
Hawa dingin merasuk jendela-jendela terbuka, sayup-sayup suara menggugah tidur nyenyak Lorr En. Selimut membungkus tubuhnya tidak cukup pulas tidurnya.
’Ini sudah pagi!’
Antara sadar dan tidak, seruan itu berkali-kali menggugah lewat telinga Lorr En. Tetapi ia tak bergeming, sekalipun seseorang menyingkap selimutnya.
Brrrr!
Hawa dingin pun semakin merasuk, membuat tubuh Lorr En semakin meringkuk.
“Seperti udang! Bangun. Sudah pagi!” Kedengarannya, suara Taja sudah sejak tadi menggugah Lorr En.
Lorr En menggeliat malas, perlahan kelopak matanya yang berat melihat Taja sejak tadi di sampingnya.
“Kamulah yang paling terakhir dan susah sekali dibangunkan! Di Sungai Ruthian, entah siapa yang sampai bisa sabar membangunkan kamu?” Taja sedikit mengomel.
“Di sungai Ruthian tidak pernah ada yang membangunkan aku sampai ... aku terbangun sendiri ... setelah tidur sehari semalaman ...,” Lorr En agak meracau.
”Ini bukan Ruthian. Bangun!” Taja mengguncang pundak Lorr En lagi.
”Masih gelap … aku masih mengantuk,” suara Lorr En letih bercampur malas, lalu kembali menutup mata.
“Hei, jangan tidur lagi! Ayu segera bangun!” Taja menarik kaki Lorr En.
“Sekarang sudah pukul 5, sebentar lagi gong pukul 6 berbunyi! Bangun!” Taja
memaksanya supaya bangkit, tetapi belum berhasil. Rupanya Lorr Entak peduli dan matanya tetap terpejam rapat meskipun separuh tubuhnya keluar dari ranjang.
__ADS_1
“Fuh …!“ Taja kewalahan, “Baiklah kalau begitu, aku akan meninggalkanmu di sini. Terserah kau mau bangun kapan saja.”
Tidak ada kata-kata lagi, Taja keluar ruangan. Ia melangkah sepanjang koridor di pagi buta sekali. Belum melalui tikungan, teriakan Lorr En memanggilnya. Taja menoleh, sosok temannya itu muncul dari pintu kamar sambil berteriak, “Taja, tunggu aku!!”
Siang pun menjelang.
Ruang kelas praktik perakitan senjata tampak tenang. 150 murid sedang berkonsentrasi merakit anak panah dari batang bambu dan lempengan besi.
Taja dan Lorr En berada di meja masing-masing, di antara meja yang satu dengan yang lain terpisah oleh sekat dinding kayu sebatas dada. Kegiatan hari itu masih berlangsung lancar. Beberapa murid sedang mengasah ujung sambungan besi silinder, ada juga yang menajamkan mata panah, selebihnya masih dalam tahap menguliti pangkal bambu.
Dari tempatnya, Taja memperhatikan gerak-gerik Lorr En gelagapan dalam pengerjaannya.
“Pangkal bambunya perlu kau kupas lagi, setelah itu cobalah untuk menyambungnya dengan silinder metalnya …,” ia sedikit memberi petunjuk pada Lorr En. Tetapi justru semakin membuat Lorr En salah tingkah melihat panah Taja sudah hampir jadi.
“Sabarlah, Lorr. Jangan panik! Lakukan saja seperti yang kukatakan, asah lagi pangkalnya lalu sambungkan dengan silinder lalu gabungkan dengan mata panahnya, baru akan menjadi kesatuan panah yang utuh,” ulang Taja lebih detail sambil menunjukkan panahnya hampir jadi.
“Baik,” Lorr En melakukan secara bertahap seperti yang dikatakan Taja. Senyumnya mengembang ketika berhasil menyatukan bambu dengan selongsong itu.
“Terima kasih,” ujar Lorr En dan melanjutkan tahap selanjutnya.
Tiba-tiba suasana yang tenang berubah gaduh, puluhan murid-murid berhamburan dari tempatnya masing-masing menuju tepian balkon kelas. Sesaat kemudian mereka saling meneriaki, “Pacuan kuda! Pacuan kuda!!”
Berikutnya, puluhan murid menyusul dan saling mendorong. Dalam waktu singkat saja, balkon kelas perakitan senjata di lantai 3 menjadi sarat murid.
“Si Mungil di urutan terdepan!!!” teriak beberapa di antara kerumunan murid berjejal di sana.
Taja dan Lorr En yang tersisa di kelas menjadi ingin tahu sedang terjadi apa yang bisa menarik perhatian para murid, “Ada apa di luar?”
__ADS_1
Lorr En menggeleng, membuntuti di belakangnya. Dan dalam sekejap, murid seisi kelas berpindah ke tepi balkon.
Ternyata, persis di bawah balkon adalah jalur pacuan yang dilewati serombongan murid-murid tabib berkuda. Taja dan Lorr En terkejut saat melihat salah satu di urutan terdepan adalah Purwa.
“Lebih cepat! Lebih cepat, Purwa!” teriak dua anak itu berbaur dengan sorak-sorak kerumunan murid berseru serupa. Bukan hanya di balkon kelas itu, tapi deretan balkon-balkon lain di sepanjang kiri kanan jalur pacuan. Bayangan puluhan kuda melesat semakin menjauh, tapi semua murid masih belum berhenti menonton pertunjukan gratis yang tiba-tiba lewat. Sampai-sampai mereka lupa akan tugas praktik hari itu.
Brak!!!
Pintu terbuka keras, seseorang guru datang dan berteriak,
“Kembali ke meja masing-masing! Cepat!” menyadari Ki Gandhana tampak marah, murid-murid seisi kelas langsung menyerbu ke tempat semula masing-masing.
“Tidak disiplin! Memalukan!” bentaknya sambil memelototi semua murid.
Ki Gandhana, pengajar Tanapura di bidang mata pelajaran senjata sekaligus wali kelas Kancil adalah salah satu guru yang pendiam tapi berwatak cukup keras dan sangat mengutamakan kedisiplinan. Dulu, dia adalah seorang laksamana di perairan utara, tetapi semenjak tangan kanannya cacat, ia dialihkan sebagai pengajar. Keahliannya dalam merakit senjata paling mutakhir hingga menciptakan senjata-senjata rahasia membuatnya bertahan di Tanapura.
Suasana kelas kembali sunyi, tak terdengar seorang pun yang bicara. Untuk sesaat Ki Gandhana berlalu lalang, “Waktu habis, silakan tinggalkan ruangan ini dengan tertib dan tanpa gaduh!” katanya mengejutkan semua murid. Karena, sebagian dari mereka belum menyelesaikan tugas.
Karena sekali perintah tidak cukup dilaksankan, Ki Gandhana berteriak lebih keras sekali lagi, “Tinggalkan hasil pekerjaan kalian di meja masing-masing dan jangan lupa memberi nama! Sekarang!”
Berat hati dan terpaksa, selesai atau tidak, akhirnya murid-murid meninggalkan kelas tanpa gaduh.
“Kecuali kalian berdua!” perintah Ki Gandhana, sebelum Taja dan Lorr En sempat beranjak dari meja masing-masing.
”Tunjukkan hasil karya kalian?” tanya Ki Gandhana sambil melihat ke di meja mereka masing-masing, ”Bawa kemari!” tambahnya.
Taja dan Lorr En menyerahkan panah mereka masing-masing. Ki Gandhana tidak mempermasalahkan hasil karya mereka. Lebih dari itu, ada hal lain yang ingin disampaikannya pada dua murid ini.
__ADS_1
”Jika dalam satu tahun nilai kalian berjumlah total minimal 40 nilai hitam atau 250 poin, maka kalian akan naik ke kelas Kancil Merah. Bertambah 40 nilai hitam lagi atau 500 poin akan dinaikan ke kelas Kancil Hitam. Kemudian tambahan 40 nilai hitam berikutnya akan dinaikkan ke kelas Angsa, kemudian kelas Elang, kelas Singa, sampai nilai tertinggi adalah kelas Naga, dan terdapat tiga tingkatan tim untuk tiap kelasnya, putih, merah dan hitam,” kata Ki Gandhana menjelaskan sebentar perihal sistem kenaikan di Sekolah Tanapura.
...* * *...