
Raojhin berpikir dalam tatapan Taja. Ia mengangguk saja sebagai jawaban.
”Kami bukan manusia ...,” satu pengakuan Taja membuat Raojhin terdiam dalam pikiran heran menjadi-jadi. Alisnya terangkat sesaat membolak-balik pemikirannya.
”Lalu kalian siapa?”
”Jangan tanya lagi ...,” Taja mengacungkan sebelum menunjuk keluar bebatuan tempat teduh mereka. Ada sesosok meringkuk dan tampak aneh wujudnya.
”Dia, Lorr En,” kata Taja, ”Apapun yang telah kau lihat tentang kami, jangan katakan pada siapapun atau kamu akan terkena kutukan seperti peraturan kaum kami karena telah melihat.”
Raojhin belum lepas dari pandangannya ke arah Lorr En terguyur hujan lebat di luar sana.
”Mungkin ini sedikit menjawab pertanyaanmu,” kata Taja sebelum bangkit lagi, ”Dan sekarang, lebih baik kita melanjutkan perjalanan sebelum gelap!”
Walaupun Raojhin belum habis pikir, ia tidak berani bertanya lagi.
”Jadi, kemana arah tujuan kita?” Taja teringat bahwa mereka sedang tersesat. Ia mengandalkan Raojhin sebagai satu-satunya yang lumayan hafal tentang peta buta Jawata.
”Aku tidak yakin ke arah itu!” Raojhin menunjuk keluar celah, ada pegunungan membentang di mata mereka.
”Lihatlah ini!” Raojhin mengukir sesuatu di permukaan tanah keras namun agak becek karena rembesan air hujan. Taja mendekatinya, sedangkan Lorr En memilih untuk mendekam di sela-sela bebatuan lain sejak tadi.
”Ini Tanapura. Menurutku ... kita sedang berada di sini,” Raojhin menggambar singkat peta menuju Tanapura.
”Arah ke selatan adalah Gurun Yaz. Sedangkan ke utara adalah Kakilangit. Lalu di depan arah timur adalah Tanapura! Kita bisa melewati jalan ini, menurutku pegunungan ini cukup aman,” Raojhin menunjukkan perkiraannya. Terakhir, ujung belati miliknya memberi tanda silang pada simbol gunung.
”Melewati pegunungan itu?” Taja beralih pandang ke pegunungan sesungguhnya di luar sana, ia tidak yakin jika harus melewati jalan itu.
”Raojhin mengangkat bahu, itukah jalan kita!”
”Adakah jalan lain?”
__ADS_1
”Gurun Yaz sudah hampir tidak terjamah lagi setelah kerajaan terbesar Kakilangit runtuh akhir abad 13 Neya. Banyak perangkap mematikan di sana. Lagipula, sudah fenomena seluruh Jawata bahwa tempat itu selain angker, juga terkutuk. Sedangkan Tanapura, bukanlah negeri yang cukup aman. Banyak orang menceritakan nasib setiap anak-anak lelaki di sana sangat tragis. Karena semenjak Paduka Jayasinggih bertahta, tidak ada anak laki-laki yang luput dari hukuman mati, apalagi hidup lebih dari 8 tahun. Paduka itu juga selalu membunuh bayi laki-laki yang baru satu hari dilahirkan sekalipun.
”Membunuh semua anak laki-laki? Sangat biadab!” Taja bergumam ngeri.
”Sekarang, aku percaya setelah melihat Paduka itu ternyata bermuka kurang menyenangkan! Untung saja aku tidak dilahirkan di Tanapura. Ironis sekali, dia adalah teman dekat Paduka Raghapati. Sudah lama Tanapura dan Kakilangit beraliansi, konon dua negeri itu berasal dari satu keluarga dan marga!”
Tanpa di dengar Raojhin yang sibuk mengukur jangkauan rentang tangannya ke arah pegunungan di depan mereka.
”Tepat 180 derajat dari posisi kita! Menara Tanapura akan terlihat ada balik gunung itu,” Raojhin tampak lebih yakin.
”Kalau begitu, tunggu apalagi? Ayo jalan!” Taja mengambil langkah cepat. Lorr En sudah mendahului mereka, tidak biasanya ia paling bersemangat berada paling depan layaknya pemandu jalan.
Merela menelusuri sepanjang jalan antara kedua tebing terapit. Air mengalir dari arah depan mereka dan semakin besar hampir setinggi lutut.
”Aneh, deras sekali hujan hari ini! Tidak biasanya, setahuku dari kitab tia, dataran ini tidak pernah turun hujan. Selalu kering seperti gurun. Kedalaman retak tanahnya saja bisa mencapai ukuran dua tombak. Tetapi kenyataannya sekarang ...,” Raojhin menggumam tak jelas. Ia cukup lama memutar pikiran seperti itu selama berjalan ke tiap tikungan.
Kebungkaman Taja juga bukan tanpa arti, awas matanya tidak berhenti memperhatikan sekeliling dua tebing kanan dan kiri yang dilewati.
”Aneh! Aku merasa...sepertinya ... kita sedang berjalan di .
.,” Taja perlahan menyadari keberadaan mereka.
”Apa?” Raojhin melihat ekspresi temannya yang menyimpan rasa heran.
Ketika sekali lagi mereka melihat ke tanah yang dibanjiri air mengalir dan sudah melebihi batas lutut.
”Menurutmu apa?” suara Taja agak berat karena menahan panik.
Lorr En berada di depan sampai menoleh pada dua teman di belakangnya. Ia juga merasakan ada getaran dengan suara bergemuruh, berasal dari kejauhan di balik tikungan dan kedengarannya makin mendekat ke arah mereka.
”Kalian dengar itu?” Teriak Lorr En.
__ADS_1
Ketiganya berdiri di tempat, tak bergeming untuk beberapa saat mempertajam pendengaran masing-masing.
”Ini bukan jalan! Kita berada di jalur sungai!” tersadar dari firasat tidak enak, akhirnya Taja terpekik spontan.
”Air bah!” teriak Lorr En. Namun ia sendiri tidak banyak bertindak oleh cepat karena terlalu mendadak. Arus air setinggi pohon-pohon kelapa, mengalir sangat cepat bergulung-gulung apapun yang diterjang.
”Merapat ke tebing!!!” Raojhin langsung tanggap, secepatnya ia menepi dan berpegangan pada akar-akar kering mencuat di dinding-dinding kaki tebing. Taja mengikuti tindakannya.
”Lorr!” sekeras apapun Taja memanggilnya, namun tidak bisa meloloskan Lorr En dari arus gelombang menganga besar lalu menghantam tubuh anak itu. Lorr En hilang dalam gulungan arus air bah. air bah tidak berhenti sampai di situ, gulungan ombaknya yang pecah menghantam tikungan-tikungan tajam, langsung menyapu Taja dan Raojhin.
Jeritan mereka tidak bertahan lama karena dalam secepat kejap mata, arus air sangat besar telah menelan keduanya. Tidak lama kemudian, muncul sebilah tangan kanan Raojhin menggapai-gapai akar-akar di tepian kaki tebing.
”Fuh!” kepala Raojhin tersembul lebih dulu dengan menyemburkan air yang tersedak di mulut, lalu disusul Taja yang memegang erat sebelah kaki Raojhin.
”Terima kasih tidak menendangku!” Taja menyempatkan diri untuk mengucapkan itu. Namun kembali pada Lorr En.
”Bagaimana dengan Lorr En?” Taja kembali mengkhawatirkan Lorr En terakhir dilihatnya telah raib terbawa arus. Ia melihat ke sekeliling tempat yang semula adalah jalan mereka, namun sekarang aliran menjadi sungai besar.
Sementara Raojhin terus merayap ke dinding tebing dengan menggapai bebatuan rapuh, namun tidak cukup sekali ia merosot. Karenanya, Taja berkali-kali timbul tenggelam ke air lagi.
”Raih akar besar di atasmu itu!” Taja tersedak mengatakan itu.
”Terlalu tinggi, aku tidak bisa menggapainya!” berkali-kali Raojhin mencoba untuk meraih akar besar mencuat ke permukaan tebing.
Krak!
Celakanya, tak berhasil menggapai akar lebih kuat, satu-satunya bebatuan pegangan Raojhin retak, serpihannya berjatuhan dan membuat matanya kelilipan.
”Bersiap-siaplah, kita akan jatuh!” pekik Raojhin, tak mampu lagi menahan beban. Bongkahan tanah berbatu tempatnya, longsor seketika.
...* * *...
__ADS_1