
“Kamu berani melawan aparat hahh…?” Alfito langsung makin marah melihat Ryan yang di anggap melawan dirinya.
“Hmm…kalau benar aku pengguna narkoba, mana hasil tes urine, berani nggak kalian buka hasilnya!” tantang Ryan tak mau kalah, walaupun di ‘sarang’ Alfito, dia yakin tak bersalah dan saat ini kena jebak, entah siapa dalangnya.
Saat Alfito mengangkat tangan ingin memukul Ryan lagi, tiba-tba semua polisi langsung bersikap hormat. Karena sang komandan masuk keruangan ini bersama Cokro SH MH, pengacara keluarga Radin Sasmita.
“Hentikan Alfito!” bentak sang Komandan berpangkat Kombes ini. Hingga Alfito secara refleks menurunkan tangannya.
“Hmm…saya bisa tuntut anda kalau berani menyakiti klien saya,” tegur Cokro, yang kaget anak sahabatnya ini mau di pukul Ipda Alfito.
Alfito kaget bukan main, karena aksinya ketahuan atasannya. Dia pun kini bersikap tegap.
“Heii kamu, bawa ke sini hasil tes urine nya..!” perintah Kombes Sarno, sang komandan ini pada polisi yang tadi menekan bahu Ryan.
“Siap Ndan!” polisi ini pun bergegas ke ruangan sebelah. Alfito tak berani mencegah, padahal dia berencana mau ubah hasil tes urine, tapi kini sang komandannya terlanjur datang dan ingin liat hasilnya.
Begitu hasilnya di bawa lalu di baca Kombes Sarno, dan ternyata hasilnya negative. Kombes Sarno meremas hasil tes itu dan melempar langsung ke wajah Alfito.
“Kamu…letakan pistol itu di meja sekarang juga. Mulai malam ini kamu di bebas tugaskan, tunggu hasil investigasi yang akan saya bentuk!” bentak Kombes Sarno, hingga Alfito mendadak pucat wajahnya.
Dengan tangan agak gemetar Alfito meletakan pistolnya ke meja dan langsung di ambil Kombes Sarno.
Dua polisi yang menekan bahu Ryan juga kena bentak sang komandan ini, hingga mereka terlihat pucat pasi.
“Dengar kalian bertiga, siapa yang memerintahkan lakukan razia di klub itu hahhh…? Saya dapat telpon langsung dari Kapolri…benar-benar kalian ini bikin malu dan malah bikin masalah besar…goblokkkk kalian ini, tahu nggak siapa Ryan Sasmita ini hahhh…!”
Alfito dan dua anak buahnya diam seribu bahasa. Malu bukan main di marahi komandan mereka di depan Ryan dan pengacaranya.
Alfito kini mulai ketar-ketir, kalau sampai tim investigasi tahu kejadian malam ini adalah kelakuannya, bisa jadi dia akan dipecat sebagai polisi.
__ADS_1
Apalagi kini dia tak bisa lagi andalkan ayahnya, yang baru saja pensiun 2 bulanan yang lalu dari jabatan Wakapolri.
Alfito agaknya salah pilih lawan kali ini!
Setelah Alfito dan dua anak buahnya di usir pergi dari ruangan ini. Kombes Sarno lalu bertanya ke Ryan bagaimana kronologisnya.
Begitu selesai Ryan bercerita, Kombes Sarno janji akan cek CCTV di klub itu, untuk mengetahui siapa yang sengaja meletakan narkoba di jaket Ryan.
“Tenang saja Mas Ryan, tim yang akan saya bentuk akan bekerja profesional. Saya bahkan dapat perintah langsung dari Kapolri, agar kasus ini jangan didiamkan begitu saja. Apalagi klub itu sahamnya milik ayah mas Ryan, dan selama ini terkenal bersih dari narkoba!”
Ryan pun ucapkan terima kasihnya pada Kombes Sarno, malam itu juga Ryan di perbolehkan pulang bersama pengacaranya, Cokro SH MH.
Isabella dan Bambang cs ternyata masih ada di Polres Kota ini, begitu melihat Ryan keluar dari Mapolres, Isabella langsung memeluk Ryan dengan erat.
Ternyata Bambang lah yang menelpon Cokro SH, yang malam itu juga langsung meluncur ke Polres ini sambil menelpon sang Kapolres nya, yang ternyata teman dekat Radin Sasmita dan Cokro.
“Iya Om…tks ya…eh tolong jangan kasih tahu Mami dan Papi yaa?”
“Aman…cantik kale kekasih kamu ini, kayak bule ajah. Jangan sampai lepas yaa, kalau lepas ntar Om culik!” kelakar Cokro sambil mengedipkan mata ke Isabella. Hingga gadis jelita ini tertawa kecil.
“Gilee…si oknum songong itu, enak ajah main tangkap!” sungut Tomi, yang ikutan setia kawan dan menunggui Ryan di Mapolres ini. Walaupun sebelumnya sempat kena bentak Alfito.
“Kita kemana nih bro…?” Bambang menatap Ryan.
“Kita pulang saja, ini sudah malam, Bella biar aku yang antar. Kalian bawa ajah mobilku, aku naik mobil Bella!” Bambang, Tomi, Budi dan Anwar mengangguk.
Namun di tengah jalan Bella malah bilang lagi pingin bersama Ryan, dan malas pulang ke rumah.
“Trus kita mau kemana Bella?” Ryan bingung juga jadinya, sambil membawa mobil sport milik Bella.
__ADS_1
“Hmm…kita ke apartemen kamu ajah yukss…? Kamu punya kan, aku nggak mau ke hotel.” ajak Bella.
Ryan tanpa pikiran apapun mengiyakan, dia pun berpikir, tak enak hati antar Bella ke rumah ortunya, apalagi saat ini sudah lewat pukul 1 malam.
Ryan lalu mengarahkan ke apartemen mewah miliknya, yang di hadiahkan ayahnya buat dirinya.
Tak sampai 30 menitan, karena jalanan sangat lancar, keduanya kini sampai ke apartemen mewah ini.
Bella langsung takjub melihat ini, walaupun ortunya juga tajir, tapi melihat kemewahan apartemen ini, mau tak mau Bella terkagum-kagum juga.
“Enak banget apartemen kamu Ryan, aku jadi betah di sini,” cetus Bella blak-blakan. Sambil langsung menuju ke kamar yang tak kalah mewah dan luasnya.
Bella tiba-tiba menarik Ryan dan keduanya bergulingan di kasur empuk ini. Mendapat serangan mendadak, Ryan awalnya kaget, tapi lama-lama ia terhanyut.
Ryan tak tahu, Isabella ternyata lama di LN, sehingga di agak bebas dan tak malu-malu. Ryan lama-lama terpancing juga, apalagi kecantikan Isabella memang di atas rata-rata. Hanya laki-laki bodoh yang menolak kucing yang sudah jinak ini.
Keduanya kini berpacu dalam melodi di kamar apartemen mewah tersebut. Ryan melupakan ‘kekasihnya’ Dewi.
Isabella menang dari Dewi…walaupun Ryan tak bodoh…rasanya kok beda?
Tapi Ryan diam saja, dia sudah tenggelam dalam hasrat menggebu-nggebu dari Bella, gayanya pun bikin Ryan kaget…karena Bella tak sungkan minta gaya berlari ke puncak, yang sangat mirip di film-film dewasa.
Bella seakan sudah biasa begini…!
Tanpa Ryan sadari, Bella yang jelita ini mempunyai misi yang hanya Bella yang tahu. Misi apakah itu…?
*****
BERSAMBUNG
__ADS_1