The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)

The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)
4.22. Pelarian (6)


__ADS_3

Mereka berkeliaran sekitar, dan Taja melihat benda itu tergeletak di tanah dalam keadaan berasap. Ia cepat-cepat berlari ke sana. Namun belum sempat digapai olehnya, benda itu tiba-tiba terbakar cepat.


”Tidaaak!” teriaknya panik. Ia menangisi rekahan abunya yang hancur dalam genggaman Taja. Percuma saja sampai sejauh ini gulungan mantera itu dibawa, mengorbankan semua usaha bahkan nyawa Purwa.


Lorr Entak mampu berkata apa-apa lagi. Tubuh yang terasa lemas kembali bersimpuh saat melihat benda itu hangus, ”Tidak ...,” suaranya terdengar gemetar dengan isak tangis sejadinya. Namun apapun itu, tidak bisa mengembalikan yang telah hangus menjadi seperti semula.


”Kraaargh!” lengkingan menggaung terdengar lagi dari jeritan si Penyihir hingga mengejutkan Taja dan Lorr En. Tampak jubah putihnya menggunduk dari tanah, semakin meninggi seukuran lima tombak dan wujudnya berangsur-angsur secepat kejap mata menjelma sebagai angin ****** beliung gelap disertai aroma berbau busuk, berpusar dan mendekat, lalu menerjang Taja dan Lorr En belum lepas dari kepanikan mereka.


”Aaagh!!!” keduanya menjerit dalam pusaran angin kencang berpusat sangat cepat dan menyapu apapun yang diterjang. Sebelum mereka terhempas berjauhan. Begitu tersadar, Lorr En sudah tergeletak di dinding batu hingga puluhan kaki.


”Taja!” teriak Lorr En ke segala arah memanggil nama kawannya. Kabut tebal tersingkap dari pandangannya. Setelah itu, ia melihat Taja terpisah jauh dalam keadaan lebih parah. Ia setengah terbenam dalam lautan pasir di tempatnya terjatuh dan terjebak di sana.


”Menyingkir dari sana!” Lorr Enbtidak bisa berbuat apapun untuk menolong Taja selain berteriak untuk memperingatkannya. Menumpu tubuh sendiri saja, ia tidak mampu. Rasanya, mantera ’Angzi-i-madhoom’ telah mengakibatkan ia lumpuh total.


Sementara itu, di tempat Taja menggapai-gapai ke atas, si Penyihir sudah lebih dulu menghampirinya. Sosok bermuka sadis dan berpawakan tinggi besar berhenti tepat di posisinya terjebak dan tidak bisa keluar dari pasir.


Taja menengadah, balas menatap wajah penyihir yang seperti orang mati, berekspresi dingin dan tanda urat berbentuk ular di pelipis kanan-kirinya bergerak naik turun, kemudian melingkar. Sepasang matanya yang runcing tanpa alis dengan bola mata kemerahan tanpa pupil hitam. Seluruh kulit muka dan bibir mengerut ke dalam, tulang tengkorak pipi menonjol di wajahnya yang lonjong. Hampir tanpa bicara selain air muka seperti menyiratkan kebencian tak terkira besarnya. Penyihir tak bergeming cukup lama mengamati wajah polos anak itu. Perlahan mulutnya ternganga, cukup jelas terucap darinya kecuali sekali lidahnya mendesis berat menyebut satu nama.

__ADS_1


”Tajura ....”


Seperti desis ular, namun Taja mampu menangkap suaranya dalam suasana angin kencang.


Taja terbelalak seketika, melihat si Penyihir merentangkan dua lengannya dan bersatu dalam gerakan seperti memegang benda panjang. Tidak lama dari ia melakukan gerakan itu, dari sela-sela genggamannya, tiba-tiba muncul pedang pipih panjang kemudian merapal serentetan mantera.


Uff!


Kobaran api merah disertai asap tebal muncul dari awak pedang itu.


Seperti terhipnotis, Taja tak mampu bergerak lagi dalam tatapan tajam dan ayunan pedang yang sedang melayang ke arahnya...


”Tidak!” teriak Lorr En membahana ke seluruh puncak. Tak mampu ia menyaksikan itu.


Wush ... krak!


Ada suara seperti benda melesat cepat dan menancap di punggung penyihir sebelum ia sempat menebas tubu Taja.

__ADS_1


”Kraaargh!”


Ia menjerit dalam kesakitan dan beralih perhatian ke belakangnya. Tanpa tahu dari mana berasal, puluhan prajurit berkuda tiba-tiba berdatangan ke arah Taja dan Lorr En sambil menghujam ratusan anak panah dan tombak ke arah penyihir.


Cukup lama terjadi perlawanan balik dari koloni kelelawar-kelelawar raksasa yang sejak tadi berkeliaran ke sekeliling lautan pasir, beradu dengan senjata-senjata serombongan prajurit bertopeng. Banyak kelelawar berjatuhan mati, selebihnya memilih kabur dari sana. Sementara itu, penyihir berjubah putih juga berkelebat hilang bersamaan dengan kaburnya makhluk-mahkluk bersayap itu. Tanpa jejak dari sosok itu. Kabut gelap seperti menelannya cepat sekali.


Suasana siang di lautan pasir sedikit cerah meskipun awan mendung masih menaungi langit-langit di kawasan itu.


Tapak-tapak kuda mendekati Taja dan Lorr En. Ada seorang di antara mereka yang berseragam prajurit dengan topeng besi di mukanya. Setelah turun dari kuda, ia memasukkan pedangnya kemudian meraih tangan Taja yang sangat mengharapkan bantuan. Sementara seorang prajurit lain juga menolong Lorr En.


Taja mengamati sekilas mereka yang semuanya bertopeng di atas tunggangan masing-masing. Salah satunya membawa Raojhin yang terluka. Anak itu sedikit tersenyum dalam kesakitan.


”Beruntung kami melihat jejak kalian!” si Prajurit yang menolong Taja membuka topeng. Di balik itu, tampak wajah yang tidak asing lagi. Ternyata, dia adalah orang yang telah lebih dari satu kali menolongnya dalam keadaan genting selama ini. Senyum lelah tampak di bibirnya.


”Ketua Sujinsha?” panggilnya tak percaya. Taja merasakan kelegaan leluasa sampai-sampai tak terasa ambruk dalam pelukan kapten.


...* * *...

__ADS_1


__ADS_2