The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)

The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)
7.15


__ADS_3

Seekor kuda bersayap muncul dari mantra sihir Sang Ratu. Ia manarik tangan Elkas sehingga mereka melayang ke punggung kuda bersayap itu. Lalu makhluk itu mengepakkan rentang sayapnya lebar-lebar. Sekali berancang-ancang, kemudian melompat tinggi ke angkasa, serta merta Ratu dan n Elkas terbang, menuju tempat yang jauh dari Euryn.


Tertinggal di bawah sana, hamparan gersang terlihat sejauh mata memandang ke bawah. Kuda terbang ajaib melintasi belukar kering di antara pohon-pohon keropos. Awan gelap bernaung di atas langit.


Satu pemandangan terlihat oleh mereka bersama, ketika kuda hampir mendarat di tanah Calpera. Pemandangan tragis yang membuat Ratu Shachini sangat terkejut sampai bola matanya berkaca-kaca.


”Changgala!” pekik Ratu Shachini saat menginjak ke darat.


Elkas mengikuti Ratu Shachini. Bangkai Changgala yang menghadang penglihatan mereka bukan lagi sesuatu yang tidak diketahui Elkas. Untuk sesaat ingatannya kembali pada beberapa malam lalu saat mengikuti Dakka melintasi kawasan itu.


”Pusaka beracun!” Ratu Shachini menemukan jejak sayatan membusuk di tubuh Changgala menggumpal dipenuhi akar-akar kaku. Ia terdiam beberapa saat. Sementara Elkas dalam penyesalannya.


”Di mana Taja?” tanya Ratu Shachini, mengingatkan Elkas akan tujuan mereka ke tempat itu.


Elkas menunjuk ke tengah-tengah Calpera. Dari jarak puluhan langkah ke sana, tampak serbuk-serbuk berterbangan ke atas, berasal di pohon-pohon mati dan di tengahnya terdapat telaga kering. Tanahnya bercampur cairan kebiru-biruan. Antara bau busuk tumbuhan atau binatang mati, sangat menusuk hidung. Apapun yang terjadi, Ratu Shachini tidak segan-segan melangkah kesana. Kaki-kakinya yang semula mulus dan putih jadi berlumuran lumpur busuk.


”Taja...,” ucapnya lirih saat mendekati satu pohon di antara serimbunan pohon setengah ambruk yang sudah lama mati, dipenuhi tumbuhan menjalar dan sudah mengering. Tempat itu sekilas menyegarkan ingatannya pada belasan tahun silam tentang satu kejadian yang membuat kawasan itu sunyi dan mati.


Ratu Shachini menjetikkan jari-jari sembari merapal mantera kecil namun cukup berat. Sebentar saja percikan api membentuk bulatan dan membesar, membumbung tinggi sehingga menerangi sekitar tempat itu. Ia terkesiap, seketika penglihatannya menangkap gerakan-gerakan kecil di antara tumbuhan menjalar yang mengering itu.


”Taja?” panggil Ratu sambil lebih mendekati tempat yang sangat menyita awasan matanya.


Kali ini ada isakan lirih, nyaris tidak terdengar jika tanpa memperhatikan suara itu sungguh-sungguh. Tampak satu sosok meringkuk di sana.


”Taja...,” panggil Ratu Shachini pada sosok itu melekat ke pohon mati. Ratu Shachini mengenali rambutnya yang tersumbul meskipun seluruh tubuh terbenam daun-daun kering.


Ketika Ratu Shachini mendekat, sosok itu semakin merasuk ke dalam rimbunan.


”Taja, pulanglah bersama kami...,” pinta Ratu Shachini lembut. Tetapi tidak ada tanggapan dari yang diajaknya berbicara. Air mata Ratu berlinang ke pipi. Dengan lembut jemarinya menyentuh Taja yang masih enggan bergeming, ”Kami membutuhkanmu. Kami membutuhkanmu. Jika seperti ini, maka kau akan sangat membuatku lebih bersedih.”


Taja menyumbulkan mukanya, ”Ibuku terkubur di sini, biarkan saja aku mati di sini juga.”


Ratu menggeleng, ”Tidak akan ‘kubiarkan. Seandainya kau masih berkeras hati tetap di sini, maka aku juga akan di sini menemanimu. Biarkan saja Gunggali lenyap bersama waktu yang menelan kita,” kata Ratu Shachini yang bersimpuh di dekat rerimbunan daun kering itu.

__ADS_1


”Tidak... tidak boleh,” Taja berpindah ke pelukan Ratu Shachini.


”Gunggali tidak boleh binasa...,” tubuhnya bergetar.


Angin dingin berhembus, menerbangkan serpihan bunga layu dan terhampar ke dasar istana, berbaur dengan daun-daun kering juga ranting-ranting patah. Semalaman penuh Euryn terselimuti nyanyian duka, akhirnya meredup saat fajar merekah di bawah ufuk timur.


Sang Surya menyingsing di awal pagi yang mulai cerah. Sinarnya yang merasuk ke celah-celah Euryn yang meranggas daun-daunnya.


Sebagian rakyat peri di ambang kematian. Jasad mereka perlahan kaku, tidak lagi bersuara, kemudian menjelma pohon-pohon bisu selamanya, meninggalkan jejak-jejak kesakitan dan raut muram di kulit batang yang keras.


Sebagian lagi dari mereka meringkuk lumpuh sejak senja kemarin menelan ketakutan dan jiwa-jiwa yang sakit. Tidak banyak lagi kaki-kaki sempurna melangkah di pelataran, tubuh mereka sudah merekat di dinding istana. Tubuh-tubuh peri capung, belalang, dan kupu-kupu yang selalu menari diiringi paduan suara ribuan serangga, berserakan di tanah atau terhempas ke akar-akar.


Peri Elhundi Ular Merah melangkah tertatih, meraba dinding rongga yang tidak lagi terang karena cahaya bunga. Separuh tubuhnya mulai ujung kaki sampai pinggang mengkerut. Kulitnya yang bercorak sanca merah telah berubah jadi sisik kering. Dan wajahnya yang dulu selalu berbinar telah keriput penuh otot-otot kaku, juga sepasang bola matanya menghitam tertutup debu.


”Elhundi...,” ada suara memanggilnya dari arah tidak tentu. Pendengaran Elhundi Ular Merah tidak lagi tajam, ia kebingungan mencari-cari ke segala arah. Sebelum tahu siapa yang memanggil, ia lebih dulu ambruk.


Satu sosok muncul dari celah pohon. Ia tergopoh-gopoh menghampiri sang Elhundi.


”Elhundi Ular Merah!” panggilnya sekali pada Elhundi itu nyaris tidak bersuara, kecuali kedua tangannya menggapai-gapai sosok belia yang memangkunya.


”Elhundi...,” Taja meratapi kematian Elhundi Ular Merah. Lebih dari sekali ia menyaksikan satu persatu penghuni Euryn mati.


”Hanya dalam semalam, ternyata mereka tidak kuat melawan kesedihan. Kesedihan menjadi kelemahan kita,” sebuah perempuan bersuara lembut datang tiba-tiba bersamaan bayang-bayang sesosok gelap menerobos rongga.


”Siapa itu?” Taja mendongak.


Satu wajah tidak asing, muncul dari balik salah satu celah yang menuju ke rongga itu, ”Ini aku....”


Taja mengawasi sosok yang mendekat padanya, ”Neirra?”


Gadis kera itu melempar senyum pahit sekilas, ”Apakah kau juga akan meninggalkan aku seperti mereka?” tanya dia sembari menyentuh pipi Taja.


Taja yang tidak bergeming, ”Bagaimana kalau akhirnya kau yang meninggalkan aku?” airmukanya tegang saat membayangkan hal paling buruk yang akan terjadi, ”Sampai akhirnya semua penghuni Euryn mati?”

__ADS_1


”Lebih dari itu, seluruh Gunggali akan binasa...,” Neirra menatap mata Taja yang berputar ke sekeliling. Guratan tegang di antar dua alisnya sangat jelas menyiratkan kecemasan.


”Gunggali akan binasa?” Taja semakin terbelalak, ”Itu tidak mungkin!”


Neirra berbalik darinya dan melangkah ke tepi rongga yang terbuka ke pemandangan luar. Taja mengikuti Neirra berjalan ke sana.


”Lihat saja, pohon-pohonnya sudah mengering!” Neirra merentangkan lengan-lengannya ke panorama luar. Hari itu, bukan sesuatu yang indah seperti biasa tampak oleh mereka.


”Bagaimana mungkin?!” Taja semakin terbelalak seketika melihat perubahan drastis alam di sekitar. Ribuan pepohonan yang kemarin terhampar hijau seluas mata memandang, sekarang hanya tampak kayu-kayu kering di antara daun-daun berserakan, ”Tidak mungkin!!”


”Ratu memerintahkan kita agar segera pergi dari sini, sebelum imbas racun itu lebih menyebar lagi,” kata Neirra belum melepas pandang dari panorama tragis di luar sana.


”Apa maksudmu?” Taja belum paham akan kalimat yang baru saja dikatakan seorang abdi Ratu itu.


”Kita harus pergi dari sini, secepat mungkin!” kata Neirra tegas.


”Dan membawa kesedihan kemana pun kita pergi?” Taja menepik ketika tangan Neirra menyentuhnya.


”Tidak! Gunggali tempat tinggalku, hidup dan mati aku akan bersama seperti yang lain juga!” Taja menolak keras, langsung berpaling muka.


”Kamu yang akan terakhir mati di sini!”


”Aku tidak peduli!!” balas Taja terdengar jauh lebih menggema di tengah-tengah kesunyian Euryn. Sejenak mereka dalam kebisuan masing-masing, sebelum ia hendak beranjak pergi dari sisi Neirra.


”Sebagian jiwa dalam dirimu akan mati sepeti yang lain, tapi jiwamu sebagian manusia...akan menderita dalam kesendirian, itukah yang kau inginkan?” kalimat Neirra langsung menggencat langkah Taja yang terburu-buru.


”Kamu?!” Taja berbalik lagi.


”Ingat, aku adalah manusia seutuhnya!” Neirra mengingatkan Taja.


”Sepenuh jiwa dan ragaku adalah manusia.”


Neirra mendekat ke arah Taja mematung di tempatnya, ”Aku tidak ingin melihat seorang anak manusia mati di Gunggali,” katanya sambil menggenggam tangan Taja.

__ADS_1


”Ikutlah denganku, kita pergi sejauh mungkin dari sini, kita bisa hidup dan menyimpan rahasia Gunggali selamanya.”


...* * *...


__ADS_2