The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)

The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)
46. Lembah Gundil (1)


__ADS_3

Pagi sangat cerah.


Hari itu di sebuah pondok tua di Lembah Gundil, Taja dan Tuan Anjing Hitam berada, sinar matahari menggugah anak berumur 15 dari tidurnya semalam, kedua kelopak matanya perlahan-perlahan terbuka. Taja, merasa bingung menyadari dirinya telah berada di pembaringan empuk. Dia berusaha untuk mengingat apa yang telah terjadi semalam, sekarang dirinya sudah berada di tempat itu. Ruangan bersih dan rapi, aroma harum ladang bunga menyeruak masuk sampai ke dalam ruangan. Sementara balutan di bagian dada dan lengan kiri. Sesekali dia menyeringai menahan sakit akibat berduel dengan serigala jelmaan Tuan Anjing Hitam.


Taja tertegun, melihat keadaan sekeliling ruangan pondok tua itu. Benar-benar berubah, seperti ada yang menyihirnya menjadi sebagus ini, atau mungkin dia sedang bermimpi. Taja belum selesai terheran-heran, sesosok lelaki bertubuh tegap datang dari samping pondok, derap langkahnya terdengar dari tempat Taja berada. Lalu sosok itu masuk ke ruangan tempat dia sedang berada di pembaringan.


“Siapa nama margamu?“ satu pertanyaan dari Tuan Anjing Hitam menyambutnya bangun. Tetapi Taja tidak bisa menjawab dari menanyakan tentang hal yang ia sendiri juga tidak pernah mengetahuinya.


”Marga? Mengapa Tuan tiba-tiba menanyakan hal itu?” Taja balik bertanya.


“Sudah sadar rupanya, tidurmu seperti orang pingsan semalam. Seperti bukan tidur, tetapi benar-benar pingsan,“ orang itu berdehem menahan senyum.


“Tuan siapa?“ tanya Taja lagi, penuh heran melihat sosok asing telah berada satu atap dengannya saat ini. Orang itu menoleh balik, tersungging senyum sekali lagi di bibirnya.


“Sungguh kamu tidak mengenaliku lagi, wahai manusia peri?“ Tanya orang itu, Taja pun semakin dibuat heran olehnya.


“Kamu, bahkan tahu aku yang sebenarnya, memangnya siapa Tuan?“


“Kenapa jadi sungkan dan memanggilku Tuan? panggil saja aku seperti kemarin-kemarin!”


“Aku sungguh tidak mengenalimu, Tuan ….”


Orang itu tertawa lebar, sebaliknya dengan Taja, hanya bengong tidak mengerti.


“Panggil aku ... Tuan Anjing Hitam!”

__ADS_1


“Apa?!” Taja terkejut mendengar orang itu mengakui dirinya adalah Tuan Anjing Hitam.


“Bagaimana mungkin? Tuan Anjing Hitam adalah seorang lelaki tua, umurnya sekitar 80-an, dia sangat lemah, dan .…”


“Menjijikkan … begitu, bukan?“ lelaki itu tertawa lagi setelah memotong kalimat Taja.


“Benar, memang itulah aku yang kemarin, tetapi setelah ilmu Serigala Api itu lenyap dari dalam diriku, maka aku berubah wujud kembali seperti sebelum aku mempelajari ilmu itu. Inilah aku yang sebenarnya, Taja … inilah aku! Si Tua Tuan Anjing Hitam yang kemarin kau temui,” lanjutnya berbinar-binar.


Pria berbadan tinggi, tegap dan berambut panjang sepunggung bercorak hitam meskipun masih ada beberapa uban di sela-sela permukaan rambut, tetapi jauh lebih muda dari Tuan Anjing Hitam yang kemarin dikenalnya.


 “Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Tapi jika memang ini benar … berarti Tuan sudah terbebas dari ilmu Serigala Api?“


Pria yang mengaku sebagai Tuan Anjing Hitam itu mengangguk, lalu tertawa lagi. Taja perlahan-lahan mengiringi tawanya.


“Bagaimana pun Tuan telah ingkar janji,” nada suara Taja terdengar tegas meskipun sangat letih. Tuan Anjing Hitam mengernyitkan dahi, aneh rasanya mendengar anak itu memanggilnya dengan sebutan tuan. Di samping itu, dia juga merasa bersalah atas kejadian kemarin malam.


“Maafkan aku, Taja… aku sungguh tidak ingat kalau kemarin adalah malam bulan purnama, saat-saat seperti itu aku bisa berubah menjadi serigala sebelumnya. Sungguh aku minta maaf, mau memaafkan aku?“


Taja mengangguk, “Tapi … lain kali kalau Tuan berani berjanji jangan ingkar lagi!”


Tuan Anjing Hitam mengangguk tak mampu menahan tawa, ia hanya tersenyum, ”Baiklah,”  ujarnya.


”Tidak serius?“ Taja tidak yakin.


“Bukan begitu. Lucu rasanya kalau kamu memanggilku Tuan karena sudah sangat lama tidak ada yang menyebutku dengan panggilan itu. Mereka sudah terbiasa memanggilku si Tua Busuk, si Tua Gila, si Tua Iblis, si Tua Bau … atau ... apalah yang setara dengan itu. Baru setelah semalam tadi, kamulah yang pertama memanggilku Tuan. Padahal Kemarin kamu masih memanggilku Tuan Anjing Hitam saja, kenapa sekarang memanggilku Tuan? Apakah karena penampilanku yang berubah?” Taja kesulitan menjawab pertanyaaan Tuan Anjing Hitam.

__ADS_1


“Ya, sangat berbeda dengan keadaan Tuan yang sekarang. Tuan terlihat lebih gagah dan lebih muda, sehingga aku akan merasa kurang ajar jika memanggil Tuan hanya dengan nama saja,” kata Taja tersipu, disambut tawa Tuan Anjing Hitam mendengar jawaban itu.


Baru kali ini Taja menyadari bahwa ternyata Tuan Anjing Hitam adalah seseorang yang humoris dan murah senyum. Tidak ada beban terlihat di wajahnya, dia sungguh-sungguh tampak santai dan sangat menikmati hidup.


“Jangan menatapku seperti itu, Taja. Aku tahu yang sedang kamu pikirkan tentang aku, lebih dari itu ... aku bisa membaca hampir seluruh isi pikiranmu,” pandangan Tuan Anjing Hitam beralih keluar jendela.


“O, ya? Aku tidak percaya! Mana mungkin, Tuan bahkan tidak melihatku saat berbicara,” Taja bangkit dari pembaringannya dan mendekati Tuan Anjing Hitam lalu berdiri di sebelahnya yang menghadap jendela, memandang panorama indah di luar sana.


”Wooow!”


Taja terpukau akan panorama sangat indah dari balik bingkai jendela usang. Hamparan bunga bermekaran liar seluas mata memandang, menelusuri sampai ke kaki bukit. Siul burung-burung kecil ke sana-sini, indahnya warna-warni capung dan kupu-kupu beterbangan di permadani bunga pinggiran tebing-tebing. Ini sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya di tempat itu.


“Bagaimana mungkin, ini keajaiban! Aku merasa seperti di rumah sendiri. Tetapi ... mengapa tiba-tiba berubah seperti ini hanya dalam semalam? Bukankah kemarin ...,” Taja belum lepas dari terheran-heran berlama-lamaan. Mengingat pertama kali saat datang ke tempat yang terkesan sangat angker, berserakan banyak pohon-pohon mati dan becek. Tetapi sekarang tempat yang sama telah sangat jauh berubah.


”Mana mungkin hanya dengan semalam saja sudah berubah? Kecuali jika kita sedang berada di tempat lain!”


“Tidak! Kita masih berada di pondok yang kemarin. Hanya lingkungannya telah berubah karena kehadiranmu ... juga karena sudah tidak ada hawa jahat lagi. Semuanya kembali seperti semula! Memang seperti inilah tempat ini jauh sebelumnya. Orang-orang Tanapura sering menyebutnya ’Perbukitan Bunga yang hilang’...,” Tuan Anjing Hitam merentangkan kedua tangan ke luar jendela dengan mata terpejam, menghirup udara segar dalam keindahan alam hari itu. Sinar matahari cerah menerpa wajahnya yang bersih dan segar, lagi-lagi senyum kebebasan menghias di wajahnya.


”Karena kehadiranku?” ada satu kata yang janggal dari ulasan Tuan Anjing Hitam. Sementara pria tinggi besar itu masih fokus pada alam, Taja menguraikan pikiran aneh itu.


”Karena kamu sebenarnya, manusia setengah peri,” kata Tuan Anjing Hitam.


”Bagaimana Tuan bisa ...?!” Taja terkejut. Ternyata Tuan Anjing Hitam sudah tahu siapa diri Taja sebenarnya. Padahal, ia tidak pernah mengatakan pada siapapun.


...* * *...

__ADS_1


__ADS_2