The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)

The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)
4.36.


__ADS_3

Desir angin lirih menyambut rasa cemas Radhit. Di balik gerbang istana, langkah kakinya menapak di lantai batu terukir aneka simbolik penuh mitos dan cerita-cerita lampau yang pernah didengar selama tinggal di Graha Kaninggaluh.


Jarang luput untuk memperhatikan lantai-lantai berukir setiap kali menapak di atas lantai dingin yang tersusun dari petak-petak marmer hitam berbentuk lingkaran dengan tekstur ukiran binatang-binatang bersayap, orang-orang kerdil, dan sosok Buto.


Lantai marmer itu sama tua usianya dengan Istana Shradava. Sudah ada saat istana itu dibangun. Entah kapan terjadi, yang jelas sejak ia dilahirkan, lantainya sudah seperti ini.


Sekumpulan perempuan ayu berlenggak-lenggok gemulai di pelataran, mengikuti arahan tetua penari yang tampaknya tergolong orang-orang lokal dan bangsawan, mengiringi alunan musik sejenis kecapi perak.


Nyanyian Syair Kuno berpadu dalam irama lembut, menciptakan nuansa indah berbaur budaya berbeda, sewaktu-waktu disuguhkan ketika ada acara perjamuan istana.


Pada sisi pelataran lain, guru-guru setengah baya berbaju pertapa dengan jenggot-jenggot putih terurai sampai dada, berhadapan dengan barisan para murid bertelanjang dada, sama-sama bersila di tengah-tengah kerumunan murid-murid belia yang botak-botak. Mereka terduduk rapi, membentuk barisan melingkar. Ketika Radhit melintas, mereka seolah tak terusik. Tampaknya mereka sangat terpusat oleh ajaran para guru saat itu.


Beberapa prajurit muda tidak jauh dari usia Radhit, melintas di sisi pelataran lain. Mereka membawa senjata rakitan, panah, tombak kayu, dan trisula kecil.


Tampak juga murid-murid prajurit muda tengah mengikuti ketuanya, keluar masuk kawasan istana. Mereka membawa seperangkat panah lengkap dengan busur, juga tombak-tombak yang lebih tinggi dari tubuh mereka.


Di depan sekumpulan prajurit muda itu, seorang prajurit senior, menggiring ke arah luar gerbang istana. Musim berburu menjadi jadwal akhir-akhir ini setelah masa latihan rutin yang mereka lakukan setiap akhir pekan.


Satu lorong masuk tanpa penjaga, di atasnya terpampang papan berukiran kuda putih. Satu tempat tujuan Radhit sudah tampak di ujung mata.


Sinloka Timur. Satu tempat berbatas dinding-dinding batu yang dibangun tinggi dimana pintunya tanpa palang dan penjaga. Biasanya penghuni istana menggunakan tempat ini sebagai area temu keluarga atau perjanjian para kerabat istana dan padepokan. Di dalamnya ada beberapa kubah-kubah kecil dari daun nyiur.


Di antara kubah-kubah itu, atapnya ada merenggang dan ada pula yang menguncup. Ada tali penarik yang mengendalikan atap-atap itu agar tetap merenggang atau menguncup.


Wawena, begitulah sebutan kubah-kubah yang berada di Sinloka Timur. Seperti kamboja yang telungkup dan merekah ke bawah. Siapapun bersandar di bawah naungan Wawena akan merasakan sejuk dan asri.


Pada sebua Wawena di antaranya, terlihat sesosok murid berseragam sama dengan yang dikenakan Radhit. Murid itu tengah termenung. Entah apa yang sedang dipikirkannya selama menatap angkasa yang cerah.


Sebentar-sebentar tatapannya tertuju ke tanah, kemudian beralih pada dedaunan sekitar yang disentuhnya. Tangannya menggenggam sebuluh suling yang diputar menari-nari di sekitar jemarinya. Radhit tahu persis siapa murid itu.


"Kasihan Singh...."


Ujar Radhit lirih sembari pandangan matanya belum beranjak dari sesosok murid dengan seruling membisu. Radhit mengenali pemuda sebayanya itu terlihat dari arahnya berjalan.

__ADS_1


Radhit tak bergeming selama memperhatikan seorang kerabat sepadepokannya itu. Gumamnya itu disambut sebuah suara yang diduga datang dari arah belakang. Suara lembut seiring nafasnya yang hangat menyentuh kuduk Radhit.


"Kamu seorang putra Muarralintang, tidak akan berkecil hati dalam menghadapi situasi seperti ini."


Sebuah suara mengejutkan Radhit. Ia berbalik perlahan ke sumber suara, tiba-tiba seseorang hadir di belakangnya. Radhit tahu siapa yang saat ini sedang memeluknya dari belakang.


Wanita anggun dan tercium aroma wangi dari jubah putih yang dikenakannya. Perlahan Radhit menatapnya sampai ke wajah orang itu balik menatapnya lembut.


Seorang wanita cantik tanpa gelung di rambutnya, tanpa pula tusuk konde dan riasan. Dibiarkan rambutnya yang panjang terurai sampai batas pinggang. Bibirnya seperti rona delima yang ranum, tersenyum lembut menyambut tatapan Radhit tersirat murung.


Wanita itu memeluk Radhit erat-erat. Radhit pun balas memandangi raut wajah wanita sahaja itu dengan seksama.


"Bagaimana keadaanmu, putra kesayanganku?"


"Apakah kamu masih marah padaku sehingga enggan menemui aku?" Tanya wanita itu tidak lain ibunda dari Radhit.


"Mana mungkin Ananda berlarut-larut marah pada Ibunda yang cantik seperti bidadari," jawab Radhit membalas pelukan ibundanya tercinta, melempar pujian merayu. Ibunya tersenyum senang mendapat perlakuan yang manis dari putra kesayangan satu-satunya.


Tatap mata wanita itu berbalik menatap Radhit lekat-lekat, senyumnya pun semakin merekah tanpa meninggalkan kecemasan sedikitpun. Tetapi Radhit membalasnya dengan raut terpancar seonggok kesal berbaur sedih, tak bisa disembunyikan dari caranya menatap.


"Bersandarlah di sini, Nak...," pinta ibundanya. Sesaat mereka bersandar di bawah Wawena merekah paling besar d sekitar tempat itu.


Radhit sudah lama tidak merebah di pangkuan Sang Ibunda. Dua tahun yang lalu, saat terakhir ia bermanja-manja seperti itu.


"Aku sudah menyiapkan surat untukmu. Surat wasiat ini, nanti bawalah dan berikan pada seorang awak Bahtera Surra," kata Ibunda mulai berbicara serus.


"Orang itu satu-satunya yang Ibu kenal dari daerah seberang."


"Dia akan singgah ke pesisir beberapa bulan lagi. Surat ini meminta ketersediannya untuk mengantarmu sampai semenanjung Sanoora," lanjut Ibunda.


"Sesampainya di sana...,"


"Sanoora?" Belum usai ibunda berbicara, Radhit menyela lebih dulu. Ia bangkit dari sandaran pangkuan ibundanya.

__ADS_1


"Untuk apa Ananda kesana?!" tanya Radhit penuh heran, menatap lekat-lekat ibunda.


"Jika terjadi sesuatu padaku, kesanalah tempat tujuanmu pergi."


"Ibunda berharap, ada kehidupan lebih baik lagi untukmu daripada melanjutkan hidup dengan mengingat semua kejadian yang sangat buruk bagimu, Nak...,"


Tatap mata ibunda yang semula setangguh karang, mulai berkaca-kaca setipis kabut dingin.


Menusuk kekhawatiran diiringi nada suara bergetar, ibunda melanjutkan kalimatnya.


"Ibunda tidak ingin kamu mengalami kesedihan seperti dia...."


Radhit memandang ke arah tatapan mata Ibundanya sekilas tertuju pada murid dengan serulingnya yang sama-sama membisu. Duduk termenung berlama-lama di sana. Di bawah Wawena paling terpencil.


Tatapan Ibundanya kembali dengan derai air mata yang getir.


"Berjanjilah padaku bahwa... kamu akan meninggalkan negeri ini setelah kejadian yang menimpaku nanti!" ya dSedikit tegas, ibundanya masih menangis dan cepat-cepat diusapnya air mata yang mengalir di pipinya.


"Ini tentang hukuman eksekusi?" Radhit mengingat takdir buruk yang menimpa keluarganya beberapa ke depan sudah ditentukan.


Antara mimpi buruk dan kenyataan mengerikan. Sampai saat ini, ia tidak paham apa yang sedang terjadi sehingga ibunya berkata demikian.


"Aku sangat ketakutan...," Radhit tampak wajah resah cemas bingung.


"Ibu berkata padaku, semua akan baik-baik saja," Radhit mulai berkaca-kaca.


Sambil sesekali melihat ke arah dimana seorang murid berseruling masih termenung di sana. Seruling bambu di tangannya sudah lama membisu. Sama seperti tuannya.


Tatap mata pemuda di sana, menerawang kosong tanpa jiwa.


Kehidupan sudah tidak tampak lagi dari tubuhnya yang hidup. Ia tak ubahnya raga melunglai tanpa suara, sementara hatinya mungkin bergejolak dan menyala-nyala dengan kemarahan.


...* * *...

__ADS_1


__ADS_2