
”Jangan cemburu! Bukan aku yang disukai Putri Alingga, tetapi kamu,” kata Lorr En melempar tudingan.
”Bicara apa kamu?” balas Taja, menggelitik perut Lorr En sampai kalang kewalahan, bahkan hampir lupa kalau dirinya sedang sakit. Sebentar-sebentar Lorr En mengerang geli, tapi Taja terus menggelitiknya tanpa ampun. Purwa memandangi mereka, senyum kecil di bibirnya sungguh tak menampakkan sesuatu, namun sebenarnya ia juga memikirkan seseorang lain yang membuat Taja dan Lorr En bertingkah seperti itu, yaitu Putri Alingga.
Beberapa saat mereka bercanda, suasana kembali diributkan pasien-pasien baru yang dibawa masuk. Berduyun-duyun para perawat membopong mereka dan membaringkannya ke ranjang. Tampak jelas, ada sekitar belasan pasien berseragam Sekolah Militer Calon Prajurit Tanapura di bawa masuk ruang pengobatan.
Beberapa waktu lamanya, Taja, Lorr En dan Purwa tersita perhatian pada mereka. Salah satu pasien yang pingsan dibaringkan di ranjang sebelah Lorr En.
”Purwa!” Taja terkejut melihat murid yang tengah tak sadar diri dan banyak memar di tubuhnya tergeletak lemas di pembaringan itu adalah salah satu murid tim kancil putih dan ia pun mengenal baik anak itu. Sementara beberapa perawat segera bertindak cepat.
”Apa yang terjadi padanya?” Taja bertanya pada salah satu perawat yang kebetulan berlalu lalang, tapi karena sibuk dan situasi panik, perawat itu mengabaikannya.
Taja mematung di dekat Purwa terbaring. Purwa di sebelahnya juga membisu, sedangkan Lorr En hampir beranjak dari ranjangnya agar bisa melihat keadaan Purwa lebih dekat, tapi seorang perawat lain mencegahnya.
Tidak lama kemudian, tiga kawanan dari tim kancil putih mendatangi tempat itu. Mereka adalah Sayutha, Rimpati dan Rambiloto. Setengah berlari menghampiri pembaringan Purwa.
”Ini kau penyebabnya!” tiba-tiba tanpa alasan jelas, Sayutha langsung menuding Taja.
”Mengapa aku?” Taja keheranan melihat Sayutha tampak sangat kesal.
__ADS_1
Cepat-cepat Rambiloto berusaha untuk meredam marah Sayutha. Dari tiga temannya yang bersungut-sungut, memang Sayutha yang paling kelihatan marah.
”Ada apa?” Lorr En dari tempat tidur ikut bertanya.
”Diam saja di tempatmu, Lorr En!” timpal agak Rimpati menggertak.
”Ada apa?” Purwa menghalangi Sayutha mendekat pada Taja.
”Jangan bersembunyi perempuan!” tapi Sayutha memicu Taja bertindak tegas, ”Ada apa?" kali ini ia menarik mundur lengan Purwa agar bergerak samping.
”Aku di sini! Apa yang terjadi hingga kalian jadi marah padaku?”
Taja kurang paham maksud perkataan Sayutha.
”Kalian tenang dulu!” Rambiloto berusaha mendinginkan suasana. Kali ini dia yang angkat bicara.
”Kemana saja hari ini, Taja? Mengapa tidak mengikuti Latihan Tanding Interaktif hari ini. Rasa tidak suka mereka padamu berakibat buruk pada tim kancil? 12 murid dari tim kancil hitam, merah, dan putih jadi babak belur. Sebenarnya mereka menginginkanmu, tapi rupanya kamu tidak hadir di sana. Akhirnya ... mereka melampiaskan kekesalan pada 12 murid tim kancil termasuk Purwa. Kau lihat sendiri keadaannya, lukanya sampai separah itu, pasti butuh waktu setidaknya dua pekan di ruangan ini. Bisakah kau rasakan sakitnya?”
”Sungguh aku sama sekali tidak tahu jika hari ada jadwal Latihan Tanding, jika aku tahu, tidak mungkin aku bolos,” Taja mengungkapkan alasan sejujurnya meskipun tiga teman itu tak mau peduli.
__ADS_1
”Apapun itu, akibat ketenaranmu sudah tersebar di seluruh Tanapura menjadi musibah bagi kami, tidak semestinya kami menanggung ini!”
”Ada apa ini?” dua orang perawat senior datang ke arah mereka berdebat.
”Kalian tahu ini tempat para pasien sakit? Jika tidak berurusan penting, sebaiknya kalian pergi!” Perawat tertua mengusir Rambiloto, Sayutha dan Rimpati.
”Dan dia?” Sayutha mengacungkan telunjuk ke arah Taja.
”Dia menjaga temannya untuk tiga hari ini dan kami mengijinkannya karena kami kebetulan kekurangan orang dalam waktu sepekan ini,” jawab perawat itu.
”Jadi, tinggalkan tempat ini segera, kalian boleh datang pada saat jam besuk nanti, tetapi jangan membuat gaduh!” suruh perawat.
Rambiloto dan Rimpati tak bisa banyak bicara lagi, mereka segera angkat kaki dari bangsal pengobatan dan tak lupa menarik Sayutha yang masih dongkol, ia sempat melempar kalimat, ”Besok ada Latihan Tanding Interaktif hari kedua, semua murid Tanapura senior juga akan hadir di sana. Jika kau tidak datang, maka kau akan membuat nasib kami seperti Purwa!”
Tiga wajah teman satu Kelas Kancil menghilang setelah di balik pintu keluar. Ke arah sepasang pintu besar dan tinggi itu, pandangan Taja tertuju sebelum beralih pada Purwa kembali.
”Maaf jika ini semua karena aku,” ujarnya lirih pada Purwa masih tak sadarkan diri. Rambiloto mengusap pundak Taja, ”Bukan sepenuhnya salahmu, tetapi mereka yang membuat Purwa sampai begini.”
Bagaimanapun Purwa membesarkan hati, rasa bersalah Taja belum cukup berkurang. Lorr En tak mengisyaratkan apapun selain bingung. Taja melihat ke arah Purwa terpejam diam, penuh memar tubuhnya.
__ADS_1
...* * *...