
Mirr Bha namanya.
Seorang laskar penjaga berpawakan tinggi besar. Tubuhnya seukuran tiga kali lelaki dewasa berbadan kekar. Dia pemimpin Laskar Gunggali. Dia yang paling kuat mewarisi keutamaan Kultivasi Katak.
"Ketahuilah, Taja ...," pemimpin laskar itu berkata dan hendak mengungkapkan kebenaran yang terjadi.
"Air dan tanah tercemar, lebih dari separuh kawasan Gunggali. Racun menyebar dan melebar kemana-mana. Tak mampu dinetralkan lagi dengan cara apapun," Mirr Bha menghadapi Taja, Lorr En dan Neirra. Pembicaraan antara mereka berempat saja.
"Racun dengan pengaruh sihir yang sangat kuat," lanjut Mirr Bha.
Taja, Lorr En dan Neirra larut mendengarkan apa yang sedang dibahas. Perbincangan malam itu sangat terkesan mendalam, sebelum kepergian mereka bertiga ke laut lepas.
"Ini semata-mata rencana Ratu untuk melindungi kalian bertiga. Gunggali tidak bisa diselamatkan lagi," kata Mirr Bha.
"Elhundi Mirr Bha, kami benar-benar akan mencari penawar atas racun imbas pusaka itu," Taja memanggil Mirr Bha dengan sebutan Elhundi.*
"Taja, mencari penawar dari dampak racun itu, sama seperti menabur harapan kosong. Racun aneh yang mendera Gunggali, sudah terjadi semenjak kamu bayi bersama kedatangan ibumu," kenyataan itu membuat Taja tersulut cemas.
"Jadi, ibuku yang menyebabkan semua ini?" Taja dirundung rasa bersalah.
"Bukan hanya itu, tetapi peperangan penyihir dan kaum Gunggali, sudah terjadi sejak dahulu. Mereka mengincar kekuatan Ratu," jawab Mirr Bha.
"Gunggali diserang para penyihir, terus berkelanjutan hingga saat ini. Jumlah mereka tak terhingga," lanjut Mirr Bha.
"Kawasan kita, sudah terlacak oleh mereka," kata Mirr Bha.
"Sebelum kamu ada di Gunggali, mereka kaum penyihir menyerang dengan berbagai cara, sampai racun pusaka itu puncaknya," kata Mirr Bha.
"Aku ... tidak mengerti, Tuan Mirr Bha," kata Taja, agak geleng-geleng kepala.
"Taja, dengarkan aku," Mirr Bha menaruh telapak tangan di pundak Taja. Sentuhan dingin Mirr Bha menandakan dirinya selama ini terlalu sering di habitat air.
"Taja, apa yang membuat Ratu memberikan Myuriz padamu. Itu bukan hanya kristal cahaya dalam gulita," kata Mirr Bha.
__ADS_1
Taja merogoh dadanya, lalu muncul secara ajaib, kristal berkilau laksana berlian dalam gulita malam.
"Itu seluruh benih Gunggali," kata Mirr Bha. Taja ternganga mendengarnya. Diamati sebaik mungkin kristal Myuriz di tangannya, nyaris tak berkedip. Barulah tersadar, benda itu kerlap-kerlip ternyata isinya benih.
"Untuk apa Ratu memberikan Myuriz yang berharga padamu? Pikirkan itu Taja," kata Mirr Bha. Benar-benar membuat Taja memutar otak. Masih juga tak paham.
"Gunggali tak ada harapan bertahan lebih lama. Kristal Myuriz itulah harapan lain untuk membuat hutan baru. Kamu yang ditunjuk Ratu untuk memulai kehidupan baru," kata Mirr Bha.
Barulah air mata Taja berkaca-kaca.
"Mengapa ... Ratu tak mengatakan sebenarnya," bergetar suara Taja mengucapkan itu.
Lorr En di sebelahnya, ikut terkejut. Neirra tak salah dengar. Juga tersita perhatiannya pada Myuriz.
"Maksud Tuan?" Neirra ternganga.
"Gunggali akan mati, berikut semua penghuninya," kata Mirr Bha.
"Kalian bertiga yang keluar dari Gunggali, adalah yang diselamatkan Ratu," kata Mirr Bha. Taja tersentak pilu.
"Semua penghuni Gunggali akan mati, termasuk semua laskar dan dirimu, Tuan?" Taja tak percaya pengakuan Mirr Bha. Lelaki itu mengangguk.
"Benar, kami pertahanan terakhir sampai akhir Gunggali," balas Mirr Bha.
"Kenapa ...?!" Taja terguncang hebat pikirannya. Nafasnya tiba-tiba sesak tertahan.
"Aku .... tidak akan pergi dari Gunggali, sama seperti yang lain, aku akan mati bersama Gunggali," Taja bergegas entah hendak ke mana.
"Mau kemana, Taja?" Mirr Bha tak menyusul Taja pergi.
"Mau kemana di perbatasan kawasan muara seperti ini?"
"Melewati perbatasan Changgaleatus, artinya kalian tidak bisa lagi masuk Gunggali tanpa seizin Ratu. Gunggali tersembunyi dari dunia jasmani," kata-kata Mirr Bha benar-benar membuat Taja remuk hati.
__ADS_1
Langkah Taja melambat akhirnya terhenti di tepi daratan tinggi. Semua yang tampak oleh mata, hanya lautan lepas.
"Aku ... tidak mau pergi dari Gunggali," ujar Taja berlinang air mata. Sorot mata kosong menerawang ke arah kejauhan.
Lorr En menyusul ke sisi Taja. Memandang ke arah yang sama. Harapan kosong di antara deru ombak lepas.
"Aku juga tak ingin pergi ...," ujar Lorr En lirih.
"Aku lahir di Gunggali, mati pun demikian," lanjut Lorr En.
"Kalian berdua, memutus harapan terakhir Ratu?" kali ini Neirra berbicara.
"Penghuni Gunggali, tidak ada yang tahu sebenarnya terjadi, mereka semua tidak tahu bahwa mereka sedang di ambang kematian masal, aku ...."
"Juga tidak ingn pergi ...," Neirra lirih tertunduk. Tak kalah sedih pilu, berurai air mata.
"Lalu pada siapa lagi, harapan Ratu untuk kehidupan baru, jika bukan padamu?" Mirr Bha muncul di belakang ketiga anak muda itu dirundung patah arang semangat hidupnya.
"Taja, kamu lah Elhundi Hiyawatari," Mirr Bha meyakinkannya Taja.
"Kenapa ... setelah keluar perbatasan, aku mengetahui semua ini ..., kenapa Ratu menyembunyikan kebenaran itu dariku?" Taja muram sedih.
"Kenapa ...?" tak habis tanya, Taja menyesal telah berada di perbatasan.
"Karena kamu Elhundi Hiyawatari, penerus kehidupan baru. Seperti itulah tugasmu," Mirr Bha menepuk pundak Taja.
"Siklus Gunggali setiap 1000 tahun, akan mengalami regenerasi. Tetapi kali ini, lebih awal dari perkiraan. Terlebih para penyihir menyerang kita," lanjut Mirr Bha.
"Esok pagi buta, aku akan membantu kalian lepas pantai. Menuju negeri peradaban manusia itu," Mirr Bha menatap Taja serius.
"Negeri Jawata, ke sana tujuan kalian. Carilah hutan terbaik, tebarkan benih-benih Gunggali," tatap Mirr Bha penuh arti pada Taja, juga Lorr En dan Neirra.
"Hutan dan manusia, hidup berdampingan. Saling melindungi dan saling membutuhkan," kata Mirr Bha menyampaikan wasiat sekalian harapannya juga.
__ADS_1
...* * *...