The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)

The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)
3.12. Sang Jawara


__ADS_3

“Apakah mataku yang salah, melihat perubahan alam ini … atau hanya perasaanku saja ...,“ gumam Paduka Jayasinggih, sepanjang jalur setapak taman pemakaman leluhur istana. Sementara itu, puluhan pengawal mengiringi. Dua pengawal terdekat, menuntun kuda yang ditumpangi Paduka.


Paduka Jayasinggih belum berhenti memandang alam sekelilingnya, ada perasaan aneh bercampur heran ketika melihat rumput-rumput bersemi, pohon-pohon pinus di tepian hutan menghijau sejauh mata memandang, dan kelopak-kelopak bunga bertaburan tersapu oleh angin sepoi-sepoi.


“Ini seperti musim semi, tetapi bukan musim semi … bagaimana mungkin, bukankah saat ini musim kemarau?” gumamnya untuk ke sekian kali.


Ketika rombongan Paduka Jayasinggih dan pengawalnya sampai pada ujung taman istana dekat gerbang belakang, dua orang memakai jubah kelabu telah menyambut Paduka. Kedua oang itu membungkuk sesaat dan  menyingkap cadar yanag menutup wajah masing-masing.


Seorang yang bertubuh tinggi, berjanggut panjang dan hampir seluruh rambut kepalanya memutih. dia tersenyum hormat dan membuka sapaan hangat, “Semoga hari ini Paduka baik-baik saja, bagaimana perjalanan Paduka dari pemakaman leluhur?“


Paduka turun dari pelana kuda, tampak wajah dingin seakan jawaban yang tidak cukup bagus. Dan selama ini, memang selalu seperti itu ekspresinya.


“Ada apa Paduka? Sepertinya Paduka selalu terlihat resah akhir-akhir ini?“ Seorang lagi, wanita berjubah kelabu memberanikan diri bertanya.


Paduka Jayasinggih menghela nafas panjang, pandangannya melayang-layang ke langit-langit istananya yang megah, lalu beralih ke ufuk timur. Di sana terlihat jelas deretan bukit-bukit hijau berkabut.


“Aneh … apa menurutmu sekarang ini musim semi?“ tanya Paduka Jayasinggih pada dua orang berjubah kelabu sambil melangkah masuk halaman belakang melalui gerbang itu diiringi dua orang berjubah kelabu, disusul deretan pengawal mengikutinya lalu dengan rapi berpencar. Paduka Jayasinggih beriringan dengan dua abdi.


“Pohon-pohon Ara semakin lebat daunnya, dan Angsana yang langka bersemi kembali setelah setelah meranggas bertahun-tahun … padahal musim ini bukan waktunya bersemi…bahkan mulai berbunga, pertanda apa ini … mungkinkah sihir?“ lanjut Paduka Jayasinggih tanpa berhenti memandang langit-langit.


“Mohon ampun, Paduka! Jika hamba boleh bicara … sebenarnya bukan hanya itu…tanaman tumbuh lebat di tepian sungai, sekarang merambat cepat sampai ke pedesaan,” si Wanita setengah baya berjubah kelabu menambahi.


“Juga tumbuhan akar merah, bukankah tumbuhan itu sudah lama dinyatakan mati ratusan tahun lalu, tetapi kemarin para dayang menemukan ratusan tunas. Ini keajaiban!”


Paduka Jayasinggih dan dua abdi tiba di serambi istana, dua pengawal di depan pintu memberi hormat dan tunduk. Puluhan pengawal yang sejak tadi mengiringinya, lantas membubarkan barisan dengan tertib.


Paduka Jayasinggih memasuki serambi istana, “Kalaupun ada keajaiban, itu karena aku ada disini!” ujarnya sombong.


“Apakah Ki Sanca sudah datang?” tanya Paduka Jayasinggih. Dua orang berjubah kelabu yang mengekor di belakangnya saling pandang.


“Dia sudah menunggu di ruang altar tengah, Paduka …,” jawab salah satu dari mereka.


“Antar aku ke sana!“ suruh Paduka Jayasinggih.


Tanpa banyak bicara lagi, mereka bertiga segera menuju ruangan besar, sunyi, berisi altar di tengah-tengahnya. Di sana sudah ada seseorang berdiri di depan Altar.


“Apa yang terjadi?“ tanya Paduka Jayasinggih, melangkah tergesa-gesa menghampiri seseorang bernama Ki Sanca. Paduka Jayasinggih hanya mendapat lirikan tajam, dingin dan sorot mata penuh tanda tanya.

__ADS_1


“Apa yang terjadi, Ki Sanca?” tanya Paduka Jayasinggih sekali lagi. Dia kelihatan cemas dan penasaran sekali. Sebaliknya, Ki Sanca tidak bergeming. Sosok pria tinggi berkulit gelap segelap jubah yang dikenakannya dengan usia jauh lebih tua dari Paduka Jayasinggih sekali lagi melirik tajam ke samping.


“Kita telah lengah,” nada suara Ki Sanca terdengar dingin, berat dan datar sembari kesepuluh jari-jari tangannya sejak tadi menari-nari di atas permukaan air yang tergenang dalam bejana logam dan diselingi bacaan mantera.


Paduka Jayasinggih mendoyong muka semakin dekat ke bejana.


“Apa itu?“ tanya dia merasa aneh ketika melihat ada bayangan tidak jelas muncul di permukaan air.


“Kekuatan … ada kekuatan yang bangkit dari arah Tanapura…kekuatan itu terasa semakin kuat setiap hari … begitu kuat hingga sampai ke sini?” desis Ki Sanca dan tetap konsentrasi pada mantera yang diucapkannya.


“Kekuatan?“ ulang Jayasinggih. Dia juga masih menatap dalam-dalam ke permukaan air di bejana selebar dua langkah laki-laki dewasa. Bayangan samar-samar di permukaanya semakin memudar.


“Kekuatan dari Tanapura katamu?“ Paduka Jayasinggih terkejut, “Jadi…diam-diam Raghapati menghimpun kekuatan lebih dari yang sekedar aku tahu sejauh ini. Untuk menyerang aku?”


Telunjuk Ki Sanca bergerak-gerak pertanda prasangka Jayasinggih tidak benar.


“Bukan dari Raghapati kekuatan itu berasal…tetapi dari sesuatu atau seseorang lain yang aneh … berada di sekitar Tanapura. Dia tidak menyadari kalau kita bisa merasakan dia,” balas Ki Sanca. Keringat mengalir di dahinya.


“Sesuatu … seseorang …? Bisakah aku melihat jelas?“


“Bayangan apa? Katakan padaku, bayangan apa itu?” Jayasinggih tidak sabar lagi.


“Seorang anak laki-laki … berusia sekitar 10 tahun … hanya itu yang bisa aku lihat. Sudah pasti anak malapetaka itu!”


“Gunakan kekuatanmu untuk memperjelas bayangan itu, Ki Sanca!“ Suruh Paduka Jayasinggih. Tetapi Ki Sanca menggeleng menandakan bahwa dia tidak mampu lagi.


“Tidak berguna!” maki Paduka Jayasinggih.


“Dia terlalu kuat, Paduka sudah berhari-hari hamba mencoba memperjelas penglihatan hamba…tapi hanya mampu sebatas ini.“ jawaban itu membuat Jayasinggih gusar.


“Lalu … apa yang harus aku lakukan, Ki Sanca?“ sementara kecemasan Jayasinggih menjadi-jadi, Ki Sanca berusaha menenangkan diri untuk memulihkan tenaganya yang terkuras banyak setelah digunakan untuk mempraktekan mantera penglihatan air di bejana itu.


“Jangan memandang hamba seperti itu, Paduka!” Ki Sanca merasa risih diperhatikan tidak biasanya, tatapan Paduka Jayasinggih penuh curiga dan tidak suka. Itu karena pengaruh emosinya yang naik turun.


“Ramalan itu tidak akan benar-benar terjadi, iya ‘kan? Apa yang pernah dikatakan Sasenka tidak benar … benar, bukan?” Paduka Jayasinggih mendadak ketakutan mengingat sesuatu tentang Sasenka dan Tajura. Bayangannya kembali pada setahun silam saat kejadian itu, eksekusi Tajura dan penyiksaan si Tua Sasenka sampai hari ini sekarat. Sementara perasaan takut akan kehancuran tahtanya, takut akan kehancuran hidupnya … takut akan kutukan itu, berbaur dengan ambisi menguasai Jawata, tak pernah surut dari pikirannya.


“Salah Paduka, ramalan Sasenka ada benarnya, ramalan itu akan terjadi di negeri ini … ramalan Sasenka dan kutukan Tajura.“

__ADS_1


“Hush...!!!” Sela Raja Jayasinggih keras-keras, jari telunjuknya berdiri di depan mulut, “Itu tidak benar, tidak benar!! Semua itu hanya racau igau si Tua dan teriakan sekarat anak laki-laki berumur 10 tahun, tidak akan terjadi! Tidak akan!!“ lagi-lagi Paduka Jayasinggih berteriak sampai nafasnya tersengal-sengal.


“Tuanku, Sasenka dan Tajura bukan manusia biasa … mereka berilmu tinggi dan tangguh, jika bukan karena tipu daya kita, mereka tidak akan kalah … dan kita tidak akan pernah bisa menaklukkannya!”


“Ha … ha … ha!!!! Ternyata sekarang Tajura sudah mati … dan Sasenka saat ini sekarat di Penjara Bawah Tanah. Apa lagi yang kita khawatirkan? Apa?!” tawa Paduka Jayasinggih memecah kesunyian, sama sekali tidak lucu dalam suasana kelam seperti saat itu. Dia merasa sebaliknya.


“Tetapi tidak mudah untuk membunuhnya, dia anak yang tangguh dan berilmu tinggi … untuk membunuhnya saja kita harus kehilangan banyak orang, senjata, bahkan harga diri … sampai-sampai mengemis pada Raghapati agar dia bersedia meminjamkan pedangnya untuk kita. Tidak ingat itu, Tuanku? “


Ingatan Jayasinggih masih segar tentunya, karena itu dia merasa tersinggung dan perkataan Ki Sanca telah menyulut emosi.


“Baiklah, akan aku bayar rasa malu itu! Sekarang katakan padaku bagaimana  mengatasi ancaman ini?”


Tubuh Ki Sanca yang tinggi sedikit terangkat saat Lu mencekik krah jubahnya. Tapi itu lama karena sesak Jayasinggih mendadak kambuh, “Ramuanku! Berikan padaku!“ teriaknya pada salah satu abdi berjubah kelabu yang sejak tadi masih memperhatikan di sudut ruangan. Dia cepat-cepat menyodorkan sebotol ramuan.


Paduka Jayasinggih segera meneguk ramuan itu sampai habis, lalu mencampakkan botolnya ke sembarang arah. Botol itu terpelanting ke lantai dan remuk.


“Tuan harus mengirit. Ramuan itu sudah sangat sulit dibuat, daun 10 jenis itu sudah sangat langka,” Ki Sanca memperhatikan tingkah Jayasinggih, berantakan seperti pemabuk. Tapi biar bagaimana pun Jayasinggih adalah Raja Tanapura yang sangat ditakuti, sedikit yang tahu kalau dia mengidap penyakit aneh dan karena hanya Ramuan penawar itu satu-satunya, hidupnya jadi tergantung pada ramuan pahit terbuat dari dedaunan khusus. Tapi lepas dari kelemahannya itu, Jayasinggih adalah orang yang berilmu tinggi, dia memiliki Pedang Maar sebagai salah satu pedang melegenda dan berkekuatan, mematikan, sekaligus simbol kekuasaan Tanapura.


“Apa yang aku takutkan tanpa ramuan itu? Aku akan mati? Ha ha ha! Semudah itukah kematianku? Tidak! Tidak ada sesuatu yang bisa membuatku mati! Kalian harus ingat itu!“


“Acrasea merambat lebat, tinggal mengambil di belakang istana dan untuk mendapatkan 8 daun-daun yang lain bukanlah hal yang sulit. Lagipula, aku masih bisa meracik ramuan untuk diriku sendiri!” Jayasinggih sempoyongan sesaat, meracau tanpa kendali sampai ramuan itu bereaksi dalam tubuhnya. Setelah itu barulah dia merasa seperti orang linglung, “Kenapa diam? Bicaralah padaku, Ki Sanca! Apa yang harus aku lakukan?“


Ki Sanca tak bergeming di posisinya, gertakan Paduka meremas krah bajunya.


“Jangan katakan padaku kalau aku tidak bisa menghentikan takdir masa depan?” kali ini Jayasinggih berlagak seperti Tuhan. Dia menghampiri Ki Sanca, merapat ke tubuh besarnya dan mencengkeram krah bajunya sekali lagi. Ki Sanca tak berkutik, meskipun dia adalah penyihir sakti tapi di hadapan Jayasinggih, dirinya bukanlah tandingan Raja Tanapura itu


“Berunding dengan Raghapati … bujuk dia untuk mencari tahu tentang anak lelaki di wilayahnya … anak laki-laki yang terhebat dan terkuat. Sedangkan hamba akan mencari jalan lain, 8 Malaikat kematian yang akan menelusuri tepian Tanapura … mereka lebih peka pada darah anak-anak!“


Paduka Jayasinggih semakin kuat mencengkeram krah Ki Sanca dan menegangkan otot-otot tangan di balik sarung besi dan menekan suaranya hingga terdengar geram, “Lalu … setelah kita dapatkan bocah itu, apa yang akan kita lakukan?”


“Bunuh dia …,” desis Ki Sanca berhasil mengendurkan urat syaraf Jayasinggih.


“Bunuh dia sebelum semakin kuat dan menghancurkan Paduka dan Tanapura!“


Paduka terdiam dalam pikirannya. Angin berdesir dalam kebisuan malam Tanapura yang pengap dan tanpa keceriaan.


...* * *...

__ADS_1


__ADS_2