
Pagi menyingsing.
Sungai berbatu terjal dan berliku-liku membelah lebatnya pepohonan hutan yang tinggi-tinggi. Sinar matahari pun sulit masuk ke celah-celahnya. Sangat sunyi, hanya terdengar dari kejauhan lengkingan elang hutan berkali-kali. Di tepian sungai itu, tampak dua bocah menelusuri setapak-demi setapak mengikuti arus sungai mengalir.
”Aneh rasanya jika kita selalu dikejar-kejar oleh sesuatu yang tidak kita tahu siapa dan apa mau mereka?” sepanjang hilir sungai, Taja melangkah dan terus memasang waspada. Lorr En di selangkah di belakangnya juga berpikir sama.
”Menjadi manusia jauh lebih sulit, cara hidup mereka lebih kompleks dari yang pernah kudengar di dunia peri. Kadang aku merasa ... bosan dan tertekan,” gumam Lorr En asal saja, walaupun itu benar-benar terungkap dari pikirannya. Taja menoleh padanya dan sedikit mengkritik.
”Seharusnya kau tidak berada di sini, ini perjalananku, pilihanku, tak pernah kuminta agar kau ikut bersamaku.”
”Hei, mengapa semenjak kita menginjakkan kaki ke negeri ini, kau menjadi lebih peka dari yang kukenal sebelumnya? Aku hanya sedikit bicara, tetapi kau terlalu menanggapi serius!” Lorr En menggerutu karena merasa perkataan Taja cukup menyinggung.
”Peka? Terbukti wajahmu yang marah, tetapi tidak denganku. Dan sekarang, siapa yang lebih pantas dikatakan peka? Aku hanya berkata seperti itu, kau saja yang terlalu menanggapi serius!” Taja membalikkan fakta, kenyataannya Lorr En juga bisa bersikap seperti itu. Taja melirik pelan-pelan padanya saja sudah membuat Lorr En melotot tajam. Sesaat kemudian, keduanya terdiam.
”Apa?” Taja tidak kalah memasang muka galak sambil menahan tawa.
Akhirnya, meledak juga tawa dua anak itu.
”Apa?” tanya Taja sekali lagi. Ia ingin Lorr En mengungkapkan sesuatu di balik tawanya yang surut.
”Aku ingin sekali saja mengolok-olokmu!” kata Lorr En.
”Jika aku memberimu kesempatan, kau akan mengolok-olok aku seperti apa?” tanpa menoleh ke belakang lagi, Taja menanggapi.
”Dasar manusia!” ungkap Lorr En lantang.
Mendengar itu, Taja terbahak keras di depannya sambil terus berjalan. Sebaliknya, senyum Lorr En justru semakin masam.
”Itu pujian untukku! Terima kasih!” Taja bukannya marah, ia malah menanggapi dengan tawa sedemikian keras meskipun tanpa menunjukkan ekspresi muka sangat berbinar pada Lorr En.
__ADS_1
”Kau tidak marah?” Lorr En heran, sekilas mencari-cari air muka seperti itu. Dulu, setiap kali kaum Gunggali meledek Taja dengan sebutan Anak Jawata, raut mukanya berubah duka. Tetapi berbeda untuk kali ini, tampaknya ia benar-benar berbinar.
”Tidak!” Taja menggeleng, ”Memang dulu aku merasa sedih setiap ada ejekan itu, tetapi setelah berada di di sini, aku merasa ... bahwa ditakdirkan menjadi manusia adalah suatu anugerah tersendiri.”
”Kalau begitu, ganti ejek aku!” Lorr En menginginkan Taja berbalik mengejek.
”Tidak, apa gunanya?” Taja menolak.
”Mengapa? Apakah aku terlalu buruk sampai-sampai tidak ada kata-kata jelek yang selaras untukku?” Lorr En balik tanya.
Taja menoleh dan berhenti sebentar, ”Tidak. Untuk saat ini...tidak ada cacat dari dirimu yang bisa kudapatkan. Barangkali nanti ..., jika suatu saat kau bisa menyebalkan!”
”Aku ini katak, selamanya akan jadi katak...bahkan aku menjadi makanan untuk manusia-manusia yang menyukai rasanya? Itu tragis!! Sebagian lagi memandangku tidak lebih dari seokor hewan menjijikkan! Jika suatu saat nanti aku menyebalkan, mungkin satu-satunya orang terakhir yang menjauhiku adalah kamu ....”
”Menjauhi kamu? Memangnya aku ini siapa bersikap seolah-olah lebih baik darimu? Manusia, hewan atau peri sebenarnya sama-sama makhluk, hanya takdir dan cara hidup mereka yang berbeda. Untuk tujuan apa, bagaimana menjalaninya, dan akan berakhir bagaimana, adalah tergantung masing-masing makhluk. Kenyataannya, tidak ada mahluk yang sempurna!”
Sepasang kelopak mata Taja menyipit, tak habis pikir mengapa Lorr En berkata seperti itu tentangnya, ”Lucu sekali!” tanggapnya sebagai lelucon saja.
”Lebih dari itu, aku juga telah melihatnya dari ....”
Taja terburu menatap Lorr En serius, ada gelagat aneh yang tersirat dari raut muka temannya itu.
”Melihat? Di mana?”
”Ng ... ng ... sekedar tidak sengaja, saat aku menyusup di anjungan ruang pusaka Istana Tanapura, ada Cermin Dua Rupa yang pernah kau lihat dulu pertama kali ... dan aku melihatnya juga beberapa hari lalu, ia menampakkan wujudku yang lain, bukan saja sebagai katak yang ramah, tetapi juga sesuatu terburuk. Dan aku juga sempat melihat bayangan lain dirimu ...,” Lorr En terhenti kalimatnya.
”Cukup, jangan bicara lagi! Aku tidak ingin tahu tentangku sebagai apa di masa depan!” kali ini Taja benar-benar marah.
”Beraninya kau berlama-lamaan di depan cermin itu! Bukankah aku pernah melarangmu?! Tidak cukup percaya dari kata-kataku saja, sampai akhirnya kamu ketakutan setelah mengamati sendiri!” Taja agak kesal. Ia melanjutkan langkah dengan irama lebih cepat.
__ADS_1
”Maaf ...,” ucap Lorr En. Ia pernah melihat sikap Taja yang mengambil sikap diam seperti itu ketika pertama kali menjumpai Cermin Dua Rupa, dan hampir nekad mendekatinya kalau saja Taja tidak melarang. Kini, yang dilakukannya adalah kesalahan disengaja padahal masih ingat betul larangan temannya agar tidak melakukan itu.
”Kamu membahayakan dirimu sendiri! Ketakutan akan mengubur semangat hidupmu! Sudah kukatakan, ada sesuatu yang tidak baik akan ditampakkan pada cermin itu pada siapapun yang mendekat, tetapi rupanya kau memang bandel, tidak pernah percaya sampai melihatnya sendiri. Dan itu membuatmu takut pada diri sendiri, benar bukan?” nada suara Taja surut seiring tatapannya kembali tenang.
Tampak Lorr En berkaca-kaca. Lebih mengherankan lagi, selama ini Taja tidak pernah melihatnya menangis.
”Apa yang ...,” belum selesai bicara, dipeluknya Lorr En. Ia terlalu kaget menyadari kesedihan temannya.
”Sekarang aku merasakan kesedihan sangat dalam saat air ini mengalir dari mataku ... seperti sesuatu yang tajam menusuk tubuhku dan membuatku sangat lemah,” kata Lorr En.
Taja mendekat padanya, sekali disentuhnya pipi Lorr En yang berlinang air mata dan mengucap ”Eist ...,” setelah itu Lorr En berhenti menangis.
”Sedih sekali melihat tubuhku tenggelam di air asin, sendirian, dan tidak bernafas. Itu tidak akan terjadi padaku, bukan?”
”Tidak akan terjadi, setidaknya untuk sekarang!”
”Aku akan mati dengan cara seperti itu!” Lorr En berubah histeris.
”Cermin itu bukan cermin kematian, hanya menunjukkan sesuatu yang paling buruk,” Taja masih memeluk erat tubuh Lorr En yang gemetaran.
”Selama kita bersama, tidak ada yang bisa mengundurkan misi kita untuk mencari penawar Pusaka Terkutuk itu!” kata Taja.
”Aku akan meminta bantuan para tabib di sana ...,” getar suara Lorr En tak juga surut.
Taja menerawang ke dataran tinggi tumbuhnya pepohonan rimbun di hadapan mereka, ”Aku melihat sesuatu yang mengancam dati kegelapan sana," Taja mengkhawatirkan hal lain yang mungkin di luar dugaan kapanpun dapat mengancam keselamatan mereka.
Taja dan Lorr En saling memandang, saling menggenggam tangan yang dingin dalam suasana pagi berkabut.
...* * *...
__ADS_1