
Chapter 87 dan seterusnya, belum diedit ya guys. Harap sabar.
Seperti biasanya, gelap dan suram sepanjang jalur menuju kawasan pemandian wanita di Istana Tanapura. Kawasan terjaga, sangat luas dan terbentuk alami dari aliran sungai, dikelilingi dinding batu setinggi puluhan kaki. Empat sudut mengalir sumber air. Kemudian di tengah-tengah ruang itu, berjejer puluhan mulai dari bilik-bilik ukuran besar sampai sedang bersalut tirai pada dindingnya yang terbuat dari bambu-bambu. Suara gemercik puluhan pancuran air melalui saluran buatan mengarah ke luar area pemandian. Sejuk dan bening airnya sangat menggoda siapapun ingin mandi. Belum lagi pemandangan sekitarnya di rancang menyerupai taman.
Di bawah cahaya remang-remang obor berderet di tepian selasar menuju area pemandian, samar-samar tampak tiga bayangan tengah mengendap-endap ke arah pintu masuk area tempat itu. Suasana gelap nyaris menyembunyikan keberadaan sosok mereka. Karena juga penjagaan di sekitar area itu tidak cukup ketat seperti pada tempat-tempat resmi lain.
Tiga sosok dalam kegelapan semakin mendekati ambang pintu. Terdengar bisik-bisik mereka penuh hati-hati dan waspada.
”Aku masuk, dan kalian berjaga-jaga di pintu!” sesosok menyuruh demikian kepada dua yang lain.
”Biasanya, saat-saat begini dia sedang mandi ...,” bisiknya lagi pada yang lain.
”Ya, aku juga pernah melihatnya mandi pada saat petang begini. Mungkin dia malu karena tubuhnya pasti penuh bulu kera!”
”Ssst .... Jangan berisik!” seorang dari mereka menghentikan langkah.
”Kita harus mendahului si Kera itu sebelum ia sampai ke sini,” ketiganya berbisik-bisik suatu rencana.
”Bagaimana jika gagal?” seseorang ragu.
”Tenang saja, bukan Seruni jika tidak berhasil!” dari bawah cahaya obor, raut muka tampak jelas.
”Seruni. Seruni. Seruni. Keponakan Ketua Jenewa, tidak akan mudah menyerah setelah dipermalukan!” kata Seruni dengan berdecak.
”Jadi, apa yang akan kita lakukan?” kata seorang temannya. Seruni menunjukkan sesuatu dari dalam balkas lumayan besar.
__ADS_1
”Apa itu?” tanya dua temannya. Seruni menunjukkan sesuatu dari dalamnya.
”Daun-daun Kuye? Untuk apa? Daun ini sangat gatal, bukan?” seseorang dari temannya keheranan melihat daun sebanyak itu dibawa Seruni. Karena mereka juga belum tahu sesuatu yang direncanakannya.
”Gatal? kalian benar! Aku akan menebar daun-daun ini saat dia akan mandi. Setelah itu, apa yang akan kita lihat adalah hal yang menyenangkan! Lalu esok harinya, ia tidak akan pernah mau masuk sekolah dan selama berminggu-minggu mengurung diri dalam kamar,” belum-belum Seruni tertawa disambut tawa yang lain.
”Sst ...," seketika dia menutup mulutnya sendiri sekaligus mengingatkan yang lain.
”Bagaimana jika nanti kita ketahuan?” cemas temannya.
”Aku tidak takut, selama Seruni adalah keluarga Jenewa. Maka aku tidak takut pernah kalah," membanggakan nama keluarganya, Seruni sangat percaya diri.
”Bagaimana terhadap Tuan Putri Alingga? Juga tidak ada rasa takut padanya?” seorang temannya mempertimbangkan perkataan Seruni.
”Alingga! Dia hanya beruntung karena dilahirkan sebagai putri, tetapi tetap saja aku yang terpandai dan paling populer di kelas Tabib Tingkat Pemula. Semua harus mengakui itu!” Seruni bersungut-sungut pada dua temannya. Kemarahannya akibat perlakuan Putri Alingga siang tadi di kelas masih terbayang jelas, sangat sulit dilupakan sampai-sampai mendendam.
Kriiiiet ....
Pelan-pelan suara pintu bambu didorong tiga gadis belia. Kebetulan sekali pintu utama memasuki area pemandian itu tak pernah terkunci, sedang tidak terpasang palangnya. Semakin mereka masuk ke dalam, terdengar makin keras suara gemercik air mengalir deras ke seluruh area berpagar dinding bebatuan cadas.
”Itu pasti dia! Kalian tunggu di sini saja!” bisik Seruni dibalas anggukan dua temannya itu dan ia terus melangkah ke sederetan bilik.
”Dapat!” pekik Seruni tertahan di tenggorokan setelah melintasi puluhan bilik bambu. Sepasang matanya dalam kegelapan cukup cepat menangkap bayangan tembus pandang dari dalam sebuah bilik di deretan ujung dan paling dekat dengan air terjun yang menjorok ke dalam area pemandian.
Tidak banyak kata lagi, Seruni mendekati bilik yang dituju. Selangkah demi selangkah, akhirnya sampai juga di dekat dinding bambu bilik itu. Ketika sempat ia mengintai ke dalam, yang tampak olehnya hanya punggung seseorang sedang setengah berendam sambil mengusap leher dan tubuhnya dengan air busa yang mulai memudar dalam genangan air. Dan sama sekali belum disadarinya akan kehadiran seseorang lain yang berniat tidak baik.
__ADS_1
Seruni lebih mendorong pintu bilik yang tak terkunci agar bisa lebih jelas melihat sosok di dalam bilik. Lalu suatu pemandangan tampak olehnya, seketika membuat sepasang matanya terbelalak.
Terkesiap ia sambil menahan teriak, karena yang sedang dilihatnya nyaris tak dapat dipercaya. Terlalu terkejutnya ia sampai-sampai terpeleset. Refleks! Sekantung balkas berisi daun-daun kuye, rencananya akan ditaburkan melalui pancuran air buluh bambu yang mengarah masuk ke bilik, terlempar ke atas, lalu jatuh persis ke mukanya dalam keadaan terbalik dan terbuka.
”Argh!”
Sebuah suara tak tertahankan lagi muncul juga saat daun-daun tak terhitung jumlahnya berhamburan ke muka Seruni.
Selanjutnya, suara orang jatuh cukup keras menyusul.
Bug...!!
Tentu saja suara itu menarik perhatian seseorang dari dalam bilik mandi. Karena merasa ada yang mengintai, sosok itu cepat-cepat berbenah pakaian.
”Siapa itu?” serunya lalu bergegas keluar. Sebelum orang itu sempat mendatangi asal suara, Seruni cepat-cepat kabur dari sana.
”Lari! Ternyata dia senior Lanting!” pekik Seruni melintasi dua teman yang berjaga-jaga di sekitar pintu. Melihat aksi langkah seribu Seruni, tentu mereka tidak tinggal diam. Ketiganya lari tunggang langgang menuju pintu belakang pemandian.
Namun seseorang lain kebetulan baru saja datang dari pintu masuk, menangkap sekilas arah yang dituju tiga sosok berlarian itu.
Daun-daun berserakan mulai dari sepertiga jalan sepanjang pemandian hingga sampai di ambang pintu belakang. Seseorang dari dalam bilik terburu-buru keluar dan mengikuti jejak daun-daun itu. Terakhir, ia berdiri di hadapan seorang murid perempuan yang tiba-tiba muncul dan tampaknya berniat akan mandi.
”Shaninka?” agak heran, orang itu melihat kedatangan Shaninka dari arah pintu masuk.
”Senior Lanting?” ekspresi tidak begitu berbeda dari raut Shaninka saat melihat seseorang yang sudah dikenalnya juga berada di tempat yang sama pada saat-saat senja seperti itu. Padahal biasanya, tidak ada yang selarut ini datang ke tempat itu. Yang lebih mengherankan adalah wajah panik Lanting dengan nafas terengah-engah dan pakaian sedikit amburadul seperti terburu-buru saat mengenakannya.
__ADS_1
”Jadi, kau yang mengintaiku tadi?” tiba-tiba Seruni mengatakan sesuatu yang tidak mengerti oleh Shaninka.
...* * *...