
”Seorang murid? seperti murid di Tanapura, begitu? Sudah banyak masalah yang dijatuhkan padaku karena terdampar di tempat itu. Dan aku sangat ingin keluar dari sana. Untuk apa menjadi murid lagi? Untuk belajar apa?” secara tidak langsung, tampaknya Taja cenderung tidak tertarik akan tawaran Tuan Anjing Hitam. Dia langsung berpaling untuk pergi.
”Bagaimana dengan belajar berburu Mantera Penawar?” Tuan Anjing Hitam mengangkat mengingatkan sesuatu paling dicari. Taja kembali menoleh pada wajah gendra yang terangkat sebelah alisnya. Cukup menggelitik penasaran, kali ini anak itu berhasil terpancing.
”Mantera Penawar?!” Taja mengulang dua kata itu. Ketika ia ingin menyentuh Tuan Anjing Hitam, sosoknya berubah tembus pandang dan semakin memudar.
”Menoleh ke belakang!” suara yang sama dari arah pintu pondok yang cukup jauh di belakangnya, muncul Tuan Anjing Hitam.
”Bagaimana mungkin ...?” lagi-lagi keheranan Taja tak terjawab kecuali perasaan itu akhirnya hilang juga.
Taja memang menoleh. Rasa heran silih berganti, entah mengapa yang baru saja dikatakan Tuan Anjing Hitam sama dengan yang ada di pikirannya saat itu, Mantera Penawar!
”Jika kau ingin tahu, baru saja yang kau lihat adalah sukma-ku!” seru lelaki berambut panjang itu sambil mendekati Taja tidak lepas menatapnya.
“Mantera Penawar? Apa maksud Tuan?“ Taja mencoba memancing pikiran Tuan Anjing Hitam, karena itu ia berpura-pura tidak paham.
“Aku bahkan tahu siapa yang sedang memburumu sampai sejauh ini. Mereka sangat haus akan membunuh bocah sepertimu, menghabisi dirimu tanpa ampun, juga terhadap teman-temanmu!” satu alasan menjadi jawaban dari Tuan Anjing Hitam.
Keheranan Taja berubah kekhawatiran lain setelah mendengarnya bicara. Lebih-lebih yang dikatakannya justru melebihi dari yang diketahui.
“Tidak ada pilihan. Kalian tidak bisa pulang ke tempat asal atau ke tempat lain. Tidak ada lagi kebahagiaan hidup bersama bangsamu sendiri karena kebahagiaan itu sendiri telah berangsur-angsur memudar dengan cepat, dan setiap hari kau ikut merasakannya. Hanya ada kematian di masa depan bangsamu jika kalian ternyata gagal dalam misi,” Tuan Anjing Hitam berkata datar. Tetapi sangat menghanyutkan Taja dalam cemas.
”Dan ini bukan perjuangan yang mudah. Sangat beresiko dan berbahaya!” lanjut Tuan Anjing Hitam.
”Jadi, apa yang harus aku lakukan?” Taja agak bergetar. Sepasang bola matanya jadi berkaca-kaca.
”Kau harus mengikuti kata-kataku, pertama, ikut akau ke suatu tempat!” hanya itu yang terjawab sebelum Gendar melangkah lebih jauh lagi.
__ADS_1
”Kemana? Aku tidak punya waktu banyak!” Taja bertanya sebentar.
”Naiklah ke punggungku!” suruh Tuan Anjing Hitam.
”Ke punggung Tuan?” Taja tidak yakin.
”Jangan menunda waktu, cepatlah, sebelum senja, kita sudah harus sampai di puncak gunung itu!” Tuan Anjing Hitam menunjuk puncak pegunungan diselimuti kabut tebal membiru jauh di ufuk timur, tepat sinar sang Surya muncul di belahan dua gunung yang mengapit.
Tanpa bertanya lagi, Taja hinggap ke punggung Tuan Anjing Hitam yang berbadan tinggi besar, kemudian ia berlari sangat cepat, hampir seperti angin.
”Siapa sesungguhnya pria ini?” pikir Taja dalam hati namun mampu didengar oleh Tuan Anjing Hitam.
”Aku hanya Tuan Anjing Hitam, itu nama Tanapura-ku. Percampuran bangsa Yallen dari Kakilangit dan Mahelya, bangsa kuno yang telah punah ratusan tahun lalu, sebagian besar mereka berbakat sihir!” Jelas Tuan Anjing Hitam dalam larinya, menyeruak hamparan tumbuhan Mei Hua setinggi ilalang.
”Jadi, Tuan adalah adalah penyihir?”
”Sudah dari lahir berbakat seperti itu! Sudah menjadi insting kami!” seru Tuan Anjing Hitam.
”Enak saja! Sudah tidak berlaku tawaranku, bukankah sudah kaut tolak tadi?”
”Siapa yang menolak?”
Tuan Anjing Hitam mencibir, ”Huu ...!”
”Lebih baik Tuan menerimaku daripada kejatuhan kutukan akibat melanggar sumpah!”
”Bah!” Tuan Anjing Hitam cemberut. Sebaliknya, berganti Taja yang tertawa.
__ADS_1
Derai tawa keduanya membelah kesunyian lemah menuju ufuk timur. Mei Hua semakin banyak bermekaran sepanjang jejak lari Tuan Anjing Hitam meninggalkan belahan jalan setapak di tengah rapatnya hamparan bunga-bunga bergoyang karena angin sepoi-sepoi, tertiup menjadi serpihan kelopak kuning keputih-putihan dan bertebaran.
”Itu Klawu!!!” selayang pandangan Taja tertuju pada kuda putih yang muncul tiba-tiba di ujung persimpangan menuju kaki gunung, menghampiri Tuan Anjing Hitam yang berkelebat cepat dan menyamai larinya.
”Mengapa tidak menungganginya saja? ”
”Tidak akan sampai sejauh aku, sekalipun kuda jantan dan sekuat dia! Puncak Meula bukan tempat kuda, karena sangat rahasia dan tersembunyi!” Tuan Anjing Hitam membanggakan diri.
”Oh ya?!” Taja sedikit menggoda padangan Tuan Anjing Hitam yang terhalang rambut panjangnya sendiri tersibak angin.
”Berpeganglah lebih kuat, aku akan lebih cepat lagi!!” seru Tuan Anjing Hitam.
”Waaaa!!!” Taja dikejutkan gerakannya yang terlalu tiba-tiba sehingga terdorong ke belakang.
Hamparan rapat daun-daun Mei Hua terbelah, pepohonan perdu terkantuk-kantuk, kerikil-kerikil halus berloncatan sepintas mereka berlalu cepat meninggalkan jejak membentuk jalan setapak ke ujung hamparan semak belukar lebat. Tidak ada seorangpun menyaksikan dua sosok itu kecuali kuda Klawu yang berhenti hanya sampai di tanah bebatuan menjorok keluar kaki gunung.
Tepat pada menjelang senja, mereka hampir tiba di salah satu puncak yang cukup tinggi. Dalam kesunyian gunung nyaris tanpa deru angin.
”Aku merasa panas! Persis dari tumit kakiku ...,” Taja lumayan kegerahan menapak selangkah demi selangkah makin naik ke puncak. Tuan Anjing Hitam tidak jauh di depannya, juga agak kelelahan.
”Persis di bawah kita adalah gunung berapi,” kata Tuan Anjing Hitam membuat Taja cepat-cepat menyusulnya.
”Untuk apa kita ke sini?”Tuan Anjing Hitam diam saja, belum ada jawaban pasti sejak tadi setiap kali Taja menanyakan itu. Sebentar ia berhenti di tanah agak datar terbentang di tepian lereng gunung.
Sesekali Taja juga menengok ke bawah, sangat tinggi. Semakin sesak rasanya setiap kali menambah langkah.
”Kau akan tahu nanti. Sepertinya waktu kita belum cukup sampai ke sana. Dan sebelum fajar menyingsing, kita harus sudah sampai di Meula. Sebentar saja kita singgah di sini,” Tuan Anjing Hitam memasang kayu-kayu sedapatnya. Ia duduk bersila di tanah keras tidak rata. Sebentar menggesek-gesekkan dua batu untuk mendapatkan api, tetapi tidak cukup berhasil karena batu-batu kecil di sekitar sangat rapuh, belum-belum sudah hancur.
__ADS_1
”Ini bebatuan kapur, tentu saja karena kita sedang berjalan di gunung batu kapur, sangat panas dan gersang,” sesekali Tuan Anjing Hitam melempar batu-batu. Kemudian digunakannya cara lain untuk mendapatkan secercah api. Terdiam beberapa saat menahan nafas dan berhembus teratur, Tuan Anjing Hitam membuka mata, sambil mengacungkan dua jari ke arah tumpukan kayu kering.
...* * *...