The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)

The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)
7.16


__ADS_3

”Pertama, kamu tidak mungkin pergi dengan ribuan orang Gunggali mengawal, akan mengundang bahaya. Jumlah manusia jauh lebih banyak. Mereka akan membunuh kalian karena dianggap tak lazim!”


Ratu Shachini berseru tegas pada Taja, di hadapan semua penghuni Gunggali menyaksikannya.


”Aku juga tidak akan membiarkan kamu pergi sendiri ke Negeri Jawata. Harus ada yang mengawal-mu selama menuju ke sana. Pengawal dengan penjagaan terbaik, selain sihir dan kekuatan gaib yang kamu miliki!” kata Ratu Shachini.


”Siapa yang pantas mengawal Taja pergi ke Negeri Jawata?” seseorang mengangkat tanya di antara kerumunan.


”Tentu yang paling kuat seperti aku!” jawab seseorang lain, mengajukan diri sebelum diminta oleh Ratu.


”Yang lincah seperti aku!” sela orang-orang lainnya sembari memamerkan kegesitan gerak gerik tubuh mereka.


”Tentu saja yang mendekati sempurna wujudku!" tiba-tiba dari belakang keramaian, sebuah suara terdengar paling keras. Semua beralih perhatian ke asal suara itu. Ternyata Elkas ikut unjuk diri.


”Aku yang akan menemani Taja!” sangat tegas, berani dan penuh percaya diri, Elkas melangkah di antara kerumunan kaum Gunggali.


"Lihat saja tubuhku, tangan, kaki dan jari-jariku. Lebih seutuhnya manusia daripada kalian semua. Aku juga dapat beradaptasi dengan mudah!” kata Elkas, berdiri tegap di antara semua orang melihat ke arahnya.


”Tidak!” Ratu Shachini menolak secepat itu setelah tahu bahwa Elkas yang berbicara.


”Mengapa, Ratu? Aku akan menjaga Taja dengan sangat baik! Aku tidak akan pernah melepas pandanganku sejengkal pun darinya,” Elkas meminta alasan.


”Setelah yang terjadi pada Dakka, kamu masih berani mengajukan dirimu?” Ratu Shachini berpaling muka. Sikap Elkas membuatnya semakin tidak suka.


”Aku mohon, Ratu! Aku akan membayar semua kesalahanku tanpa kesalahan lagi,” pinta Elkas lebih menghiba.


”Tidak!” Ratu Shachini  tetap menolak, ”Kamu punya tugas lain, rawatlah ibumu. Dia lebih membutuhkanmu!”


Elkas langsung bertekuk lutut ke tanah, ”Ratu ....”


Belum sempat Elkas melanjutkan kalimatnya, Ratu Shachini lebih dulu menyela.


"Jika kamu bersedia merawat ibumu dengan baik itu, maka aku menganggap kesalahanmu impas! Pergi dari hadapanku, tau aku anggap bahwa kamu bukan rakyatku lagi?!”


Tanpa pilihan, ucapan Ratu memaksa Elkas mundur. Wajahnya yang muram melempar kesedihan pada Taja. Suasana masih hening. Tidak satupun berani angkat suara.


”Biarkan Taja yang memilih ...,” kecuali suara lembut gadis berwajah kera, berdiri tidak jauh dari Taja di samping Ratu Shachini. Semua mata beralih pandang ke arah pemilik suara selembut itu.


”Benar, biarkan Taja yang memilih!” timpal Ratu Shachini. Cukup lama dalam suasana hening, semua menunggu Taja melempar pilihan. Ada keraguan terlintas di pikirannya, tetapi tiba-tiba teringat satu nama yang selalu dekat dan menemaninya setiap hari.


”Lorr En!” Taja menyebut nama itu, kebingungan semua peri mencari-cari nama yang dimaksud.


”Di mana Lorr En?” tanya Taja setelah hampir semua peri celingukan.


”Aku memilih Lorr En yang akan menemaniku pergi!” kata Taja memutuskan pilihan pertamanya.


”Si Katak itu?” terdengar bisik-bisik demikian di antara semua peri.

__ADS_1


”Dia menjijikkan dan bodoh, bagaimana mungkin bisa menjaga Elhundi Taja pergi ke dunia manusia?”


Tidak peduli siapapun yang berbicara, Taja tetap menegaskan pilihannya sekali lagi.


”Aku memilih Lorr En!" kata Taja.


Semua bungkam dalam kebingungan masing-masing, dan sebuah suara lain membalas.


”Aku tidak jauh di sekitarmu!”


Hampir semuanya melihat ke satu sosok menyeruak semak-semak. Ia muncul dan menampakkan wajahnya.


”Lorr En!” Taja tampak senang melihat kawannya muncul secepat itu.


”Tanya padanya saja apa yang dilakukannya selain tidur sepanjang hari?!” celoteh peri-peri lain sepihak dengan Elkas, secara tidak langsung mencemooh Taja.


”Aku perenang handal!” kata Lorr En.


”Pengigau!” sahut Elkas menimpali. Ratu Shachini segera mengayunkan tangan ke atas, membungkam semua ocehan.


”Yang paling setia, itulah yang sedang dipikirkan Taja!” Neirra lagi-lagi membuka suara setelah suasana kembali hening.


"Jika tidak keberatan dan ragu, aku bersedia menemani Taja ke manapun ia pergi demi mencari penawar pusaka beracun. Jika dengan hati aku bisa melindunginya, maka aku akan menjaga sekuat tangan dan kakiku. Jika aku harus melewati api demi menyelamatkannya, maka aku rela terbakar.”


Neirra tertunduk dan bersujud berkali-kali. Perhatian Taja dan Ratu Shachini tertuju pada ketulusan gadis kera itu. Ia sama sekali tidak mengangkat kepala sebelum ada jawaban dari Taja.


”Aku memilihmu juga untuk pergi bersamaku!” kata Taja di ujung tekadnya. Neirra mengangkat wajah. Ia pun tersenyum.


”Syarat ke-dua, aku akan segera mengadakan ritual untuk kepergian kalian dari Gunggali!”


Semua berseru, menyambut ketiganya bersatu dan berdampingan.


Taja, Lorr En, dan Neirra, bersila di tengah-tengah lingkaran. Seluruh rakyat peri berkumpul untuk menyaksikan mereka. Sementara Ratu Shachini berdiri di depan ketiga anak itu didampingi pelayan membawa nampan. Ada tiga kendi kecil di atasnya.


Ratu Shachini mengambil kendi pertama.


”Selain untuk menyembunyikan kalian dari Arroragh selama berada di luar Gunggali, air telaga ini akan menajamkan panca indera kalian masing-masing. Selangkah di luar perbatasan adalah dunia yang sangat berbeda,” ucap Ratu Shachini dan menyiramkan air kendi pertama ke ujung rambut Taja.


”Untukmu yang tidak mudah mengendalikan amarah ...,” lanjut Ratu Shachini. Mata Taja terpejam, merasakan hawa dingin mengalir ke tubuhnya.


”Berhati-hatilah terhadap emosimu sendiri, karena wujud peri-mu akan muncul setiap kali kamu sangat marah. Cobalah lebih menahan diri, itu akan menyelamatkanmu,” demikian kalimat Ratu Shachini diingatnya baik-baik.


Setelah itu, Ratu Shachini mengambil kendi kedua untuk Lorr En yang berada di sebelah kanan Taja. Ia bergidik sebentar ketika air dari kendi bening tertuang ke ubun-ubunnya.


”Kamu paling lihai bersembunyi. Gunakan itu pada saat-saat wujud-mu menjadi katak jika terkena air sungai, tetapi kamu akan aman dalam air asin atau air yang turun dari langit sebelum jatuh ke tanah.”


Kemudian yang terakhir, Ratu Shachini beralih pada Neirra di sebelah kiri Taja dan menuang kendi ketiga padanya.

__ADS_1


”Ras manusia yang aneh, mereka akan menyebutmu seperti itu. Meskipun kamu adalah sepenuhnya manusia, tetapi wajahmu sangat berbeda dari mereka selazimnya. Dari kalian bertiga, hanya kamu yang tidak memiliki sihir.”


Tidak lama kendi itu dikembalikan ke nampan, Ratu Shachini melepas seuntai kalung kristal bening dari ikatan ujung rambutnya dan memberikan itu pada Neirra.


”Undril, duapuluh satu air mata makhluk laut akan menolong-mu pada saat paling mendesak. Karena jumlahnya tidak banyak, gunakanlah jika kalian sungguh-sungguh memerlukan. Tiap butir Undril bisa menjadi obat paling ajaib untuk kalian bertiga, tidak berfungsi selain kalian.”


Ratu Shachini mengeluarkan satu benda lagi dari selipan pakaiannya. Tampaknya hanya sebilah tongkat berukuran sejengkal tangan. Sesudah ia merapal mantera, muncul kristal bening bulat oval seukuran biji kenari di ujung tongkat itu.


”Alhirri, bintang paling tahu sesuatu yang diinginkan siapapun yang memegangnya. Pusatkan keinginanmu, maka seberkas cahaya akan muncul sebagai petunjuk. Selain itu, Alhirri akan membantu penglihatan-mu pada saat-saat kamu dalam kegelapan,” Ratu Shachini menganugerahkan tongkat kristal itu ke tangan Taja.


”Jagalah dengan hatimu,” lanjut Ratu Shachini bersamaan Taja menyambut Alhirri.


”Ingat baik-baik pesanku, dari kalian bertiga. Hanya kamu yang memiliki Kultivasi Peri Gunggali. Jangan sekali-kali mengucapkan sihir pembangkit empat unsur, karena akan menarik Arroragh pada keberadaan dirimu. Mereka selalu lapar dan tidak pernah luput kita sebagai mangsa.


"Ingatlah selalu persyaratan ini!” kata Ratu tegas.


Taja tenggelam dalam sorot mata Ratu Shachini, tajam tetapi tenang di tengah-tengah air muka yang sendu.


”Jangan pernah lengah ...,” bisik Ratu ke dekat telinga Taja.


Kemudian ia mengacungkan isyarat pada sejumlah peri berikutnya yang masing-masing membawa beberapa nampan perak bercadar tembus pandang dan menunjukkan isinya.


”Pilihlah pakaian untuk kalian selama dalam perjalanan!” Ratu Shachini mempersilahkan ketiga anak itu untuk mengambil pakaian-pakaian yang diinginkan. Tetapi tidak satupun dari mereka menyambutnya.


Terlebih-lebih Taja, sebagus apapun pakaian-pakaian sulam itu sama sekali tidak membuatnya tertarik. Ia teringat pada Khameswari yang sangat bahagia tetapi hanya membawa petaka.


Ratu Shachini mengambil satu pakaian sulam berwarna hijau tua berbahan serat halus.


”Pakaian ini bisa menyembunyikan sesuatu yang ingin kamu sembunyikan,” ucapnya tersendat sembari memakaikan pakaian itu ke tubuh Taja.


Perlahan air matanya menggenang dan mencium kening Taja, ”Sungguh aku tidak ingin kehilanganmu."


”Kami menunggu kedatangan kalian dengan penawar itu!” sahut orang-orang turut memilihkan pakaian lain untuk Lorr En dan Neirra. Mereka bersahutan kalimat serupa.


”Harapan kami pada kalian! Jika kalian gagal, maka kami juga akan musnah. Berjuanglah demi Gunggali!”


Semua orang hadir serentak berulang-ulang mengatakannya.


”Demi Gunggali ...!!!”


Taja bangkit di tempatnya dan merentangkan lengan ke atas seraya berseru lantang satu kalimat.


”Demi Gunggali ...!!!”


Sorak riuh menyambut semangat Taja berapi-api. Luasnya Gunggali bergemuruh harapan semua penghuninya. Lorr En dan Neirra menggenang air matanya, mendukung Taja sepenuh hati.


"Aku bersamamu, Taja!" Lorr En berteriak, larut dalam riuh suara ribuan Kaum Gunggali memadati Euryn.

__ADS_1


"Taja ...," Neirra tak sanggup berkata-kata. Berlinang air matanya.


...* * *...


__ADS_2