
”Ayo, cepat!” Raojhin tertahan di tenggorokan, memandu arah lari. Lorr En paling tertinggal, sebentar-sebentar menoleh ke belakang. Sepintas ia menangkap bayangan-bayangan orang berpawakan tinggi besar di sela-sela rerimbunan pohon, sebagian lagi ada yang berkuda memimpin orang-orang itu.
”Siapa sebenarnya mereka?” Lorr En bertanya heran, belum sempat melihat lebih lama, Taja buru-buru menariknya, ”Cepat!”
Sampai ketiganya berhenti di pepohonan dan melihat awas ke depan hamparan hutan yang jarang ditumbuhi pohon tetapi belukar tinggi-tinggi. Dari tempat mereka bersembunyi, tampak remang-remang ada pasukan terdiri dari puluhan orang, berlalu lalang dan menyisir area sekeliling. Seperti ada yang sedang mereka cari.
”Siapa mereka?” tanya Raojhin mencoba untuk mengenali sosok-sosok gelap bergerak di sana.
Taja menggeleng, ”Tidak tahu, mungkin ... orang-orang itu yang mengejar kami beberapa hari lalu hingga kami tersesat di pertigaan sungai dan menemukanmu.”
”Aku yakin mereka bukan orang Tanapura,” Lorr En menyahut dengan berbisik.
Raojhin memutar otak untuk mencari jalan, ”Ke sanalah jalan kita, tetapi terhalang oleh mereka. Kita harus berjalan memutar, semoga kita bisa sampai lebih awal di perbatasan Sungai Kawasan Tanapura. Setahuku di sana, banyak pasukan Tanapura menjaga perbatasan. Kita bisa meminta perlindungan mereka.”
Raojhin bergerak lebih dulu, diikuti Taja dan Lorr En. Lagi-lagi ia paling belakang. Pandangannya agak kabur dalam gelap malam mengakibatkannya tidak cukup awas.
Sraak ...! Bug!
Lorr En terjerembab ke semak berduri, ”Aw!” pekiknya tak bisa menahan gaduh. Taja segera menariknya agar bangkit. Tetapi, suara gemersik yang tertangkap tidak bisa menyembunyikan keberadaan mereka.
”Gawat, mereka pasti mendengar!” Raojhin juga membantu Lorr En agar berlari lebih cepat.
”Terlalu gelap, aku tidak bisa melihat apa-apa!” kata Lorr En.
”Ikuti saja Raojhin!” kata Taja sambil terus menariknya.
Kraaa ...! Kraaa ...!!!
__ADS_1
Jeritan melengking dalam gelapnya malam terdengar mengerikan. Dan tiga anak Tanapura tahu bahwa itu bukan bunyi peluit gagak seperti sebelumnya.
”Itu teriakan orang-orang yang mengejar kita kemarin!” Taja menerka suara-suara itu.
Tanpa berhenti berlari dan tanpa peduli duri-duri yang tajam, mereka terus menyeruak rapatnya belukar. Raojhin melihat sesuatu di kejauhan sana, ada kerlip-kerlip cahaya dan api di ujung tikungan setapak hutan.
”Lihat! Benar kataku, di sana ada perbatasan. Ayo lebih cepat lagi, mereka bisa melindungi kita!” seru Raojhin pada Taja dan Lorr En berada beberapa langkah di belakang.
Sudah tidak mampu lagi, Lorr En kelimpungan karena lelah. Nafasnya terengah-engah berusaha menyusul Taja dan Raojhin berlari ke tempat perbatasan di depan sana.
”Ayo, Lorr En!” sesekali Taja dan Raojhin memicu semangatnya. Tetapi anak itu menggeleng tanda tidak mampu lagi.
”Tuan Penjaga! Tuan Penjaga! Tolong kami!” teriak Raojhin yeng lebih dulu terlihat beberapa penjaga perbatasan. Mereka yang melihat anak yang berlari setengah tenggelam dalam rimbunnya belukar.
”Tolong kami, kami orang Tanapura!” teriak Raojhin lagi dan di sambut beberapa penjaga yang menyongsong ke arahnya.
”Siapa kalian?!” seru salah satunya yang tampak berpengaruh.
”Hei, tunggu aku!” teriak Lorr En.
”Lebih cepat, Lorr En! Aku di depanmu!” balas Taja masih terlihat. Akhirnya ia melihat Raojhin bersama sekawanan penjaga bersiap siaga di seberang titian menuju perbatasan.
”Cepatlah, Taja!” teriak Raojhin dari sana.
”Lorr En, cepatlah!” ganti Taja berteriak pada temannya. Ia berhenti sebentar di ujung titian bambu, menunggu anak itu muncul.
”Taja, aku datang!” seru Lorr En. Taja lega melihat sosok temannya sudah mendekat. Tetapi, tiba-tiba ia terkesiap dan diam di tempat.
__ADS_1
”Ayo, Lorr En! Tunggu apa lagi! Kemari!” Taja mengayunkan tangan ke atas. Tetapi Lorr En beberapa saat mematung tanpa bisa bersuara, sebelum ambruk dan tenggelam ke semak belukar.
”Lorr!” panik Taja melihatnya jatuh dan melihat sesosok dengan panah terangkat. Menyadari bahwa Lorr En telah terbius, Taja justru mendekat padanya.
Raojhin yang melihat mereka dalam bahaya tidak bisa tinggal diam. Pasukan perbatasan langsung mengarahkan panah ke sosok-sosok bermunculan dari segala arah. Mereka disibukkan oleh pasukan asing yang tiba-tiba muncul itu.
”Lorr En!” seru Taja berada dekat di tempat jatuhnya Lorr En. Tetapi belum sampai menyentuhnya, sesosok berjubah lebih dulu menyambar tubuh Lorr En ke atas.
”Tidaaak!” teriak Taja terdengar oleh Raojhin yang sedang menyusulnya.
”Lari, Taja!!!” seru Raojhin saat melihat lebih dari satu sosok berjubah lain sedang mengarah padanya.
Tetapi Taja kalah gesit, salah satu dari sosok-sosok berkelebat cepat dari atas-atas pohon berhasil menyambarnya seperti yang dilakuan Lorr En.
”Tidaaak!” pekiknya nyaring sebelum hilang di balik rimbunnya dedaunan.
Tinggal Raojhin di sana, jauh dari pasukan penjaga perbatasan. Ia baru menyadari itu menjadi panik, manakala sosok-sosok gelap melintas ke manapun ia melihat sekeliling.
”Siapa kalian? Mau apa?” teriak Raojhin memberanikan diri meskipun sebenarnya gemetar ketika melihat sesosok tinggi, besar dan seluruh tubuh tertutup jubah hitam. Berkelebat mendekat, perlahan-lahan melangkah ke arahnya. Merasa terancam, Raojhin menghunus belatinya.
”Siapa kalian?” suara Raojhin semakin gemetaran melihat sesosok berwajah gelap telah berada selangkah di depannya.
”Ssh ...!” tidak ada suara selain dengus nafas berat keluar dari hidung sosok itu. Ketika sepasang mata menyala putih tampak dari celah jubah penutup wajahnya yang menatap tajam, Raojhin merasakan tubuhnya tiba-tiba lemas dan semakin tidak bisa merasakan apa-apa lagi. Belati di tangannya tidak cukup berarti dalam keadaan sekujur tubuh yang seakan terbius. Seluruh nadi terasa lambat berdenyut, nafas sesak dan semua saraf mendadak mati rasa.
Tang!!!
Walaupun hampir tak bertenaga, Raojhin mengayunkan pedang dan mengarahkannya pada sosok itu. Namun, Belatinya terpental jauh saat beradu dengan pedang menyala jingga milik sosok itu kemudian tertangkap sosok berjubah lain.
__ADS_1
Sejumlah penjaga perbatasan datang ke arahnya, tetapi justru terbunuh sebelum sempat menolong Raojhin. Tidak bisa berkutik lagi, Raojhin semakin terkulai lemas dalam pandangannya yang kabur dan melihat apapun di depannya menjadi gelap. Setelah itu, ia sungguh tidak ingat apa-apa lagi.
...* * *...