
“Aku senang bertemu dengan Tuan,” ungkap Taja tulus. Tuan Anjing Hitam terkesan atas ucapannya.
“Aku berharap, ayahku seperti Tuan,“ Taja membayangkan sosok ayahnya.
“Bisa jadi ternyata dia lebih baik dariku, lebih muda dan pasti sangat menyayangimu.”
“Andai saja aku bisa bertemu dengan dia dan menanyakan beberapa hal padanya,“ Taja tidak peduli lagi apa kata gendra nanti setelah dia bangkit, lalu memeluk Tuan Anjing Hitam.
“Kamu menangis?" Tuan Anjing Hitam terenyuh hati, merasakan kesedihan Taja.
Tubuh Taja bergetar dalam pelukan Tuan Anjing Hitam. Dibiarkannya seperti itu beberapa saat, setelah agak lama Tuan Anjing Hitam berbisik lembut, “Aku punya sesuatu untukmu, semoga bisa membantumu mencari ayahmu, Taja.“
Taja balas menatap Tuan Anjing Hitam, “Apa itu?“ tanya dia.
“Ikut aku ke suatu tempat,“ Tuan Anjing Hitam mengajak Taja menuruni terjal.
“Masih jauh kah, Tuan?”
Suasana gelap membuat Taja bertanya-tanya, dia berpikir Tuan Anjing Hitam akan memberinya apa. Tapi Tuan Anjing Hitam tidak menjawab setiap kali dia ditanya akan kemana, kadang-kadang lelaki itu misterius di samping kebiasaanya yang suka bercanda, sangat bertolak belakang.
Akhirnya mereka sampai di suatu tempat sangat gelap, luas tanpa dinding, hanya tampak jejeran balok-balok terbuat marmer dan kayu yang sudah lama keropos dimakan usia, beratapkan langit dan berlantai tanah merah kering.
“Makam? Tuan mengajakku ke pemakaman, untuk apa?”
“Ssst! Jangan membangunkan yang sedang tidur, kamu terlalu berisik!” desis Tuan Anjing Hitam. Akhirnya Taja hanya bisa menuruti kata-kata Tuan Anjing Hitam, meskipun hatinya terus bertanya-tanya lelaki itu sedang membawanya kemana. Setapak demi setapak mereka lalui setiap sederetan makam berselimut ilalang tinggi seluas mata memandang, melangkah dalam gulita pekat yang dingin, terlalu sunyi, dan sangat mencekam. Dia tidak pernah ke tempat seperti sebelumnya.
Srak!!
Terdengar suara ranting kering terinjak sesuatu.
“Apa itu?“ tanya Taja lirih.
“Ssst …!” lagi-lagi Tuan Anjing Hitam mengisyaratkan Taja untuk diam dan tetap berhati-hati.
“Ada yang bergerak di belakang sana! “
“Ular … ular pemakan bangkai! Mereka terisolasi di sini, memakan apa saja. Jumlah mereka cukup banyak, berhati-hatilah … jangan sampai menarik perhatian mereka!” Mendengar itu, Taja terkejut. Ternyata bukan makam yang membuat Tuan Anjing Hitam menjadi pendiam dan sangat berhati-hati melangkah, tapi ular kobra. Taja bergidik, dia mendekat ke tubuh Tuan Anjing Hitam dan menggenggam tangan dan baju lelaki itu kuat-kuat. Sambil menoleh berkali-kali ke belakang.
Ssshhhh …!!
__ADS_1
Kali ini terdengar suara mendesis dari arah tidak jauh tempat posisi mereka.
“Tuan Anjing Hitam … di belakang!” Taja ketakutan.
“Jangan bergerak! Tahan nafas, mematung di tempat!”
Taja mengikuti yang dilakukan Tuan Anjing Hitam, lelaki itu mematung dengan mata terpejam sambil menahan nafas selama mungkin bisa bertahan.
Seekor ular besar muncul tiba-tiba dari arah tak terduga, matanya memancar merah, lidah bercabang dengan desis menakutkan. Aneh, ular itu hanya tertarik pada Taja, Tuan Anjing Hitam sama sekali tidak tersentuh. Lidah ular itu menjilat ke muka Taja, air liur membasahi leher dan bajunya. Kontan saja Taja merasa sangat ketakutan, berharap Tuan Anjing Hitam secepatnya melakukan sesuatu.
Srakk!
Tuan Anjing Hitam melempar kayu sejauh mungkin. Ular itu pun berlari menuju asal suara keras.
Bukk!
“Lari!!!” teriak Tuan Anjing Hitam. Mereka secepatnya berlari, tentu saja membuat perhatian ular kembali ke arah mereka. Taja mempercepat larinya, menerobos di antara ilalang setinggi 1,5 tinggi tubuhnya. Tidak peduli terjal yang dilalui, yang dia tahu hanya menjauh dari ular itu.
“Terbang …! Terbanglah, Taja!” teriak Tuan Anjing Hitam terdengar membahana di antara kegelapan entah dari arah mana. Celakanya, Taja baru menyadari bahwa dia telah kehilangan Tuan Anjing Hitam. Kegelapan malam dan suasana seperti telah membuat mereka terpencar.
Waaaaaa ...!!!
“Tuan! Tuan! Di mana dirimu, Tuan?“ Taja menyibak ilalang yang menutupi jalannya sambil terus mencari-cari Tuan Anjing Hitam.
Tidak ada jawaban Tuan Anjing Hitam, kesunyian dan gulita semakin membuatnya takut. Apalagi sendirian! Taja tersentak…dia bertanya dalam hati, mengapa Tuan Anjing Hitam membawanya ke tempat seperti ini? Atau ini bentuk kesengajaannya saja. Benarkah kepercayaannya pada Tuan Anjing Hitam terbayar seperti ini. Tetapi itu tidak mungkin! Bantah hatinya.
“Tuan Anjing Hitam!!!” panggilnya, tetapi masih tak terjawab. Antara percaya dan tidak, rupanya Tuan Anjing Hitam seperti benar-benar lenyap.
Sssssh ...!
Suara desis ular terdengar lagi, terasa semakin dekat, membuat tubuh Taja seakan kaku, tidak tahu harus berbuat apa. Manakala desis-desis itu semakin banyak, dia sadar kalau bukan hanya satu ular yang sedang mengincarnya.
Srak !!!
Tubuh hitam memanjang tiba-tiba muncul. menjulur dari balik ilalang persis di depannya. Taja terkejut bukan main, tanpa sempat berteriak dia berusaha lari dari pandangan ular itu. Tapi sial, seekor ular lain tiba-tiba menghadangnya. Untung saja Taja gesit menghindar ketika kepala ular sebesar batok kelapa nyaris menyambarnya.
Lari dan lari lagi. Itu yang terpikirkan Taja. Tapi seekor ular yang dua kali lipat lebih besar telah menghentikan langkah Taja kali ini. Dia benar-benar terdesak, apalagi saat ular itu menjulurkan lidah, mendekat ke tubuh Taja. Lebih naas lagi, dua ekor ular dari arah belakangnya menyusul
Dalam ketegangan, anak itu terpaku di tempatnya berdiri tetapi tetap siap siaga.
__ADS_1
Srak …!
“Hup!” Taja mengelak patukan ular itu. Tapi seekor ular lain menyerang dari belakang.
“Nam-mora … Zar-ye!” Taja mengucapkan mantera bahasa Gunggali, mengarahkannya ke mata ular yang menyerangnya itu.
Srak … srak!!!
Ular itu berkeliat, terdengar ringkik suaranya menahan sakit karena mantera yang baru diucapkan Taja telah menyilaukan matanya. Tapi, itu bukan akhir yang melegakan karena masih ada dua ekor ular sedang memburunya dari belakang.
Shaaa ...!!!
Desisnya yang berat dan keras mengejutkan, cepat menghadang Taja lagi.
Taja mengulangi mantera yang sama, ular itu pun berkeliat, terkapar diantara ilalang-ilalang kering lalu kabur dari hadapannya. Nafas Taja memburu dan detak jantung berdegup kencang. Belum sempat dia mengambil nafas lebih lama lagi, seekor ular terbesar tadi sudah berada tepat di belakangnya, hanya beberapa jengkal dari punggung Taja.
Ketika Taja menoleh perlahan, air liur ular itu menetes ke tanah, tampak sangat lapar dan ingin segara menelan tubuh anak itu bulat-bulat.
Shaaa ….!!!
Ular besar dengan kedua mata memancar merah sebesar buah jeruk, menjulurkan kepala setinggi-tingginya. Taja seperti anak itik di bawah ekornya yang berderik. Meskipun dia mencoba melemparnya dengan mantera pengusir ular, tapi kepala ular itu terlalu jauh di atasnya, terus bergerak mengikuti. Taja mundur beberapa langkah, tetapi dia semakin tersudut ke tebing sungai.
Sungai? terlintas Taja dalam benak Taja melihatnya. Tanpa banyak pikir dia menjatuhkan dirinya ke tebing sungai.
Wushh …!
Tubuh ringan Taja seperti terhembus angin, sebelum mencapai permukaan air, dia melayang dan bergerak di udara lalu menelusuri permukaan sungai berpagar ilalang.
“Terbang…!” serunya. Kenapa tidak sejak tadi terpikir olehku agar terbang saja? pikir Taja. Baru sempat merasa sedikit lega karena terhindar dari ular tadi, Taja kembali terkejut.
Srakk …! Buk…!!
Tubuh Taja terhempas ke tanah setelah seekor ular dari tepian sungai menyambar dia. Sesat mengerang kesakitan karena terbentur tanah yang keras. Belum sempat dia berdiri, puluhan ekor ular telah mengerumuninya. Taja tidak bisa berpikir atau berbuat apa-apa lagi, “Aaah! Givatri!”
Ular besar melilit tubuh Taja membuat otot-otot menegang hingga daun-daun keluar dari tubuhnya. Tetapi ular besar itu semakin menguat hingga menyesakkan dada. Meskipun dia mengerahkan tenaga peri, itu tidak bertahan lama ketika lilitan semakin meluas sampai batas leher.
Sesak, hampir tidak bisa bernafas apalagi meminta tolong, pandangan matanya semakin kabur dalam pancaran merah mata ular itu. Di saat tubuhnya lemas, semakin tak berdaya dan tidak berkutik sedikit pun, tiba-tiba hawa berubah panas berwujud sebongkah bulatan besar seperti api mendekat, melebar, dan terus memancarkan panas ke segala arah.
Kedua kelopak mata Taja sayup-sayup meredup ke arah datangnya bara memerah panas dan benderang.
__ADS_1
...* * *...