The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)

The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)
6.14


__ADS_3

Terlalu hening. Puncak malam bertabur ribuan bintang dan langit cerah tanpa mendung. Angin hampir tidak berhembus. Suasana Euryn dicekam kebisuan seluruh penghuni. Hanya titik-titik air mata merembas dari sudut-sudut mata para Glastric. Mereka terus mengikuti kemanapun Ratu Shachini membopong tubuh Merald, menuju rongga bawah istana.


Tak lepas ia memandangi wajah Laotheri yang masih berseri, meskipun tubuhnya mulai mengkerut.


Ratu Shachini turun ke Telaga Pelangi. Sekarang, tempat itu dipenuhi serpihan kelopak Laotheri mengering. Kelopaknya meranggas satu persatu, menjadi serpihan debu yang jatuh ke air dan hanya meninggalkan bayangan keabu-abuan lalu sirna.


Daun-daun Laotheri tersibak seiring Ratu Shachini bergerak ke tengah bebatuan, tempat curah sumber mata air. Kemudian ia membaringkan tubuh Merald di sana. Untuk sesaat, ia memandangi Laotheri yang terbujur diam. Sesekali pandangannya berpindah ke sekeliling telaga yang hening sebelum meninggalkan tempat itu.


Sekembalinya Ratu Shachini ke pelataran Euryn, dilihatnya Shammure yang masih bersimpuh di pelataran istana bertabur kerikil permata. Sepertinya ia juga sedang sekarat. Terlihat dari wajahnya yang pucat dan tubuhnya lunglai. Tidak jauh darinya, pusaka itu tergeletak dan bersimbah darah keemasan.


”Bawa dia keluar...,” kata Ratu Shachini memberi perintah.


Sejumlah Glastric segera mematuhinya. Mereka terbang, membawa tubuh Shammure yang lunglai seperti akar layu, melewati akar-akar meliuk ke satu-satunya puncak rongga istana. Dan bayangan para Glastric itu menghilang di sana.


”Jangan sentuh benda itu!” Ratu Shachini cepat-cepat menghalau Elhundi Ular Merah ketika hendak memungut pusaka yang tergeletak itu. Ia dan beberapa Elhundi lainnya mundur tanpa lupa menunduk hormat.


”Benda ini berbahaya, siapapun yang menyentuhnya akan tertular rasa sakit yang sama seperti Merald,” kata Ratu Shachini tanpa melepas awasan matanya mengamati pusaka berujung ukiran itu.


”Benda ini sangat berbahaya, seharusnya kita sudah memusnahkannya sejak dulu,” kata Elhundi Ular Merah menyahut.


”Tidak semudah itu!” satu kalimat singkat beriringan tatapan Ratu Shachini yang dingin dari sepasang bola matanya memudar putih, ”Penuh teka-teki...,” lanjutnya berpaling dari ketakutan akan benda itu juga.


”Misteri sihir-sihir manusia, bahkan kita tidak bisa menguak kekuatannya,” selangkah demi selangkah, Ratu Shachini mendekati ke pusaka itu tergeletak di antara kerikil yang warnanya telah berubah kelabu.


”Lalu bagaimana? Akankah pusaka petaka ini dibiarkan berada di Euryn? Kita harus membuangnya sejauh mungkin dari Gunggali!” Elhundi Ular Putih menyela.


”Tidak boleh ada yang menyentuhnya!! Siapapun yang menyentuhnya akan teracuni!” kata Ratu Shachini sambil mengerahkan tenaga ke ujung telapak dua tangan bersamaan merapal mantera kuat-kuat namun tanpa terdengar oleh yang lain. Sebentar kemudian, tanah di bawah pusaka itu langsung retak dan menelannya ke dalam rekahan anjlok ke dalam.


”Bagaimanapun benda itu, tidak bisa musnah dengan kekuatan yang kita miliki. Biarkan saja pusaka itu terkubur!” lanjut Ratu Shachini setelah mengakhiri manteranya.

__ADS_1


Semua memandang ke satu arah tempat sang Ratu berdiri. Tidak satupun bersuara lagi. Mereka saling membisu satu sama lain. Sampai akhirnya Ratu berniat meninggalkan tempat itu. Namun baru satu dua langkah, ia berbalik lagi. Kali ini wajahnya tampak penuh tanya.


”Di mana Taja? Aku belum melihatnya sejak Merald kembali dalam keadaan seperti itu?” tanya Ratu Shachini pada para Elhundi. Mereka justru saling memandang. Begitu juga yang lain. Tidak satupun menjawab pertanyaan ratu.


”Di mana Taja?!” ulang Ratu Shachini lebih keras, ”Adakah dari kalian yang tahu keberadaan Taja?!”


Semua menunduk saja sebagai jawaban. Kecuali Elhundi Ular Merah hanya menjawab, ”Kami tidak melihatnya sejak kejadian yang menimpa Merald.”


Ratu Shachini terdiam sesaat.


”Cari dia!” perintah Ratu Shachini pada seluruh penghuni, ”Carilah dia di manapun berada!”


Tidak hanya pada mereka yang sedang berada di Euryn saat itu. Perintah itu juga menggema melalui air, tanah, dan angin yang menerbangkan daun-daun, menyisir Gunggali ke manapun.


Remang-remang cahaya berpendar ke segala penjuru, mengubah kegelapan menjadi benderang dengan ribuan suara-suara mendengung, meringkik, juga desir menyerupai angin. Mereka memanggil satu nama yang sedang dicari, Elhundi Taja.


Ia melewati pijakan akar yang meliuk ratusan putaran ke atas. Di sana, Ratu Shachini tengah menunggu kabar atas perintahnya. Wajah membeku dalam kebisuan, tergugah oleh kehadiran seseorang tidak asing lagi.


”Elkas?” Ratu Shachini menoleh ke arah datangnya seseorang itu.


”Jika kedatanganmu bukan membawa kabar atas perintahku, jangan menghadapi aku!” hardiknya karena merasa terganggu.


Elkas berhenti. Ia mendongak ke arah Ratu Shachini yang menatapnya tanpa ekspresi.


”Hamba tahu keberadaan Elhundi Taja ...,” katanya singkat, namun cukup memecah kebekuan suasana hati sang Ratu.


”Apa aku tidak salah dengar?” tidak yakin, Ratu Shachini melayang turun ke arah Elkas.


”Penglihatan dan naluri Ratu tidak bisa menangkap keberadaan Taja, demikian semua peri. Itu karena saat ini Taja berada di Calpera, tempat itu sudah lama ditinggalkan dan tidak pernah diinginkan,” ucap Elkas dalam tatap mata sayu.

__ADS_1


”Mengapa kau baru mengatakannya sekarang?” tanya Ratu Shachini.


Elkas menunduk saja ketika berhadapan dengannya, tanpa berani mengangkat wajahnya.


”Karena Ratu tidak memanggilku, karena tidak ada yang peduli siapa aku, hingga kakiku sendiri yang menuntun diriku kemari,” jawab Elkas lirih.


Ratu Shachini mengangkat jemarinya sampai batas dagu Elkas dan menggerak-gerakkan sedikit tenaganya, kemudian memperhatikan lekat-lekat wajah peri itu dipaksa mendongak. Tampak bekas air mata yang sudah mengering di antara guratan otot-otot menonjol dari leher hingga kantung matanya.


”Apa yang sebenarnya terjadi?” Ratu Shachini tersadar akan kesedihan Elkas. Dan Elkas mulai menceritakan sekilas sebelum kejadian yang menimpa Merald.


”Dakka menikam Merald dengan pusaka beracun itu. Hamba tidak sanggup mencegahnya! Apapun yang dilakukan ibuku setelah itu hanya untuk melindungi kami ...,” Elkas mengakhiri kalimatnya. Bola matanya kembali tergenang air mata.


Mendengar itu, seketika Ratu Shachini tercengang di balik kemarahannya yang tertahan. Setelah kejadian yang menimpa Merlad, Shammure tidak sempat mengatakan hal itu sampai sekarat sekalipun.


”Beraninya sekali Dakka mengambil benda itu!” air muka Ratu Shachini tidak bisa menyembunyikan kemarahannya lagi.


”Ampuni kami, Ratu! Semula...hamba hanya ingin menjemput Dakka dari Calpera. Tidak disangka ia justru memburu pusaka itu dan membunuh Changgala!” lanjut Elkas ketakutan dalam sorot mata Ratu Shachini.


”Di mana Dakka sekarang?” tanya Ratu Shachini masih berapi-api.


”Dia ... telah ... menjelma makhluk Arroragh ...,” agak terbata-bata Elkas menjawab.


Ratu Shachini menghela nafas berat untuk meredam amarah, ”Hukuman atas dosa bagi peri pembunuh!”


Sepasang bola matanya yang telah memutih, langsung meredup. Lama ia memikirkan tentang semua yang telah diceritakan Elkas. Tiba-tiba ia beranjak.


”Ikuti aku ke Calpera ...,” Ratu Shachini meminta tanpa paksa. Sekelebat ia melewati pelataran istana yang sunyi, menuju rongga utama Istana Euryn. Elkas pun mengikutinya.


...* * *...

__ADS_1


__ADS_2