The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)

The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)
36. Terpidana (3)


__ADS_3

“Sayang sekali tanpa diundang, ternyata kau juga hadir pada sidang kedua terpidana Taja dan Raojhin. Kehadiranmu di sini bukan untuk untuk membela kedua praja ini, bukan?” Paduka Raghapati sangat hafal betul akan sikap Ketua Sujinsha.


Sebagai tanggapan awal, tatapan mata kapten tidak cukup bersahabat bagi sang Raja. Semua orang yang hadir sudah tahu bahwa Ketua Sujinsha dan Paduka Raghapati tidak cukup baik. Tetapi herannya, justru Paduka Raghapati menjadikannya sebagai salah satu bawahan andalannya. Lebih dari itu, terjadi dengan sendirinya jika Ketua Sujinsha selalu disegani banyak orang.


Semua bertanya-tanya akan kehadiran Ketua Sujinsha yang tanpa diundang dalam sidang kali ini. Padahal, dia dikenal sebagai orang yang sangat tidak acuh akan urusan orang lain. Hal yang bisa menarik perhatiannya adalah perang dan perang.


“Lihatlah mereka! Hanyalah dua anak murid sekolah militer tingkat menengah secara tidak sengaja melakukan sedikit kesalahan di area istana, tetapi mengapa harus ada sidang sebesar ini. Seperti ada kasus pembunuhan berantai saja!“ seru Ketua Sujinsha bernada sinis. Wajahnya tampak tidak bersahabat dengan siapapun, orang-orang juga tidak tahu apa yang mendorong lelaki andalan negeri Tanapura itu untuk hadir di sana.


“Secara hukum Tanapura, mereka tidak bersalah … tetapi secara hukum Kesatuan Praja, mereka melakukan pelanggaran kecil yang sering dilakukan banyak praja,“ lanjut Ketua Sujinsha penuh wibawa.


“Maksudmu?“ tanya Paduka Raghapati belum mengerti. Semua tatapan mata mengarah pada dua sosok terhormat di negeri ini.


“Raojhin memiliki liontin emas, pemberian Paduka sebagai hak istimewa … seperti yang kami tahu itu adalah hak mutlak! Tidak ada alasan apapun yang bisa membuat si Pemilik Liontin ini terhukum karena memasuki daerah tertentu yang tidak terbuka untuk umum. Seperti halnya saya, Paduka … juga memilik liontin seperti itu. Jadi saya bebas mendatangi sekitar area istana, tidak ada yang bisa mencegah dan tidak ada aturan  sehubungan dengan kebebasanku di istana ini. Bukan begitu, Ketua Jenewa? Jadi jika anak-anak ini melanggar aturan, berarti secara tidak langsung kau turut mengadukan aku sebagai pelanggar aturan istana, begitu? Lalu mengapa tidak menangkap aku? Mengapa hanya berani pada praja muda seumuran 15 tahun?“ tanya Ketua Sujinsha sambil menoleh pada Ketua Jenewa yang membisu dengan muka pucat menahan emosi bercampur.


“Tapi bukan berarti mereka bebas dari kesalahan sepenuhnya. Secara peraturan sekolah milter, dua anak ini telah melakukan kesalahan kecil … hanya masalah kedisplinan. Mereka keluar Istana Praja sampai menjelang senja. Itu pelanggaran. Jadi hukumannya mudah, silakan Paduka yang memutuskan meskipun ini lebih pantas diselesaikan oleh kepala sekolah,“ kata Ketua Sujinsha seolah menyindir Paduka Raghapati dan seakan membuktikan kepada semua rakyatnya bahwa dia juga turut membesar-besarkan kesalahan dua praja itu.


Ketua Sujinsha mundur ke kelompok para dewan saksi. Semua tidak menyangka kalau ia akan menghilangkan kasus besar dan mengalihkan ke kesalahan kecil dari kedua terdakwa, itu menandakan dia juga tidak sedang berpihak pada mereka.


Taja memandang wajah Kapten yang baru dilihatnya hari itu, sambil berlalu Kapten pun balas menatap Taja sekilas. Dan saat itulah Taja merasakan sesuatu yang aneh pada diri Ketua Sujinsha. Taja tidak tahu pasti … dia hanya merasa pernah bertemu dengannya meskipun lupa tempat dan kapan terjadinya.


Lepas dari ingatannya, ia justru menangkap pikiran lain. Ketua Sujinsha! Sudah ke sekian kalinya kapten itu hadir setiap saat masalah datang. Setelah itu juga, dia sudah pasti menolong. Padahal secra pribadi, Taja sama sekali tidak punya hubungan dekat. Melihatnya pun setelah berada di Tanapura. Taja merasakan kepeduliannya yang tidak biasa dari orang-orang lain.

__ADS_1


Pandangan Taja berputar-putar sekitar kelompok para saksi, masih sempat dilihatnya kapten itu menyeruak dan hilang di balik kerumunan sana.


“Baiklah, kalau begitu … apa yang dikatakan Ketua Sujinsha memang benar! Maka sekarang aku ingin bertanya padamu, Taja!” Perhatian Paduka Raghapati kembali pada Taja yang masih bingung memutar mata, sibuk mencari-cari sosok Ketua Sujinsha.


“Taja …?!” panggil ulang Paduka Raghapati lebih keras.


Taja tersentak setelah menyadari kelengahannya atas panggilan sang Raja. Ia membisu sesaat. Meskipun dicobanya unyuk tenang, tatapan Paduka Raghapati terlanjur memakunya di tempat.


“Baik, Paduka … hamba siap,” jawab Taja asal setengah gugup seraya lebih membungkuk lagi. Paduka Raghapati dan semua yang hadir keheranan melihat gelagatnya.


“Menurutmu, hukuman apa yang pantas atas perbuatan kalian?“ tanya Paduka Raghapati.


Taja melirik sesaat pada Raojhin, beralih sekilas pada Shaninka dan Putri Alingga. Kemudian mengungkapkan pikiran yeng terlintas saat itu.


Semua tercengang mendengar permohonan hukuman yang diminta Taja sendiri, bahkan Raojhin sangat tidak terkejut mendengarnya berkata demikian.


“Baiklah, aku mengabulkan hukuman yang kau pinta untuk Raojhin. Sedangkan hukuman untukmu, terhitung mulai hari ini sampai ujian tiba, aku mengutusmu untuk pergi ke Pemukiman Sawo sebagai unit diperbantukan pengurus ternak. Keputusanku tidak dapat diganggu gugat lagi!“ Keputusan Paduka Raghapati mengakhiri sidang.  Palu besar di ketuk ke meja dua kali pertanda sidang telah berakhir disusul tidak lama setelahnya Gong pukul lima berbunyi.


Putri Alingga masih berdiri, hanya bisa memandang Taja dari samping Paduka sambil menjauh. Ia tidak bisa melakukan yang lebih dari itu. Tatap mata iba dibalas dengan senyuman oleh Taja. Meskipun getir, Putri Alingga membalas balik senyuman itu. Sementara, Shaninka masih tak percaya akan hukuman dari Paduka Raghapati, ia mengejar Taja dalam giringan beberapa pengawal kerajaan, keluar Balairung Perak lalu menuju pelataran ke arah teritorium.


Raojhin yang terbebas menjadi salah satu di antara pihak lain yang merasa kurang puas terhadap keputusan Paduka Raghapati, juga mengejar Taja.

__ADS_1


Taja sendiri hanya merasa pasrah dan bersedia menerima hukuman walaupun teman-temannya meneriakkan kesedihan atas ketidakadilan yang menimpanya.


“Bodoh, kenapa kamu lakukan itu? Seharusnya minta agar kamu dibebaskan,“ Raojhin menerobos para pengawal yang berniat membawanya ke Pemukiman Sawo.


Sementara di antara kerumunan orang yang berhamburan keluar, Shaninka juga mengejar Taja dan tidak berhenti memanggil-manggil namanya sampai do gerbang keluar batas teritorium Tanapura. Taja menoleh pada dua temannya itu.


“Taja!” seruan terakhir Shaninka dengan nafas memburu.


“Jangan khawatir! Aku bisa menjaga diri selama di Pemukiman Sawo! Sampaikan juga pada Lorr En, kita akan segera bertemu lagi!”serunya digiring pengawal melewati gerbang sebelum ditutup.


”Pemukiman Sawo adalah desa yang aman. Aku yakin ... dia akan baik-baik saja,” kata Raojhin lirih sambil menyentuh pundak Shaninka.


”Tahu apa kau tentang kami? Bukan Pemukiman Sawo yang membuatku khawatir, lebih dari yang kau tahu!” Shaninka tak peduli Raojhin.


”Taja, jaga dirimu!!” teriak Raojhin membuntuti sampai ke gerbang tinggi yang sedang ditutup.


“Kau belum jawab pertanyaan-ku, mengapa kau memilih hukuman seperti itu untukku?!“ teriak Raojhin sekali lagi, sambil terus memandang sosok Taja dibawa keluar gerbang yang bergeser.


“Anggap saja untuk membayar hutangku padamu, Raojhin!“ hanya kalimat itu terakhir didengarnya dari teriakan Taja sesaat sebelum gerbang tertutup rapat.


”Hutang apa?” Raojhin terus memandang tembok gerbang tak bergeming lagi. Sungguh di tidak menyangka kalau Taja selalu menyimpan kata-kata ‘hutang’ yang pernah dikatakannya saat berada di kantin. Padahal, Raojhin sama sekali tidak menganggap serius atas perkataannya tempo hari itu.

__ADS_1


“Jika hutang sekalipun … kau membayar terlalu mahal,” gumam Raojhin lirih.


...* * *...


__ADS_2