
Suatu ketika, terjadi perbincangan antara Taja, Lorr En, Purwa, Yuangga, Rambiloto, Winara dan Kaninggaluh.
“Raojhin. Dia datang ke Tanapura setahun lalu. Pendiam dan penuh teka-teki. Tidak ada yang berteman dengan dia saat itu. Semua orang tidak tahu apa alasan dia diterima Kesatuan Praja, kecuali Ketua Sujinsha. Tapi seiring waktu, Raojhin membuktikan kemampuannya unggul dalam setiap pelatihan, skor poinnya melonjak tinggi. Dalam setahun, dia berhasil mencapai Kelas Naga. Padahal dulu, dia dari Kelas Kancil. Sekarang, dia menjadi kebanggaan Kesatuan Praja Tanapura. Setiap ada pertandingan antar sekte, dia selalu diikutsertakan untuk mewakili Tanapura.”
Rambiloto menjelaskan cukup lebar pada Taja tentang praja bernama Raojhin.
“Dia selalu mendapat juara 3 besar dalam setiap kompetisi, melawan pesaing senior!“ Purwa menyeletuk dari tempat tidurnya.
“Awalnya, Raojhin sering menjadi olok-olokan, diremehkan banyak praja yang usil seperti Bintani,“ kata Rambiloto.
“Kalau Raojhin bisa menjadi unggul, kenapa kita tidak?” tiba-tiba Taja membandingkan keberhasilan Raojhin. Sebentar ia memandang keluar dari jendela terbuka, tampak beberapa murid berlatih beladiri di halaman bawah asrama. Itu sudah bukan pemandangan pertama kali setiap sore seperti ini. Tertangkap pula oleh penglihatannya, praja-praja senior mondar-mandir koridor menuju perpustakaan umum setelah latihan berakhir.
“Mengapa kita selalu santai dan enak-enakan di kamar? Mengapa kita tidak seperti mereka, giat berlatih dan menyibukkan diri untuk menghadapi ujian nanti?“ tanya Taja beralih topik pembicaraan seputar tim sendiri.
“Lihat praja-praja itu! Tidak melewati setiap jadwal latihan,“ tambah Taja menunjuk ke bawah pelataran sana. Serentak, sebelas anggota tim Kancil menyusul ke jendela seperti yang dilakukan Taja. Mereka ikut mengamati praja-praja yang sedang latihan bela diri di bawah sana.
“Ini hari libur, ‘kan?” kali ini, Kaninggaluh menanggapi asal saja.
“Setiap hari bagi kalian adalah hari libur,” Taja menyindir.
“Sedangkan mereka, tidak pernah ada kata libur. Selalu giat latihan,” timpal Rambiloto berpihak pada Taja, mulai membandingkan praja-praja di luar tim Kancil.
“Mereka punya semangat dan cita-cita sejati,” Yuangga menimpali.
“Sedangkan kita, kemana saja selama ini?“ tanya Taja tanpa heran sedikitpun karena memang begitu adanya tim Kancil Putih yang santai, lebih tepat disebut tim pemalas.
“Sebenarnya aku juga ingin menjadi praja unggulan. Tapi entahlah, setiap kali aku mencoba, aku selalu diolok-olok,” kata Kaninggaluh membuka suara, mewakili teman-temannya sibuk tertegun. Mereka nyaris tanpa kata lantaran pasrah tanpa tanggapan. Kecuali tatap mata mengamati praja-praja di sana sibuk berlatih.
__ADS_1
“Aku juga begitu!“ tambah Purwa.
“Berulang kali kami diremehkan, akhirnya kami benar-benar jera!“ kata Winara.
“Aku ingat saat paling buruk ujian tahun lalu setelah 4 minggu kami mati-matian latihan, tapi mereka menertawakan penampilan kami. Kata mereka …,” sejenak Yuangga tidak melanjutkan kata-katanya.
“Kami kancil tuli dan tolol!“ sambung Winara meneruskan kalimat Yuangga.
“Siapa yang berkata seperti itu?” tanya Taja.
“Siapa lagi? Para guru, pelatih dan praja-praja tim unggulan di sini,” jawab Winara.
“Lalu kenapa kalian peduli olokan mereka? Jika gagal, kalian harus mencoba lagi. Masih gagal juga, coba lagi selama nafas masih di kandung badan. Buktikan bahwa kalian bukan praja tolol dengan mainannya,“ tanggap Taja memberi semangat.
“Tetapi, terlalu lama di olok-olok dan diremehkan, kami jadi malu. Aku berpikir, mungkin tidak berbakat jadi praja," Yuangga terdengar pesimis.
“Lalu kalian akan membiarkan mereka berlaku seperti itu terhadap kalian? Sampai kapan? Selama menjadi praja atau seumur hidup? Berprestasi agar mereka berhenti menghina. Buktikan bahwa olokan mereka tidak benar!“ balas Taja tegas.
“Ya, seperti sekarang ini. Siapa yang akan melatih kita di luar pelatihan wajib? Siapa yang bersedia meminjamkan kitab ilmu dan senjata selain perpustakaan umum? Semua kitab di perpustakaan umum yang kami butuhkan hampir habis di pinjam oleh praja-praja lain sebelum kami mendapatkannya. Lalu kami harus bagaimana?“ sahut Yuangga membenarkan.
“Tidak seperti Bintani atau Birrawa. Mereka punya ayah atau latar belakang keluarga bangsawan. Tentu punya banyak pelatih pribadi. Tinggal minta saja, bantuan akan datang. Tapi kita?“ kedua lengan Rambiloto membentang dan bahunya sedikit terangkat.
Taja melihat beban dalam diri teman-temannya. Memang benar semua yang dikatakan. Selama ini, Kancil hanya satu regu yang dikucilkan dan tidak punya peringkat.
“Seandainya aku boleh memilih, aku lebih ingin menjadi seorang petani saja. Aku tidak mau jadi prajurit kalau caranya seperti ini. Jika suatu hari nanti Paduka memanggilku untuk berperang, maka aku bersiap membawa pisau atau anai-anai, lalu maju dan membunuh setiap musuh yang ada di depanku. Jadi, tidak perlu menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk menjadi prajurit yang selalu diremehkan!“ kata Yuangga mulai berandai-andai.
”Ya, kamu lebih dulu mati di barisan paling depan. Sementara lawan adalah ratusan ribu praja terlatih, sedangkan kamu petani biasa!” sela Rambiloto.
__ADS_1
“Untuk apa kita berada di Kesatuan Praja Tanapura jika selalu diremehkan?!“ terdengar Yuangga menyahut, bersungut-sungut.
“Kita kurang berbakat, tetapi justru diabaikan. Seharusnya mereka lebih memperhatikan murid-murid yang seperti kita ini, bukan semakin mengucilkan kita!“ tegas Kaninggaluh, angkat bicara.
“Mereka tidak adil!“ kali ini Purwa menangis. Yang lain terkejut melihat praja mungil ini berperawakan paling kecil, berlinang air mata.
“Aku tidak peduli kalau mereka akan mengolok-olok aku, Praja Cengeng. Aku menjadi praja hanya karena menghindari nasib menjadi budak rendahan,“ lanjutnya tambah berurai air mata.
“Budak?” kali ini Lorr En bersuara. Baru saja ia terjaga setelah cukup lama ikut mendengar saja pembicaraan di antara mereka. Semua menoleh sebentar ke arahnya.
”Apa buruknya menjadi budak?” heran Lorr En bertanya lagi. Hampir semuanya geleng-geleng kepala.
”Pelayan seumur hidup sangat setia pada tuannya!” jawab Rambiloto.
”Tidak begitu buruk kedengarannya,” kata Lorr En garuk-garuk kepala dan berniat menghempaskan punggungan ke bantal lagi.
”Terlebih memenuhi satu syarat untuk menjadi abdi Paduka, ’anu’-mu harus dipotong!” tambah Kaninggaluh membuat Lorr En bergegas bangkit.
”Apanya?” tanya Lorr En dengan ekspresi cenderung tolol dari pada polos. Semua tangan menunjuk ke bawah perut Lorr En, terakhir ia sendiri melihat ke arah sama.
”Hah?!” Lorr En tercengang dan segera reflek menutupi area tubuhnya yang satu itu. Taja tersenyum kecil melihat air muka Lorr En mendadak kemerahan karena takutnya.
”Jangan bersedih, Purwa. Bukan cuma kamu yang ada di tim lemah ini,“ ujar Taja pada Purwa, diikuti lainnya mencoba untuk menenangkan praja mungil itu. Semua tahu bahwa dari sekian anggota dalam Tim Kancil, Purwa yang paling cengeng dan dianggap lemah. Setidaknya, seperti itulah julukan dari teman-temannya, meskipun sebagian menaruh cap pada Purwa sebagai Cenayang Mimpi.
“Menangislah, Purwa. Itu akan membuatmu lega,” kata Taja.
“Aku tahu ini beban, tetapi semua anggota tim Kancil harus berupaya lebih keras untuk keberhasilan kita semua.“
__ADS_1
"Mari kita berjuang!"
...* * *...