The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)

The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)
3.20. Duel Praja (1)


__ADS_3

Ketua Sujinsha menggenggam kedua tangan Raojhin, "Kamu, Praja Bumi terbaik pilihanku dalam angkatan tahun ini."


Ucapan Ketua Sujinsha mengingatkan Raojhin tentang sosok Ayah kebanggaannya. Namun banyak pengkhianatan dari kaum pemberontak yang berniat menggulingkan kekuasaan Ayahnya.


"Jangan sampai mengecewakan aku. Kalahkan mereka semuanya. Aku tahu, darah siapa latar belakang keluargamu. Aku akan merahasiakan sejatinya identitasmu sebagai Gattorian," lanjut ucapan Ketua Sujinsha, membuyarkan pikiran Raojhin tentang ayahnya, sekaligus ia terkejut darimana Ketua Sujinsha tahu perihal identitas dirinya selama ini disembunyikan.


Ketua Sujinsha menyodorkan pedang baja dengan pangkal gagang berukir tulisan aksara khas Tanapura. Dingin terasa oleh Raojhin ketika benda tajam itu disentuhnya.


"Pedang ini?" ragu Raojhin, menerka kiranya tahu jenis pedang yang turun-temurun diwariskan setiap generasi para Tetua Tanapura. Namun dia belum mengerti maksud Ketua Sujinsha menunjukkan pedang bukan sembarangan itu.


"Tidak asing dengan ini, bukan? Pedang ini, pernah bertahun-tahun singgah di tangan Penguasa Gattoria. Setelah dikembalikan ke Tanapura, pedang ini diwariskan pada siapapun yang ditunjuk Paduka Raghapati. Pedang Gajah Ratu, ini sangat kuat tetapi ringan. Jangan coba-coba ketajamannya, mampu mengiris gunung semudah daging empuk."


Raojhin terkesima kehebatan pedang di tangan Ketua Sujinsha, "Pedang Gajah Ratu?" pikirnya.


"Jika kau memenangkan satu pertarungan saja dalam latih tanding beladiri nanti, maka aku akan menyerahkan pedang ini padamu. Tapi jika kamu kalah, aku juga akan tetap memberikannya padamu. Apapun hasilnya, kau akan tetap merasa bangga menerima pedang ini dalam keadaan menang atau karena kalah," kata Ketua Sujinsha.


"Pedang ini akan diberikan padaku?" heran Raojhin tak percaya, terperangah karena terlalu akan kata-kata Ketua Sujinsha bahwa ia akan memberikan Pedang khas Ksatria Gajah. Terpikir olehnya barangkali itu sebuah lelucon di siang terik, hanya untuk memicu semangat Raojhin. Tetapi Ketua Sujinsha cukup mengangguk tegas sebagai jawaban meskipun belum cukup meyakinkan.


"Tetapi, bagaimana kata orang nanti bila Ketua tanpa pedang ini?" tanya Raojhin.


"Kenapa merisaukan aku? Masih ada lagi pedang andalan lain. Hawunai dan Gaar. Dua dari 11 Pedang Legenda. Bukan maksudku meremehkan Pedang Gajah, meskipun pedang ini bukan termasuk dari 11 pedang legenda, tetapi lebih dari sekedar cukup hebat. Ini pedang warisan dan kau harus memiliknya. Semoga pedang ini akan lama berjodoh denganmu."


"Tetapi ...,"


"Ssst ...," Ketua Sujinsha menyela kata-kata Raojhin. Memang anak itu tampak ragu meskipun sebenarnya dia merasa tersanjung sebagai orang pilihan yang akan berpeluang untuk memiliki Pedang Gajah Ratu.

__ADS_1


"Setelah adu tarung, pedang ini akan ada di tanganmu," lanjut Ketua Sujinsha disambut bungkamnya Raojhin, hanya tatap matanya enggan beralih dari Pedang Gajah Ratu dalam sarung baja pembungkusnya.


"Tunggu apa lagi? Ayo, kita ke sana!" tanpa mengulur waktu lagi, Ketua Sujinsha merangkul pundak Raojhin dan bergegas arena latih tanding laga.


Antara setengah ragu dan yakin, Raojhin mengikuti langkah Ketua Sujinsha mendekati arena duel yang dibatasi tambang-tambang mengelilingi. Sekali lagi Raojhin mencuri pandang pada wajah sang Ketuayang yang dikenal banyak orang sebagai sosok berkarakter keras, berhati dingin, dan angkuh, ternyata tidak semua penilaian itu benar. Ada sifat menyenangkan dan ramah yang tersirat dari sikap Ketua Sujinsha yang baru-baru ini dekat dengannya. Diam-diam Raojhin berkesimpulan bahwa ternyata seorang Ketua Sujinsha yang dikenal dengan sebutan si Tak Mau Tahu, bisa berjiwa lembut, tutur kata halus dan suka menderma senyum.


"Boleh aku menanyakan sesuatu, Raojhin?" tanya Ketua Sujinsha mulai pembicaraan.


"Tentu, Tuan. Tentang apa?" balas Raojhin balik tanya.


"Tentang seorang praja," jawab Ketua.


"Siapa yang Tuan maksud?" Raojhin kurang mengerti.


"Taja," jawab Ketua Sujinsha.


Ketua Sujinsha mengangguk kecil, "Bukankah kalian sudah berteman?"


"Dia bukan temanku," kata Raojhin. Diam sesaat, "Bukankah Tuan lebih dulu mengenalnya?" justru dia bertanya balik.


"Aku tak dapat dekat dan mengenal Taja setiap hari, karena itu bertanya padamu," kata Ketua.


"Ia dan dua kawannya, pengelana entah darimana, bersama seorang temannya, Lorr En. Hanya itu setahu saya," kata Raojhin menjelaskan ala kadarnya. Meskipun jawaban itu belum cukup melegakan keingintahuan Ketua Sujinsha. Raojhin berpura-pura untuk mengingat-ingat ketika bersama Taja beberapa hari lalu ketika mereka sedang berada di istana kitab.


"Hanya itu?" Ketua mengernyitkan dahi.

__ADS_1


"Ya, dia tidak banyak bicara tentang latar belakang. Dia tidak bisa membaca aksara," kata Raojhin singkat.


Sementara dari arena duel masih sedang berlangsung, siul dan riuh murid-murid Prajurit Muda menyoraki jagoan mereka. Perhatian Ketua Sujinsha dan Raojhin beralih ke sana.


"Ayo, cepat bergabung dengan mereka!" Kata Ketua Sujinsha kembali pada tujuan mereka mendekati arena itu.


"Baik, Tuan!" Tanggap Raojhin lantas mengikuti arah Ketua Sujinsha menuju barisan melingkar para murid Prajurit Muda. Ketika mereka berdua datang, hampir semua pasang mata beralih kepada mereka. Tiba-tiba Raojhin merasa canggung termakan tatapan semua yang tengah berada di sana, apalagi saat melihat Gandha berjalan sempoyongan dari area duel dan dipapah seorang pelatih menuju ke tepi barisan. Lebih mengejutkan lagi, di sana sudah ada Bintani dalam kondisi yang tidak jauh berbeda. Muka mereka lebam-lebam, rambut acak-acakan sambil meringis kesakitan.


Raojhin semakin kikuk setelah menduga-duga kalau sebentar lagi dia juga akan bernasib serupa dengan Bintani dan Gandha.


"Kamu, Praja Bumi! Maju!"


Baru saja Raojhin berpikir seperti itu, seorang pelatih menunjuk padanya dan memerintahkan untuk menuju arena laga.


Apa boleh buat, terpaksa dia melangkah ke depan area kosong di tengah-tengah, melintasi barisan murid-murid senior yang mengelilingi. Di sana, sudah berdiri seorang murid senior sebagai lawan tanding. Siap menanti.


"Raojhin, Praja Bumi terbaik dari kelas Naga, akan beradu tanding dengan Praja Langit!" seru wasit menyambut Raojhin ke dalam arena laga. Seseorang Praja Langit pun masuk arena dari seberang jalur.


Serempak, sorak riuh para murid senior sebagai penonton mengiringi pertemuan Raojhin dan Praja Langit.


"Jika nanti, kamu sama seperti praja lain yang gagal tadi, maka bersiap-siaplah babak belur!" kata Praja Langit, lawan Raojhin membuka baju. Nampak otot perut dan dada. Mengumbar senyum, menyeringai di hadapan Raojhin mewakili semua Praja Bumi.


Raojhin membalas dengan tatapan tajam tanpa kedip, sebelumnya sempat merasa ciut ketika menoleh pada Bintani dan Gandha kalah melawan Praja Langit. Tetapi ketika teringat perkataan Ketua Sujinsha, semangatnya kembali menyala-menyala.


Jantung Raojhin berdegup kencang karena ini pertama kali melawan Prajurit Muda. Ini suatu penghargaan atau sebaliknya, yang jelas jika dia kalah maka itu sangat mempermalukan dirinya. selebihnya, Raojhin hanya bisa pasrah jik harus demikian.

__ADS_1


"Praja Langit itu, satu yang terbaik. Jika kamu mampu mengalahkan dia, maka poin 10 kali lipat dari nilai standar akan kamu dapatkan. Tapi sebaliknya, jika kamu terbukti sama saja seperti dua temanmu yang di sana itu, poin untukmu adalah nol. Artinya, kamu yang terbaik sekalipun dari Kesatuan Akademik Praja, belum cukup pantas kemampuan kalian setingkat Praja Bumi," kata wasit di dekat Raojhin. Jelas ucapannya meskipun teredam riuh suasana.


...* * *...


__ADS_2