
Kicau burung dan nyanyian angin sepoi-sepoi beradu di tengah-tengah lembah sunyi dan sebatang kara. Ratusan langkah dan puluhan loncatan telah membawa Taja ada sebuah telaga cukup luas, airnya bening sampai terlihat ke dasar. Taja melepaskan Tuan Anjing Hitam dari punggungnya, dan langsung terjun ke telaga bening yang memikat hatinya di siang bolong itu. Tuan Anjing Hitam pun tidak mau ketinggalan, meski kedua kakinya lumpuh, tapi tangan-tangannya masih bugar untuk menyelam dan bermain-main ke dasar telaga. Lagipula telaga hanya sebatas tinggi tubuhnya.
“Taja, terima kasih telah melepaskan belenggu itu dari tubuhku!” teriak Tuan Anjing Hitam tanpa peduli tersedak air berkali-kali dan berusaha untuk menyembulkan kepalanya sampai sebatas leher ke permukaan. Tetapi, Taja yang diajaknya bicara belum muncul ke permukaan. Sepertinya ia terlanjur asyik menyelam di air. Tanpa sempat terpikir licik sebelumnya, kesempatan itu dimanfaatkan oleh Tuan Anjing Hitam untuk berbuat sesuatu. Setelah celingukan sesaat ke sekeliling perlahan-lahan menyelinap ke semak-semak dan menjauh dari telaga.
Wajah imut anak 11 tahun itu akhirnya mencul ke permukaan, sambil mengusap wajah berkali-kali dia menoleh ke sekeliling.
“Tuan Anjing Hitam!“ Taja memanggil orang tua itu.
“Tuan Anjing Hitam!!“ panggilnya lebih keras sekali lagi.
“Tuan Anjing Hitam, di mana kau?!“ Taja keluar dari bibir telaga dan menunggu sampai Tuan Anjing Hitam muncul ke permukaan, tapi sia-sia saja karena ternyata orang tua itu sudah tidak berada di sana.
Menyadari kelengahannya, Taja cepat-cepat bergerak mencari jejak si Tua itu.
“Gawat! Pasti dia sudah pergi dari sini!“
Dugaannya benar saat melihat jejak kaki menjauh dari telaga itu.
“Ini pasti jejaknya … tetapi ke mana dia?“ pikirnya menelusuri tanah berbatu.
“Tuan Anjing Hitam!“ panggilnya berkali-kali meskipun tidak ada sahutan. Akhirnya Taja kembali pondok tua itu, berharap bahwa Tuan Anjing Hitam sudah sampai di sana lebih dulu.
Tetapi setibanya di sana, sosok Tuan Anjing Hitam belum juga kelihatan.
Taja mulai curiga, ”Jangan-jangan ia sudah kabur dari tempat ini! Bagaimana mungkin? dia sudah berjanji tidak akan kabur … lagipula dia lumpuh, mana mungkin dia berjalan sendirian di lembah sunyi dan buas ini?” pikirnya Taja tanpa henti.
“Bukankah aku belum mengenal dia dengan benar? bagaimana kalau selama ini dia telah berbohong agar bisa kabur?“ perasaan Taja berubah tidak enak, ”Jika memang begitu, itu artinya … akan ada bahaya bagi penduduk dekat lembah ini, juga keamanan negeri Pemukiman Sawo terancam!”
“Oh ... tidak!” Taja tersadar dari kecerobohannya. Jika itu terjadi, maka dia telah melakukan kesalahan besar dengan melepas Tuan Anjing Hitam dari belenggu itu. Dia segera beranjak, dan…
Blash!
Bayangannya melesat cepat ke rerimbunan pohon, menjauh dari pondok kayu tua.
Awan hitam menyelimuti ufuk barat senja di atas langit Tanapura. Istana Merak yang megah nan kokoh tampak kelam dibawah bayang-bayang mendung tebal seakan ingin menelan negeri itu. Tetapi angin berhembus manja, meskipun suasana langit tidak bersahabat. Biasanya, suasana seperti menandakan akan ada badai kencang semalaman.
__ADS_1
Sementara itu dari kejauhan sepanjang gerbang Istana Phoenix, tampak jelas serombongan orang-orang berkuda menuju area istana, mereka melewati gerbang istana setelah penjaga gerbang berseru pertanda masuk. Gerbang terbuka lebar, puluhan orang dalam rombongan itu memasuki area istana diiringi sejumlah pasukan mengitari di sekelilingnya.
Kemudian suara lantang penjaga gerbang terdengar untuk kedua kalinya pertanda gerbang segera ditutup.
“Mereka sudah datang…,” suara halus Putri Alingga menghangatkan awal pembicaraan. Shaninka disampingnya ikut memandang ke arah yang sama. Dari balkon kediaman Putri, mereka berdua menyaksikan kedatangan rombongan dari Tanapura, yang tidak lain adalah tamu Paduka Raghapati.
“Cukup banyak!”
“Ada Putri Sekar Wening di sana, dia juga ikut menghadiri hari Bithari sampai akhir bulan Wehu nanti,” kata Putri Alingga.
“Oh, jadi putri itu datang lagi, ya? Putri yang tidak menyenangkan!“ Shaninka menggumam, tetapi sempat terdengar Putri Alingga.
“Hush! Tidak boleh bicara begitu, jika bukan aku yang mendengarmu, pasti kamu sudah dihukum!“ Ujung telunjuk Putri Alingga mengacung di depan mulutnya dan kedua bola mata bening melotot.
“Maaf …,” ujar Shaninka segera. Ketidaksengajaannya membuat Putri Alingga sedikit tersinggung. Tapi itu untung saja ia tidak terlalu mempermasalahkannya.
“Hei, kenapa diam saja?” tanya sebelum Putri Alingga menuruni anak tangga. Shaninka belum mengerti maksud Sang Putri.
“Mengapa? “ Shaninka balik tanya.
“Ikutlah denganku ke Balairung Perak untuk menyambut para tamu dari Tanapura itu!“ Ajak Putri Alingga di susul raut muka Shaninka mendadak heran.
Sang Putri Alingga menghela nafas, “Aku sudah membicarakan hal ini beberapa hari yang lalu, bukan? Inilah saatnya, mereka sudah datang!“
“Tetapi,” Shaninka tidak melanjutkan kalimatnya.
“Mengapa? Aku sengaja datang ke Asrama Tabib hanya untuk mengajakmu ke sana, jika tidak untuk apa aku ke tempatmu?“
Shaninka masih terdiam.
“Jadi, kau menolak ajakanku?“
“Tentu saja hamba tidak berani menolak permintaan Putri. Hanya, pantaskah hamba ke tempat itu? hamba tidak ingin mereka ketakutan melihat wajahku yang seperti ini.“
Sang Putri mendekat ke Shaninka, memandang wajahnya memang aneh mirip kera putih. Dan kedua mata Shaninka sipit balik menatapnya.
__ADS_1
“Mereka tidak akan berani mengatakan apa-apa tentangmu selama kau ada di sampingku. Jangan khawatir, ini bukan yang hal terlalu aneh di negeri mereka, karena di sana masih juga ada orang-orang sepertimu dan kau bukanlah yang pertama yang dilihat mereka. Ayo!“ jawab Putri Alingga dan kedua tangannya menarik lembut Shaninka.
“Ayo…,“ ulang Putri Alingga. Langkah Shaninka memang ragu-ragu, tetapi memang tidak dapat dimungkiri bahwa ia juga sangat ingin datang ke Balairung Perak yang sedang ada acara besar. Akhirnya ia menuruti ajakan Putri Alingga.
Selanjutnya, dua gadis belia itu berlalu dan berjalanan ke koridor yang mengarah ke bangunan istana.
“Kata Putri, di Tanapura banyak orang berwajah sepertiku, benarkah itu?” Shaninka meminta kalimat Putri Alingga tentang itu.
”Ya. Dan aku tahu sedikit tentang orang-orang itu. Kata sejarah, mereka yang aneh sepertimu disebut sebagai Surimikhti,” kata Putri Alingga selama berjalan di koridor yang menuju gerbang keluar.
Shaninka berusaha untuk menyebut satu kata aneh dari ucapan Putri Alingga. Putri Alingga mengulangi sekali lagi dan lebih keras.
”Surimukhti, bangsa besar di era ratusan tahun sebelum Perang Pedang masa pertama. Mereka memiliki kemampuan lebih dari yang orang biasa,” lanjut Putri Alingga.
”Menyihir, supranatural dan magis Surimukhti memiliki ciri khusus sejak lahir,” kata Putri Alingga menjelaskannya lebih jauh.
”Mereka memiliki mustika ajaib di tubuhnya, sangat berpengaruh seperti jantung. Ada yang menyerupai mata, ada yang berupa rambut emas di ubun-ubun, ada juga yang berupa permata di dada atau lengan bawah,” penjelasan Putri Alingga disambut gerakan mata Shaninka pertanda heran karena memikirkannya.
”Permata di dada,” Shaninka menyebut satu kalimat itu. Putri Alingga mengiyakan tanpa berhenti melepas genggaman tangan Shaninka.
”Bagaimana dengan berlian di dada?” gumamnya lagi cukup terdengar sambil meraba-raba sekitar krah sampai bagian bawah dadanya sendiri.
”Berlian? Ayolah, kita sudah terlambat!” Putri Alingga menarik Shaninka agar lebih cepat sampai ke gerbang luar sama.
Terlihat ada kereta tandu di sekelilingnya serta beberapa pengawal bersiaga dan senantiasa menunggu sejak tadi.
“Aku ... takut,” Shaninka menghentikan langkahnya ketika sampai di depan kereta tandu yang sudah siap mengantarkan mereka.
“Ada apa lagi?” langkah Putri Alingga ikut terhenti.
“Hamba … tidak berani naik kereta tandu bersama Putri.“
“Mengapa?“ tanya Putri Alingga sekali lagi.
“Hamba … merasa sangat tidak sopan jika sampai berani melakukan itu.“
__ADS_1
“Naiklah, ini perintahku!” tidak cukup sabar lagi, akhirnya Putri Alingga berkata seperti itu
...* * *...