The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)

The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)
4.03. Senja Gerhana


__ADS_3

Bayang-bayang senja berlalu kala malam berganti menyelimuti dataran Pemukiman Sawo di balik perbukitan lembah. Ketika semua aktifitas penghuni di sana belum usai, sebagian besar dari meeka masih bergelut dalam kesibukan masing-masing. Kehidupan rakyat berstatus sosial menengah ke bawah, pandai besi, peternak dan petani berbaur dalam rumah-rumah sederhana.


Jalanan gelap, agak becek karena hujan rintik-rintik yang melanda sejak siang. Ada kedai-kedai sederhana berdiri di tepian jalan setapak menuju Pemukiman Sawo.


Para penggembala kuda mulai beristirahat di dalamnya, menghabiskan waktu dengan makan minum dan bercerita tentang banyak peristiwa yang terjadi hari itu.


Teriakan dan derai tawa anak-anak perempuan sedang menyaksikan hiburan satu-satunya opera kampung seperti malam-malam biasanya. Sedangkan para rakyat lanjut usia lebih suka berpesta buah setelah menuai panen. Aktivitas desa yang selalu sibuk, hampir tidak pernah tidur.


Seorang anak berpakaian coklat tua tergopoh-gopoh, setengah berlari keluar dari perahu dayung menuju jalanan kampung.


“Hei, kamu … dari mana saja?” sapa sejumlah penduduk desa yang kebetulan dilaluinya. Dari wajah yang tersembunyi di balik jubah, ia menoleh, “Maaf, aku tersesat …,” balasnya sambil berlalu.


Orang-orang berikutnya ikut berkata, “Hei, Nak! Utusan dari istana mencarimu beberapa hari ini, dan kami berkata pada mereka bahwa kamu telah kabur dari sini.”


“Itu bukan salah kami karena kamu pergi tanpa ada keterangan,” sahut yang lain.


“Terima kasih. Maafkan saya jika membuat kalian cemas,” balas anak lelaki. Langkahnya semakin cepat menuju peternakan kuda. Sesampainya di gerbang peternakan, beberapa orang menghadang.


“Hei, Taja! Murid Calon Prajurit. Aku tahu rasanya tidak mudah menjalani hukuman di tempat kumuh seperti Pemukiman Sawo. Karena itu berusahalah kabur selagi bisa, tetapi untuk apa kamu kembali ke sini?” tanya salah satu dari mereka.


Anak lelaki yang tidak lain adalah Taja, berhenti di depan gerbang masuk desa, menyingkap jubah yang menutupi kepalanya dan mengabaikan pertanyaan tidak serius orang-orang di sana sekitar kepergiannya.


“Saya tidak melarikan diri, Tuan! Karena itu saya kembali. Permisi …,” jawab dia singkat karena tidak tahan akan kecerewetan mereka. Kemudian menuju gudang jerami yang terdapat sepetak ruang sempit untuknya beristirahat.


“Taja, dari mana saja kamu?” Gentho, kepala peternakan memergoki anak itu sedang mengendap-endap disekitar ruang jerami. Ia menyembulkan kepalanya lewat pintu setengah badan yang sudah keropos dimakan waktu cukup lama. Menyadari ada yang melihat, Taja cepat-cepat menyembunyikan buntalan kain usang ke dalam sela-sela tumpukan jerami kemudian berlagak bingung akan menjawab apa, karena itu hanya pasang aksi melongo.


“Jangan lakukan itu, petugas istana mencarimu beberapa hari ini. Kalau mereka melaporkan hal-hal yang tidak benar tentangmu, maka bukan hanya kamu yang akan dapat masalah, tetapi aku juga,” kata Gentho.


“Maaf … saya tersesat,” jawab Taja.

__ADS_1


“Tersesat? Apa maksudmu?” Gentho membuka pintu terbuat dari bambu, engselnya yang karatan menimbulkan bunyi ’kriet kriet.'


“Sepulang dari menggembala, saya tersesat … tidak tahu berada di mana, mereka meninggalkan saya, tidak tahu arah berjalan kemudian saya menemui sebuah ngarai.”


Gentho mencoba untuk mengingat-ingat hari itu ketika ia menyerahkan pada salah seorang anak buahnya pada saat akan menggembala kuda ternak. Seketika ia terbelalak setelah ingat betul hari itu.


”Jangan kau kira aku membiarkan mereka tenang setelah hilangnya dirimu, aku mengurung mereka sebagai hukuman. Tidak cukup sampai itu, setelah selama ini akhirnya aku tahu cara mereka dalam bekerja tidak sungguh-sungguh serius mengakibatkan kamu dan seekor kuda istana hilang.”


”Kuda istana hilang?” tanya Taja tidak salah, tiba-tiba ia ingat seekor kuda berwarna putih yang membuatnya terperosok ke jurang lalu akhirnya tersesat.


”Ya, kuda Klawu, tunggangan Paduka. Sampai sekarang tidak ditemukan. Karena itu mereka harus dihukum menurut peraturan negara, itu kecerobohan mereka sendiri.”


”Klawu tidak apa-apa. Dia baik-baik saja di dalam hutan. Saya melihatnya berada di di sisi tebing, tetapi entah di mana itu?” jelas Taja yakin.


Gentho mengangkat alis, ”Di mana?” wajahnya berubah sangat antusias ingin tahu.


”Saya tidak ingat tempat itu!”


”Kau bohong!” Gentho tak mudah percaya.


”Sungguh! Saya tidak ingat tempat itu, yang pernah ku lihat hanya ngarai, rawa, tebing, dan sebuah pondok tua terkurung dalam palang-palang dan berantai besi.”


Keterangan Taja membuat Gentho bergidik dan mengusap-usap kepalanya botak di bagian depan dengan sisa uban di bagian belakang , ”Jadi, apakah kau bertemu si Tua Gila itu?”


”Si Tua Gila? siapa?”


Gentho bergidik lagi, ”Hiiiy! Pemakan manusia!”


“Tuan Anjing Hitam maksud Tuan? Dia baik-baik saja dan sangat sehat, rasanya dia akan cocok jadi guruku.”

__ADS_1


Gentho semakin dibuat nafas tersengal-sengal, terkejut terlalu tidak percaya sampai-sampai tak dapat bersuara lagi mendengar cerita Taja yang ringan dan ceplas-ceplos, “Gila ...,” desisnya menelan ludah.


“Hampir saja aku dimangsa … tetapi beruntung semuanya baik-baik saja,” kata Taja sambil sibuk membenahi jerami-jerami untuk pembaringannya tidur. Tidak peduli seberapa Gentho memperhatikannya semakin heran terhadap sikap anak itu yang tampak tidak pernah terjadi sesuatu.


“Ada apa?” Taja merasa aneh ketika Gentho mengamati dirinya dari ujung kaki sampai ubun-ubun, “Apa benar kamu baik-baik saja?” Tanya Gentho sekali lagi.


“Ya,” jawab Taja mantap dan mengulas senyum. Gentho geleng-geleng kepala.


“Aneh! Banyak ternak yang hilang sudah bertahun-tahun lalu, dan dari semua yang hilang ... hanya kau yang kembali,“ kata-kata Gentho disambut satu senyuman lagi, dan tanpa beban Taja menyahut, ”Itu karena aku bukan kuda, aku bisa bicara dan bergerak cepat!”


Gentho lagi-lagi geleng-geleng kepala, meninggalkannya dalam kesunyian ruang bertumpukan jerami.


Malam mulai larut. Mendung hitam kemerahan pekat semakin tebal menyelimuti langit-langit dan gerimis berubah menjadi hujan tanpa malu-malu, mengguyur perkampungan Pemukiman Sawo yang hening, kecuali terdengar bunyi deras hujan di luar ruangan remang-remang tempat Taja membaringkan diri.


Hanya dengan bantuan lentera kecil, dia membaca Kitab Hiwa, di balik selimut usang yang membungkus hampir tubuhnya yang duduk meringkuk. Setelah lama, dia cepat-cepat beranjak keluar berselimut jubah, menerobos hujan lebat menuju kedai minum yang justru padat pengunjung.


“Ada apa, anak muda?“ seorang pelayan menyambutnya di depan pintu masuk.


“Bisakah saya mendapatkan segelas madu hangat,” pintanya. Sesaat pelayan itu mengambilkan sesuai pesanan.


“Lima keping perak,” katanya setelah menyodorkan segelas madu hangat di meja.


Taja diam, tanpa berbuat apa-apa. Padahal di tangannya tidak ada uang kecuali buntalan berbungkus kain usang.


“Aku tahu, Gentho saja yang membayar tagihan besok,” pelayan lebih dulu berbicara itu sebelum meninggalkannya dan kembali dengan secangkir madu hangat.


Taja menyadari banyak pasang mata diam-diam memperhatikan gerak-geriknya, sampai dia risih.


...* * *...

__ADS_1


__ADS_2