
Pukul Singa Jantan. Kegiatan murid kelas khusus Memanah, puluhan murid terlatih memenuhi barisan bergilir untuk mengikuti kegiatan rutin. Tetapi kali ini situasinya agak berbeda dari biasanya, karena hari ini ada penilaian lebih bukan hanya dari para pelatih dan guru-guru besar, melainkan petinggi-petinggi istana juga turut hadir untuk menilai langsung aksi murid-murid Tanapura yang disebut-sebut sebagai ’murid pilihan kelas memanah’.
“Fokuskan di titik merah sedekat mungkin!” Ketua Janewa mengarahkan busur di tangan Bintani, “Lepaskan!” pandu Ketua Janewa.
Tak!
Panah Bintani meleset dan menancap di papan target, namun meleset satu jengkal dari inti target.
“Sangat buruk, bahkan tidak ada poin untukmu hari ini!” lantang Ketua Janewa enggan memberi nilai, “Sangat jauh dari harapanku, bukankah kamu dari regu Elang?”
Bintani tertunduk karena menahan malu. Lebih dari itu, karena ini sudah lima kali anak panah dari busurnya menancap di titik yang jauh dari yang diharapkan. Dia segera mundur ke barisan belakang dan bergantian dengan murid selanjutnya.
“Raojhin, angkat busurmu! Sejak tadi kamu diam saja, apa yang sedang kau pikirkan?” perhatian Ketua Janewa beralih pada seorang murid praja di barisan paling belakang persis di dekat Bintani. Lamunan Raojhin buyar. Sejak tadi dia tidak bergeming di sana sama sekali tidak menampakkan semangat seperti hari-hari sebelumnya.
Sementara itu Bintani mencibir padanya.
“Majulah!” perintah Ketua Janewa. Dan Raojhin segera melangkah di hadapan ratusan murid.
“Hei, jangan katakan kalau kamu jadi tukang melamun hari ini!” sindir Ketua Janewa setengah berbisik pada Raojhin yang sudah ada di dekatnya.
“Kalian adalah yang terbaik dari ratusan murid lainnya, tapi cara kalian memanah saja masih seperti ini, terlalu jelek! Jangan membuatku malu di depan banyak orang! Jika ada yung seperti inu saat ujian nanti, maka aku tidak akan menoleransi kesalahan kalian saat itu…aku tidak segan-segan mengirim kalian ke pengasingan. Apakah kalian mau jika aku mengirim kalian ke sana?!” seru Ketua Janewa pada semua murid, dan semua dari mereka menggeleng, kecuali Raojhin.
“Dan saat ini aku ingin tahu apakah Murid Terbaik tahun lalu masih mampu memberikan titik yang terbaik kali ini!” Ketua Janewa mendekat pada posisi Raojhin dalam barisan. Tetapi tampaknya, murid itu tidak tampak gentar sedikitpun.
__ADS_1
“Bagaimana jika kamu yang diasingkan ke sana, Raojhin?” Ketua Janewa agak mengancam.
“Tidak masalah, saya pernah ke tempat yang lebih buruk,” jawab Raojhin tegas dan meyakinkan semua murid di tempat itu, bahwa Raojhin bukan praja yang mudah gentar.
“Jangan sok pintar! Kamu pikir dirimu bisa menjadi apa nanti, Hah?! Ingin menjadi Kapten seperti Ketua Sujinsha yang pembangkang itu?!” Ketua Janewa mencibir dalam suara lantangnya.
“Sok pahlawan! Merasa paling hebat dan disegani, padahal sifat pembangkang sangat menyebalkan!” lanjut Ketua Janewa.
“Kalian pikir dia lebih baik dari yang kalian tahu?!!” teriakan Ketua Janewa keras sekali karena emosi dan rasa tidak suka terhadap Kapten Utama Ketua Sujinsha tertuang dalam air mukanya yang memerah. Semua murid-murid yang lain tidak berani menoleh apalagi berkata-kata sepatah katapun.
“Bagiku, dia hanya pengelana miskin dan tidak tahu malu!” lanjut Ketua Janewa, kedua lengannya berdecak pinggang sambil mengacung-acungkan tongkat pangkat yang biasanya digunakan untuk memukul murid-murid bengal.
Raojhin dan semua murid menahan senyum melihat beberapa orang tidak asing lagi bagi mereka, muncul dari balik gerbang lapangan.
Semua terdiam sambil menahan senyum bukan tanpa arti, manakala serombongan pasukan itu mendekati Ketua Janewa.
“Mulai saat ini, belajarlah dari orang yang tepat!” tambah Ketua Janewa belum berhenti menyinggung sosok rivalnya, Ketua Sujinsha.
Murid-murid tidak mampu menahan tawa lagi. Dan mulai terdengar serentetan tawa-tawa kecil mereka yang membuat Ketua Janewa keheranan.
“Mengapa kalian tertawa?” ia merasa ada yang aneh dari tawa murid-murid itu, wajahnya yang garang bukanlah sesuatu yang lucu menurutnya. Sebaliknya, langsung disambut gelak tawa makin keras dari sebagian besar murid.
Belum sempat ia marah, terdengar sebuah suara dekat di belakangnya.
__ADS_1
“Aku tahu tahu siapa orang yang tepat mengajari mereka!” suara mantap itu berasal dari pimpinan rombongan yang datang. Saat Ketua Janewa berbalik, meledak tawa semua murid melihat sikap Ketua mendadak kikuk.
“Apa maksud kedatanganmu ke sini? Saat ini aku sedang mengajar, bukan waktu yang tepat bila ada keperluan denganku!” meskipun muka Ketua Janewa agak merah, tetapi dia berlagak tegas pada seorang pemimpin yang datang bersama para ketua lain disertai lima murid Praja Muda.
Seseorang yang tidak lain adalah Ketua Sujinsha berhenti di hadapan Ketua Janewa. Ia mendekat beberapa langkah lagi sembari melempar kalimat.
“Sekedar strategi baru, lima murid terbaik Praja Muda akan menjadi pembanding kepandaian murid-murid Calon Prajurit ini. Aku ingin tahu, sepandai apakah yang paling hebat di sini untuk menyamai rekor terhebat Prajurit Muda tingkat tiga. Dan yang terbaik dari mereka wajib mengikuti latihanku!”
“Sejak kapan kamu ikut campur urusan mengajar di Akademi Kesatuan Praja? Aku yang berkuasa di sini! Sekarang aku perintahkan agar orang-orang ini meninggalkan kelas memanah!”
“Berkuasa di sini? lebih berkuasa dari perintah Paduka? Aku ke tempat ini bukan untuk mendengar siapa yang berkuasa di sini, tetapi sekedar memenuhi perintah Paduka! Dan tujuanku kemari adalah menyeleksi murid-murid Calon Prajurit untuk mengikuti latihan khusus dalam rangka persiapan ujian 2 minggu ke depan. Mereka yang berhasil dalam memanah hari ini akan mengikuti tahap Rintang Alam dan keahlian khusus,” balas Ketua Sujinsha. Tidak lama ia berbicara demikian, puluhan pejabat penting dari istana datang berbondong-bondong dari pintu masuk lapangan.
”Jadi, minggir saja dan biarkan aku mengambil alih pelajaran saat ini!” kata Ketua Sujinsha. Ketua Janewa kewalahan melihat puluhan ketua berdatangan. Ia juga tidak bisa membantah apa-apa lagi selain mati kutu saat Ketua Sujinsha dan rombongan membuatnya mundur dan tersingkir dari tengah lapangan. Lagipula, percuma saja jika ia lebih lama lagi menanggapi Ketua Sujinsha sebagai lawan bicara yang tersohor dengan sebutan si Tak Pernah Takut atau si Tak Mau Tahu. Itu hanya akan mempermalukan gengsinya.
“Mengapa dia mengambil alih tugasku?” Ketua Janewa masih tidak mengerti akan tindakan yang dianggap rival.
“Mulai saat ini, dia menjadi Pelatih Utama di sekolah Akademi Kesatuan Praja, tanpa syarat atau aturan apapun!” suara menyahut begitu saja.
Ketua Janewa terkejut, ketika muncul seseorang pemilik suara, datang dari area penonton. Ternyata dia, seorang komandan di atas jabatan para ketua.
Namanya Komandan Morraya. Ia tersenyum sinis dalam pandangannya menyaksikan area, cepat sekali dikuasai Ketua Sujinsha.
...* * *...
__ADS_1