The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)

The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)
18. Latih Tanding (2)


__ADS_3

”Giliran ke-tiga. Cabang pedang."


"Kali ini akan terpilih silang antara satu murid tingkat Praja Bumi dan dua Praja Muda!” seru Ketua Sujinsha.


Semua praja berdebar-debar. Apalagi mendengar cabang duel kali ini tidak seperti biasanya, yaitu satu Praja Bumi melawan dua Praja Muda.


”Satu murid Praja Bumi yang terpilih adalah ...,” beberapa saat Ketua Sujinsha mengacak ratusan lontar dalam gentong besar. Lalu diucapkan lantang satu nama paling terkenal.


”Bintani!"


"Bintani lagi? Dia terpilih dua kali?" begitu bisik-bisik orang-orang, redam dalam sorak dan tepuk tangan panjang dari penonton mengelu-elukan seorang praja terbaik dari tingkat Praja Bumi. Kalangan guru dan pelatih pun melempar senyum bangga padanya. Ketua Sujinsha tidak ketinggalan melambai padanya sebagai dukungan.


”Raojhin akan menghadapi dua Praja Muda, yaitu ...,” kalimat Ketua Sujinsha berlanjut. Acakan lontar dalam gentong yang berbeda. Untuk sesaat, suasana hening memaku semua murid praja menunggu satu nama yang diundi.


”Raojhin dan Taja!” lanjut Ketua Sujinsha disambut semua murid terperangah ke arah dua murid berdampingan di tribun bawah.


Taja terkesiap setelah mendengar namanya dipanggil, tidak begitu berbeda dengan ekspresi Raojhin yang berada tidak jauh dari posisinya. Ia sejak tadi mematung dan terdiam, sesekali melihat ke arah Taja tanpa kata apapun. Dan Taja juga membalas tatapan bisu.


Rasa penuh tidak yakin, dua murid itu keluar tribun dan menuju anjungan. Perlahan namun pasti, serentak tepuk tangan mengiringi langkah mereka menuju area paling mendebarkan.


Mendekati anjungan, pelatih memberikan jirah pelindung yang sama di tambah helm besi serta sepasang pedang seng untuk masing-masing dari murid itu. Lalu mereka memasuki pintu pagar besi, dan Bintani sudah siap berada di sana lebih dulu.


Taja membalas tatapan praja senior itu, sesekali berpindah pada Raojhin acuh tak acuh padanya.


”Duel dimulai!” seru Ketua Sujinsha memberi aba-aba.

__ADS_1


Sejenak saling memberi salam hormat dari ketiga murid itu mengawali duel.


Raojhin mengambil posisi berseberangan dari Taja. Selanjutnya masih dalam kuda-kuda, Bintani berada di antara Taja dan Raojhin. Serangan pertama dari pedang Raojhin mampu dielakkan Bintani dengan mudah. Lebih dari itu, secepat bagaimanapun Raojhin melancarkan jurus-jurus andalannya, namun Bintani maish cukup terllau tangguh untuk ditaklukkan. Sementara dua murid berbeda tingkat itu beradu jurus, Taja terabaikan. Ia hanya memasang kuda-kuda tanpa penyerangan sedikitpun. Ada kikuk dirasakannya, harus mengambil serangan dari arah mana, tampaknya area duel itu telah dikuasai dua orang saja.


Tang!


Pedang seng Raojhin terlempar dan nyaris melayang ke arah Taja, tercengang ia ke arah pasangan duelnya melawan Bintani, praja itu tersudut sampai mendekati garis merah.


”Serang dia, jangan diam saja!” teriak Raojhin dari posisi genting.


Taja mendadak bingung. Bukan karena tidak ada kemampuan menyerang dengan beberapa jurus yang pernah dipelajari, melainkan tidak pernah bertarung sebelumnya. Apalagi di hadapan ribuan penonton dan harus dinilai oleh para juri.


”Serang dia!” seru Raojhin sekali lagi sebelum terdorong ke belakang setelah Bintani menghujamnya dengan satu pukulan jitu. Padahal ia juga memakai jirah pelindung, tetapi rasa sakit pukulan Bintani mampu menembus hingga ke perut.


Raojhin terbentur palang, kurang sejengkal saja menyentuh garis pembatas. Bintani yang belum sedikitpun terluka, menarik krahnya. Ketika ia akan meninjunya sekali lagi, sebuah gagang pedang persis mematuk lehernya. Tentu saja, pedang itu berasal dari Taja yang mematung beberapa langkah di belakang.


Bintani menoleh padanya. Karena agak pusing akibat lemparan gagang pedang anak itu, langkahnya sempat gontai.


”Puh!” Bintani membuang ludah karena kesal sambil memegangi tulang leher belakang yang memar Dia berbalik arah pada Taja dan berniat menyerang balik dan langsung menubruknya keras. Aksi baku hantam bergilir antara Bintani dan Taja.


Satu hingga dua kali pukulan tanpa perlawanan menghujam Taja.


Dug!!!


Satu tendangan Raojhin dari jarak jauh meluncur, menghantam Bintani sampai terguling ke lantai marmer yang bening. Ada setetes darah menetes dari hidung. Bukan tanpa pengorbanan karena Raojhin juga terjatuh setelah melayangkan satu tendangannya. Namun cepat-cepat ia bangkit kembali untuk menghadapi lawan mereka.

__ADS_1


Suasana di area latih tanding sejenak tegang. Semua penonton tidak bisa memperkirakan akhir duel itu.


 ”Heaaaaa ...!!!” Bintani tidak tahan menunda duel lebih lama lagi. Tubuhnya yang kekar dan keluar otot-ototnya, sekuat tenaga dan gesit sekali meluncur, menubruk sekaligus mengangkat tubuh Raojhin yang berusia 4 tahun lebih muda, sambil setengah berlari menuju tepian anjungan dan tidak cukup sulit melempar tubuhnya.


Pang ...! Brug ...!!!


Raojhin terpelanting keluar arena tarung, terjerembab ke tanah kering disusul erangan kesakitan. Semua penonton yang menyaksikan itu tak mampu mengeluarkan suara. Tidak berapa lama kemudian, dua pelatih membawa Raojhin dari sana. Sementara duel masih belum usai. Di arena anjungan, tinggal Bintani dan Taja.


”Heeeeeaa ...!!!” Bintani memekik, lalu mengarahkan serangan tangan membabi buta dan bertubi-tubi. Lebih dari satu kali pukulan masuk ke tubuh dan wajah Taja.


Terakhir, Taja lagi-lagi ambruk. Spontan, terdengar lenguhan para penonton saat melihat aksi payahnya. Ia melihat ke sekeliling, betapa benyak dari mereka menggeleng-gelengkan kepala tanda kecewa sambil serempak menyerukan satu kata yang sama namun berulang-ulang.


”Menyerah ... menyerah ... menyerah ...!” mengangkat kepalan tangan.


Tanpa ampun, Bintani menyerang sekali lagi dengan cara yang sama. Dan kali ini Taja menghadapinya dengan jurus yang sepintas lalu dilakukan Raojhin.


Krak!!!


”Aaaagh!!!” Taja menjerit keras. Satu tinjuan ke muka mampu dihalau dengan sikut, tetapi akibatnya fatal, lengan Bintani yang berlapis baja telah meretakkan persendian siku tangan Taja.


Taja menahan sakit bersamaan dengan begitu cepat sebelah tangan kanannya mati rasa. Bintani tidak ambil peduli kondisi seperti itu.


Sementara sorak-sorak serempak penonton masih menggemakan kata ’menyerah’ untuknya. Bintani langsung menyerang lagi.


...* * *...

__ADS_1


__ADS_2