
Ryan kini berbeda dengan dulu, pelajaran bercinta dari Meni selama beberapa bulan sudah merubah dirinya. Kini dia sudah naik ke kelas 12 atau kelas 3 SMU, wajahnya makin dewasa dan makin cool saja.
Kini Ryan bisa nyalang menatap gadis-gadis cantik di sekolahnya, tapi tentu saja remaja tampan ini, tak berani sembarangan menjatuhkan hatinya.
Karena hatinya sudah di bawa seorang gadis cantik lembut bernama…Ranti.
Suatu hari sekolahnya mengadakan acara darmawisata ke sebuah daerah wisata yang jauh dari Jakarta, yang dkhususkan bagi siswa kelas 12.
Darmawisata ini merupakan agenda rutin sekolah setiap tahun, khusus untuk siswa-siswa kelas 12 ini. Sebabnya setelah ini mereka kelak lebih banyak persiapan-persiapan untuk ujian akhir nasional.
“Biar ada kenangan indah selama kalian berseragam SMU, setelah ini kalian lulus. Ada yang kuliah, ada yang langsung kerja dan ada juga yang langsung dapat jodoh,” alasan pa Sukirman, sang Kepala Sekolah.
Bambang kini tampil keren, bahkan Tomi jangan di tanya lagi, penampilan dia heboh sekali, hingga ‘sainganya’ Boni kheki habis, karena kalah penampilan. Kedua remaja ngondek ini selalu bersaing di manapun berada.
“Dyeeeehh si buaya, pasti deeh ada yang di incar!” olok Tomi. Bambang langsung menyepak pantat Tomi, yang di tendang malah ngakak sambil berlari.
Ada dari 140 siswa kelas 12, karena ada 5 kelas dan masing-masing kelas 28-30 siswa, yang ikut 105 orang saja. Sisanya tak dapat izin dari ortunya dan ada yang sakit. SMU ini merupakan sekolah favorit, sehingga membatasi hanya menerima 140 siswa setiap tahun, atau 5 kelas saja.
Mereka berangkat gunakan 3 bus Executive Plus nan mewah, karena semua armadanya masih baru…dan semuanya di bayar Ryan, sang Ketua OSIS.
Tanpa sepeser pun siswa lain iuran, sekaligus ini perpisahan Ryan sebagai ketua OSIS yang di sandangnya selama 1,5 tahunan.
Amanda sejak berangkat sudah memilih satu bus dengan Ryan, dia mencueki Andre yang kini tak berani menegur.
Semua siswa SMU 69 sudah tahu siapa Ryan ini, sehingga kini dia dianggap sebagai ‘The Godfather’ nomor 1 di sekolah ini.
Mereka menuju ke Gunung Ungaran, di Kabupaten Semarang. Itu semua juga atas kemauan semua siswa, yang sudah bosan ke puncak dan Jakarta. Merek pingin ke luar kota yang jauh. Dan pilihannya adalah Jawa Tengah.
Tempat ini bukan sekadar jalur pendakian, tetapi ada camping ground yang cukup luas dengan pemandangan memesona. Jika tidak memiliki alat kemah, di sini sudah disediakan penyewaan alat outdoor.
Dan Ryan sudah menugaskan Amanda, Bambang dan Tomi selesaikan soal kemah ini, soal biaya Ryan yang tanggung. Sehingga mereka sesampai di sana tak perlu lagi dirikan tenda.
__ADS_1
Perjalanan yang harusnya di tempuh selama 7 hingga 8 jam, bisa di pangkas lebih cepat, jadi 5,5 jam perjalanan saja, setelah di bukanya akses tol baru.
Selama dalam perjalanan, Amanda sudah memilih tempat duduk bersama Ryan, mereka sengaja agak di belakang, dan depan mereka kosong.
“Ngapain sih harus di belakang,” tanya Ryan saat Amanda mengusulkan itu.
“Sst…udah ahh…jangan banyak tanya,” bisik Amanda sambil tersenyum penuh arti, saat mereka mulai perjalanan jam 12 malam.
“Hmm…mau apa sih si Amanda ini,” pikir Ryan kebingungan sendiri.
Mereka sengaja berangkat malam hari, agar pas sampai di tempat perkemahan jam 5 atau paling telat jam 6 pagi. Sehingga sejak pukul 10 malam, 105 siswa sudah rame di sekolah berkumpul.
Tepat jam 00.00, di iringi pesan menohok pa Sukirman, sang kepala sekolah, agar mereka jaga nama baik sekolah selama berkemah, 3 bus ini pun berangkat beriringan. Ada 3 guru yang turut mendampingi para siswa ini.
Perjalanan pun sangat lancar, karena malam hari dan sehingga bus pun bisa tancap gas, di atas 100 kilometer perjam.
Dengan alasan dingin Amanda langsung menyenderkan tubuhnya ke bahu Ryan, Amanda sengaja pilih dekat jendela dan Ryan di lorong.
Hingga Boni sering mencebi, tapi di balas cebian Tomi, entah kenapa keduanya malah satu bus. Hingga sejak awal sudah bikin si sopir bus ini ketawa-ketawa sepanjang jalan, mendengar perdebatan kedua banci lucu ini.
Setelah satu jam lebih, kini banyak siswa yang mulai tertidur. Termasuk Bambang, Dewi, Boni dan Tomi, di tambah lagi musik lembut yang sengaja sopir ini putar.
“Ryan…kamu jatuh cinta benaran ya sama Ranti…katanya kamu patah hati,” tanya Amanda menyandarkan bahunya.
“Kenapa kamu tanya itu Manda?” balas Ryan sambil menatap wajah Amanda lalu menatap jalanan kiri kanan yang masih rame, walaupun kini sudah pukul 1 malam.
Pertanyaan Amanda malah seakan membuka luka di hati Ryan, sehingga dia jadi ogah-ogahan menjawab.
Sebenarnya Amanda tak kalah cantiknya dari Ranti, bahkan body Amanda lebih menggoda, tapi hati Ryan memang hanya untuk Ranti.
“Duhh sewot amirrr…!” Amanda menarik kepalanya dan menatap wajah Ryan, yang duduk sambil menatap hampa ke arah jok di depannya.
__ADS_1
“Kamu sendiri bagaimana dengan Andre, kenapa kamu malah ke sini…kenapa tak satu bus dengan si Andre?” tanya Ryan.
“Cintanya udah ku tolak mentah-mentah, aku nggak suka, orangnya protektif banget. Ganteng sih, tapi pengecut!” cetus Amanda tertawa kecil.
Amanda mengisahkan kala dia hampir kena begal dan Andre lari terbirit-birit, untung pas ada Ryan lewat, sehingga gadis cantik ini tertolong.
“Kenapa aku tak dekatin penolongku saja, dia udah terbukti mampu lindungi seorang wanita. Bukan lelaki pengecut yang tak mampu lindungi wanitanya dari orang jahat!” bisik Amanda, hingga dengus nafasnya menerpa pipi Ryan.
Ryan menatap wajah Amanda, harus ia akui, andai tak ada Ranti, pasti gadis cantik ini yang akan dia ambil kekasih.
Ryan yang sudah pengalaman dengan Meni, lalu menarik dagu Amanda dan mengecup bibir merah alami gadis cantik ini.
Amanda lalu melingkarkan kedua lengannya di leher Ryan. Ciuman singkat begitu menggoda dan selanjutnya Amanda tak sungkan pindah ke paha Ryan dan kembali keduanya melanjutkan aktivitas ini, tanpa ada yang tahu.
Amanda kaget saat Ryan berbisik nakal. “Di sini…?” Amanda sempat menatap wajah Ryan hampir tak percaya.
Amanda terdiam sesaat, tapi dia kembali terpejam, saat baju bagiannya depannya mulai terbuka dan dan Ryan mulai menjelajah jauh ke atas bukit yang menjulang tegak.
Dan inilah kenakalan remaja…Amanda mandah saja saat Ryan benar-benar menurunkan jeansnya sebatas lutut.
Tak ada yang tahu kelakuan keduanya ini, karena kursi mereka berada nomor 2 dari belakang. Dan di depan mereka jok kursi kosong. karena bus ini harusnya kalau terisi full adalah 55 orang, tapi bus ini hanya terisi 35 orang.
Aktifitas mereka terhenti saat kenek bilang istirahat 30 menitan di rest area. “Siapa yang ingin kencing dan cuci muka atau ngopi 30 menitan dari sekarang, silahkan turun!” teriak se kenek dan blamm…lampu bus pun menyala.
Amanda kaget setengah mati dan buru-buru pindah dari paha Ryan, dengan wajah tersipu-sipu dan tergesa-gesa menaikan celananya.
“Kamu nakal banget sihh…untung…nggak sampai bablass dan ketahuan!” sungut Amanda. Ryan senyum-senyum nakal, karena dia merasa…nanggung.
Apakah yang terjadi selanjutnya…apakah kenakalan Ryan ke Amanda akan berlanjut…?
*****
__ADS_1
BERSAMBUNG