
Ruang kelas praktik ramuan obat, dihadiri seratus murid pengobatan. Pagi itu, tampak lenggang. Jadwal pelajaran belum waktunya. Kebanyakan para murid mengobrol di teras kelas menghadap taman belakang Istana Perak. Sebagian murid berlalu lalang sepanjang koridor.
Seseorang mengisi waktu dengan duduk sembari membaca kitab.
Lanting namanya. Duduk deretan bangku kanan paling depan. Dia selalu serius membaca kitab-kitab pengobatan pada saat-saat lenggang. Tak pernah lepas dari kitab-kitab yang dibawanya, ia selalu membaca setiap hari. Meskipun kadang-kadang ia bosan dan ingin mengobrol dengan seorang murid, atau bersenda gurau. Namun itu andai-andai terlalu muluk. Kenyataannya, hingga hari ini tak seorang pun mau mendekati dan berteman dengan Lanting.
Akhirnya ia melangkah keluar kelas, menuju tepian balkon seperti beberapa murid lain di sana dan sedang asyik mengobrol seputar nilai-nilai mereka. Ketika Lanting menghampiri kerumunan murid-murid itu, mereka langsung menghindar sambil memandang jijik.
Sebentar-sebentar mulai terdengar bisik-bisik dari murid-murid yang membicarakannya, menertawakan bahkan mengejek. Tawa dan cekikikan mengiringi gunjingan serupa dari berbagai kerumunan murid-murid di sana-sini.
Ada yang berkata, ”Jadi dia berhasil mengobati praja yang terluka itu! Murid tanpa kasta. Sepandai apapun, tetap saja budak!”
”Apa gunanya memiliki ilmu hebat, jika status rendahan!” sebuah suara renyah seorang murid yang nimbrung di bawah pilar.
”Sepandai apapun, tidak akan pernah semenarik gadis sepertiku,” tanggap seorang murid bernama Seruni disertai derai tawa kawan-kawan lainnya.
Lanting menoleh pada mereka, semuanya mendadak bungkam dengan tawa tertahan berat. Lanting pura-pura tak peduli walau tahu itu sangat mengejek dirinya.
”Lihat saja cara dia berjalan, sok bangsawan!” lanjut mereka, ”Padahal rendahan!”
Demikian seterusnya gunjingan serupa seakan tak berhenti. Sekali mereka terhanyut dalam bual menghina Lanting, maka terus berlanjut selama mungkin.
Akhirnya Lanting memilih kembali ke kelas. Namun di sepanjang selasar, lagi-lagi murid memandangnya penuh rasa aneh setiap kali bertatap muka. Siapapun membuang muka darinya. Sesekali ketika ia menoleh ke belakang, banyak murid bergerombol dan membicarakannya. Bahkan ada juga sekelompok dari mereka sengaja mengikuti Lanting sambil terus mengejek terang-terangan. Mereka selalu dikenal sebagai murid-murid terpandai di kelas.
”Memalukan! Untung saja aku bukan bagian dari keluarganya!” terdengar seseorang murid berbicara cukup keras sampai-sampai semua mata tertuju ke sekelompok murid itu.
__ADS_1
”Aneh. Kenapa dia diterima di sini," seorang dari sekawanan murid itu lagi-lagi menyindir.
”Pasti sangat tidak diinginkan kehadirannya di sini, andai saja bukan karena hadiah dari Paduka ... mungkin dia sudah dihukum mati, begitulah kata pamanku!” Seruni yang paling centil mengumbar kata. Meledak lagi tawa mereka bersamaan.
Cukup lama Lanting mencoba untuk bersabar. Tetapi mereka semakin bicara tak karuan. Raut Lanting berubah merah, tidak tahan lagi memendam amarah luar biasa. Langkahnya terhenti seketika, lalu berbalik dan mendekati sekawanan murid-murid centil sedang membicarakan dirinya.
Plak!
Satu tamparan cukup keras melayang ke pipi Seruni, si penebar ejekan. Semua murid tercengang, tak pernah disangka jika Lanting berani menampar Seruni, murid terpopuler di kelas tabib dan bukan dari kalangan biasa.
Seruni melotot tajam dan memegangi pipinya yang memerah, terkejut sekali ia karena belum pernah ada yang seberani itu terhadapnya. Apalagi Lanting yang telah melakukan itu.
”Kalian benar, aku bukan dari kasta terhormat dan terpandang. Hutan dan serigala habitatku. Aku terbiasa melawan serigala dengan tanganku sendiri, mau bertarung denganku satu lawan satu?!” tegas, tak gentar sedikitpun, Lanting menantang Seruni.
"Apa yang kau banggakan selain memiliki kerabat terpandang? Seharusnya kau malu!" lanjut Lanting.
Tanpa seorang murid pun membalas, Lanting lebih dulu menggertak dengan serentetan kalimat dan ekspresi marah besar, menarik seluruh perhatian murid yang berada di sekitarnya.
Suasana manjadi hening di sekitar ambang pintu kelas, semua mata tertuju pada Lanting yang berhadapan dengan beberapa murid tersohor di kelas tabib. Tidak ada yang menyangka kalau murid baru itu bisa menjadi galak. Padahal sebenarnya, dalam benak Lanting tertawa karena semua yang dikatakannya baru saja hanyalah setelah gertakan saja, tetapi mampu membius mereka dalam kebisuan.
Juga karena merasa asyik melihat semua mendadak takut, ia pun menambahi ”Kami adalah kalajengking, jadi jangan salahkan kami jika kalian tersengat racun kami! Salahkan diri kalian yang mengusik!” langkah Lanting mundur tanpa sadar dan ketika berbalik, rasanya ia menubruk seseorang.
Brak!!!
Nyaris saja seorang murid tabib senior itu terjatuh. Untung saja masih terkendali, namun setumpuk buku yang dibawanya berjatuhan dan beberapa toples terbuat dari tanah liat terlanjur pecah jadi puing-puing tak terhitung di lantai.
__ADS_1
”Lanting," teriak beberapa murid yang melihat kejadian itu.
Kali ini raut muka Lanting padam tak dapat disembunyikan. Sedangkan murid senior menatap Lanting setelah keduanya memungut buku-buku yang berjatuhan.
Hampir semuanya terkesiap, tak bisa menduga-duga apa yang selanjutnya terjadi setelah Lanting menubruk murid senior sekaligus seorang asisten Guru Tabib.
Namun tidak demikian pada Seruni, diam-diam tersenyum sinis, ”Rasakan!”
”Bantu akau membereskan dan membawanya kembali ke ruang peracikan obat!” pinta murid senior. Lanting tanpa menjawab apapun menurut saja. Toh ia juga yang mengakibatkan buku-buku sampai berjatuhan. Beberapa botol berisi ramuan, pecah tak bisa kembali seperti semula.
Padahal sebentar lagi, pelajaran tak dapat tertunda, manakala Guru Tabib tiba tetapi bahan praktek berantakan. Semua murid memasuki ruang kelas, sedangkan Lanting menemani murid senior ke ruang peracikan.
”Apa kamu yang bernama Lanting?” tanya murid senior, sesampainya di ujung pintu ruang peracikan obat. Lalu keduanya memasuki ruangan besar. Pertama kalinya Lanting menginjakkan kaki di sana.
”Ya,” jawab Lanting. Murid senior bingung karena harus memanggil apa terhadap.
”Namaku Lanting Sendani. Aku murid tingkat akhir di kelas tabib,” kata Lanting, menaiki satu bangku untuk mengambil kendi serupa dengan yang pecah sebelumnya.
”Taruh di sini,” kata murid senior.
”Inikah ruang peracikan obat?” pandangan Lanting menyusuri rak dan meja.
"Ada apa?" murid senior melihat gelagat aneh, cara Lanting memperhatikan sekeliling ruangan, seperti sedang mencari sesuatu.
...* * *...
__ADS_1