
”Bercanda! Tidak pernah kupikir sejauh itu,” kata Lorr En menyerobot tanpa permisi Kitab Sejarah Serba Tahu dari tangan Taja. Ia membuka-buka sebentar.
”Aneh, semua halaman kitab ini kosong!” heran Lorr En sambil membolak-balik lontar itu terpampang.
”Bagimu! Tetapi bagiku, ia sangat cerewet! Karena hanya aku yang bisa membacanya dengan suatu mantera. Tuan Anjing Hitam yang telah mewariskannya untukku,” ujar Taja membiarkan Lorr En keheranan karena ulahnya sendiri, ”Kemari!” Taja mengambil kembali kitabnya.
”Semula aku juga tidak percaya, tetapi ada bukti kuat yang cukup lama kumiliki, tetapi aku tidak pernah menyadarinya sampai bertemu Tuan Anjing Hitam. Sekarang telah terbukti bahwa aku Lintarwangi!” Taja merogoh kembali lehernya yang kosong dan mengucap mantera singkat.
’Maho-nzane lahyera’ dari usapan tangannya yang lembut di sekitar leher, muncul perlahan-lahan wujud liontin itu
”Kata Tuan Anjing Hitam bahwa pahatan ini adalah kata Lu, diambil dari bahasa kuno Kakilangit yang berarti Kekasih,” kata Taja memperlihatkan bagian pahatan terpatri batu intan hitam berbentuk huruf ’Lintarwangi’.
”Lintarwangi?” Lorr En mengamati serius.
”Warnanya akan berubah kebiru-biruan menyala jika terendam dalam air,” lanjut Taja. Lorr En terbengong lama memperhatikan liontin bulat berukir indah dan memang ada pahatan dari intan.
”Sekarang giliranmu bercerita! Bagaimana dengan ’laporan penting’ yang akan kau beritahukan kepadaku?” Taja ganti bertanya pada Lorr En masih terbengong memikirkan liontin.
”Lorr En?” panggil Taja. Lorr En kelabakan menyadari dirinya termenung.
“Mm ... secara kebetulan aku melihat daftar Silsilah Leluhur seluruh sekte, dari sana aku mendapatkan satu nama leluhur bangsawan Jawata dengan marga Lintarwangi,” Lorr En mengutarakan informasi yang mendukung.
“Lalu?” tanya Taja disambut sikap diam Lorr En sejenak. Ia seperti sedang mengingat-ingatnya.
”Putri Alingga juga membahas lebih jauh bahwa dulu, 700 tahun lalu dari sekarang, Sekte Kakilangit dipimpin seorang penguasa dengan marga Lintarwangi.
”Lintarwangi?” heran Taja, mengulang nama itu, barangkali Lorr En salah mengucapkan nama.
__ADS_1
”Benar!” tegas Lorr En.
”Dan?”
”Setelah turun-temurun berikutnya, Lintarwangi bertahan sampai pewaris tahta ke-4 setelahnya. Karena keturunan berikutnya hanyalah wanita, maka tahta Sekte Kakilangit jatuh pada seorang menantunya. Ia pertama kali dinobatkan sebagai penguasa saat itu."
”Lalu?”
Lorr En melanjutkan ceritanya.
”Intinya, Paduka yang memimpin Kakilangit pada tahun ke-700 setelah masa kedua itu ternyata memiliki ikatan saudara dengan penguasa Tanapura yang pertama dinobatkan setelah masa awal usai Perang Pedang. Bedanya, sampai sekarang Lintarwangi mampu bertahan sebagai Paduka.”
”Lalu?” Taja masih belum menemukan kesimpulan adri semua cerita Lorr En.
”Mengapa tidak kau tanyakan saja pada kitabmu itu tentang Ketua Sujinsha?” Lorr En mengingat Taja pada sesosok penting yang sudah dikenal mereka sejak pertama kali menginjak tanah Tanapura.
“Ketua Sujinsha?” Taja memikirkan nama itu.
“Ketua Sujinsha … Ketua Sujinsha. Seorang Satria bukan berarti harus dari kalangan bangsawan, bukan?” Taja menanggapi lirih membuat Lorr En bertanya-tanya karena dia sendiri juga belum yakin tentang sosok Ketua Sujinsha yang sebenarnya.
“Aku bisa melihat dari caranya bersikap. Si Tak Kenal Takut, si Pembangkang, si Hati Dingin, banyak yang menjulukinya dengan sebutan itu. Bagaimana mungkin hanya seorang kapten tidak takut pada orang-orang berpangkat di atasnya, termasuk juga pada Paduka? Jika orang lain, sudah pasti dihukum mati!” Lorr En menangkap keanehan tentang sosok dalam topik mereka.
“Tentu saja karena dia adalah Ketua di Tanapura, pemimpin enam batalion pasukan semua yang ada di negeri ini, meskipun tidak pernah takut pada Paduka karena jasanya sangat diperlukan. Memang heran, mengapa Paduka tidak pernah menghukumnya atas kesalahan apapun termasuk saat melindungi kita dalam sidang pertama kali berada di Tanapura?”
”Dan dia juga yang menyelamatkanmu lagi dari sidang selanjutnya. Pikirmu, siapa dia? Tidak mungkin dia orang biasa? Semua orang menaruh hormat dan segan padanya. Bahkan orang paling berpengaruh seperti Ketua Sujinsha dan Paduka sendiri!”
Taja manggut-manggut sebentar mendengar pemikiran Lorr En, “Benar juga. Dia memiliki pengaruh besar di Tanapura selain Paduka.”
__ADS_1
“Dan bukan hal yang tidak mungkin jika Ketua Sujinsha memiliki keluarga atau saudara? Bukankah dalam kitabmu ini tertera ribuan bangsawan, walau hanya sedikit yang Lintarwangi. Mungkinkah termasuk dia!” kata Lorr En sehubungan dengan kisah yang diceritakan dari Kitab Hiwa milik Taja.
Dua anak itu diam sesaat memikirkan cara menyimpulkan semua keterangan yang mereka dapat. Kembali mengamati liontin bersimbol huruf ’Lintarwangi’, kemudian menyatukan keterangan yang tertera dalam Kitab Sejarah Serba Tahu dan Daftar Bangsawan Tanapura, setelah itu ada satu kesimpulan yang masih mungkin kebenarannya atau bisa juga sebaliknya. Sama sekali tidak pernah terlintas di dalam benak Taja bahwa Ketua Sujinsha, orang ternama, disegani dan ditakuti di Tanapura adalah ....
”Morrucus-sattarehima! Tunjukkan sesuatu tentang Ketua Sujinsha!” Taja mengucap mantera sebelum membuka halaman-halaman kitab itu. Kemudian kitab Hiwa memunculkan halaman ke-112200 yang tertera tulisan.
’Ketua Sujinsha adalah putra ke-empat dari Paduka Tanapura pada tahun 1178 Neya. Ketakutan membuatnya terbuang, lalu bersembunyi dalam rimba-rimba gelap selama setengah masa hidupnya sebelum pergi ke Tanapura memenuhi panggilan sumpahnya demi seorang anak malapetaka.’
”Putra ke-empat Paduka Tanapura?” Taja dan Lorr En tercengang setelah sekilas membacanya.
Belum selesai tulian-tulisan itu memudar, Taja menanyakan yang lain, ”Siapa saja saudara-saudara Ketua Sujinsha yang lain?”
Kemudian tulisan berikutnya menunjukkan lebih banyak.
’Paduka Jayasinggih.'
”Siapakah keturunan selanjutnya?” Taja bertanya lagi. Kemudian tulisan-tulisan itu memudar, berganti yang lain.
’Kami menyebutnya sebagai Tajura. Suatu ras yang tidak kami tahu ....’
Termenung agak lama dalam keheningan, Taja memikirkan satu kalimat yang tidak cukup dimengerti dari tulisan itu,”Ras yang tidak kami tahu. Ras yang tidak kami tahu?”
Berkali-kali mengulangnya dan bertanya-tanya maksud kalimat janggal itu.
”Sulit sekali dimengerti. Barangkali saja kitab ini yang meracau tidak tentu arah!” Lorr En masih tercengang setelah ikut membacanya, merasa dipusingkan setiap kalimat di halaman kitab itu.
Belum lama dari Lorr En berkata seperti itu, ada tulisan lain yang muncul tanpa diminta.
__ADS_1
’Kami bukan bodoh atau pendusta, kami sejarah yang benar untuk Tuanku!’
...* * *...