The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)

The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)
37. Pengasingan (1)


__ADS_3

Matahari menyingsing di ufuk timur Pemukiman Sawo. Suatu kawasan di pinggiran Tanapura, biasa di juluki dapur istana, karena banyak pasokan keperluan Tanapura bersumber dari kawasan ini. Mulai dari penyediaan bahan-bahan masakan, peracikan obat, pemeliharaan ternak seperti kuda, sapi, kambing, selain itu juga ada pusat penempaan pedang serta pembuatan senjata untuk kerajaan Tanapura.


Bangunan-bangunan di sana masih tergolong sederhana, daerah itu dekat tebing dan hutan. Seperti juga dengan gubuk-gubuk berjajar dekat padang rumput yang luas sebelah barat Pemukiman Sawo, sinar matahari menerobos masuk melalui celah-celah atap sebuah gubuk bambu, tempat tinggal para peternak istana. Taja memulai hari pertamanya hukumannya di sana.


“Hei, bocah. Sudah terbiasa bangun pagi rupanya?“ seorang lelaki setengah baya, berpakaian lusuh menyapa Taja yang sedang merapikan tempat rumput.


Taja tersenyum saja.


“He he he, terlalu sulit untuk pelajar sepertimu. Sebelum fajar, tempat ini sudah ramai…mulai hari dengan memeras susu sapi, lalu setelah semuanya selesai, kita harus menggembala kuda-kuda ke padang rumput liar,“ kata orang itu sambil membuka setiap pintu kandang kuda. Sesekali memberi perintah pada anak buahnya untuk menyiapkan kebutuhan ternak.


”Waktunya menggembala!” serunya kemudian.


Di istal besar itu, hampir mencapai jumlah ratusan kuda diternakkan. Kuda-kuda dipelihara dan dikembangbiakkan untuk keperluan perang.


Gentho membuka pagar kandang terdapat seekor kuda putih tanpa coreng sebercak pun, paling besar dan tampak paling dirawat.


”Namanya Klawu,” kata Gentho sambil menoleh pada Taja, ”Di antara kuda-kuda prajurit, Klawu yang paling diandalkan Paduka Raghapati!”


Taja menanggapi seadanya, ”Harus diperlakukan istimewa, begitu maksud Tuan?”


Gentho tertawa, ”Lebih berharga dari nyawa orang-orangku!”


Disusul cibiran setiap pekerja yang mendengarnya. Kemudian Gentho menyuruh seorang menuntun Klawu.


”Kalian harus lebih berhati-hati dalam menjaganya! Sekali saja lengah, nyawa kalian tidak sebanding sebagai taruhannya!” kata Gentho mengingatkan itu-itu terus.


“Hanya seekor kuda!” seseorang menggerutu namun langsung surut dalam tatapan Gentho.


”Jadi, kita akan menggembala sekarang, Tuan?“


“Kita? Tentu tidak, mereka adalah para pekerja di sini, tentu saja mereka yang akan menggembala, sementara  kau akan menghabiskan waktu sampai sore di gudang jerami!“ Gentho menarik rantai belenggu yang mengunci pintu utama istal. Setelah dibuka, kuda-kuda yang dibariskan keluar. Taja garuk-garuk kepala, memperhatikan pekerja yang sibuk menggiring kuda-kuda.


“Gentho!“ panggil seorang pekerja, jauh lebih muda dari Gentho.

__ADS_1


Taja ikut menoleh ke orang itu.


“Ada apa, Pai Jo?“ Gentho melempar tanya saat melihat ke arah ke satu orang dari lima lainnya yang sedang melepas kuda-kuda.


“Sebaiknya kami mengajak anak itu juga ke lembah Gundil untuk menggembala hari ini! Selain tenaganya bisa membantu, juga berguna agar dia terbiasa dengan perkerjaan kita untuk satu bulan ke depan!” ternyata, seseorang bawahan Gentho yang menyeletuk dari kesibukannya melepas ikatan satu-persatu kuda keluar dari kandang.


Gentho juga sedang sibuk menggiring puluhan kuda keluar istal.


“Memangnya mengapa?“ tanya Gentho asal-asalan dan semakin sibuk dengan kuda-kuda itu. Suara ringkikan kuda membuatnya tidak begitu memperhatikan celotehan seorang para pekerjanya.


”Paduka Raghapati mengirim seorang murid Tanapura ke sini bukan untuk berleha-leha, bukan?” sahut seorang lain yang berambut kucel ikal seraya menunjuk Taja.


“Tidak untuk hari ini, dia baru tiba tadi malam,” kata Gentho berkeberatan.


Tetapi dua yang lain mencibir karena kata-kata Gentho. Mereka berdesus-desus seseuatu sambil melempar lirikan ke arah Taja.


”Aku bersedia ikut,” kata Taja menawarkan diri meskipun sebelumnya Gentho telah keberatan.


”Tidak! Lembah Gundil cukup jauh, dan kau masih baru. Lebih baik untuk hari pertama, aku akan mengantarmu ke gudang arsenal saja,” kata Gentho yang berarti menolak.


“Baiklah, seorang yang bernam Pai Jo itu akan menjagamu selama di Gundil!” Gentho menunujuk ke seorang berbadan paling tinggi di antara empat pekerja lainnya.


”Pai Jo, jangan sampai menyesatkannya! Jika sampai tejadi hal seperti itu, maka kalian semua yang bertanggung jawab!” Gentho menegaskan pada mereka.


”Jangan khawatir!” balas mereka santai.


“Untuk hari ini saja. Besok, ia boleh ke mana saja!” seru seorang yang lain.


”Ya, kami kekurangan dua orang baru hampir tiap bulan. Entah mereka kabur atau hilang. Tidak ada jejak, tiak ada petunjuk, tidak ada keterangan selanjutnya. Hanya bisa meninggalkan sebutan orang-orang Gentho yang hilang...,” Gentho sekedar mengatakan itu.


“Ayo cepat …!“ seru mereka dan segera berangkat.


”Selamat menggembala, Praja Muda!” salam Gentho sebelum Taja meninggalkan istal.

__ADS_1


“Baik!“ Taja melempar senyum, ”Ini akan menjadi mata pelajaran bagus dan tidak pernah ada di Tanapura!”


Dia segera menyusul lima kawanan pekerja yang menggiring puluhan kuda ke jalanan untuk digembalakan ke Lembah Gundil. Mereka melewati padang belukar berduri, tanah merah terjal lalu tepian perbukitan anggur. Semakin ke selatan dataran rendah, menjauh dari Pemukiman Sawo.


Mega putih berarak-arakan sejauh puncak pegunungan membiru di depan mata, dan mereka sampai ke lembah hijau sangat luas, tumbuh pohon-pohon berbatang menggelembung karena mengandung mata air, rumput segar di sana-sini menjelma permadani hijau sampai ke kaki pegunungan di ufuk selatan.


”Apakah harus menggembala ke tegal Gundil?” Taja iseng-iseng menyela pembicaraan orang-orang Gentho. Mereka disibukkan celotehan sendiri dan mengabaikan hampir seratus kuda yang berlarian menyerbu hamparan menghijau. Tanpa kontrol, kuda-kuda itu sudah berhamburan ke seluruh Lembah Gundil.


”Ya! Lembah Gundil banyak rumput dan jauh dari pantauan Gentho!” sela yang lain, diiringi tawa kekeh.


”Kamu, murid terhukum itu, bukan?” seorang yang berambut ikat dan dua gigi besar depannya menyeringai.


Taja diam, disusul gelak tawa mereka.


”Kami juga murid Praja Tanapura! Itu dulu. Sebelum jatuh dari kuda dan berakhir sebagai pekerja Pemukiman Sawo yang menggembalakan kuda!”


”Lihat saja kakinya bengkok!” timpal teman-temannya sambil menertawakan geli.


”Cacat!” lagi-lagi mereka terbahak-bahak dalam pembicaraan seputar masa lalu di Tanapura.


”Jadi, kalian pernah menjadi murid Praja Tanapura?”


”Lebih dari itu, bahkan aku sudah mencapai tingkat kelas Naga Putih!” sela seorang berbadan gemuk.


”Aku tingkat pertama Prajurit Muda!” tambah seorang yang berbadan paling tinggi. Ada sisa otot kekarnya yang tampak dari tubuh dekilnya.


”Lalu, apa yang menyebabkan kamu diasingkan dari Tanapura?”


”Bukan diasingkan, tetapi sebenarnya pengusiran!” jawab orang itu.


Empat yang lain menahan tawa berat, ”Karena dia terlalu muda tetapi pikun berat, setelah membuat bom arak dan melempar ke muka seorang guru!” jawab seorang lain.


”Dihukum selamanya dan jadilah ia seperti sekarang!” orang yang bersangkutan terkekeh-kekeh.

__ADS_1


...* * *...


__ADS_2