The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)

The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)
4.12. Tiga Praja (1)


__ADS_3

Sementara itu, di tempat Taja, Lorr en dan Raojhin saat ini tersesat di tepi sungai, kedalaman hutan antah berantah.


”Hisap ini. Madu di dalamnya akan mengobatimu semakin membaik,” kata Taja seraya menyodorkan bunga hutan berbentuk seperti terompet dan seukuran genggaman tangan. Dari dalam dalam bunga itu, terdapat cairan madu, ”Jika merasa lapar, makanlah, kami tidak punya cukup buah-buahan di tempat tengah hutan seperti ini,” lanjutnya dengan menyodorkan lagi buah apel ranum di genggamannya. Raojhin menyambutnya lemah dan haus lapar, segera diseruput madu bunga itu.


”Kalian?” Raojhin tak menyangka siapa yang sudah menyelamatkan dirinya. Mendapati Taja dan Lorr En. Sesekali Raojhin menyentuh balutan di kepalanya dari sobekan kain seragam Taja. Masih tersisa pusing, namun sudah agak lebih ringan rasa sakitnya.


”Apa yang sudah terjadi padamu sehingga sampai terhanyut sungai sejauh ini?” tanya Taja setelah Raojhin tampak lebih baik keadaannya.


”Pada saat Rintang Alam, Bintani mendorongku sampai terperosok ke tebing dan terjatuh. Entah apa yang dirasakannya saat ini, mungkin saja dia sedang melapor kejadian palsu tentangku!” teringat kembali saat peristiwa itu, membuat Raojhin muncul kembali emosi.


”Dia bukan hanya sombong, tetapi licik juga!” tanggap Lorr En pernah melihat orang yang dimaksud.


”Jahat!” tambah Raojhin.


”Apapun yang telah dilakukannya, dia pasti akan menuai atas semua itu!” Taja ikut merasakan kepedihan Raojhin.


Mereka sebentar terdiam dalam pikiran masing-masing. Lorr En melempar puluhan sepah bunga yang dihisapnya, sementara Taja termenung seraya mengunyah satu dua gigitan apel. Sedangkan Raojhin sibuk meniru yang dilakukan mereka.


”Semenjak kau dikirim ke Pemukiman Sawo, setiap hari terasa tidak cukup semangat. Memang kita baru saling mengenal, tetapi bagiku ... kamu adalah bagian dari keluargaku,” kata Raojhin melempar pandang ke arah Taja yang meringkuk di sudut rongga bebatuan, ”Tentu kau juga, Lorr En! Kalian adalah keluargaku, bagiku ...,” katanya dan bertatap ganti pada Lorr En.


            Dua anak itu tersenyum saja sebagai balasan.


            ”Kalian hebat, murid-murid paling berbakat yang pernah aku kenal!” pujian Raojhin sama sekali tidak dimengerti Taja dan Lorr En.


”Hebat?” keduanya bersamaan mengulang satu kata dari ucapan Raojhin.


”Hebat apanya?” Taja tertawa renyah. Disusul geleng-geleng kepala Lorr En.


”Kau mengejek kami ya?” kali ini Lorr En menyeletuk.


Raojhin membuang tangkai apel yang tersisa dan mengulas senyum kecil sebelum mengungkapkan lebih banyak lagi tentang penilannya terhadap mereka berdua.


”Aku sempat iri pada kalian, hanya dalam waktu beberapa hari sudah berhasil mendapat peluang untuk menjadi warga istana. Sangat jarang ada yang bisa melakukan hal seperti itu, bahkan rasanya hampir tidak pernah. Andai saja aku memiliki sahabat-sahabat seperti kalian, mungkin hidupku tidak akan merasa sendiri lagi,” kata Raojhin.

__ADS_1


”Dan itu sudah terwujud. Kami bersahabat dengan siapapun yang peduli dengan persahabatan. Tanpa diminta, ikatan itu terjadi dengan sendirinya karena hubungan baik antarteman, tidak peduli dalam hitungan hari atau ratusan tahun,” kata Taja.


”Dan antarteman akan selalu bersikap jujur serta berterus terang, begitu bukan?” tanya Raojhin.


”Ya,” Taja membenarkan.


”Jika aku menceritakan tentang aku yang sebenarnya, apakah kalian juga bersedia menceritakan tentang kalian kepadaku?” tanya Raojhin serius.


Lorr En beralih pandang pada Taja yang terdiam memikirkan jawaban.


”Selama tidak melanggar aturan bangsa kami, maka aku bersedia menceritakan tentang kami,” jawaban Taja membuat Lorr En keberatan meskipun yakin bahwa Taja akan mengendalikan bicaranya agar rahasia dunia mereka tidak akan pernah terbongkar.


Raojhin enggan mengatakan kisah jati dirinya, hanya mengungkapkan sekedarnya saja, ”Aku pendatang di Tanapura, sama sepereti kalian,” kata Raojhin menunggu salah satu dari dua temannya berbicara.


Agak lama Taja menceritakan sebagian tentang dirinya, ”Aku penghuni hutan yang jauh dari sini, Lorr Enjuga. Sangat jauh sehingga manusia manapun tidak bisa menyentuhnya, hanya itu!”


Raojhin berkernyit dahi, ”Bagaimana dengan kasta kalian?”


”Kami hidup tanpa mengenal kasta, semua sama dan memiliki peran yang sama!” Lorr En menjawab kali ini.


Taja menoleh sebentar pada Lorr En sebelum menjawab, ”Raojhin, bukannya aku tidak percaya padamu. Tetapi kami tidak boleh mengatakan lebih banyak lagi tentang tempat itu, ada kutukan yang bisa menimpa kami jika membongkarnya. Maaf ...,” kalimat Taja lirih dan sempat membuat Raojhin bingung.


”Baiklah, tetapi jangan pernah ragu bahwa aku bisa dipercaya jika kalian ingin membicarakannya suatu saat nanti,” kata Raojhin.


Taja dan Lorr En hanya terdiam.


”Tetapi ... paling tidak ... kalian pasti punya tujuan hingga datang sejauh ini, bolehkah aku tahu?” tanya Raojhin tentang sesuatu yang lain.


Lagi-lagi kebungkaman Taja dan Lorr En menanggapinya. Raojhin menatap satu-persatu wajah mereka yang tampak tidak ingin menjelaskan atas pertanyaannya.


 


Sraaak ...! Sraaaaaaaak ...!

__ADS_1


            Suara-suara gagak terdengar lagi, tidak jauh dari sekitar tempat itu. Topik pembicaraan mereka buyar seketika dan beralih waspada.


            ”Aneh, mengapa banyak gagak di sekitar sini? Sudah sejak tadi kudengar kicau seraknya, sama sekali tidak enak!” Lorr Enmasih memasang telinga, mengintip lewat celah-celah bebatuan. Begitu juga Taja di sebelahnya. Tetapi Raojhin di belakang menyeletuk setelah agak lama memperhatikan lebih lama akan suara-suara gagak yang semakin bermunculan seiring hari kian gelap.


            ”Itu bukan gagak, tetapi suara peluit!” kata Raojhin membuat Taja dan Lorr En beralih padanya.


”Peluit? Bagaimana mungkin kau tahu?” Taja heran, tidak berbeda dengan Lorr En.


”Dari sini, aku bisa mendengarnya jelas bahwa itu suara peluit yang menirukan bunyi gagak. Peluit pertanda pasukan khusus. Tetapi aneh, tidak ada peluit berbunyi seperti itu dari orang-orang Tanapura. Itu artinya, di luar pasti ada pasukan asing! Semakin banyak bunyi peluitnya, berarti semakin banyak jumlah orangnya,” pendengaran Raojhin lebih tajam dari lain. Lebih dari itu, dia mengenal banyak jenis-jenis peluit khas Tanapura sehingga menyimpulkan demikian.


Raojhin memantikkan dua bongkahan batu lalu mendapatkan sepercik api setelah beberapa saat bersusah payah. Selanjutnya menyulutkannya pada kayu-kayu kering. Setelah itu menjadi api unggun kecil yang cukup menerangi sekitar mereka bertiga.


”Jangan terlalu besar apinya, aku takut kalau-kalau ada yang melacak keberadaan kita,” sergah Raojhin ketika Lorr En hendak menambahkan kayu-kayu lebih banyak lagi. Di dalam rongga bebatuan besar, mereka berkumpul mengitari api unggun.


Raojhin mengukir garis-garis di tanah. Ada sesuatu yang sedang dirancangnya.


”Ini arah menuju perbatasan utara Tanapura. Posisi kita berada di sini!” Raojhin menerangkan sesuatu. Taja dan Lorr En memperhatikan gerak tangan Raojhin sibuk mengukir tanah lembab dengan sebilah ranting.


”Pertigaan sungai ini tepat di depan kita, jika memilih arah ke selatan, kita bisa sampai di sungai perbatasan Tanapura besok pagi. Tetapi pada arah yang ke timur adalah Pemukiman Sawo, lebih jauh lagi adalah menuju perbatasan Timur Tanapura, lalu Pegunungan dan jalur menuju lembah asing yang sangat luas. Jangan ke arah ini, sebab hanya akan membawa kita semakin menjauh dari Tanapura!” sambung Raojhin yang lebih hafal peta Tanapura.


”Artinya, kita harus ke selatan?” Taja menebak pilihan yang sudah pasti.


”Benar!” jawab Raojhin.


”Kapan kita berangkat?” ganti Lorr En tanya. Belum sempat ada yang menjawab, suara-suara gagak terdengar lagi dan lebih mendekat. Raojhin langsung menginjak-injak api unggun sampai padam dan suasana kembali gelap.


”Sekarang!” jawabnya agak berbisik berat.


”Seperti ada yang menuju kemari, kita harus meninggalkan tempat ini sekarang juga. Ingat, usahakan agar tetap tidak terlihat,” kata Lorr En sejak tadi mengamati keadaan di luar persembunyian.


”Ayo cepat ...,” ajak Raojhin memandu langkah mereka.


Tiga sosok pemuda berhati-hati keluar dari celah bebatuan. Waspada sekeliling, dirasa cukup aman, mereka segera bergerak cepat, menerobos hutan lebat dan menyembunyikan keberadaan mereka bertiga.

__ADS_1


...* * *...


__ADS_2