
“Perasaanku tidak enak.”
Kecuali sepasang tangannya masih setengah-setengah enggan menyulam kain sutra yang terbentang, Shaninka menatap keluar jendela terbuka. Langit mendung tampak kurang bersahabat. Pikirannya semakin mencemaskan sesuatu. Namun air muka seperti itu tidak bertahan lama menyembunyikan sikapnya di hadapan Putri Alingga.
“Kamu sedang memikirkan mereka? Sejak kapan kamu dekat dengan Taja dan Lorr En?” tanya Putri Alingga, menebak isi pikiran Shaninka. Pertanyaan itu menghentikan tangan-tangan Shaninka semula sibuk dengan jarum dan benang bercorak warna.
Putri Alingga memberanikan diri untuk membicarakan sesuatu yang sejak kemarin dipendam, “Jujurlah, bukan tentang ayah Taja yang sebenarnya sedang kalian cari. Tapi sesuatu yang lain. Lorr En berani mengambil resiko berat karena menyusup ke ruang pusaka bukan untuk melihat silsilah kerajaan!”
Shaninka menangkap kecurigaan putri Alingga. Dari caranya menatap, putri kesayangan raja itu seolah menuding serius, “Jika hanya silsilah raja, siapapun meminta izin untuk menanyakannya pada ahli istana, tidak perlu sembunyi-sembunyi!”
“Apapun yang kalian cari, tidak akan menyeret kalian pada hukuman tidak terampuni selama kalian tidak lancang menyusup ke ruang pusaka,” rupanya putri Alingga mengungkit kembali kejadian saat memergoki Shaninka dan Lorr Endi ruang pusaka yang paling dijaga. Shaninka surut dalam tatapan putri Alingga yang seolah memaksanya berbicara.
“Apa sebenarnya yang kalian cari?” kali ini nada suara putri lebih tenang, “bicaralah padaku sejujurnya sebelum kalian merasa tidak ada lagi yang bisa dipercaya.”
Putri Alingga menggenggam tangan Shaninka yang dingin, “Shan, aku berjanji akan merahasiakan apapun yang menjadi rahasia kalian, dan aku akan membantu kalian.”
Wajah putri yang polos sungguh tidak menampakkan licik sedikitpun. Dan ia bukan seseorang yang pantas dianggap jahat. Jika memang seperti itu, mungkin ia sudah melaporkan Lorr En pada penjaga istana atau pada ayahnya.
Shaninka memandang putri Alingga cukup lama dalam bungkamnya. Dan saat itu pula, akhirnya ia merasa harus berbicara padanya.
“Apapun itu, sungguh putri akan menolong Taja dan Lorr En?” Shaninka tampak ragu. Putri Alingga mengangguk seiring senyum kecil yang tulus.
“Aku perlu tahu tentang sebuah pusaka. Itu sangat penting sekali bagi kami ...,” kata Shaninka.
__ADS_1
“Pusaka apa?” tanya putri Alingga.
“Mungkin saja benda ini ada di ruang pusaka, maka Lorr En nekad menyusup ke sana,” kata Shaninka sambil mengeluarkan secarik kertas terlipat dari balik kain yang mengikat pinggangnya. Setelah menerima kertas itu dan membukanya, putri terlihat serius memperhatikan gambar terpampang.
“Kalian menyebut benda ini pusaka?!” putri sesaat tertawa setelah raut mukanya heran. Shaninka balik keheranan melihat tanggapannya seperti itu.
“Ini bukan pusaka!” tawa putri Alingga berhenti, “aku yakin sekali ini hanya sejenis ...,” ia terdiam sejenak sebelum menyimpulkan beberapa kata dari bibirnya yang mungil, ”... tusuk konde!”
Shaninka terbelalak, secepat itu sepasang matanya membulat.
“Tusuk konde?!” ia sama sekali tidak percaya mendengarnya.
“Ya, tusuk konde seperti yang ada di ujung rambut kita!” putri Alingga menunjuk gulungan rambut di puncak kepalanya sehingga rambutnya terurai panjang.
Putri Alingga melepas tusuk konde di rambutnya, lalu membandingkannya dengan milik Shaninka, “Sebenarnya sama. Tusuk konde yang kamu pakai hanya tusuk konde biasa. Bentuknya sederhana dan terbuat dari kayu saja. Tapi selain itu, ada banyak sekali tusuk konde, ada dibuat dari tulang, gading, logam, atau batu giok. Apalagi tusuk konde yang khusus dipakai para permaisuri saja, ukurannya mencapai sepanjang kaki wanita dewasa dan tentu sangat berat!” penjelasan putri sangat mengejutkan Shaninka yang tidak pernah melihat benda penghias rambut semacam itu.
“Ikut aku ke Istana Bersolek,” putri Alingga cepat-cepat menarik Shaninka ke luar ruangan menyulam pribadinya. Mulai menginjakkan kaki ke luar pintu, beberapa dayang mengikuti mereka sepanjang koridor yang menuju tempat di balik gerbang banyak pahatan kepala-kepala burung Hong.
“Ke mana kita?” mata Shaninka tak henti berputar ke sekeliling.
“Temanmu itu menyusup ke tempat yang salah. Tentu saja benda yang kalian cari tidak ada di ruang pusaka. Karena itu bukan jenis pusaka!” putri Alingga berbisik ke dekat telinga Shaninka.
Selama bersama Putri Alingga, tidak terlalu sulit untuk sampai di hadapan sepasang pintu besar bertuliskan aksara muno. Tanpa bertanya, si pembawa kunci yang selalu berada di sekitar tempat itu, segera membukakan pintu dan mempersilakan mereka masuk.
__ADS_1
“Sebut saja, ruang ini adalah Istana Bersolek, benda-benda para permaisuri sejak 500 tahun lalu, “ Putri Alingga membentangkan kedua tangannya. Ruangan itu luas sekali. Atap dan pilarnya tinggi-tinggi. Ada sekat tirai yang memisahkan beberapa ruang lagi di dalamnya. Sekeliling dinding penuh lukisan-lukisan permaisuri.
“Dia ibuku ...,” putri Alingga menunjuk salah satu lukisan terpampang dan mendekatinya, “setelah ia meninggal, ayah tidak pernah mengangkat seorang permaisuri lagi.”
“Ia sangat cantik!” puji Shaninka yang pertama kali melihat.
“Lihat konde di rambutnya, besar dan tinggi!” kata putri Alingga mengingatkannya akan tujuan mereka datang ke tempat itu, “semakin besar dan tinggi tusuk kondenya, menandakan derajat si pemakai semakin tinggi pula.”
Putri Alingga menggiring lebih ke dalam lagi. Ke suatu ruangan di balik tirai, di setiap dindingnya terpajang ratusan konde.
“Wow! Aku pasti salah tempat!” Shaninka mengelak dirinya sedang berada tempat sangat pribadi seperti yang dilihatnya saat itu. Tentu saja karena bantuan putri Alingga.
“Banyak sekali! Polos atau berhiaskan permata, tetapi semuanya berpola sama. Pangkalnya melebar atau bulat, dan ujungnya meruncing. Ternyata memang benar gambar ini lebih mirip tusuk konde daripada senjata atau pedang,” kata Shaninka semakin memperhatikan gambar di kertas yang dipegangnya, lalu membandingkan dengan ratusan tusuk konde yang tertata rapi di dinding.
“Tetapi ...,” sepasang mata Shaninka menelusuri ratusan konde terpajang di dinding, “Apakah tusuk konde yang tergambar itu berada di antaranya?”
Shaninka tidak menyadari sejak memasuki ruangan itu, Putri Alingga memperhatikannya tengah kebingungan.
“Shan, setiap tusuk konde di sini punya nama, aku bisa membantumu untuk memeriksa daftar satu persatu tusuk konde itu. Tapi ....”
Putri Alingga lebih mendekat lagi pada Shaninka, “Aku ingin tahu, mengapa Lorr En berani sekali menyusup ke ruang Istana Pusaka hanya demi membuktikan tentang gambar tusuk konde itu?”
Shaninka menghadap Putri Alingga menatap serius. Namun lidahnya kaku untuk menjawab pertanyaan itu. Putri Alingga terdiam, menunggu jawaban darinya.
__ADS_1
...* * *...