
Si jangkung Dewi kini menatap Ryan yang terlihat penasaran. “Kamu pasti bertanya bukan? Kenapa aku bisa kuliah di sini?” Ryan langsung mengangguk.
Dewi tak langsung menjawab, gadis cantik semampai ini malah senyum-senyum saja. Hingga Ryan jadi bingung dan tak sabaran.
“Begini tuan Ryan Sasmita, anak dari Radin Sasmita seorang ‘sultan’ papan atas di negeri ini, seorang petarung bebas yang ganas di ring..!”
“Wow…segitunya..!” sela Ryan kaget. Namun Dewi tak menggubris keheranan Ryan.
“Aku di sini karena…daku seorang atlet bola volly, lalu dapat bea siswa. Dan saat ini aku di kontrak sebuah klub volly profesional, yang pemegang sahamnya juga pemilik kampus ini. So…udah paham bukan? Kenapa aku bisa kuliah di sini!”
“Ck ck…pantes…udah kagak aneh lagi…ehmm…satu hal lagi…artinya kamu tahu…kalau papa kamu…?”
“Sudahlah, itu jangan di bahas, aku tahu, mendiang papaku yang salah. Dia seorang penjahat, dan juga kejahatannya sudah sepadan dengan resiko yang dia terima!”
Ryan langsung mengambil nafas lega, tadi dia sempat kebat-kebit, karena Dewi kini sudah tahu jati dirinya, sekomplet-kompletnya.
Dewi juga cerita, dia dulu cepat masuk sekolah dan pernah satu kali naik kelas di pertengahan. Saking pintarnya, yakni saat kelas 3 SD, baru 2 bulan langsung melompat atau dinaikan gurunya ke kelas 5 sekalian.
Sehingga walaupun umurnya lebih muda dari Ryan, tapi kini Dewi sudah semester 4 di kampus ini. Sehingga dia bisa jadi panitia OMB saat ini, dan jabatannya pun mentereng, yakni wakil ketua BEM kampus Nusantara ini.
“Ryan, kamu mau lihat aku bertanding nggak, minggu depan aku ada pertandingan kompetisi, lawan kami musuh bebuyutan loh!” Dewi lalu sebutkan GOR nya.
“Siapp…aku pasti akan nonton, kelak kalau aku bertanding tarung bebas, kamu juga akan aku undang!” sahut Ryan hingga Dewi tertawa, karena Ryan bak prajurit saja, berdiri sambil memberinya hormat.
Namun keakraban keduanya ada yang tak senang, dialah sang Ketua BEM, yang sejak lama naksir Dewi. Namun sampai kini Dewi belum mau menanggapi rasa suka pemuda itu!
Seminggu kemudian, 5 sahabat akrab ini sudah berada di bangku penonton, mereka menyaksikan pertandingan Liga Bola Volly Wanita Indonesia, antara Klub Nusantara dan Klub Indonesia Jaya, dua klub volly wanita yang sejak dulu saling bersaing dan jadi musuh bebuyutan.
Bambang, Budi dan Anwar sudah melotot melihat pakaian para pemain volly yang kenakan celana pendek.
“Gileee mennn…Dewi seksoiii abis…nggak kebayang dehh kalau kencan ama tu cewek, udah jangkung, badannya kencang bingiittttts…!” ceplos Bambang sambil terus menatap Dewi, yang terlihat main dengan cekatan dan ternyata banyak mempunyai fans.
__ADS_1
Karena setiap kali Dewi lakukan jump smash, ribuan penonton khususnya yang cowok langsung bersorak, apalagi kalau smashnya masuk.
Dewi ternyata memang andalan klub Nusantara, dia adalah penembak jitu, smash-smashnya sangat keras dan bertenaga, di tunjang tubuhnya yang jangkung dan kokoh.
Tomi beda lagi, si ngondek ini bertingkah bak cewek, kadang teriak-teriak tak karuan melihat pertandingan yang sangat seru ini. Hingga ketiga rekannya sewot melihat tingkah kenes si ngondek ini.
Budi dan Anwar malah sibuk merekam dan kadang menoleh ke arah penonton, kedua pemuda ini mencari-cari di mana wanita-wanita cantik, untuk di rekam, lalu di dadah-dadah.
Hanya Ryan yang tenang, dia menyaksikan pertandingan ini tanpa banyak gaya, benar-benar konsen melihat pertandingan yang benar-benar seru ini.
Akhirnya klub Nusantara unggul atas Klub Indonesia Jaya, dengan skor yang sangat ketat, saling mengejar angka.
Saat Ryan ingin mendekati Dewi usai pertandingan, Ryan terdiam, karena melihat ada seorang lelaki lain yang terlihat cekatan dan malah rela memberikankan handuk buat Dewi.
“Loh itukan si Arief? Ketua BEM kampus kita…he-he sabar bro, kalau jodoh nggak kemana kok!” tepuk Bambang ke bahu Ryan.
“Ayo kita pulang saja!” ajak Ryan keciwi, sehingga ke 4 sohibnya ini ngikut saja. Karena mereka semua numpang di mobil SUV bongsor mewah milik Ryan.
Namun karena banyaknya penonton, mereka tak bisa langsung menuju ke parkiran, saking berjubelnya penonton yang akan pulang dari GOR ini. Sehingga ke limanya terpaksa bersabar dulu sambil menunggu agak sepi.
“Eh lihat, Dewi kok pulang sendirian...tuh lihat dia menuju ke pinggir jalan, agaknya mau nyari taksi…ayo kita samperin,” Budi langsung menunjuk ke arah Dewi.
Ryan langsung mengangguk, dan kini mereka bergegas mendekati Dewi. “Wi…kok kamu sendirian..?” Ryan mendekat, sementara Bambang cs menunggu saja dan memperhatikannya.
“Ryan…iya…tadi maunya si Arief ngajak pulang…tapi ada pacarnya…ya udah aku nyari taksi. Karena aku ketinggalan bus pemain, gara-gara ulah di Arief tadi.”
Ryan tersenyum. “Ayo ikut mobilku saja, nanti kamu ku antar pulang ke rumah…!”
Tanpa di duga Dewi langsung mengangguk, dan sambil memanggul tas ranselnya, Dewi kini mengikuti Ryan dan dia kaget sekaligus senang melihat Bambang cs juga ikut bersama.
Kini mereka langsung menuju kafe, dan aseek bersenda gurau. Dewi tak keberatan, karena mereka berangkatnya rame-rame berenam.
__ADS_1
Namun saat mengantar pulang, Ryan kaget, Dewi bukannya minta antar ke rumahnya, tapi ke asrama. “Ibuku sekarang di temani tanteku, kan kompetisi sudah jalan, jadi aku harus masuk asrama!” kilah Dewi.
Karena asrama Dewi agak jauh, Ryan mengantar 4 sohibnya ini terlebih dahulu. Sehingga setelah ke 4 nya sudah turun, kini mereka berdua di mobil SUV mewah ini.
“Jadi bagaimana ceritanya…si Arief naksir kamu…tapi masih punya pacar!”
“Itulah Ryan aku juga bingung dengan ketua BEM kampus kita ini. Padahal pacarnya cantik lohh, model lagi. Kenapa malah ngejar-ngejar aku, aneh yaa?”
“Kamu seksoii Dewi, makanya si Arief suka sama kamu,” ceplos Ryan sambil konsen ke setiran.
“Dasar kalian ini para lelaki, tahunya seksoii mulu yang di pikirin, rata-rata otak laki-laki sama semua!” sungut Dewi sambil mencubit paha Ryan. Ryan terbahak saja dan bilang itu tanda laki-laki normal.
“Eitsss…jangan main cubit-cubit dongg…ntar ada yang bangun, kan bahaya!” canda Ryan lagi.
“Ntar kalau bangun, aku bantuin sampai lemas!”
“Ahh…jangan becanda donk…ntar kalau dia nyari sarang buaya-nya bagaimana?”
“Tinggal di masukin, tapi kalau aku masuk angin, berani nggak tanggung jawab!” tantang Dewi, hingga Ryan langsung terbatuk-batuk.
Keduanya kini tertawa berderai dan akhirnya sampai juga di asrama Dewi. “Wi…!” Ryan menatap Dewi.
Dewi tersenyum lalu mendekatkan wajahnya ke Ryan dan mereka berciuman di dalam mobil ini. Saat tangan Ryan tak sadar nakal, Dewi langsung menghentikan ciuman itu.
“Sampai ketemu lagi ya di kampus…!” Dewi pun turun sambil tersenyum penuh arti.
“Anjaiiii…ciumannya bikin ser-serrrr…!” batin Ryan sambil menjalankan mobilnya.
Di sebuah mobil, terlihat seorang lelaki cemburu pakai bingit, saat melihat Dewi dan Ryan berciuman di mobl SUV mewah ini…dialah Arief, sang ketua BEM.
*****
__ADS_1
BERSAMBUNG