The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)

The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)
4.08. Teror Manusia Berjubah (2)


__ADS_3

Sungai yang dalam, tubuh Lorr En secepat bayangan tenggelam ke dalamnya meninggalkan permukaan air yang semula tenang menjadi riak. Dan dalam sisa-sisa penglihatan manusia berjubah, dia hanya memandangi jejak air yang bergelombang sebentar lalu kembali tenang.


“Crrrk ... ck … ckk …!” suara manusia jubah menderik serak, sambil menikamkan pedang ke bebatuan cadas. Suasana kembali sunyi dalama tatapan seluas lebar sungai, masih terdengar rintik-rintik hujan diiringi gemuruh halilintar.


Sementara itu tidak jauh di bagian hutan lain, sedang terjadi hal sama pada Taja. Dia juga sedang mati-matian melawan manusia berjubah lain. Di atas punggung kuda melesat ke antah berantah nan gelap, sosok misterius itu membawanya ke sana. Tempat paling sunyi dalam kegelapan malam menakutkan. lebih menakutkan lagi ketika Taja menyadari bahwa dirinya sedang diculik oleh manusia aneh berjubah hitam, membawa pedang berbau busuk dan suara derik terdengar keluar dari mulut dan hidungnya.


Bukkk!!


Manusia berjubah hitam menghentikan kudanya, lalu menghempaskan tubuh Taja ke tanah. Detik selanjutnya, dia turun dari punggung kuda sambil mengangkat pedang yang sejak tadi digenggam.


“Kraaagh!” manusia berjubah menguak. Dia mendekati Taja yang terjerembab di tanah becek. Melihat pertanda buruk sudah terduga sejak manusia berjubah menyambarnya, Taja berniat untuk menjauh. Tetapi sayang sekali, gerakan gesit manusia berjubah lebih dulu menggapainya dalam cengkeraman tangan-tangan berkuku tajam seperti kuku singa dan berbalut sarung besi.


“Hekkk!” Taja tercekik lalu dilempar lagi.


Bukk!


Debam keras menyusul bersamaan jatuhnya Taja ke semak-semak, “Uh …,” ia merintih, sambil mencoba bangkit dengan nafas tidak teratur.


Belum cukup Taja mengambil nafas lebih banyak, manusia berjubah menghampirinya lagi dan mencengkeram lehernya berlipat-lipat lebih keras. Sedangkan di tangan kanan, sebilah pedang berbau busuk menyengat siap menghabisi nyawa Taja.


Kedua bola mata Taja mendelik lebar melihat benda berkilat itu. Merasa sangat terdesak, terpaksa Taja mengeluarkan akar-akar tajam ari jari-jari tangannya, lalu secepat mungkin menusukkannya ke muka manusia berjubah.


Manusia berjubah meraung kesakitan, lalu cengkeraman tangannya mengendur tapi belum juga melepaskan Taja.


Kras … kras … kras !


Disusul jari-jari Taja ke muka manusia itu bertubi-tubi.


“Krraaagh … Kraaagh ...!!!” jerit melengking manusia berjubah terdengar sangat mengerikan. Taja mundur beberapa langkah, aneh melihat pemandangan ngeri de hadapannya. Sosok itu bergelimpangan, saat tersingkap jubah penutup tubuhnya. Taja sangat terkejut melihat pemandangan yang jauh lebih mengerikan lagi.


Tubuh berkulit kusut penuh tonjolan tulang, mata kuning menyala dan suara mendesis, menderik lalu menguak lengking.

__ADS_1


Taja langsung histeris melihat itu, sama sekali tidak tahu makhluk apa yang sedang di hadapannya sekarang. Penuh ketakutan, dia segera berlari secepat-cepatnya tanpa tahu arah manapun. Menerobos gelap malam di bawah guyuran hujan tiada henti.


Bukk!!!


Taja terpental ke belakang setelah menabrak sesuatu tanpa diduga sudah ada di depannya. Kali ini, jantung Taja seperti berhenti berdegup saat melihat ada sesosok tidak kalah menyeramkan dari makhluk sebelumnya. Dalam gulita pekat, tampak samar-samar seorang manusia berjubah lain, bertubuh paling besar dengan benda panjang memantul cahaya redup-redup berwarna oranye dan berasap.


Taja pelan-pelan merangkak ke belakang tanpa berhenti menatap sosok hitam itu, “Tidak!” suaranya pun gemetar karena takut dan dingin. Percuma saja dia harus berbuat apa, manusia berjubah ini sudah ada sejengkal di depan, sangat dekat hingga sepatu metal yang dikenakannya menginjak baju Taja.


Wush …!!!


Benda panjang itu berayun ke arah Taja, "Tidaaak ….”


Slash!


Cahaya kecil kerlap-kerlip di dada Taja.


“Kraaagh!” manusia berjubah itu terpental hingga puluhan langkah. Setelah berguling-guling dan meronta sesaat, akhirnya dia kabur menjauhi Taja.


Taja meraba dadanya, tanpa sengaja menyentuh sesuatu.


“Liontin!” Taja bergerak-gerak, berpikir keras mencari jawaban. Liontin terikat kalung di leher mencuat dari sela-sela krah baju. Tulisan di permukaan liontin itu memancarkan cahaya biru karena basah.


Setelah Taja mencoba mengingat-ingat kejadian singkat tadi, tiba-tiba dia merasa takjub bahwa cahaya biru itu yang telah menyelamatkan dirinya.


Kraaaagh ... Kraaaagh …!!!


Puluhan suara-suara itu menggema dari berbagai arah. Taja cepat-cepat pergi dari sana, berlari ke arah manapun yang dia tahu tanpa peduli bajau belepotan tanah dan badan menggigil kedinginan.


Hieeeeek …!!!


Ringkik kuda menghalau perhatian Taja. Akhirnya dia mendapati sebuah dermaga pelabuhan Puri.

__ADS_1


Suasana dermaga di tepian hutan sangat sepi, tidak ada seorang pun tampak di malam selarut itu kecuali puluhan perahu kayu terikat berjejer di tepian.


“Lorr En!” Taja teringat Lorr En. Setelah terpisah, dia sendiri tidak tahu tentang keadaan temannya sekarang.


“Lorr En… Lorr En!” panggilnya berkali-kali sambil melihat ke sekeliling. berharap temannya itu muncul dari persembunyian. Tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan Lorr En, Taja menjadi was-was, ‘Jangan-jangan dia masih berada di sana’, pikir Taja melepas pandang ke hutan.


Kraaagh … Kraaagh …


Suara-suara itu disertai ringkik kuda semakin dekat dari arah hutan.


“Lorr!”  panggilnya keras sekali lagi. Karena diburu waktu, dia langsung meloncat ke salah satu perahu terdekat.


“Cepat, Lorr!” teriak Taja terus berharap Lorr En muncul dari arah datangnya suara derap kaki kuda menderu.


“Cepat!”


Teriakan Taja malah disambut munculnya puluhan penunggang kuda dari arah lebatnya pepohonan. Mereka mendekat ke tepian dermaga beralas kayu.


Taja panik ketika melihat dari sana tidak tampak Lorr En. Bingung harus berbuat, Taja terpaku di atas perahu kayu.


Puluhan penunggang kuda berhenti di bibir dermaga, salah satu yang terbesar membawa pedang oranye bercahaya lebih mendekat lagi. Dia memasukan pedang itu ke sarung pedangnya kemudian berganti menghunus busur. Satu anak panah besar siap melesat ke arah Taja.


Hanya berjarak beberapa meter darinya, Taja tak bergeming, seperti terbius ketegangan, tidak tahu harus bertindak apalagi.


Kreeet ....


Pegas busur meregang di tangan salah seorang Penunggang Kuda hitam dan siap meluncurkan anak panah ke arah Taja.


Bak ...! Byurr ...!!!


Tiba-tiba perahu yang ditumpangi Taja terbalik. Tak sempat berteriak, ia tenggelam bersama perahu tertelungkup. Suasana hening berselimut gemuruh halilintar.

__ADS_1


...* * *...


__ADS_2