The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)

The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)
11. Syair Waktu


__ADS_3

’Ksatria mati. Raja menari.


Waktunya Babi Jantan.'


Suasana malam sunyi senyap, tanpa suara apapun kecuali gema gong dipukul dua kali, diiringi sebait puisi berkumandang. Kelam mencekam, larut malam berselimut kabut lebih menakutkan siapapun yang terjaga. Itulah yang terjadi pada Taja. Malam pertama di Istana Praja, setelah berpekan-pekan dihujat lelah. Namun ia tak bisa tidur nyenyak.


Taja termenung di pembaringan. Cahaya remang-remang. Pandangan menerawang ke langit-langit. Sesekali ia menengok Lorr En.


“Dua belas kali dalam sehari, penjaga mengitari istana, mengumandangkan syair-syair bersamaan tabuhan gong," ujar Taja sendirian.


"Dua belas kali pula mereka melakukan itu pada malam hari. Aku benar-benar tidak bisa tidur. Bagaimana denganmu, Lorr?“ tanya Taja mengamati punggung Lorr En.


Tubuh Lorr En melingkar di balik selimut mulai dari ujung kaki sampai kepala. Tidak ada tanggapan darinya selain dengkuran lembut. Tidak salah lagi, rupanya dia memang sudah terlelap sejak tadi.


“Puisi-puisi aneh …,” gumam Taja.


“Bukan puisinya yang aneh, tetapi itu pertanda waktu ...,” sebuah suara dari pembaringan sebelah lainnya. Taja terkejut, ada yang belum tidur juga. Ternyata, Purwa terjaga di dipan sebelah, bersandar di bantal.


“Belum tidur juga rupanya?” tanya Taja lega, ternyata masih ada yang senasib tak bisa tidur malam itu, "Apa yang membuatmu gelisah?" tanya Taja tanpa beranjak dari pembaringan. Mereka sama-sama bersandar di dipan masing-masing.


“Serapat apapun mataku terpejam ... tetapi pikiranku tidak,“ jawab Purwa sekedarnya.


“Hei, apa maksudmu ... itu pertanda waktu?“ tanya Taja, ingat kalimat Purwa sebelumnya.


“Rupanya kamu belum hafal tentang waktu. Tanapura memiliki sistem penanda waktu. Para penjaga bertugas mengawasi waktu, menabuh gong ketika saatnya tiba, juga membacakan syair-syair legenda," jawab Purwa menjelaskan.


“Hafalkan ini," kata Purwa, lalu merentangkan sepuluh jari, mulai menekuk satu-persatu sebagai hitungan.


Ayam jantan berkokok, pukul 4 pagi


Ayam Betina, pukul 5 pagi


Biyan Padi, pukul 6 pagi


Merpati Sepasang, pukul 7 pagi


Kera Bakul, pukul 8 pagi


Macan Wulung, pukul 9 pagi


Singa Putih, pukul 10 pagi


Singa bersarang, pukul 11 siang


Naga Laut, pukul 12 siang


Naga Terbang, pukul 1 siang


Naga Sakti, pukul 2 siang


Elang bukit, pukul 3 sore


Hiu Tarung, pukul 4 sore


Ular Wani, pukul 5 sore


Angsa Ngapung, pukul 6 sore


Elang Klawu, pukul 7 sore


Kadal Bersolek, pukul 8 malam


Naga Mimpi, pukul 9 malam


Babi Jantan, pukul 10 malam


Tikus Nyanyi, pukul 11 malam

__ADS_1


Tikus Nyarang, pukul 12 malam


Serigala Wiru, pukul 1 malam


Serigala Bulan, pukul 2 malam


Serigala Menari, pukul 3 malam


"Dalam sehari semalam, terdapat 24 tanda waktu, mengerti?” kata Purwa mengakhiri penjelasannya dengan senyum kecil, terlebih melihat ekspresi muka Taja bingung.


"Wah, kau menghafal semuanya?"


”Begitu banyak jenis pertanda waktu, belum lagi beragam puisinya ...,” Taja garuk-garuk kepala bukan karena gatal. Kewalahan juga setelah mendengar penjelasan Purwa yang sangat cepat menghafal semua itu.


“Mengapa puisi-puisinya berkisah tentang Ksatria dan Raja?”


“Karena sekarang adalah bulan Honggura, bulan sejarah para Ksatria. 30 hari penuh dalam bulan ini akan mengisahkan puisi tentang Ksatria dan Raja,“ jelas Purwa. Taja manggut-manggut saja.


“Jadi, setiap bulan akan berbeda puisinya?” Taja menyimpulkan dan Purwa mengiyakan sambil mengangguk kecil.


“Lalu, maksud puisi-puisi itu?”


“Banyak artinya, tergantung orang masing-masing menafsirkannya. Ada yang menganggap puisi-puisi itu sebagai kiasan, renungan, selain ada juga yang mendengarnya sekedar kisah atau hiburan,“ Purwa bersandar.


“Hiburan? rasanya aku tidak terhibur oleh puisi pukul Babi Jantan," ujar Taja.


“Maksudmu puisi pukul 10 malam tadi?” Purwa memastikan.


Taja mengangguk kecil.


“Ksatria mati. Raja menari."


“Pengorbanan. Maksudnya adalah pengorbanan seorang hamba untuk negeri dan raja, rela gugur demi berlangsungnya negeri yang makmur. Ksatria gugur, Raja berkuasa," kata Purwa menjelaskan.


“Kamu sangat pandai mengartikan puisi. Bisakah kau ceritakan tentang puisi-puisi lain?” pinta Taja.


“Tidak semua puisi aku dapat mengartikannya, tetapi ... aku kenal puisi-puisi bagus," balas Purwa.


"Wehu yang sedih,


Angsa kecil terbangun ....


Senyum satu tahun, akhirnya kembali


Melangkah di permadani duri


Cinta membuatnya pergi dan kembali Ratusan anak tangga, karpet perak


Sepasang tangan saling menyambut


Waktunya, angsa dan malapetaka ....”


Tatap mata Purwa menerawang ke atap-atap kamar selama membaca puisi itu tanpa terbata-bata. Kedengarannya sangat hafal dan ingat betul tiap bait puisi itu.


“Apa artinya itu, Purwa?” tanya Taja ingin penjelasan tentang puisi itu.


“Hampir setiap malam aku memikirkan itu, akhirnya aku menyimpulkan .…”


“Apa?” rasa penasaran Taja yang tiba-tiba muncul, mendorongnya ke tempat Purwa.


“Sang Putri segera sembuh karena akan ada seseorang yang menolongnya,” jawab Purwa. Mendengarnya, Taja jadi diam untuk beberapa saat sambil memikirkan tafsir mimpi Purwa.


“Kamu mengada-ada,” ujar Taja, tidak yakin omongan Purwa.


Purwa jadi cemberut, “Mereka juga meledek setiap kali aku menafsir mimpi dan puisi, lalu untuk apa kau ingin aku menceritakannya? Pergilah ke tempatmu, aku  mau tidur!” buru-buru Purwa menarik selimut tebalnya.


“Sst, jangan berisik. Maaf, aku tidak bermaksud meremehkan, aku hanya tidak yakin apa kamu benar-benar bermimpi seperti itu. Apa benar mimpi itu berkaitan dengan Putri?”

__ADS_1


“Jadi, kamu tidak percaya?” Purwa menyingkap selimut.


“Bukan begitu, aku hanya merasa ... berkaitan dengan mimpi puisi itu,” kata Taja.


"Bisa jadi kaulah pelaku dalam puisi itu,“ kata Purwa.


“Pelaku?” Taja terbelalak.


“Ya, begitulah …,” Purwa garuk-garuk kepala, cemberutnya hilang.


“Inilah pertemuan angsa dan malapetaka … jika angsa adalah Putri Alingga, apa mungkin anak malapetaka itu adalah aku?” Taja penasaran.


“Aku tidak berkata begitu, tetapi … dalam mimpi itu, aku melihat seorang pemuda belia sepertimu. Mirip sekali! Bahkan aku pernah melihat langsung dengan mata kepala sendiri. Sekali seumur hidup,“ kata Purwa, mengenang kembali peristiwa yang nyaris terlupakan kapan terjadinya.


”Saat itu, karena terlambat setelah mandi, aku mengambil jalan memutar lewat taman belakang istana, melewati sungai air panas."


"Sosok itu menyeruak dari semak-semak. Lalu, tersembul ia dan berdiri menatapku.”


“Lalu?” Taja tak sabar mendengar kelanjutannya.


“Siapa dia?” tanya Taja lagi. Tetapi Purwa bungkam, tidak mau mengatakannya lebih lanjut.


“Katakan!” Taja menggoyangkan genggaman tangan Purwa, praja bertubuh paling mungil di antara teman-teman tim kancil.


Purwa menggeleng. Enggan mengatakannya.


“Kenapa?” Taja heran.


“Dia sudah mati. Aku tidak berani menyebut namanya, kematiannya sangat mengerikan,” jawab Purwa menarik selimut kembali.


"Mati?!" Taja terbelalak. Siapa yang dimaksud, Taja belum paham.


“Karena dia terjun ke telaga?” Taja menebak.


Purwa menggeleng lagi, “Bukan. Dia dieksekusi mati.”


Taja tertegun, matanya menyipit tegang, “Eksekusi mati?”


“Sudah cukup. Sekarang kembalilah ke tempatmu!” suara Purwa tertekan di tenggorokan.


“Kamu tahu namanya! Katakan padaku siapa dia?” Taja menyingkap selimut Purwa.


“Tidak mau. Tidurlah!” tolak Purwa cepat-cepat menarik selimut, tubuhnya melingkar dan membelakangi Taja.


Terlanjur penasaran, Taja memaksa Purwa agar mengatakannya, “Ayo katakan, lalu aku akan membiarkanmu tidur … atau aku akan menggelitikmu sampai pagi.“


Purwa menggeliat-geliat geli ketika jari-jari Taja merayap mulai dari telapak kaki hingga betis, “Baik … baik …, aku akan menulisnya saja."


Akhirnya ia menurut saja. Segera diraihnya sebilah lontar dan pena arang di meja dekat pembaringan.


“Kenapa kau begitu penasaran …,” celoteh Purwa sambil menuliskan sesuatu di lontar.


“Sekarang, jangan ganggu aku lagi," kata Purwa sambil menyodorkan lontar, lalu kembali meringkuk di kasur empuk dan menarik selimut rapat-rapat.


Taja kembali ke tempatnya berbaring. Tinggal dia sendirian yang masih terjaga. Di bawah remang-remang cahaya kandil sebagai satu-satunya penerangan malam di ruangan, dilihatnya isi lontar dari Purwa.


Taja tak berkedip, sesaat terkesiap saat membaca sebuah tulisan.


’Bocah Malapetaka.’


Taja termenung setelah membacanya. Namun sebait puisi berkumandang dari arah luar. Membuyarkan pikirannya.


’Ksatria terbunuh, bulan mati


Raja tertawa, air mata darah


Waktunya Tikus Byanyi!’

__ADS_1


Disusul gong berkumandang.


...* * *...


__ADS_2