
”Ratu Shachini pun mengangkat dirimu sebagai putra Gunggali. Itu sebuah berkah,” kata Merald.
”Jadi, sebenarnya … kita sama-sama anak angkat?” Taja tak menyangka sejatinya Merald.
Taja termangu heran.
”Jadi, jangan merasa sendiri,” kata Merald.
”Mmm ... sekarang umurku lebih dari 72 tahun,” kata Merald lagi seraya menggerak-gerakkan jari-jari tangannya dan meniru bentuk seperti jari-jari Taja.
Sepasang bola mata Merald berkilau diterpa sinar rembulan menerpa wajahnya. Perlahan, kulit tubuh Merald berangsur-angsur tak lagi tembus pandang, menjelma sempurna sebagai sosok menyerupai Taja.
"Kamu meniru diriku?" Taja takjub, kemampuan Merald menyerupai Taja, seolah ada dua Taja saling berhadapan.
”Aku keturunan Orang Jawata,” Taja memperhatikan dirinya sendiri mulai ujung kaki dan telapak tangan, juga meraba-raba wajahnya.
”Kita sama-sama makhluk berbeda dari kebanyakan Penghuni Gunggali. Karena itu aku tahu rasanya menjadi paling sendiri dan kesepian,” kata Merald, menghela nafas panjang.
”Taja, jangan merasa terasing, kami semua menyayangimu. Kamu, Pangeran Gunggali yang termuda dan memiliki gelar seorang Elhundi. Aku bersedia mempersembahkan Khameswari untukmu,” ujar Merald, lagi-lagi tersenyum kecil menentramkan Taja.
Taja memperhatikan jubah hijau tua yang dikenakannya sekarang, ”Aku ... tidak pernah menginginkan Khameswari, tidak pernah terlintas ingin merebutnya darimu.”
Merald tertawa ringan.
”Menurutmu ... aku tidak ikhlas? Jubah itu sangat cocok untukmu,” Merald mengelak rasa bersalah tersirat di wajah Taja.
”Berbahagialah, Taja! Karena kamu adalah Sang Penyubur Hutan yang sudah lama menerima berkah ini. Kultivasi Ratu ada dalam dirimu!” Merald agak berseru sambil merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.
”Sang Penyubur?” Taja merasa tersipu.
”Kamu harus bahagia! Itu kekuatanmu,” kata Merald tegas.
”Terima kasih, kamu telah memberikan Khameswari ini untukku,” balas Taja.
Merald tersenyum saja.
”Tetapi ... aku ingin juga melihatmu memakai Khameswari ini,” pinta Taja.
”Untuk apa? Khameswari itu milikmu. Hanya kamu yang dapat memakainya!”
”Aku ingin melihat kamu membangunkan bunga-bunga dengan menggunakan kebahagiaan dari jubah itu,” lanjut Taja dan langsung melepas jubahnya.
”Ha ha ha ...! Menurutmu aku se-ajaib itu!” Merald tertawa lagi, ”Tapi, baiklah!”
__ADS_1
Hembusan angin sepoi-sepoi malam membelai halus rambut Merald yang sesekali berubah keemasan dan kembali lagi hitam kecoklatan. Sepasang matanya berbinar cerah menyambut jubah dari tangan Taja.
”Aku akan mengajarimu juga,” kata Merald dan segera mengenakan Khameswari.
”Aku ... melayang ...,” Merald menghela nafas ringan. Matanya terpejam selama menikmati kebahagiaan dari jubah itu. Kemudian kaki-kakinya bergerak dan melayang di antara dahan.
Taja menyaksikannya dengan takjub.
”Wow!” Tak tertahankan lagi, Merald berputar-putar di udara, menyibak daun-daun, sesekali mengayunkan akar-akar bergelantung.
”Wuuuh ...!”
Tubuh Merald dalam Khameswari yang terang menyala dalam gelapnya malam, mendarat ringan ke tanah. Ia memasang bagian penutup kepala yang menyatu dari punggung Khameswari. Kemudian kedua lengannya merentang lebar-lebar dan semakin ke atas.
Daun-daun bergerak lirih. Angin mengikuti gerak tangan Merald. Ratusan kuncup bunga di sekelilingnya seketika itu merekah.
”Wow!” Taja hanya mengamati dari tempatnya singgah di atas dahan, namun ia bisa melihat jelas semuanya.
”Aku senang sekali! Aku senang sekali!” seru Merald berkali-kali dengan mata terpejam dan wajah tertutup jubah bagian muka. Ia merentangkan kedua lengannya lagi sambil menghirup nafas dalam.
Tiba-tiba angin berubah agak kencang, menyeruak hamparan rerumputan luas dan menggoyangkan dahan-dahan pohon sekitar. Suasana yang semula tenang, tiba-tiba berubah mencekam, berbaur hawa panas merasuk dalam kebekuan malam.
Selanjutnya, ada jeritan melengking dari kejauhan kaki langit yang tampak dari tempat tempat Taja dan Merald berada saat itu.
”Kamu dengar jeritan itu?” tangan Taja menyentuh pundak Merald.
”Apa?” Merald masih tidak mengerti. Alisnya terangkat.
”Aku mendengar jeritan dari sana!” suara Taja tertekan berat di tenggorokan sambil menunjuk ke ufuk timur.
”Aku tidak mendengar apapun!” Merald menggeleng saja karena sungguh-sungguh tak mendengar seperti yang dimaksud Taja.
Suasana kembali tenang.
”Aneh, padahal aku mendengarnya jelas sekali ... seperti suara jeritan ...,” Taja menunjuk lagi ke satu arah yang jauh di ufuk timur.
”Di balik bukit di sana, daratan Calpera. Tidak ada apapun atau siapapun di sana...,” kata Merald dan sama sekali tidak menyiratkan rasa aneh.
Sebuah suara lain mengejutkan ketegangan mereka. Seperti sesuatu lebih dari satu yang jatuh ke rerumputan.
”Apa itu?” Taja terpaksa untuk mencari asal suara itu.
”Aku mendengarnya!” Merald tertawa lagi, terkesan menggoda. Padahal Taja sedang tegang mengawasi sekeliling
__ADS_1
”Buah Cantik yang jatuh. Kedengarannya tidak jauh dari sini. Buah itu langka dan sangat ajaib. Sayangnya, sebelum fajar ia sudah lenyap ke tanah!” kata Merald dan masih tersisa tawanya.
”Aku akan mencarinya!” tanpa bicara lagi, Merald melesat gesit ke semak-semak di balik pepohonan yang rimbun di sana. Taja tak mengikutinya. Ia lebih khawatir pada firasat tidak baik yang dirasakannya ada di balik ufuk timur itu.
”Merald, sebaiknya kita kembali ke Euryn!” Taja tersadar, Merald sudah tidak berada di dekatnya.
”Merald!” panggil Taja sambil melihat ke arah peri bunga itu telah bergerak ke semak-semak.
”Aku di sini! Aku dapat tiga!” suara Merald semakin menjauh. Kedengarannya, ia sedang disibukkan buah-buah cantik yang berjatuhan.
Taja melihat rerumputan setinggi lutut di sana bergerak-gerak. Sesekali bayangan Merald di antara ilalang tampak olehnya. Sebenarnya ingin menyusul, namun perhatian Taja lebih dulu dikejutkan panorama ufuk timur kemerahan nun jauh di sana. Sebuah jeritan khas, meraung-meraung ke angkasa.
”Changgala!” Taja mengucap satu nama yang tidak asing lagi dipikirannya. Ia segera menyongsong ke batas perbukitan Phardabian. Di balik barisan bukit itu, daratan Calpera yang gersang bisa jelas terlihat dari tempat Taja sekarang.
”Changgala?” Merald mendadak muncul dan mengejutkan Taja, ”Para pasukan tanah masa lampau? Adakah dari kaum mereka yang masih hidup?” dari balik pundak Taja, Merald memandang ke arah itu.
”Ada satu yang tersisa semenjak Calpera musnah,” jawab Taja singkat.
”Semua karena pusaka pembawa petaka yang telah membunuh ibuku ...,” sejauh memandang ke arah yang sama ke ufuk timur yang berkabut.
”Kami menyebutnya sebagai petaka Gunggali! Tragedi satu malam telah memusnahkan Calpera yang gemerlap. Peri-peri sungai sekarat dan daratan di sana jadi beracun,” Merald mengenang saat-saat menyedihkan yang pernah dilihatnya sendiri.
”Petaka dari daratan Jawata,” lanjutnya dalam keheningan.
Taja beralih padanya, ”Petaka?”
”Benar, pusaka beracun itu berasal daratan Jawata,” Merald memastikan.
”Manusia mana yang dapat sampai ke Gunggali?” tanya Taja penasaran.
”Tidak ada manusia yang sampai ke Gunggali, tapi ibumu yang terluka telah datang dan membawa dirimu yang masih bayi!” jawab Merald.
Taja tak berkedip selama Merald menjawab demikian. Ia larut dalam pikirannya sendiri, ”Hei, mengapa Calpera tampak lebih dekat dari Phardabian?”
Tiba-tiba Merald juga merasa heran. Baru sekali itu wajahnya serius dan ketakutan.
”Firasat-ku mengatakan sesuatu yang tidak baik. Purnama membuat jarak Phardabian dan Calpera tampak lebih dekat,” Merald segera menyimpulkan sendiri.
”Apa yang membuat Changgala seperti menjerit kesakitan?” gumam Merald.
Taja dan Merald saling pandang.
...* * *...
__ADS_1