Tirai Kasih yang Terkoyak

Tirai Kasih yang Terkoyak
Bab 120: Rela Setia Demi Ranti


__ADS_3

Hari demi hari di lalui Ryan dengan setia menemani istrinya yang koma…ya Ryan sudah menikahi Ranti yang masih koma di rumah sakit. Sebulan setelah kejadian itu!


Ryan benar-benar tunjukan tanggung jawabnya sebagai suami, walaupun Ranti belum juga siuman, dan ini sudah 6 bulan pasca insiden mengerikan tersebut.


Ryan tetap menemani istrinya dan berada tak jauh dari sisi istrinya tersebut. Di sisi lain, polisi pun sampai kini masih memburu pelaku penabrak Ranti, tapi hasilnya belum ada.


Semua terharu melihat Ryan yang benar-benar tak pernah jauh dari sisi Ranti. Hingga suatu hari Radin dan Angelina bicara serius dengan Ryan tentang kondisi Ranti.


“Papa dan mami kamu memutuskan, Ranti harus kita bawa berobat ke luar negeri Ryan, kita tidak menyepelekan rumah sakit di Indonesia. Tapi tak ada salahnya kita coba dan kita akan bawa Ranti ke Cina!” saran Radin.


Ryan terdiam sesaat dengan usul kedua orang tuanya, setelah menunduk sebentar, Ryan pun mengangguk dan setuju dengan usul kedua orang tuanya tersebut.


Brigjen Jimi dan Tante Tuti juga tak keberatan Ranti di bawa berobat ke luar negeri, segala usaha dokter selama 6 bulanan tidak membuahkan hasil.


Sebagai ahli jantung, Angelina pun menilai, jantung Ranti masih kuat dan baik. Hanya benturan keras di kepala yang tak bisa disembuhkan dokter di sini, satu-satunya jalan adalah harus di bawa ke Cina.


Di sana ada dokter spesialias otak yang terkenal mengobati pasein koma dengan metode modern dan tradisional.


Seminggu kemudian, dengan private jet ayahnya, Ranti di dampingi dua perawat di bawa ke Cina.


Begitu sampai langsung di bawa ke rumah sakit milik dokter Shia, sebuah rumah sakit swasta terbesar di kota Guandong. Dan dokter ini tanpa buang waktu mulai lakukan observasi menyeluruh ke tubuh Ranti.


Badan Ranti kini sangat kurus, karena makanan hanya melalui slang infus saja, karena sejak kejadian itu hingga kini belum dia belum pernah sadar.


Ryan diam-diam sering meneteskan airmata melihat kondisi istrinya begini. Tak pernah terlintas di benaknya, Ranti akan mengalami insiden mengerikan ini.


Ryan membuang jauh-jauh dendamnya pada pelaku yang belum tertangkap hingga kini. Karena dia ingin istrinya siuman dan sembuh dulu.

__ADS_1


Namun diam-diam Ryan mulai menduga-duga siapa pelakunya. Tapi dugaan ini dia simpan dalam hati.


Ryan juga tak pernah lagi mengikuti perkembangan, siapa kini yang jadi juara dunia dua sabuk yang ia lepas 6 bulanan yang lalu.


Setelah seminggu, Ryan pun harus tanda tangan, yang intinya memberi izin dokter Shia akan lakukan bedah pada otak Ranti.


“Kemungkinan hidup dan sembuh adalah 50-50, tapi kita berdoa, agar operasi sukses!” dokter Shia menatap Ryan, sebelum dia tanda tangan.


Radin dan Angelina langsung menyusul ke Cina mendengar Ranti akan jalani operasi, semuanya kini hanya bisa berdoa, semoga Ranti mendapatkan keajaiban dan bisa sembuh seperti semula.


Brigjen Jimi dan istrinya tak sanggup ke Cina, mereka hanya berdoa, semoga anak mereka sembuh. Brigjen Jimi yang sebentar lagi naik pangkat jadi Irjen terus mencari pelaku penabrak Ranti.


Hasil penyidikannya kini mulai ada titik terang, dengan di temukannya mobil yang di gunakan menabrak Ranti.


Operasi yang sangat menegangkan berlangsung ber jam-jam, dokter Shia dan tim-nya sampai 2X istirahat, lalu lanjut lagi. Operasi berlangsung mulai pukul 2 siang dan kini sudah jam 18 atau jam 6 sore, belum juga selesai.


Ketegangan terus melanda Ryan, hingga Radin dan Angelina berkali-kali memeluk Ryan, agat terus berdoa. Keduanya ikutan trenyuh melihat Ryan yang kini bertubuh kurus dan terlihat jadi tua beberapa tahun.


Akhirnya, pukul 21 malam, operasi selesai dan kini Ranti di pindahkan ke ruangan khusus dan tak bisa di jenguk dulu, kecuali melalui kaca tembus pandang.


Setiap hari Ryan tak pernah mau meninggalkan ruangan ini, dia selalu memandang Ranti melalui kaca tersebut.


Dan hari ke 5 mesin pemacu jantung berbunyi, dokter Shia langsung datang dan lakukan pemeriksaan. Dokter ini mulai tersenyum, otak Ranti mulai merespon, tanda-tanda kehidupan mulai nampak.


Ryan yang melihat itu dari balik kaca sumringah sekaligus tegang, kedua orang tuanya sudah pulang ke Jakarta, hanya Ryan sendirian yang terus menunggui Ranti.


Dari hari ke hari, Ranti mulai menunjukan tanda-tanda siuman, lengannya kadang bergerak pelan. Mesin pemicu jantung juga terus bergerak naik, yang menunjukan tanda-tanda kehidupan terus membaik.

__ADS_1


Dokter Shia kini keluar dan menemui Ryan. “Perkembangannya makin positif, otak Ranti mulai merespon baik, semangat hidup istri Anda sangat tinggi.” Mendengar ucapan dokter Shia wajah Ryan mulai berbinar-binar.


2 minggu pasca operasi, tiba-tiba mata Ranti mengeluarkan airmata, dan untuk pertama kalinya setelah hampir 7 bulanan, hari ini Ranti…siuman!


Ryan sampai terduduk dan menangis tersedu-sedu melihat Ranti yang sudah membuka matanya. Ranti terlihat bingung, dokter Shia mulai menyuntikan cairan obat melalui slang infus.


Tiga hari kemudian, Ranti mulai bisa melihat orang sekelilingnya, tapi tak satupun yang ia kenal, Ryan masih belum di perbolehkan mendekati langsung. Ia hanya melihat melalui dinding kaca, mata Ranti yang mulai membuka normal.


Dan seminggu kemudian, dokter Shia pelan-pelan mencopot alat yang membantu Ranti bernafas selama 7,5 bulanan. Dan untuk pertamakalinya juga, Ranti minum langsung melalui bibirnya.


Bibir Ranti pelan-pelan mulai merespon dan kini seteguk demi seteguk air yang ternyata bercampur obat tradisional masuk ke dalam perutnya. Inilah kehebatan pengobatan dokter Shia.


3 hari kemudian, dengan kenakan baju putih dan masker, Ryan di perbolehkan mendekati Ranti. Dengan mata memerah saking bahagianya, Ryan menatap wajah Ranti.


“Sayang…ini aku…suamimu…Ryan!” bisik Ryan pelan-pelan. Bibir Ranti bergerak pelan, sebut nama Ryan.


Ryan melepas maskernya, setelah dokter Shia beri kode, mata Ranti terlihat membulat. Tangannya bergerak pelan, Ryan langsung memegang lengan kurus ini dan menciumnya perlahan. Sedikit senyum terlihat di bibir pucat Ranti, yang kepalanya masih tertutup perban.


Inilah komunikasi pertama sejak 7,5 bulanan lalu, selanjutnya Ryan di perbolehkan selalu berada di sisi Ranti dan diminta terus berkomunikasi dengan bahasa isyarat, karena lidah Ranti masih kelu, belum bisa bicara normal.


2 minggu kemudian, Ranti mulai makan bubur cair dan wajahnya perlahan-lahan mulai berkurang pucatnya.


Ryan pun mulai bisa makan dengan enak, melihat perkembangan Ranti yang terus membaik dari hari ke hari.


“Ryan…su-ami…ku…!” Ryan kaget bukan main. Suara Ranti sangat lembut sekali terdengar di telinganya, bak sedang mimpi saja ia saat ini, karena Ryan saat ini sempat ketiduran.


“Sayang…kamu sudah bisa bicara..?”

__ADS_1


*****


BERSAMBUNG


__ADS_2