The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)

The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)
4.28.


__ADS_3

Desas-desus pagi menggemparkan warga Tanapura. Begitu cepat tersebar kabar tentang hukuman eksekusi untuk Lanting, akan dilaksanakan menjelang siang itu juga.


Suasana mendadak kacau, sebagian histeris mendengar kabar ini, selebihnya hanya terkesan tidak percaya saja.


Ketika kabar itu sampai pada perawat-perawat di bangsal pengobatan, situasi semakin kacau. Karena sebagian besar dari mereka yang sedang bertugas di sana  adalah teman-teman baik Lanting, mereka ikut shock atas kenyataan itu.


Lanting bukan sesosok yang teman yang memiliki pengaruh besar, namun ia juga bukan orang yang tidak menyenangkan. Hampir semua orang baik padanya dan karena ia juga selalu baik pada siapa pun. Karena itu, sungguh sesuatu yang sukar di terima jika Lanting harus dieksekusi mati hanya karena terbukti bahwa ia adalah laki-laki.


”Dia bukan penyusup! Bukan pencemar marga atau imigran gelap. Dia hanya seorang laki-laki!” ada suara menggema entah dari bagian ruang mana berasal.


”Ini tidak adil! Tidak seharusnya dilakukan eksekusi!"


Ratapan disertai isak tangis membangunkan Taja yang masih terbaring di salah satu tempat tidur bangsal pengobatan. Pagi itu baru menyingsing, masih terlalu sepi dan sunyi, namun ratapan-ratapan lantang itu sampai ke telinganya.


Taja terbelalak tiba-tiba, matanya memerah karena masih sangat mengantuk namun harus terjaga juga. Bukan hanya karena suara-suara yang mengganggu itu, tetapi rasa nyeri yang hebat di perut mulai mengusiknya. Keringat dingin membasahi leher dan kening, belum lagi nafas jadi tidak teratur dan detak jantung lemah. Karena tidak seorang pun mengetahui situasi sedang kesakitan, Taja berusaha meraih sesuatu berada di meja sebelah pembaringan. Lebih tidak beruntung, persediaan obat dan air nyaris habis.


Terasa sulit sekali untuk sekedar berkata ’tolong’, lagipula tidak ada siapapun di sekitarnya. Manakala Taja merasa tenggorokannya sangat kering, hampir tidak dapat bersuara. Diambilnya secawan berisi air bening di atas meja, karena hanya itu yang tampak berisi. Lalu ia langsung meneguknya.


Hambar, hampir tanpa rasa, tetapi ada sedikit endapan di dasar cawan. Taja baru menyadari bahwa ada sedikit keanehan nyaris tak kasat mata dari air yang semula dikiranya air tawar dan baru saja diminumnya. Hanya beberapa saat tidak lama kemudian, tiba-tiba ia merasakan sakit muncul dari sekitar perut. Perlahan-lahan semakin menjalar ke ulu hati bagai tusukan ratusan jarum.


Dengan menahan sakit, Taja terpaksa bangkit dari pembaringan, melangkah gontai, dan berusaha untuk mencari pertolongan terdekat. Berkali-kali jatuh bangun namun tak juga dijumpainya seorang pun di sana sampai pada suatu ruangan belakang pengobatan, tampak olehnya seorang perawat sedang meringkuk di dekat dinding. Pundaknya berguncang disertai isak tangis tertahan.


”Maaf, bolehkah aku minta obat? Perutku sakit sekali,” tanya Taja pada perawat itu. Tetapi yang ditanya tetap menyembunyikan wajah di antara dua lengan bersilang di atas lututnya yang menekuk ke dada.


”Bisakah kau mendengarku?” karena masih tak dihiraukan, Taja mendekatinya.


Dan yang diperoleh dari permintaannya hanya tatapan kosong dari raut muka perawat itu, sepasang mata lebam karena cukup lama menangis.


”Bisakah engkau membantuku?” pinta Taja lagi, sangat memohon agar perawat itu membantunya untuk memberikan obat.

__ADS_1


Perlahan, wajah  perawat perempuan itu semakin menengadah padanya, ”Apa aku tampak peduli padamu?” bukan sesuatu yang pantas sebagai jawaban, kenyataanya wajah sedih perawat itu memang menyiratkan ketidakpedulian.


”Tetapi aku sangat membutuhkan obat. Kumohon,” Taja sangat merintih tak tahan.


”Dan seorang temanku membutuhkan pertolongan. Tetapi tidak ada seorang pun yang bermurah hati mengampuninya, padahal yang dilakukannya bukan suatu kesalahan!”


”Siapa yang kau maksud?” tanya Taja dengan nafas tersengal-sengal.


”Lanting!”


Taja sempat ingat nama itu, tapi tidak ada waktu cukup untuk memikirkannya karena ia sendiri sedang kesakitan. Dalam keadaan semakin parah, terpaksa ia mencari-cari sendiri obat-obatan yang berada di sekitar rak-rak. Asal-asalan, diraihnya sebotol pil hitam yang didapatnya dari sekat rak terjangkau.


”Jangan minum itu!!” teriak perawat saat menyadari hal itu. Terlambat, lima pil sudah tertelan bulat-bulat oleh Taja. Sedangkan sisanya yang masih di botol terlepas dari tangan kemudian pecah, mengakibatkan puluhan pil berserakan di lantai.


Taja tegang dalam posisi berdiri. Sementara perawat itu juga tegang menatapnya.


Belum selesai perawat itu bicara, Taja merasakan sesuatu hendak dimuntahkan.


”Hueek ..., ” ia pun berlari ke luar bangsal, menuju jambangan kecil yang ada di sana.


”Huek ...,” berulang kali seperti itu, tetapi hanya mual dan pusing saja. Tidak ada yang dimuntahkan lagi kecuali beberapa tetes cairan hitam kental.


”Bodoh! Tahukah apa yang kau minum?” perawat tadi muncul dari pintu yang sama.


”Apa yang terjadi pada Lanting?” Taja mengalihkan tanya.


”Aku menanyakan keadaanmu, tetapi kau justru mengingatkan pada Lanting!”


”Bukankah kau tidak peduli padaku? Sekarang aku bertanya apa yang terjadi pada Lanting?”

__ADS_1


”Lanting akan dieksekusi saat ini juga!”


”Lantas, kita akan diam saja?”


”Pikirmu siapa yang dapat menolong seseorang menjelang hukuman eksekusi? Tidak ada yang bisa kulakukan selain memberanikan diri untuk menyaksikan eksekusi itu!” perawat itu kembali terisak sangat sedih, tersirat dari caranya memandang ke arah jauh suatu tempat yang masih terjangkau mata dari keberadaan mereka saat itu.


”Lanting ...,” Taja menyebut nama itu.


Tidak biasanya, setelah gong pukul Singa Berburu bertalu-talu lebih dari dua kali dan disusul sangkakala khas Tanapura pertanda segera diadakan peristiwa penting yang segera diperingati. Perhatian Taja dan perawat itu beralih pada kerumunan jauh yang masih tertangkap mata dari balkon tingkat 5 bangsal pengobatan.


”Tidak!” teriak perawat itu histeris, hampir bersamaan dengan gema raungan sangkakala pertanda eksekusi akan dimulai, tak ingat apa-apa lagi, ia langsung menyongsong ke arah itu.


Kepanikan yang sama membuat Taja pun seakan-akan lupa kalau dirinya sedang dalam keadaan sakit. Ia pun bergegas untuk mencari jalan agar lebih mendekat ke area eksekusi.


Masih terlalu jauh dan pandangan sedikit terhalang kabut tetapi cukup jelas tertangkap mata, kali ini Taja sudah berdiri di tepi deretan jendela besar menganga di sepanjang selasar yang menghadap ke sana. Belum puas, Taja mencoba untuk melompati atap-beratap bangunan istana.


Hup!


Terakhir kali, Taja berpijak pada salah satu tingkat menara, kebetulan menghadap ke tempat eksekusi. Ia melihat lebih jelas sosok Lanting Lanting bertelanjang dada tak berdaya, tengah terkatung-katung dalam tiang gantungan dengan kedua tangan terikat pada simpul tali kuat di atas palang setinggi puluhan kaki. Di bawahnya, tumpukan kayu telah siap tersulut api oleh seorang pengawal di sana.


”Lanting ...,” ujar lirih, tak terdengar siapapun, Taja merayap di antara ruas tiang penopang balkon menara.


Sementara itu, seorang kepala pengawal menyerukan titah dari Paduka berwujud gulungan kain, ”Penyusup, penyamaran serta pencemaran marga, hukumannya adalah dibakar hidup-hidup!”


Di tempat berbeda, seluruh penghuni kawasan Tanapura menyaksikan itu. Ratusan murid tabib dan praja terburu-buru ke satu tingkat bangunan untuk melihat langsung eksekusi itu meskipun dari kejauhan. Para Guru, pelayan, penjaga, bahkan para dayang ikut menyaksikan. Tak berbeda yang dilakukan murid-murid tabib, Putri Alingga pun berada di sana, sebagian besar dari mereka ketakutan, sebagian lain memilih tak melihat, sebagian berani menyaksikan kejadian tidak biasanya hari itu.


Saat-saat terakhir menjelang eksekusi, semua kegiatan terhenti. Demikian juga sekolah kesatuan praja. Tak terkecuali, Seruni sendiri. Karena dia adalah yang menyebabkan terjadinya ekseskusi untuk Lanting.


...* * *...

__ADS_1


__ADS_2