The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)

The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)
4. Tertangkap


__ADS_3

”Bah!”


Pekik Lorr En, paling awal muncul ke permukaan. Kemudian disusul Taja. Beruntung mereka bertahan di atas puing-puing kayu mengapung.


”Apa barusan yang menghancurkan perahu kita?” tanya Lorr En gelagapan, tersembul tenggelam berkali-kali lantaran tubuhnya lebih berat dari kayu sandaran.


Di bawah bayangan kapal raksasa, Taja dan Lorr En mendongak. Kemunculan kapal raksasa itu disertai gema terompet, hampir menggilas kedua anak muda itu tengah mengapung.


”Awaaas!” teriak Taja memberi komando untuk menyelam ke dalam air. dua temannya segera masuk ke air saat kapal besar gelap


Taja muncul ke permukaan lagi.


”Neir! Lorr!” panggilnya sembari melihat sekeliling permukaan air. Tidak lama kemudian, tubuhnya terdorong ke atas. Seperti ada seseorang menyudul dari dalam air. Ternyata itu Lorr En muncul.


”Di mana Neirra?” kebingungan, Lorr En menyadari seseorang tidak bersama mereka.


Taja dan Lorr En celingukan ke segala arah. Namun belum sempat menjauh dari posisi terapung di tempat, muncul dua kapal besar lainnya dan mengepung kedua anak muda itu.

__ADS_1


”Neirra!” panggil Taja, tak bisa menahan diri ketika dilihatnya di atas kapal besar itu, tubuh Neirra meronta dalam jeratan jaring tergantung sedang ditarik ke atas kapal besar.


Taja dan Lorr En mendongak, sepanjang tepian kapal-kapal besar telah berdiri banyak orang-orang berseragam. Tampang mereka bengis dan perawakan tinggi besar, bersiaga dengan senjata masing-masing. Dan di antara mereka melemparkan jaring-jaring besar, tepat ke arah dua anak itu di bawahnya.


Tanpa sempat menghindar, cepat sekali jaring-jaring besar menjerat dua anak itu. dan segera ditarik ke atas kapal. Di atas sana, terdengar sorak riuh orang-orang menyambut.


”Dua tertangkap! Anak-anak!” seru seseorang yang tampaknya cukup ditakuti sambil membawa tombak baja dan seragam kusam dari kulit yang dikenakannya, caranya berjalan ke dekat anak-anak itu dilempar ke lantai dek, dengan suara derap sepatu besinya yang karatan dan. Namun wajahnya tak jelas terlihat karena helm besi. Hanya sepasang matanya yang angker, mengamati anak-anak itu dalam jeratan jaring-jaring dalam keadaan basah kuyup.


”Kapten segera datang!” seru awak seorang dari anjungan kapal. Kemudian di sambut kesibukan masing-masing. Untuk sesaat, anak-anak itu tergeletak di tengah-tengah lantai dek.


Beberapa awak kapal bersiul sambil terbahak dengan sesekali berkata, ”Kita akan panen besok pagi!” diiringi derai tawa yang lain juga.


”Taja!” Neirra terpekik setelah melihat kaki Taja terluka akibat tergores jaring berserabut. Lorr En pun melihat itu. Taja terlihat lemas sekali. Perlhan-lahan kepalanya tertunduk sampai akhirnya ia terantuk ke lantai dan tidak sadarkan diri. Ternyata, bukan luka di kakinya saja yang membuatnya berdarah. Ada juga sepucuk anak panah menancap di punggung Taja.


”Taja!” seru Lorr En dan mengundang perhatian awak-awak kapal. Di antara mereka, seorang yang memakai helm usang mendekati anak-anak itu.


”Lepaskan kami!!!” seru Lorr En dalam bahasa yang terdengar asing dan tidak dimengerti oleh orang-orang itu.

__ADS_1


”Sejak tadi anak-anak ini mendesis. Sangat berisik!” kata mereka saling memandang sambil terus mengamati anak-anak itu bergantian.


”Mereka berkata apa?” sahut yang lain juga terheran-heran.


”Lepaskan kami!” Lorr En meronta dalam jaring yang menjerat kuat. Dari gelagat itu, para wak kapal bisa menyimpulkan jawaban sendiri.


”Hei, Anak-anak! Dari mana asal kalian?” tanya seorang yang paling kekar seraya lebih mendekat. Lorr Enyang berada di bawah bayangannya yang tinggi besar, balas menatap sepasang mata melotot di balik helm. Namun, sebilah tombak besi langsung diarahkan persis ke lehernya.


”Lepaskan kami!” teriak Lorr En sekali lagi. Namun orang itu justru mengayunkan kepalan tangan dan sekuat tenaga menghujamkan ke kepala Lorr En.


”Lorr En!” teriak Neirra saat melihat Lorr En langsung lemas sampai tidak sadar setelah satu tinjuan keras menghantam kepalanya.


”Apa yang kalian lakukan? Siapa kalian dan mau apa kalian?!” Neirra ingin meronta, namun belitan jaring-jaring terlalu kuat menjeratnya. Bahkan kulitnya sampai tergores. Sekarang, orang berhelm itu beralih padanya.


Satu tinju menyusul ke kening Neirra. Langit semula cerah, mendadak gelap.


...* * *...

__ADS_1


__ADS_2