The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)

The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)
34. Terpidana (1)


__ADS_3

Berita tentang terpidana Taja dan Raojhin menggemparkan seisi penghuni Istana Kesatuan Praja. Tak henti-hentinya mereka membicarakan kedua terpidana, isu dan berita melebih-lebihkan datang silih berganti. Sungguh-sungguh semua murid dibuat rebut, ada pihak yang pro dan kontra, ada juga yang mengolok-olok, bahkan mengharapkan kedua tahanan itu celaka. Bahkan, sebagian penghuni istana dan sebagian rakyat Tanapura pun dibuat resah. Tetapi apapun kata orang-orang luar, seluruh Tim Kancil merasa sangat prihatin akan Taja, terutama Lorr En yang tidak pernah tenang sejak sahabatnya ditangkap. Dan seseorang lagi, Shaninka, membujuk Putri Alingga agar berbuat sesuatu terhadap Taja.


“Jadi, aku harus bagaimana?“


“Tolonglah … jika yang memohon adalah Tuan Putri, pasti dikabulkan …,” pinta Shaninka, kedua lutut ke lantai, “Aku memohon pada putri …,” Shaninka tampak memelas.


Putri Alingga tertegun sekaligus bingung harus mengambil tindakan bagaimana. Separuh hatinya ragu karena kasus itu di luar wewenangnya, tetapi separuh hatinya juga ingin menolong mereka yang pernah menyelamatkan nyawanya. Cukup lama dia terdiam, membiarkan Shaninka cemas menanti jawaban darinya.


Putri Alingga menoleh dan menatap Shaninka yang sangat khawatir.


“Kita segera ke Balairung Perak,” hanya itu yang dikatakan Putri Alingga sebagai jawaban, meskipun masih membuat Shaninka bertanya-tanya.


Mereka berdua berjalan terburu-buru melalui bangunan istana yang luas, sedikit menyelinap di antara celah-celah teras yang panjang sampai akhirnya berada di luar bangunan tempat Balairung Perak. Di sana ada beberapa penjaga pintu menghadang mereka.


“Mohon ampuni hamba karena di sini bukan tempat Tuan Putri!” Cegah salah seorang dari mereka.


Putri Alingga menatap tajam, “Aku yang memberi perintah, apakah kalian mau menanggung hukuman karena telah menghalangi jalanku?“ katanya sedikit menghardik. Kedua penjaga itu segera menepi dan membuka jalan untuk sang Putri bersama Shaninka. Keduanya langsung menyongsong ke ruang sidang.


Sementara itu di dalam ruang sidang, Taja dan Raojhin di hadapan oleh Paduka Raghapati dan dijaga puluhan pengawal di sekeliling ruangan itu. Ada juga beberapa saksi dan pembela hadir di tempat itu. Tampaknya sidang sudah berlanjut cukup lama, tetapi masih belum ada keputusan dari Paduka Raghapati.


“Kasus seperti ini seharusnya bisa ditangani oleh Hakim Istana, tetapi karena dua terdakwa adalah anak-anak yang pernah berjasa kepadaku seperti kalian, maka terpaksa aku sendiri yang harus turun tangan,” kata Paduka Raghapati yang gagah berdiri di hadapan seluruh hadirin.


 “Dan inilah keputusanku …,” lanjut Paduka Raghapati.


Raojhin yang bersimpuh bersama Taja di dekatnya perlahan-lahan mengangkat wajah. Anak itu agak gentar menunggu vonis dari Paduka Raghapati atas sidang yang sudah berlangsung lebih dua jam.


“Taja, murid Kesatuan Praja Tanapura dengan status identitas Praja Muda. Aku menjatuhi hukuman pengasingan atas pelanggaran berani dan lancang masuk salah satu daerah terlarang yakni Perpustakaan Istana. Hukuman ini sama beratnya dengan hukuman penyusup dan mata-mata. Maka hukuman yang dijatuhkan untukmu adalah pengasingan ke luar Tanapura!”

__ADS_1


Paduka menjatuhkan gulungan kertas di genggamannya ke lantai di hadapan Taja.


“Raojhin, murid Kesatuan Praja Tanapura dengan status identitas Praja Emas, karena telah berani menyelewengkan hak khusus dariku, maka hukuman yang pantas untukmu adalah dikeluarkan dari sekolah militer dan dikembalikan ke tempat asal tanpa status atau gelar kehormatan!“


Selanjutnya giliran kertas gulung untuk Raojhin yang dijatuhkan, bunyinya saat terantuk lantai terdengar seperti sabetan pedang mengiris hati.


Suasana sunyi senyap berlangsung cukup lama. Taja memandang Raojhin, juga sebaliknya. Raojhin terlihat pasrah tanpa air mata. Tetapi tidak demikian dengan, dia merasa sebaliknya. Keputusan Paduka dirasa olehnya sangat tidak adil. Taja tidak terima hukuman seberat itu jatuh pada Raojhin, apalagi untuk seorang anak Ketua yang pernah berjasa untuk negeri ini. Taja berkaca-kaca ketika melihat Raojhin tertunduk lemas seperti manusia yang telah kehilangan impian dan harapan. Ini membuatnya berani mengutarakan keberatan.


“Mohon Paduka yang adil dan bijak mengganti hukuman untuk Raojhin karena sebenarnya dia tidak bersalah, tetapi hamba yang bersalah …,” ujar Taja dengan mengabaikan keraguannya.


Air muka Paduka Raghapati berubah memerah saat mendengar Taja sebagai terdakwa mengatakan itu. Karena ini pertama kalinya seorang terdakwa anak-anak mengangkat lutut sebelum acara sidang berakhir. Seluruh yang hadir sangat terkejut melihat tingkah Taja, termasuk juga Raojhin yang sejak tadi tertunduk dan hanya memandang temannya yang sudah berada beberapa langkah ke depan untuk memberanikan diri berdiri sejajar dengan Paduka Raghapati.


“Lancang! Kembali ke tempatmu dan memohon ampun pada Paduka yang adil, bijak dan  terhormat!!!“ seorang penasehat utama Paduka Raghapati berkata keras. Berikutnya dua pengawal menghampiri Taja, tetapi sang Raja terlebih dahulu memberi isyarat untuk mencegah dua pengawal yang berniat meringkusnya.


“Katakan, apa yang membuatmu keberatan atas keputusanku?“ tanya Paduka Raghapati semakin mendekati Taja.


“Ayahanda, mohon ayah yang berbelas kasih dan bijaksana memberi ampun untuk mereka!“ tiba-tiba Putri Alingga berteriak sambil menerobos para barisan pengawal dan langsung bersujud di kaki Ayahandanya. Diiringi keterkejutan orang-orang yanga ada di tempat itu tetapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena sang Putri sendiri yang berkata seperti itu. Bahkan Ketua Sujinsha dan Ketua Jenewa yang ikut bersaksi atas sidang di sana, juga tidak mampu berkutik, mukanya yang semula tampak girang setelah mendengar keputusan Paduka Raghapati, mendadak berubah masam.


Semua mata saat ini tertuju pada sang Putri semata wayang Paduka Raghapati.


“Putriku, Alingga … apa yang sedang kaulakukan?“ Paduka Raghapati pun terkejut melihat putri datang tiba-tiba dan melempar kata seperti itu.


Putri Alingga melangkahi rentang karpet merah sepanjang jarak menuju ayahnya berdiri di depan podium sidang.


“Ayah, aku tidak ingin ayah celaka karena telah melanggar sumpah … sumpah ayah dulu sebelum aku sembuh. Ayah berkata, siapapun yang bisa menyembuhkan aku, maka ayah akan memuliakan hidup si penolong itu dan bersedia untuk memenuhi semua permintaannya, masihkah ayah  ingat sumpah sendiri?“


Air mata putri pun mengalir di antara pipinya yang mulus dan lembut. Kebingungan Paduka Raghapati semakin menjadi-jadi, tatkala dia telah melupakan sumpah yang pernah diikrarkannya dulu.

__ADS_1


Kali ini Paduka Raghapati menarik nafas panjang¸ sementara putrinya masih bersimpuh di lantai.


“Bangun, anakku …,” pinta Paduka Raghapati lalu menarik lengan putrinya itu.


“Hampir saja aku lupa sumpah itu, tetapi … sebagai Paduka yang adil, aku menganggap semua rakyatku sama rata. Yang bersalah harus dihukum!” kata Paduka Raghapati memberi alasan.


“Tidak bisakah ayah mengubah hukuman itu?“ pinta Putri Alingga.


Dibalas Paduka Raghapati menggeleng, “Tidak, anakku.”


“Pantaskah ayah menghukum kesalahan kecil seseorang yang telah mengorbankan nyawanya untuk aku?“ sang Putri menatap wajah ayahnya dengan penuh harap. Taja, Raojhin, Shaninka, dan seluruh yang ada di tempat itu, terpaku masing-masing.


“Liontin itu adalah pemberian Ayahanda Paduka dan siapa saja berhak mendapatkan izin khusus dan kebebasan untuk melakukan apa saja selama yang dilakukan bukan kejahatan atau pelanggaran dengan hukum pidana. Dan masuk ke perpustakaan istana bukan suatu pelanggaran. Adalah hal wajar dan boleh bagi yang memiliki liontin itu!” sang Putri masih berumur 10 tahun tapi dia berani berkata dengan tegas di hadapan puluhan pejabat penting yang sedang hadir di situ.


”Tidak baik turut campur dalam sidang! Kau bukan salah satu dewan sidang, bahkan hanya anak perempuan 10 tahun. Kembalilah ke istana kediaman,” suruh Paduka Raghapati lembut.


Suasana di ruangan semakin hening, tetapi suasana di otak masing-masing orang yang hadir di sana semakin memanas. Semuanya menahan emosi tatkala anak perempuan belia itu melempar titah Paduka Raghapati, ”Hamba tidak ingin disembuhkan hanya untuk menyaksikan ini. Cukup sudah teman-temanku yang menjadi korban. Dan dia, yang tidak bersalah sekalipun.”


Dia? Entah lakon siapa yang dimaksud Putri.


”Mengapa tidak engkau pinjamkan pusaka milik ayah untuk membunuhku?” Putri berlinang air mata. ”Mengapa?”


”Pengawal, bawa Putri kembali ke Istana Putri!” Perintah Paduka Raghapati. Dalam waktu cepat, dua pengawal berniat menggiring Putri. Tetapi ia berontak.


”Jika ayah tidak mampu menegakkan keadilan lagi, mungkin ini akan mengingatkan ayah sumpah ayah sendiri,” ia mengeluarkan sesuatu dari sela-sela jubah.


...* * *...

__ADS_1


__ADS_2