendengarnya.
Benar saja, dari kegelapan sudut-sudut ruangan yang luas itu, muncul dengan sekelebat mata, berkeliaran mengepung mereka. Dan salah satu sosok hitam berbulu yang terbesar, menatap tajam keduanya, sepasang mata merah, air liur kental mengalir dari moncongnya yang bertaring tajam.
”Waaaaa ...! ” Taja dan Lorr En berteriak serentak sebelum makhluk itu meloncat dan hampir menerkam mereka.
”Na-hem Nam Nohr!”
Suara tidak terlalu lantang terdengar, kehadiran seseorang menyibak kepungan puluhan makhluk-makhluk kelaparan itu. Di tangannya tergenggam secercah cahaya bulat, semakin membesar dan menyilaukan, membuat Arroragh kesakitan dan kabur dari sana.
Bulatan cahaya itu semakin membesar lagi hingga ukurannya hampir memenuhi. Bahkan Taja dan Lorr En sampai meringkuk dibuatnya silau. Sampai pada puncaknya, cahaya tersebut akhirnya pecah dengan menimbulkan bunyi seperti pecahan kaca dan ruangan kembali gelap. Meskipun tak gelap sebelumnya karena ada sebatang obor di tangan seseorang yang telah menolong mereka.
”Lorr!” seru Taja.
”Kau telah bertindak gegabah. Apa yang membuatku sampai nekad itu, pikirmu aku tidak tahu kalau beberapa saat lalu ada kuda jadi-jadian dari sihir membangkitkan api yang kau buat. Bukankah kita tahu jika tindakanmu bisa menarik makhluk Arroragh, hampir saja kalian menjadi mangsa,” khawatir Lorr En, berdiri di depan Taja.
”Maaf ...,” ujar Taja hanya mengucap kalimat sederhana.
Tidak lama dari mereka bertemu, puluhan pengawal berdatangan ke tempat itu. Masing-masing dari mereka membawa obor.
”Siapa kalian?” tanya seorang pengawal yang memiliki pengaruh besar di kelompoknya.
”Kami tersesat,” jawab Lorr En masih kebingungan.
”Hei, dia adalah pasien kami!” ada perawat yang berkata demikian saat mendapati Taja berada di antara mereka.
”Dia mencoba kemabli ke bangsal, tetapi tersesat di ruangan ini,” kata Shaninka memberi penjelasan meskipun pengawal itu agaknya terlihat kurang percaya.
”Tidak ada pecahan apapun, Tuan ...,” kata seorang bawahan di antara mereka yang sibuk mencari-cari jejak sesuatu.
”Apakah kalian mendengar suara pecahan kaca?” tanya pengawal itu lagi. Shaninka agak lama menjawab, ”Mungkin. Tetapi kami juga tidak tahu apa itu?”
”Segera keluar kalian dari sini!” perintah pengawal itu.
Shaninka dan Lorr En menurut saja, meninggalkan serombongan pengawal yang masih sibuk menelusuri tiap-tiap sudut ruangan. Sementara Taja di papah dua perawat kembali ke bangsal pengobatan, kedua anak itu pun ikut ke sana.
__ADS_1
Situasi kembali tenang. Beberapa saat setelah itu, Taja sudah berada di pembaringannya lagi dan ditemani Shaninka serta Lorr En.
”Bagaimana keadaannya?” Shaninka bertanya pada seorang perawat yang menanganinya.
”Ia hampir tak sadar diri, kondisinya sangat lemah,” jawaban perawat tak cukup membuat keduanya tenang. Apalagi saat melihat Taja tiba-tiba terjaga dengan wajah pucat dan hendak muntah.
”Hueek!!!” sekepal darah hitam kental dimuntahkannya. Ia kembali ambruk, lemas, sungguh tak sadar diri.
”Ya ampun, apa ini?” perawat menadah muntahan terkaget-kaget melihat itu. Sebagian perawat lain ikut berekspresi sama. Sejenak mereka berbicara tidak begitu jelas di belakang. Untuk sementara, Taja dibiarkan tidak sadar.
Lorr En dan Shaninka menghampiri ke pembaringan Taja.
”Apakah dia akan baik-baik saja?” Shaninka berkaca-kaca memandang Lorr En.
”Kau perawat terbaik. Mungkin kau juga tahu apa yang sedang terjadi padanya?” tanya Lorr En mengingatkan Shaninka akan keahliannya di sana.
”Nadinya hampir tak terasa,” Shaninka menangis sejadinya, air mata membasahi pergelangan Taja. Dan ternyata, itu membuatnya tersadar.
”Ada apa?’ suara Taja mengagetkan dua temannya.
”Kau?!” pekik keduanya, terutama Shaninka yang terlihat berurai air mata.
”Mengapa kau menangis, Shaninka?” sungguh Taja tak tahu kalau dirinya yang telah membuatnya khawatir.
”Karena kamu,” jawabnya.
”Aneh, cepat sekali kamu sembuh!” Lorr En menjadi heran.
”Luar biasa ketahanan tubuhmu! Padahal baru saja kamu keracunan!” si Tabib yang sengaja dipanggil menjadi tak kalah heran, ”Aku belum mengobati, tetapi kamu sudah sembuh lebih dulu.”
”Keracunan?” Taja tak percaya, ”Bagaimana bisa? Aku tidak pernah makan atau minum apapun kecuali yang ada di meja ini!”
Semua beralih pandang ke suatu meja yang ditunjuk, persis di sebelah pembaringan Taja. Hanya ada kendi-kendi kecil wadah obat, cawan kosong dan teko air tawar tergeletak di atasnya.
Sesaat, si Tabib memeriksa sebentar barang-barang tersebut dengan cermat, akhirnya ia menyimpulkan, ”Cawan ini berisi racun, dan aku yakin engkau telah meminumnya.”
Semua terkejut, ”Racun dalam cawan?!”
Beberapa perawat yang selama menjaga Taja merasa tertuding, ”Bukan aku! Bukan aku yang memberikan itu!” semua mengelak satu-persatu, meskipun tak ada yang menuduh salah satu di antara mereka telah berbuat itu.
”Aku tidak menuduh kalian, tetapi adakah dari kalian yang mengetahui seseorang sengaja membawa atau mengirim makan atau minuman untuk pasien tanpa perintah! Mungkin pengunjung misalnya?” Tabib bertanya.
Tak sempat menjawab, seorang kapten entah sejak kapan telah mendengarkan pembicaraan mereka.
”Racun apa rupanya?” tanya dia sambil menghampiri semua yang berkerumun di sekitar pembaringan Taja.
”Ketua Sujinsha?” Tabib menundukkan kepala pertanda salam hormat, diikuti yang lain, ”Racun yang cukup mematikan, senyawa Lamur,” lanjut Tabib menjawab pertanyaan kapten yang baru datang itu.
”Bagaimana mungkin puluhan perawat sampai lalai?” tanya dia lagi setelah sesaat mengamati dan mengendus cawan di tangan tabib yang memegang.
__ADS_1
Tabib memandangi satu-persatu perawat, tampak mereka merasa bersalah karena perkataan Ketua Sujinsha.
”Maaf, Tuan...pada saat itu, giliran saya berjaga di sini bersama tiga kawanku. Tetapi eksekusi pagi tadi telah membuat kami tidak peduli lagi pada tugas. Karena itu, mereka meninggalkan bangsal demi melihat Lanting, sedangkan saya...bersikap masa bodoh di belakang ruang obat,” seorang perawat yang wajahnya dikenal jelas oleh Taja mengungkapkan alasannya.
”Saya bersalah, mohon ampuni saya,” lanjutnya lagi.
”Saya Juga! Mohon ampuni kelalaian kami!” tiga perawat lain yang bersangkutan ikut bersimpuh.
”Sudahlah, Aku memaklumi keadaan pagi tadi. Bukan hanya kalian, aku juga lalai dalam tugas. Hampir semua perhatian tersita pada eksekusi Lanting. Sampai-sampai ...,” Kapten tak melanjutkan kalimatnya.
”Jadi, bagaimana Tuan?”
”Aku akan menyelidiki kasus ini. Rasanya, ada yang sengaja ingin meracuni Taja!” untuk sementara, Ketua Sujinsha berkesimpulan demikian. Setelah menyita cawan yang terbukti tersisa racunnya, si Tabib dan sebagian perawat meninggalkan tempat itu.
Hanya Lorr En, Shaninka, Ketua Sujinsha, serta seorang perawat yang masih tinggal.
”Banyak yang ingin kau mati, Taja! Jadi berhati-hatilah. Salah kalian juga memilih untuk berdiam di sini. Padahal, jika kalian menerima tawaranku untuk kabur saat itu, mungkin aku bisa membantu. Tetapi untuk sekarang ini, sudah terlambat,” Ketua Sujinsha tidak berlama-lamaan di tempat itu. Ia pergi juga setelah meninggalkan pesan.
Berikutnya, perawat terakhir mengatakan sesuatu pada Taja, ”Maaf, aku mengabaikanmu. Terlalu ceroboh sampai-sampai hal seperti ini terjadi. Tetapi kupastikan setelah ini tak akan terulang lagi, aku akan merawatmu sungguh-sungguh,” katanya.
”Siapa namamu, perawat?” selama ini sering bersamanya, Taja bahkan belum tahu nama orang yang merawatnya.
”Belum mengenalku?” perawat itu jadi heran.
”Baju kalian sama, dan kalian semua terlihat mirip!” kata Taja disusul tawa yang lain.
”Bhiswa Kailla, suku Tunggali, 16 tahun. Jika kau ingin tahu lagi, aku belum punya pacar,” perawat itu tersenyum kecil.
”Lanting, temanmu, sudah aman,” kata Taja mengalihkan ke pembicaraan lain.
”Bagaimana kamu yakin setelah kuda berasap itu...hei, apakah kalian juga melihat kejadian aneh saat eksekusi berlangsung?” tanya Bhiswa, si perawat itu.
Taja langsung diam, justru Lorr En dan Shaninka yang mengalihkan jawaban.
”Semua melihatnya, kekuatan sihir lebih bisa diandalkan dari pada manusia yang tak berhati,” kata Lorr En.
”Sihir? Selama ini aku hampir tak percaya hal itu? Entah juga dari mana datangnya keajaiban seperti itu, jelas semua sudah berlalu. Lanting ada di suatu tempat yang aman, mungkin di sana ...,” kata perawat Bhiswa dengan tatap mata menerawang.
”Taja, tahukah kamu, pil apa yang telah kau telan tadi?” berganti Bhiswa yang mengalihkan topik pembicaraan, pertanyaannya membuat Lorr En dan Shaninka berpandangan ke wajah Taja.
"Tidak tahu,” jawab Taja.
Perawat tersenyum simpul, jawaban menggelikan dari suaranya, berbalik ia menahan tawa, ”Pil ibu hamil.”
Lorr En dan Shaninka dibuatnya geli, ”Apa?!” seru mereka bersamaan menahan senyum. Perasaan semula sedih jadi berbaur lucu.
”Beruntung! Mungkin pil-pil itu yang membuatmu jadi memuntahkan racunnya!” tambah Bhiswa sambil berlalu pergi. Lorr En dan Shaninka belum berhenti tertawa sampai sosoknya tidak tampak lagi ke balik pintu.
Taja diam, bertahan untuk tidak ikut tertawa, meskipun sebenarnya juga merasa geli.
__ADS_1
...* * *...