The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)

The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)
4.40.


__ADS_3

"Perlu setengah tahun berlayar dengan Bahtera Agung untuk menuju daratan semenanjung Sanfoon. Perahu-perahu biduk seperti yang kami miliki, sulit untuk mencapai tanah itu. Menembus setengah pertengahan laut utara saja, bisa hancur perahu-perahu kami. Ombaknya sangat besar, menggulung setinggi bukit. Hampir setiap malam terjadi badai, apalagi saat purnama atau musim angin laut tiba. Belum lagi, sering terjadi pusaran air berbahaya. Ratusan nyawa taruhannya!" Seno menjelaskan.


"Sanfoon itu negeri apa?" tanya Radhit.


Seno menambahi penjelasan berikutnya, "Sanfoon adalah nama pesisir, negeri-negeri di sana disebut Jazirah Timur Tengah, negeri terdekat dari pesisir Sanfoon disebut Persia! Sanfoon sendiri milik tanah Persia. Apa kamu berhendak untuk pergi kesana?!"


Radhit tak segera menjawab, justru menambahi dengan pertanyaan lain, "Mmm, bagaimana tentang Bahtera Surra?" Seno yang mendengar itu terbelalak, kecapannya sejenak terhenti sementara mulutnya penuh dengan daging-daging ikan bakar. Pertanyaannya belum dijawab oleh Radhit sudah dibuat bingung dengan pertanyaan lain.


"Kalau tidak salah ingat, terakhir kali bahtera-bahtera itu singgah di sini sekitar lima sampai tujuh tahun lalu, saya juga belum pernah beruntung untuk sekedar melihat mereka datang. Saya hanya mendengar dari para seniorku. Kata mereka, Bahtera Surra sangat besar dan kokoh, para awaknya adalah pelaut-pelaut dari Negeri Chin yang berlayar sampai ke sini. Surra bukanlah nama, tapi jenis kapal-kapal raksasa. Mereka datang puluhan bahkan berjumlah ratusan dalam satu pekan jika berdatangan terus-menerus. Entah apa ekspedisi mereka, yang jelas mereka mengantar para utusan untuk menyampaikan upeti-upeti untuk Prabu Gusti, lebih layaknya dalam bahasa kita sebagai ijin untuk menumpang lewat."


Radhit manggut-manggut, sambil membayangkan kemegahan Bahtera Surra seperti yang diceritakan Seno, "Jadi, sebenarnya mereka bangsa dari negeri Chin yang singgah ke pesisir," gumam Radhit belum usai dari memikirkan Bahtera Surra.


"Perlu menguasai bahasa Tiongkok untuk berbicara dalam bahasa mereka. Apa kamu bisa?"


Radhit jadi tersenyum mendengarnya, "Tiongkok?!" sambil menunjukkan liontin yang terselip di balik bajunya.


"Wah, penghargaan cendekia antarnegeri! Bagus sekali! Berapa bahasa yang kamu kuasai, Nak?"


"Mmm, tidak banyak. Saya masih perlu banyak belajar. Untuk bahasa Tiongkok, saya sudah mencapai tingkat empat," kata Radhit senang.

__ADS_1


"Hebat, Nak! Dengan menguasai bahasa, kamu bisa melanglang buana bahkan seluruh bahari sejagad! He he.... Tidak banyak orang yang bisa menguasai banyak bahasa, bahkan Sang Prabu Kertanayam membutuhkan lebih banyak para ahli pujangga antarbahasa!" kata Seno berkesan terlalu memuji.


"Bagaimana dengan Tuan? Bukankah Tuan juga pernah menjadi prajurit bahari, sudah pasti Tuan juga mengerti bahasa luar negeri?!" tanya Radhit, dibalas oleh Seno yang bungkam.


"Ah, saya tidak sehebat itu! Sekarang saya hanya seorang nelayan dengan kasta budak," sedih tertutur seiring Seno berbicara, "Seluruh keluargaku juga diusir keluar kawasan pusat, hukuman pelepasan marga dan kasta lebih memalukan daripada saat penobatan atau penghargaan itu diberikan sebelumnya. Saya masih ingat betul saat itu sangat hina bagi kami!" lanjut Seno.


"Maaf, Tuan. Saya tidak bermaksud membuat Tuan teringat hal itu," ucap Radhit.


"Saya bukanlah Tuan, tidak selayaknya kamu memanggilku dengan sebutan itu," Seno berbalik dari hadapan Radhit, menuju meja makanan tertata aneka hidangan laut. Rupanya, ia belum kenyah betul. Selera makan memuncak, ingin makan lebih banyak lagi.


"Tunjukkan telapak tanganmu!"


Kata pria berjenggot, bernada menyuruh Radhit. Ia menurut saja, kemudian sebelah telapak tangan kiri disodorkannya. Lalu pria berjenggot mulai memperhatikan telapak tangan Radhit. Sangat teliti dan serius sekali sampai-sampai bola matanya yang bulat besar seolah mau keluar dari kelopaknya. Ia lagi-lagi tersenyum saat melihat raut wajah Radhit yang tegang.


"Pembinasa Raksasa...?!" tak percaya dan sangat tidak dimengerti oleh Radhit akan maksud pria berjenggot yang ternyata sedang meramal tangan Radhit.


"Raksasa bukan berarti harus berwujud makhluk tinggi besar seperti Buto, tetapi bisa juga berwujud ketakutan dalam dirimu sendiri. Sama takutnya dengan ketakutan seluruh orang-orang di negeri ini. Bahkan Gusti Prabu pun tidak punya nyali untuk melawannya!"


"Saya tidak mengerti maksud Tuan," Radhit menarik lengannya segera, namun tak menghentikan orang itu untuk terus berbicara. Kali ini ia memelototi dahi dan berani mengusap-usap rambut Radhit sampai ke batas ubun-ubun, "Kamu mencari yang belum kamu tahu, Nak!" lanjut orang tua berjenggot.

__ADS_1


"Cukup!" Radhit mengelak dari jangkauan orang berjenggot itu.


"Hei, Bocah! Kami tahu apa yang sedang kamu butuhkan!" seru seorang dari sekawanan lain yang sedang mendekat sambil membawa buntalan kecil dan sesegera mengeluarkan isinya, "Ini bisa membantumu keluar dari masalahmu!"


Pria tinggi kekar mengenakan sepatu jirah seperti bekas sepatu prajurit, menyodorkan lembaran jilid yang sudah kusam dan tua rupanya, bagian luarnya berwarna gelap mungkin dari kulit sehingga terlihat tebal dan agak sulit digulung. Setiap lembaran isinya sedikit mencuat tampak kusut bahkan ada sebagian terkoyak.


"Apa itu?" tanya Radhit makin heran saat pria itu memampangkan barang tawarannya makin dekat ke hadapan Radhit.


"Penggalan Muhaqina, kitab Racun dan Obat!" jawab orang itu dengan tegas dan suaranya agak berat, "Kamu cukup beruntung jika mendapatkannya malam ini, karena kami punya harga yang tidak mahal untuk anak seusiamu!"


Radhit tersentak karena tak mampu menahan keterkejutannya berbaur tawa yang tertahan namun bukan tawa yang menampakkan rasa geli atau lucu, "Ah, barang apa itu?!" lalu berpaling ke arah pria berjenggot yang berada tidak jauh di sebelahnya, "Kalian para pedagang, tetapi saya tidak sedang ingin membeli sesuatu!"


Radhit beranjak dan hendak meninggalkan mereka, tetapi buru-buru pria berjenggot menggencat langkah Radhit dengan kalimat yang membuatnya penasaran, "Percayalah! Sesuatu yang tidak kamu inginkan sebenarnya yang paling kamubutuh! Kitab ini adalah kitab tertua tentang Segala Obat dan Aneka Racun!"


Pria berjenggot menyeringai ke arah Radhit berbalik kembali. Sangat jelas kata-katanya, diiringi seorang kawannya yang masih menenteng benda itu. Mereka berdua mendekati Radhit.


"Segala Obat?!" Radhit baru tersadar akan kata-kata itu.


"Yang paling berbahaya dan tidak mampu disembuhkan oleh obat lain, di sini jawabannya!" sahut pria bersepatu jirah yang membawa benda disebut-sebut Kitab Obat dan Racun, lagi-lagi menyodorkannya pada Radhit. Anak itu tergoda sesaat untuk menyentuh kitab itu lalu membukanya perlahan.

__ADS_1


"Aksara apa ini? Juga berbahasa apa?" Radhit terbelalak saat membuka-buka lembaran-lembaran usang lantaran termakan usia, berisi aksara yang belum pernah dikenalnya, bukan ditulis melainkan dipahat. Sangat halus pahatannya sampai-sampai sedikit sekali terasa seperti pernah diukir oleh benda runcing yang tipis.


...* * *...


__ADS_2