The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)

The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)
35. Terpidana (2)


__ADS_3

Paduka Raghapati sangat terkejut melihat putri kesayangannya sedang memegang sesuatu paling membahayakan.


”Dari mana kau mendapatkan racun itu lagi?” Paduka Raghapati berusaha untuk menggapai putrinya. Tetapi Alingga semakin mengelak, menjauh dari jangkauan orang-orang.


”Jika memang harus demikian … maka aku tidak akan segan-segan melakukannya lagi!” tangannya gemetaran sambil memegang seperti tongkat seukuran satu jengkal dengan kuncup di ujungnya.


”Kau mengancam aku untuk bunuh diri?!!” Paduka Raghapati naik pitam melihat putrinya mengambil tindakan itu.


Dalam keadaan tegang, penasehat Shin yang sejak tadi mendampingi Paduka Raghapati mulai angkat suara.


“Putri yang baik, hamba mohon maaf … tetapi ini adalah urusan orang dewasa … Putri belum waktunya berhak tahu dan ikut campur dalam urusan ini,” penasehat Shin menyela lagi meskipun wajahnya tampak panik. Bukan hanya dia, semua yang hadir merasakan itu.


“Dimana orang dewasa ketika aku membutuhkan obat untuk sembuh. Dimana orang-orang dewasa saat Paduka Raghapati memerintahkan turun ke Teluk Merah untuk mengambil sebuah Bunga Ajaib, hanya sebuah bunga ajaib tetapi tidak ada yang mampu, tidak ada orang dewasa yang bisa. Di mana orang-orang dewasa saat itu, Tuan? Anda sebagai orang terlampau dewasa hanya bisa bicara di balik gigi-gigi tua dan rapuh!” benar-benar si penasehat Paduka Raghapati dibuat kikuk karena perkataan dan tatapan sang Putri seakan menceburkan harga dirinya ke dalam comberan sangat busuk. Apa kata dunia nanti, bila ada seorang penasihat raja di tundukkan oleh anak perempuan 10 tahun.


“Alingga putriku ...,” Paduka Raghapati ingin menenangkan sang Putri yang sudah terlanjur marah dan nyaris nekad bertindak membahayakan nyawanya.


“Ayah, mereka hanya tahu bagaimana keinginan untuk menyingkirkan orang-orang terbaik ayah. Tidak sadarkah ayah akan hal itu? Karena mungkin saja, sebagian besar dari mereka ingin ayah membuang dua murid yang telah berjasa untuk negeri ini hanya karena masalah sepele dibesar-besarkan!”


“Tenanglah, Alingga …,” kata Paduka Raghapati berhasil merengkuh putrinya. Putri Alingga menyandarkan diri di pelukan Ayahanda Paduka.

__ADS_1


“Putri, mohon anda lebih mengerti kasus ini … ini bukan sekedar kelancangan seorang anak terhadap peraturan istana, karena peraturan ini bukan hanya dari Paduka sendiri, tetapi sudah menjadi hukum Tanapura sejak dulu ... bahwa siapapun yang melakukan pelanggaran adat istiadat leluhur Tanapura yang terhormat dari Keluarga Paduka. Negeri ini sangat mengutuk orang-orang lancang dan berani seperti mereka,“ kali ini Ketua Jenewa yang angkat suara.


“Oh … jadi kalau aku masuk perpustakaan istana bersama teman-temanku, maka aku harus dihukum dan dikutuk juga, begitu?“


“Putri …,” Ketua kewalahan karena harus menanggapi apalagi.


“Aku dan Razel pernah memasuki Istana Kitab saat perayaan awal tahun, setelah meminta-minta padaku ... secara diam-diam ... sembunyi-sembunyi dan tanpa liontin khusus!” ancam Putri Alingga memotong kalimat Ketua Jenewa . Ia mengumbar suatu rahasia mengejutkan, laksana bumerang menghujat Ketua.


Seperti tersambar petir, semua seisi aula beralih pandang ke arah Ketua Jenewa dengan penuh tanda tanya. Padahal dialah orang yang mengadukan kasus dua terdakwa sampai terjadinya sidang itu. Kesalahan mereka tidak berbeda dengan yang diungkapkan Putri Alingga di hadapan umum.


“Apa?!“ Ketua Jenewa celingukan ke segala arah, tidak percaya apa yang dikatakan Putri Alingga baru saja telah menyangkut-pautkan nama putranya, Razel.


“Jika menurut aturan, maka … hari ini juga dia harus dihadirkan di sini dan diadili seperti mereka!“ Lanjut Putri seraya menunjuk ke arah dua terdakwa.


“Aku bisa membuktikan kalau yang aku katakan adalah benar, Ketua Jenewa yang tidak bermurah hati … pengadu seperti Tuan adalah sengaja membesar-besarkan masalah ini agar Taja dan Raojhin menyingkir dari Sekolah Militer Tanapura, benar bukan? Aku sudah bisa membaca isi kepalamu!” Lagi-lagi Putri Alingga berhasil mempermalukannya saat sidang masih langsung. Dan Ketua Jenewa semakin gelagapan karena menanggapi bisik-bisik banyak orang di sekelilingnya


Putri Alingga tidak peduli situasi saat itu, perhatiannya kembali pada Paduka Raghapati, ayahnya.


“Ayah … hukumlah aku karena pernah masuk ke perpustakaan istana karena tanpa liontin ini aku tidak bisa berbuat apa-apa seperti yang lain, bukankah ayah menganggap semua rakyat negeri Tanapura sama rata? dan aku adalah bagian dari rakyat negeri ini, Ayahanda …,” kata putri lembut di antara suasana yang mulai gaduh. Beberapa saat Paduka Raghapati membiarkan semua keributan berlangsung sampai dia memberi isyarat pada seorang Kepala Pengawal yang bersiaga terdekat.

__ADS_1


“Tenang. Semuanya harap diam …!“ seru pengawal itu atas perintah Paduka Raghapati untuk mengendalikan suasana sidang dari kericuhan.


“Karena sidang ini tidak bisa berlanjut sesuai peraturan biasanya, dan karena ada keberatan dari pihak-pihak tertentu yang memberatkan terutama putriku sendiri … juga karena … Ketua Jenewa yang kurang berhati-hati memberikan pengaduan … juga karena aku yang melalaikan sumpahku, sedangkan aku juga harus bertindak adil bagi rakyatku, harus mengadili dua terdakwa ini. Hari ini akan aku buat pengecualian untuk kedua terdakwa. Maka inilah keputusanku …."


Semua diam dan berdebar-debar.


“Aku berikan pilihan untuk Taja agar dia sendiri yang memilih hukuman untuknya dan untuk Raojhin …,” kata Paduka Raghapati belum tuntas memberi keputusan.


Sang Putri merasa keputusan ayahnya belum memuaskan, dia ingin dua terdakwa terbebas dari hukuman apapun, “Taja dan Raojhin tidak bersalah, Ayah! Mengapa dia harus tetap dihukum? yang mereka lakukan bukan termasuk pelanggaran. Bebaskan dia, Ayah!“


“Cukup! Jangan berdebat lagi denganku!“ Paduka Raghapati cepat-cepat mendiamkan putrinya itu untuk tidak bicara lagi sekaligus menyambar tongkat beracun dari tangannya.


“Sang putri bebas masuk ke perpustakaan kapan saja yang dia inginkan, bersama dengan siapapun … karena dia termasuk dalam keluarga atau keturunanku, jadi tidak ada penghinaan karena itu."


“Katakan saja … ayahanda tidak mampu memutuskan," bisik Putri Alingga mendekat telinga ayahnya, namun ia pura-pura tidak mendengar.


“Ada yang bisa memberiku pendapat lebih baik tentang nasib kedua terdakwa ini?” lanjut Paduka Raghapati sambil merentangkan tangan lebar-lebar ke seluruh hadirin.


Tidak ada yang berani, bahkan si Penasihat terpercaya seperti Shin sekalipun. Takut-takut kalau harus berhadapan dan beradu bicara dengan sang Putri. Kecuali satu, seseorang yang sudah ada sejak sidang di mulai, dari seragam lengkap dikenakannya sudah pasti dia adalah seorang kapten, rambut panjang sebahu, hitam kecoklatan, menatap tajam dan dingin ke arah raja, diiringi derap langkah kaki berat beralas sepatu metal, tampak sangat percaya diri. Seiring ia melangkah, semua yang dilaluinya menunduk hormat.

__ADS_1


Kemudian langkahnya terhenti tepat di dekat kedua terdakwa murid Calon Prajurit itu.


...* * *...


__ADS_2