Tirai Kasih yang Terkoyak

Tirai Kasih yang Terkoyak
Bab 105: Bertemu Gadis Cantik di Negeri Gajah Putih


__ADS_3

Ryan langsung mengangguk, dia akhirnya pelan-pelan menjelaskan misinya datang menemui Johanes.


Dengan apa adanya Ryan bilang ingin di latih mantan seterunya ini, karena jam terbang Johanes sangat panjang di bandingkan dirinya.


Mantan juara nasional ini terlihat menghela nafas panjang. Lalu memperlihatkan tulisan di papan. “Aku ingin bantu kamu, tapi kamu lihat kondisiku dan keluargaku!”


“Bang, kalau Abang mau bantu melatihku, aku akan membayar Abang dan akan mencarikan Abang tempat tinggal yang baru dan layak!”


Johanes kini saling pandang dengan Mba Ega istrinya. Johanes lalu mencoret-coret lagi di papan dengan kapur, dan tulisan itu berbunyi, minta waktu 3 hari untuk berpikir.


Trenyuh juga Ryan melihat Johanes begitu, dia janji dalam hati, akan membelikan sebuah ponsel pintar, agar Johanes lebih mudah menulis. Tak lama Ryan pun permisi pulang.


Bang Ramon tersenyum mendengar kisah Ryan, tapi sekaligus kaget dan prihatin mendengar penderitaan manta juara nasional itu.


“Kasian sekali Johanes, padahal usianya masih muda bari 31 tahunan, tapi yah, itulah resiko pertandingan keras ini. Kamu masih ingatkan Mc Gregor, si mantan juara dunia itu? Andai dia tak kaya raya, bisa jadi kakinya akan di amputasi usai patah melawan musuhnya!” cerita Bang Ramon.


Ryan pun mengangguk, gara-gara inilah Ryan tak mau lagi main-main, dia berlatih sungguh-sungguh di sasana.


Tiga hari kemudian, Ryan kaget sekaligus senang, saat Johanes muncul di sasana dan mengaku siap melatih Ryan.


Bang Ramon ikut menyambut Johanes dan memeluk pria kurus ini. Sama seperti Ryan, Bang Ramon juga pangling melihat Johanes yang kini sangat beda dengan dulu.


Tubuh Johanes dulu kekar dan berotot keras, kini terlihat ringkih dan memakai baju dan celananya pun agak ke dodoran.


“Sisa waktu kini tinggal 2,5 bulan lagi, Abang aku gaji 50 juta untul latih aku. Oh ya untuk rumah, sementara Abang tinggal di samping Sasana ini, ada tempat yang kosong, daripada Abang bolak-balik saban hari, kan sewanya juga habis minggu depan!”


Johanes langsung mengangguk senang, lebih berbahagia lagi usai latihan perdana. Dia menerima ponsel pintar dari Ryan.


Sehingga Johanes tidak perlu lagi bawa-bawa papan tulis kecil dan batu kapur, juga depe melatih 25 juta, yang di terimanya sambil menitikan airmata.

__ADS_1


Padahal dulu saat aktif jadi petarung, Johanes rata-rata di bayar 150 juta hingga paling murah 75 jutaan. Namun semua uang itu kini ludes!


Sehabis kuliah, Ryan di beri Johanes petunjuk dan di latih intensif, bahkan titik lemah Panchorn Ado pun di buka Johanes, yakni kakinya kirinya.


“Kamu pukul kaki kirinya, maka di sana lah titik lemahnya. Kalau wajah dan perutnya, sama juga bohong. Panchorn Ado terkenal tahan pukul! Waspada kedua tangannya, dia mempunyai pukulan istimewa, kedua tangannya sama-sama kuat dan selalu bikin musuh-musuhnya KO. Kaki kirinya dulu pernah retak…akulah yang meretakannya dan sampai kini jadi titik lemahnya, tapi banyak yang tak tahu!”


Demikian lah Johanes benar-benar serius melatih Ryan, di samping Bang Ramon yang juga ikut mendampingi.


Seminggu sebelum bertanding, Ryan berangkat ke Bangkok, awalnya Johanes tak mau ikut, tapi Ryan memaksanya, sehingga Johanes terpaksa mengiyakan. Walaupun dalam hati senang juga bisa sekalian jalan-jalan ke LN.


Selain Johanes, juga Bang Ramon dan dua stafnya, juga promotor Aseng Jaya bersama asistennya.


Ryan sengaja seminggu sebelum bertanding ke sana, untuk lebih beradaptasi dengan lingkungan di Bangkok. Tak ada gentar-gentarnya Ryan bertanding di negeri Panchorn Ado, sang juara bertahan yang baru 3,5 bulanan lagi kanvaskan musuhnya di ronde ke 2 dari Philipina.


Johanes dan Bang Ramon minta Ryan selama semingguan ini jangan terlalu forsir berlatih, justru harus di bawa relaxs.


Hari ke 2 berada di Bangkok, Ryan pagi-pagi sudah jogging seorang diri di bibir pantai, yang tak jauh dari hotel tempat mereka menginap.


Setelah berlari kecil hampir 2 kilo, Ryan sampai di sebuah jalanan yang tak begitu ramai, dia kaget melihat seorang wanita berambut panjang sedang rundung 2 lelaki.


Wanita itu terlihat sedang jongkok memunguti buah-buahan jualannya yang berhamburan di lempar salah seorang lelaki perundung itu.


“Heiii hentikan,” seru Ryan dalam Bahasa Inggris, di Bangkok bahasa ini juga jadi percakapan sehari-hari warganya.


“Wahhh ada jagoan cari masalah rupanya,” si pria yang tadi mendorong jualan di wanita ini mendekati Ryan, di tangannya ada sebuah pisau belati.


Ryan tentu saja tak gentar, dia malah tetap mendekati kedua orang ini, yang terlihat menghadangnya.


“Heii kamu, mending pergi dari sini, atau belatiku ini tertancap di tubuh kamu itu!” teman si pria ini mengayun-ayunkan pisaunya, hingga si wanita yang tadi sedang memunguti jualannya kaget dan memandang ke takutan.

__ADS_1


Ryan yang saat ini kenakan baju olahraga haja senyum saja. Begitu pisau itu mengayun ke tubuhnya, Ryan miring sedikit dan sebuah pukulan yang tak terlalu keras, sudah cukup membuat preman ini terkapar dengan hidung berdarah.


Rekannya kaget bukan main, sekali menggebrak temannya sudah kelenger. Dia lalu menyerang Ryan membabi buta, tapi semuanya enteng saja Ryan hindari.


Lalu saat aseek menyerang, sebuah tendangan keras Ryan layangkan, orang ini pun terjengkang ke tanah dan bibirnya kepentuk batu langsung berdarah. Bahkan giginya copot satu, karena saat jatuh pas mulutnya kena batu sebesar kepala orang desawa.


Pandangannya nanar seketika, Ryan mendiamkan sesaat, lalu dia mendekati orang yang pertama dia bikin keok.


“Kalau kamu masih ganggu wanita itu, ku patahkan tangan dan kaki kamu, cepat pergi!” bentak Ryan.


Bak anjing kena penggebuk, keduanya dengan sempoyongan pergi dari hadapan Ryan. Kini Ryan berpaling dan mendekati wanita ini, saat itulah baru Ryan kaget, wanita ini sangat cantik, khas Thailand.


Wanita ini merangkapkan tangan di depan dada dan mengucapkan terima kasihnya. Ryan hanya senyum saja, dia tak membalas itu. Karena Ryan memang tak paham budaya negara ini.


“Namaku Prija Nat, terima kasih tuan sudah menolongku!” kini wanita cantik itu mengenalkan namanya dalam Bahasa Inggris yang fasih.


“Aku Ryan, aku dari Indonesia!” sahut Ryan, lalu buru-buru ikut membantu Prija Nat memunguti buahnya.


Ryan jadi ingat artis top Thailand Davika Hoorne, yang dia lihat banyak iklan bilboard berterbaran di jalanan kota Bangkok. Tapi Prija Nat ini lebih sederhana, wajahnya pun tanpa make up, tapi justru sangat cantik dan alami.


Tinggi tubuh Prija Nat pun juga semampai, hingga sebahu Ryan. Baru saja mereka jalan bersama 15 menitan, di depan Ryan dan Prija Nat datang 7 orang, langkah mereka terlihat tergesa-gesa.


Prija Nat ketakutan dan berlindung di belakang Ryan. “Hmm…pagi-pagi sudah harus berkeringat ini…!” batin Ryan.


Ryan tak tahu, kelompok preman sebenarnya ada hubungannya dengan musuhnya di ring kelak!


*****


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2