Tirai Kasih yang Terkoyak

Tirai Kasih yang Terkoyak
Bab 98: Ranti Datang, Tapi Ada Bella...!


__ADS_3

“Bangun jagoan lama amat tidurnya!” Radin menatap sambil senyum wajah putra tercintanya ini, wajah Ryan bengap sampai hilang ketampanannya.


“Pah…mami mana…?” Ryan bertanya sambil menggeser wajahnya. Cukup lama juga dia tertidur alias kena bius.


“Kamu sudah sadar sayang! Hmm…kapok nggak!” sentak seorang wanita setengah baya yang tetap cantik jelita.


Ryan langsung terdiam, wajah jelita Angelina, ibunya yang lagi marah percuma di bantah, mending diam saja.


“Mi…jangan di jewer yaa…masih sakit ini!” goyun Ryan, sambil senyum, tapi langsung meringis, karena wajahnya masih sakit.


“Huhh udah gede juga, masa di jewer!” sungut Angelina. Ryan senyum kecil, tapi langsung meringis.


Ryan makin makin senang, tiga adik-adiknya juga berkumpul dan terlihat memijat kakinya. “Mi, pah, jangan kasih tau kakek dan nenek yaa, kasian nanti beliau berdua takut lihat wajah Ryan!”


Tiba-tiba ada suara berdehem di samping ayahnya. Rudi Sasmita, kakeknya. “Jadi gini tuhh hasilnya…kalau kalah wajah langsung ancur-ancuran begitu?”


“Stop sudah, cukup! Buat apa sih bertarung, hasilnya apa. Emank uang ayah kamu masih kurang?” semprot neneknya, Rina Sasmita, yang tiba-tiba menyela.


Ryan hanya bisa mesem, keluarganya komplet berkumpul, neneknya terlihat mengkompres wajahnya dengan es. Ryan memang cucu kesayangan sejak kecil.


Hanya kakek dan neneknya di kampung yang tak datang, kalau datang, pasti telinga Ryan bebal mendengar omelan orang-orang tercintanya ini.


“Duhh nenek, jangan kencang-kencang, kasian tuh Abang besar,” si tengil Delano menegur neneknya yang masih mengkompres wajah Ryan.


Delano memang paling khawatir kalau melihat kakaknya ini babak belur habis bertarung. “Awas ya kamu, kalau ikut-ikutan Abang mu ini. Pokoknya kamu harus sekolah yang benar, jangan sok jadi jagoan. Kalau ketahuaan nenek ikut-ikut latihan bertarung, nenek hukum kamu!” semprot neneknya, hingga Delano langsung terdiam sambil senyum-senyum, tengil nya keluar lagi. Tapi dia tak berani mengolok sang nenek yang sangat sayang dengannya.


Semuanya sudah tak aneh dengan kelakuan nenek ini. Karena saking sayangnya, si nenek tak segan memarahi Ryan dan 3 adik-adiknya, hanya Jenny yang sangat jarang, bahkan tak pernah di marahi.


Ryan harus di rawat selama 3 hari, tapi tak ada yang tahu. Ternyata sang juara bertahan juga ikut di rawat, pukulan keras Ryan sedikit menggeser rahangnya.


Johanes biarpun menang diam-diam juga menderita! Awalnya saking euphoria menang, dia tak merasakan rahangnya yang sakit.


Tapi tiga hari kemudian, Johanes kesulitan membuka mulut, dan saat Ryan keluar rumah sakit, giliran Johanes yang harus di opname. Bahkan setelah di scan, rahang Johanes harus di operasi, karena ada yang retak dan bergeser.

__ADS_1


Dan ini sengaja di rahasiakan…padahal justru kelak akan berakibat fatal!


Ryan sendiri hanya menderita luka luar, tidak ada yang berbahaya. Bahkan seminggu kemudian, bengkak di wajah Ryan sudah kempes. Tinggal biru-biru saja yang belum sembuh dan perlu waktu beberapa hari lagi.


Bang Ramon hanya bisa geleng-geleng kepala, saat Ryan jujur mengatakan sudah melanggar pantangan sang pelatih. Yakni bercinta dengan Bella tiga hari sebelum pertandingan.


“Aku sudah curiga, saat ronde ketiga, stamina kamu tiba-tiba menurun dan ini tak seperti biasanya!” cetus Bang Ramon.


“Apakah si Johanes mau tanding ulang..?” pancing Ryan yang masih penasaran dengan kekalahanya yang pertama dalam karirnya.


“Nanti Abang tanyakan pada promotor, apakah Johanes mau tarung ulang dengan kamu. Soalnya kamu petarung pertama yang bisa melukainya!”


“Permisi…!” Ryan dan Bang Ramon menoleh.


“Kenapa Paing?” Bang Ramon bertanya pada cleaneng service-nya ini.


“Maaf Bang, ada yang nyari mas Ryan, seorang wanita, cantik…pake bingit!” sahut Paing.


“Hmmm…wanita lagi! Ya sudah sono Ryan temui. Ingat yaa, kekalahan ini jadi pelajaran, sebelum bertandingan, jangan lagi langgar pantangan!”


Saat keluar menemui di ruang tamu sasana ini, Ryan kaget, karena yang datang adalah…Ranti.


“Ranti…tumben kamu kemari, ada apa..?”


“Ryan…bagaimana kondisi kamu setelah kalah bertarung 10 harian lalu?” suara Ranti lembut, tak berubah sejak dulu.


“Seperti yang kamu lihat…kondisiku sehat-sehat saja, tak ada yang cedera berat!” sahut Ryan tersenyum.


“Syukurlah…aku dapat kabar dari Tomi, katanya usai kalah, kamu harus opname ke rumah sakit…aku mau kunjungi kamu ke sana…tapi tak enak dengan keluarga kamu.”


Ryan tersenyum. “Makasih yaa…kamu sangat perhatian…oh ya bagaimana kabar tunangan kamu…apakah kamu pernah jenguk dia di pen..!” ucapan Ryan terpotong ucapan Ranti.


“Kami sudah putus sejak dia masuk penjara…!” sahut Ranti cepat.

__ADS_1


“Oh yaa….kenapa sampai putus..?” Ryan kaget juga, tapi diam-diam hatinya senang.


“Nantilah aku cerita…belum saatnya kamu tahu…!”


“Ohh…ya deh tak apa…?” Ryan mengalah.


“Ryan…aku juga sekarang sudah kuliah di Jakarta!” Ranti lalu sebutkan kampusnya. Ryan kaget, karena kampus Ranti sama dengan kampus Bella, pacarnya saat ini.


Ranti juga katakan ayah-nya sekarang pindah tugas, dan sekarang pati di mabes polri, sambil nunggu job berikutnya.


Bertahun-tahun tak berjumpa, keduanya kini kembali bicara akrab, bahkan Ryan bilang sejak Ranti pindah ke Kalimantan, band mereka juga vakum.


“Sayang banget, kenapa nggak di lanjutkan, kan ada Budi dan Anwar yang membantu di band?”


“Entah lah Ranti, aku nggak semangat, makanya aku jadi petarung bebas!” sela Ryan, yang akhirnya terbuka, salah satu alasannya jadi petarung, karena sering bete.


“Hmmm...kalau nggak keberatan…boleh nggak aku bergabung lagi dengan band itu?”


“Benaran…serius..?” Ranti langsung mengangguk, Ryan tanpa sadar memegang tangan Ranti.


“Ryann…!” tiba-tiba Bella datang, hingga Ryan buru-buru melepas tangannya di jari Ranti.


“Sayangg…kamu sudah sehat? Dueehhh kamu bikin aku khawatir bangetttt…tadi aku ke rumah kamu, kata mami kamu, kamu ada di sasana ini, makanya aku buru-buru ke sini!”


“Ryan…maaf…aku pulang dulu yaa…!” sela Ranti, lalu tersenyum ramah pada Bella, si gadis cantik centil ini kaget, baru sadar ada wanita cantik berwajah lembut bersama Ryan saat ini.


“Ehhh…Ranti, ini kenalkan Bella…! Bella, ini Ranti, teman masa kecilku dan juga teman di SMU dulu!”


“Ohh gitu…aku pacarnya Ryan!” ceplos Bella tanpa beban, sambil sodorkan tangannya, yang buru-buru di sambut Ranti.


Ranti terlihat kaget, Ryan yang melihat itu ikut tak enak hati, apalagi Ranti seperti syok begitu…!


Cinta lama yang tak pernah padam dari Ranti…dan itu di sadari Ryan, karena Ryan pun sebenarnya sama…!

__ADS_1


*****


BERSAMBUNG


__ADS_2