
...'Tsyu .... Api dalam jiwa.'...
...'Futsyi .... Api dalam raga '...
...'Hsyi .... Api lima rupa.'...
...'Btsya .... Api seluruh dunia.'...
...'Harsyawa .... Api kebangkitan.'...
............
...'Tsyu .... Api dalam jiwa.'...
...'Futsyi .... Api dalam raga '...
...'Hsyi .... Api lima rupa.'...
...'Btsya .... Api seluruh dunia.'...
...'Harsyawa .... Api kebangkitan.'...
Suara berbisik seorang diri. Tajura merapal mantera. Berulang kali. Sepuluh jemarinya bergerak-gerak seakan ingin memunculkan sesuatu dari telapak tangannya. Menyalurkan energi panas ke permukaan sebilah pedang besi baja bertuah. Namun karat dari pedangnya itu tak berkurang sedikitpun.
"H ... hh ...," menghela nafas lirih, ke sekian kali Tajura gagal. Semenjak ia mendapatkan Pedang Naar, namun belum mampu membuka sejatinya ketajaman pedang itu untuk mengoptimalkan kesaktiannya.
Tajura terduduk bersila. Menyendiri. Menjauh beberapa jarak dari orang-orang sedang tertidur lelap di bawah naungan cahaya kubah perisai.
'Kenapa?' heran Tajura memenuhi benaknya. Terpaku dirinya dalam kesendirian.
'Kultivasi Api-ku sedang lemah, atau aku tidak tahu cara memecah Pedang Naar untuk kembali tajam?'
Diperhatikannya dengan seksama dan sangat hati-hati. Tidak mungkin Pedang Naar hanya dapat memukul. Yakin, pasti lebih dari itu.
Pedang Naar dalam kondisi tumpul akibat tebalnya lapisan karat, namun memiliki daya pukul sangat kuat, apalagi jika memiliki dua sisi tajam yang mampu membelah. Sayangnya sejauh ini, Tajura tak memiliki pengetahuan lebih jauh lagi tentang Pedang Naar. Tidak ada petunjuk lebih banyak tentang pedang yang konon pernah menjadi rebutan para ksatria di masanya.
'Kenapa?' lagi-lagi heran Tajura dalam hening kesendiriannya.
'Apa kiranya yang salah? Apa yang kurang?' Tajura kehabisan cara. Saat ini, di tempat penuh magis mempengaruhi kekuatannya, hanya tersisa sebagian kultivasi api di dalam diri Tajura.
'Mungkinkah Pedang Naar lebih membutuhkan ahli pandai besi untuk mendaur ulang?' pikir Tajura tak patah arang.
__ADS_1
Sekali lagi merapal mantera, bibir Tajura bergerak-gerak, timbul suara berbisik-bisik dalam suasana sunyi gelap. Mantera berujung pada satu hentakan jemari Tajura ke badan Pedang Naar.
"Heaah ...!"
Bunga-bunga api meletup-letup, bertabrakan dengan permukaan Pedang Naar. Tak ada reaksi lebih. Api dari energi kultivasi milik Tajura, seperti tak berdampak pada Pedang Naar. Sedikit asap menimbulkan bau sangit logam terbakar. Karat semakin hitam di badan Pedang Naar.
Sementara di naungan kubah. Sepasang mata terlelap, tiba-tiba terbuka. Taja terjaga seketika. Belum bangkit dari rebahnya berselimut jubah tebal. Sepasang matanya sejurus menatap kegelapan di sana.
'Apa itu?' tanya benak Taja. Sesuatu bergerak dari gulita pekat. Kegelapan mengusik dari sana.
'Hanya angin, atau ...,' belum usai menerka, Taja mendengar suara-suara halus merasuki kepalanya.
'Bergabunglah bersama kami, jadilah bagian dari kami ...,' suara-suara Itu sahut menyahut, tertangkap pendengaran Taja.
'Siapa di sana?' Taja yakin dirinya terjaga namun kaku lisannya, tak dapat berkata sepatah pun. Terasa sangat berat, seperti ketindihan tubuhnya. Hanya matanya terbelalak ke depan dalam posisi tubuh berbaring miring.
Gulita pekat di depan sana, mulai menampakkan wujud berkelebat secepat angin. Seperti bayangan manusia tak jelas wujudnya, tengah melayang dan menghunus berbagai macam senjata. Mereka bergerak semakin mendekati ke arah Taja.
'Raojhin, bangunlah ... lihatlah apa yang di sana itu?' tertahan di tenggorokan, suara Taja tak sanggup keluar dari mulut. Tangannya berusaha menggapai Raojhin terbaring tidak jauh di sebelahnya. Namun seakan tangan dan mulut sama sulitnya bergerak.
'Raojhin, bangunlah ...!'
"Makhluk apa kira-kira yang menghisap manusia dari kedalaman tanah?" Beberapa orang saling bertanya heran. Penasaran akan keberadaan makhluk-makhluk mengintai setiap saat dan memburu semua orang. Seolah tanah di sini menelan siapapun yang hidup dan menapak di atasnya.
"Porah Doragh, makhluk Penghisap Jiwa," Lorr En pun menimpali. Tampaknya dia pun lebih dulu mengetahui tentang makhluk-makhluk pemburu dari kedalaman tanah.
"Porah Doragh?!" Semua orang mendengar sebutan itu, terdengar asing dan aneh.
"Itu makhluk jejadian. Penghuni Lembah Arwah," kali ini Tajura angkat suara.
"Mereka dibangkitkan di tempat ini. Menyebar di seluruh Lembah Arwah. Pusatnya di Reruntuhan Benteng," lanjut Tajura lagi.
Orang-orang mendengarkan dengan penuh ngeri. Baru diketahui, makhluk sejenis itu.
"Jika kalian terhisap, maka kalian akan menjelma seperti makhluk-makhluk itu juga," kata Tajura semakin menambah kengerian semua orang.
Tajura menyodorkan seikat pundi air untuk semua orang, tampak letih dan kehausan.
Aroma air dalam pundi itu sangat tidak enak. Tetapi tidak ada pilihan lain.
"Sebentar saja aku pergi mencari air, kalian keluar dari kubah perisai. Tidak mendengar kata-kataku," Tajura sedikit mengeluh.
__ADS_1
"Dari mana kamu mendapatkan airnya?" Ketua Sujinsha menanyakan itu.
"Aku mencari sisa-sisa pohon mati, ada persediaan air tertahan di akar dan batang. Tetapi tidak banyak," begitu jawab Tajura sambil melihat suasana langit mulai gelap.
"Malam ini, kita terpaksa menginap di sini. Kalian tidurlah. Biar aku yang terjaga," kata Tajura mempersiapkan diri dan semua orang untuk beristirahat.
"Taja, seberapa lama kemampuan Alhirri?" Tajura beralih tanya pada Taja.
Sebentar Taja memperhatikan kekuatan jemarinya.
"Aku rasa, Alhirri dapat bertahan sampai tengah malam," jawab Taja.
Tajura beralih ke semua orang.
"Sekarang, semuanya beristirahatlah. Jangan membuang waktu. Kumpulkan tenaga kalian. Kita akan bergerak tengah malam nanti," kata Tajura memimpin rombongan.
Taja membuka sebungkus berisi puluhan pil. Hanya dari itu, pasokan tenaga untuk semua orang bertahan sampai saat ini. Ditambah air berbau yang sangat langka dan harus berhemat.
"Pil Mujarab Serbaguna," Raojhin memutar seraya memperhatikan sebutir pil dari Taja. Tak segera meminumnya.
"Aneh. Hanya sebutir, mampu memulihkan tenaga dan menahan rasa lapar," gumam Raojhin. Tak terasa, Taja singgah di sampingnya.
"Tetapi sangat terbatas, beruntung kita memiliki Pil Mujarab Serbaguna," Taja segera menelannya. Raojhin pun menelannya.
"Pil Mujarab ini, pemberian Ki Ratma," kata Taja membuat Raojhin terbelalak.
"Ki Ratma?!" Raojhin menyebut nama itu sambil melotot pada Taja. Baru saja Raojhin menelannya. Seseorang dengan nama itu memiliki reputasi sangat buruk. Pengkhianat Tanapura.
"Dia, ayah tiri-mu, Rao," kalimat Taja membuat Raojhin tersedak. Taja menepuk-nepuk punggung Raojhin supaya tenang.
"Apa? Ayah tiri-ku?!" Raojhin ternganga, antara tak percaya dan tersirat marah di mukanya membayangkan sosok Ki Ratma.
"Simpan tenaga-mu, Rao. Jangan emosi," Taja mengurungkan emosi Raojhin.
"Segera tidur. Kita akan bergerak tengah malam," Taja merebahkan diri, tidak jauh dari Raojhin ikut rebah juga.
"Ayah tiri...?" Masih terdengar gumam Raojhin berbaring di sebelah Taja.
"Kenapa bisa...?" Gumam Raojhin gundah.
"Ssst ... tidurlah, Rao ...," Taja mendesis, bergerak ke samping membelakangi Raojhin. Lalu suasana hening. Semua orang terbuai lelah dan terlelap. Kecuali hanya Tajura terjaga, mengawasi waktu bergulir dalam naungan malam kian larut.
__ADS_1
...* * *...