
"Aku penduduk negeri Svettanaghari"
"Radhit...."
Sebuah suara menggugah ketenangan tidur seorang pemuda di satu sudut meja ruangan Graha Pustaka.
"Radhit...."
Sekali lagi, suara itu memanggil sebuah nama. Menyeruak suasana pagi hening yang khidmat dalam nuansa doa.
"Radhittama Muarralintang..."
Nama itu dipanggil lengkap. Seorang pemuda belia di ruangan bertumpuk kitab-kitab. Mengendus harum secangkir minuman hangat sampai ke ruangan ia berada.
"Ibunda...."
Radhit merasakan kehadiran ibundanya. Terngiang suara panggilan wanita yang sangat mengasihi dan mencintainya. Biasanya ibundanya datang sambil memanggil namanya dengan nada selembut alunan suci.
Kehadiran wanita bersahaja dengan membawa secangkir madu hangat bercampur jahe. Minuman khas disuguhkan setiap pagi untuk pemuda belia itu. Namun ternyata, itu hanya bayangan hari-hari yang telah lalu.
"Radhittama...."
Sebuah suara memanggilnya lagi. Suara yang dikira ibunya memanggil, ternyata bukan.
Dari dalam ruangan tempat Radhit, terlihat bayangan seseorang gadis berjalan di sepanjang serambi. Tidak hanya membuat Radhit terjaga, namun membangkitkan pula seulas senyum dari pemilik nama yang terpanggil. Radhit menoleh ke arah seseorang gadis belia itu datang dari balik pintu.
Wajah gadis belia nampak di ujung pintu. Ia berjalan terburu-buru menuju sebuah meja, tempat Radhit menyalin tulisannya semalaman namun belum usai. Di antara meja-meja lainnya yang sepi seluas ruangan Graha Pustaka. Seketika ia tersadar bahwa ketiduran semalaman.
"Radhit!"
Panggil gadis belia itu hampir sampai di meja Radhit. Nafasnya agak naik turun. Radhit dengan menyeka kedua matanya masih setengah mengantuk, menyambut kedatangan gadis itu dengan raut muka penuh tanya.
Radhit bangkit dari duduk, ketika gadis itu berada di hadapannya.
"Eng Hum," Radhit menyebut nama gadis yang datang padanya.
"Ada apa?" Radhit menanggapi. Dari raut wajah Eng Hum, seperti menyiratkan bahwa ada kabar penting ingin segera dikatakan.
"Bisakah kamu menaruh sebentar perhatianmu dari Kitab Tsunimurti?" pinta gadis belia yang bernama Eng Hum itu.
"Ada apa?" pertanyaan yang sama dari Radhit belum terjawab.
__ADS_1
"Puan Ayu ingin menemuimu. Ia sudah menunggumu di ruang Sinloka Timur sejak pukul Ayam Jantan," jawab Eng Hum.
Sebuah tatapan sendu dari raut muka Radhit, turun ke lantai Graha Pustaka. Ekspresi sedih resah tak menentu sejak berhari-hari, mengusik ketenangan dirinya.
Lalu kembali tatapannya beralih pada kitab-kitab yang berserak di sekitar lantai, tidak jauh dari meja dan kursi, dimana Radhit menghabiskan waktu semalam suntuk.
Tapi bukan itu yang sedang mengaduk pikiran Radhit. Tiba-tiba terdengar suara genta bertalu-talu dari pusat istana. Radhit memandang ke arah menara-menara istana yang terlihat dari tempatnya berada saat itu, menarik keinginannya untuk segera menyongsong ke sana.
Eng Hum pun mengingatkan Radhit seiring gema gong yang belum usai bertalu-talu, bersambutan dengan semarak tak hanya sekitar padepokan, tapi juga dari kejauhan menara-menara istana sebelah timur dan barat.
"Pukul Angsa Menari. Dia sudah menunggumu cukup lama!"
Radhit menanggapinya dengan singkat.
"Aku sudah tahu," jawab Radhit bergegas sembari buru-buru membereskan kitab-kitab yang berantakan di mejanya.
"Kamu orang ketiga yang mengingatkan janji pertemuanku dengannya," sedikitpun tak menampakkan rasa senang ketika mendengar kabar yang disampaikan Eng Hum.
Gelagat Radhit agak berapi-api saat membereskan kitab-kitab yang berserakan di lantai. Eng Hum ikut membantunya untuk sesegera mungkin mengembalikan gulungan maupun lontar-lontar ke meja. Lalu mereka bergegas keluar, menapaki setapak berumput yang mengarah ke gerbang pintu istana.
Selama melangkah bersama, Eng Hum memperhatikan penampilan Radhit yang baru terbangun dari tidur semalaman. Seragam berantakan, tidak tertata seharusnya, tanpa alas kaki, tanpa pula merapikan gelung yang khas di ujung rambut menandakan identitas seorang murid Istana Shradava.
"Tidak usah," jawab Radhit asal.
Eng Hum memperhatikan Radhit berjalan di sebelahnya.
"Ternyata benar, kamu mirip orang-orang Persia!" celetuk Eng Hum.
"Semula aku sulit percaya sebelum aku membaca sendiri dari arsip-arsip Graha Pustaka," balas Eng Hum sedikit menghela nafas, beriringan dengan Radhit membalas sebentar ke arahnya dengan raut seolah tahu sesuatu dari sikap Eng Hum.
"Memangnya aku seperti apa?" Kali ini Radhit merasa tergelitik.
"Tampankah aku?" sembari muncul tawan renyah. Kerut di keningnya lebih dulu menelan air mukanya yang berbinar. Menyusul rasa heran Eng Hum.
"Orang-orang Persia seperti aku? Atau aku seperti orang-orang Persia?!" tanya Radhit lagi. Eng Hum hanya melirik padanya seraya menjawab dengan nada agak malas.
Eng Hum menyentuh pundak Radhit sehingga menghadap padanya,l.
"Seragammu acak-acakan, tidak suka aturan, rona rambut agak pirang!"
Justru Radhit mendengar ucapan Eng Hum sedikit aneh, "Siapa yang bilang rambutku pirang?"
__ADS_1
"Rambutku hitam. Sama sepertimu!" sanggah Radhit tampak kurang senang.
"Aku berkata, agak pirang!" balas Eng Hum.
"Coba perhatikan dirimu sendiri!" Eng Hum menggencat langkah Radhit.
"Rambutku hitam legam! Rambutmu coklat terang, bola matamu juga!"
"Bagaimana aku bisa melihat mata dan rambutku sendiri tanpa cermin?" Radhit melotot tidak mau kalah.
Eng Hum menghela nafas.
"Masih belum menyadari atau pura-pura tidak sadar bahwa kulitmu terlalu putih untuk penduduk pribumi Svettanaghari!" tambah Eng Hum sembari menarik lengan Radhit dan sedikit mencubitnya.
Mereka bertatap sengit sesaat.
"Aku lahir dan besar di sini!"
"Apakah aku salah jika terlahir berkulit putih?"
"Aku penduduk negeri Svettanaghari!" sergah Radhit beruntun, sebelum terburu-buru berpaling dan pergi. Eng Hum pun menyusul langkahnya.
"Aku berkata, kamu seperti orang Persia!" kata Eng Hum berusaha menyamai langkah Radhit yang lebar. Tetapi cukup melelahkan bagi Eng Hum untuk menyamai langkah laki-laki muda dan gesit seperti Radhit.
"Kamu marah padaku?" Tanya Eng Hum.
"Tidak. Mana bisa aku marah pada putri cantik bangsawan Kaninggaluh?" jawab Radhit tanpa menoleh, mukanya agak cemberut tidak cukup menyembunyikan diri bahwa dia sedang merasa kurang senang.
Radhit mempercepat langkahnya ketika gerbang belakang istana sudah dekat. Sudah terbayang olehnya seseorang yang sudah menunggu di balik bangunan megah di depan mata.
Eng Hum tak mengejarnya lagi.
"Eng Hum, nanti sore aku akan menemuimu!" teriak Radhit pada gadis itu dari kejauhan sebelum masuk gerbang yang dijaga ketat oleh selusin prajurit.
Eng Hum mematung di sana, tatapan matanya mengantarkan Radhit sampai ambang gerbang. Ia hanya berdiri dengan seulas senyum tipis.
"Eng Hum sayang...," gadis itu tersenyum kecil mengingat kembali sebutan itu yang diucapkan Radhittama sebelum ia berlalu. Ada rona tersipu wajahnya.
Radhit bersiap-siap menemui seseorang di balik istana di sana. Seseorang yang akan menentukan takdir perjalanan panjang kehidupannya sebentar lagi dimulai.
...* * *...
__ADS_1