
Radin sudah sampai ditempat yang disebutkan penculik melalui chatting. Radin melihat-lihat dan tak jauh dari tempatnya, ada sebuah mobil MPV warna hitam, sesuai dengan petunjuk para penculik tersebut. terparkir terpisah dari beberapa mobil lainnya.
Radin mendekati mobil tersebut dan tak lama kemudian, ada chat yang meminta Radin segera pindahkan semua uangnya ke mobil tadi.
Kini 4 tas besar sudah berpindah dan tak lama kemudian ada lagi chat yang masuk dan minta Radin segera pergi dari sana.
“Pergi dari mobil tersebut, nanti kamu belok ke kanan, lalu ada mobil MPV warna putih disanalah anak kamu berada.”
Radin sudah tak peduli dengan uang itu, dia hanya ingin selamatkan Jenny. Setelah melihat mobil itu. Radin bergegas mendatanginya, dan ketika di buka, Radin marah bukan main. Tak ada Jenny di dalam mobil tersebut. Mobil itu kosong melompong, tak ada siapapun di dalam mobil putih ini.
“Bangsaattt, aku di tipu!” sungut Radin kesal bukan main, Radin lalu buru-buru balik tempat tadi.
Mobil MPV hitam sudah tak ada lagi. Saking kesalnya, Radin meninju mobil ini hingga penyok. Bagaimana tidak kesal, uang 500 miliar dalam bentuk dolar lenyap. Anaknya malah belum dilepaskan para penculik
Radin kini bertemu lagi dengan AKBP Jimi. “Lihat sinyalnya, uang itu sekarang berada di kawasan Bogor!” anak buah AKBP Jimi ternyata sengaja memasang sinyal pelacak di dua tas berisi uang.
Radin ikut melihat layar laptop kecil di mobil ini, dan uang yang di bawa penculik kini tidak bergerak di sebuah tempat di Bogor.
AKBP Jimi pun memerintahkan anak buahnya segera bergerak ke TKP. 20 orang yang semuanya polisi berpakaian preman dan menyamar menyebar ke tempat tersebut.
“Selamatkan sandera hidup-hidup, jangan sampa cedera atau apapun itu!” perintah AKBP Jimi lagi, yang kini satu mobil dengan Radin menuju ke TKP tersebut.
Tempat itu ternyata sebuah rumah mirip villa, berada di sebuah kawasan yang lumayan padat penduduknya.
Mobil yang tadi membawa uang terlihat parkir di halaman itu, pagar rumah ini tertutup rapat.
5 orang polisi berpakaian preman terlihat mulai bergerak cepat dan terus di pantau AKBP Jimi dan Radin di mobil tadi, yang berjarak 100 meteran dari TKP.
“Izin komandan, TKP sudah steril, pelaku penculikan sudah diamankan tanpa insiden tembak menembak. Korban selamat!”
__ADS_1
Mendengar laporan itu, AKBP Jimi lalu memerintakan sopirnya menuju ke TKP, setelah sampai di depan rumah. Diiikut Radin, AKBP Jimi langsung masuk ke dalam rumah tersebut.
Radin melongo, seorang wanita terlihat menunduk, rambutnya menutupi wajahnya. Tangannya di borgol, sementara anaknya Jenny terlihat memeluk wanita itu.
“Stella…ka-kamu…kamukah yang menculik Jenny..?” Radin hampir tak percaya, dia lalu buru-buru menarik tangan anaknya. Tapi Jenny malah melepaskannya dan kembali memeluk Stella yang masih di borgol.
AKBP Jimi lalu memerintahkan agar Stella, yang menjadi pelaku tunggal penculikan di bawa ke kantor polisi.
Jenny di tenangkan Radin dan kini di bawa pulang. Anak ini sepanjang jalan diam saja tak mau bicara sepatah katapun. Radin melihat Jenny juga tak mengenakan baju sekolah, tapi harian baju yang masih baru.
Sampai di rumah Angelina memeluk erat tubuh Jenny yang kini malah terlihat menangis. Padahal tadi dengan Radin di mobil tak mau bersuara. Angelina menenangkan anak sambungnya ini.
Radin kini duduk di ruang kerjanya, Jenny sudah dimandikan Angelina dan di suruh makan lalu tidur.
Angelina ikutan kaget, kalau penculik Jenny justru Stella, ibu kandung anak mereka. “Aneh ya Pi, apa motif Stella nyulik anaknya sendiri, lalu minta tebusan ke papi?”
“Entahlah pi, mami juga bingung!” sela Angelina.
Kedua suami istri ini sampai lama ngobrol mengisahkan kelakuan aneh Stella ini. Setelah berbincang lama, Radin mengajak istri istirahat.
Namun Ange paham, suaminya dari tadi terus lirik-lirik ke pakaiannya. Dan benar saja, begitu merebahkan di kasur, Radin sudah menyerbu istri cantiknya ini.
“Kalau habis tegang, papi biasanya subur…tak apalah, moga kali ini jadi. Baby Delima juga sudah hampir 3 tahun umurnya,” bisik Angelina, hingga Radin tertawa. Setelah dua harian tegang, malam ini Radin merasa plong.
Besoknya…!
Stella terlihat menunduk, Radin minta waktu untuk bicara berdua dengan mantan istrinya ini pada AKBP Jimi.
“Stella…sekarang kamu jujur, buat apa kamu menculik anak kita…? Kalau kamu butuh uang, kenapa tak langsung ngomong ke aku. Bukankah 2,5 tahun yang lalu uang kamu yang 25 miliar yang sempat di bawa Frans sudah di kembalikan…masa sekarang habis?”
__ADS_1
Melihat Stella hanya diam dana menunduk, Radin jadi gemas dan tak sabaran. Radin sampai mengetuk meja di depan mereka, agar mantan istrinya ini mau bicara.
“Maafkan aku Radin…aku memang salah…!”
“Aku tak mau tahu kamu salah atau benar. Tapi aku mau tanya, buat apa uang sebesar itu..?” sentak Radin mulai jengkel.
“A-aku…ingin gunakan uang itu buat bangun usaha lagi…yang 25 miliar dulu habis, aku rugi…makanya aku gelap mata dan sengaja memeras kamu. Dan sengaja jemput Jenny dari sekolahnya…seolah-olah di culik!”
“Kamu mau usaha apa..? Kamu itu hanya bisa habiskan uang, ongkosi selingkuhan kamu dan…!”
“Cukup Radin…tak usah kamu hina-hina aku lagi! Ya aku salah…aku salah sejak awal selingkuh di belakang kamu. Juga berbohong selama ini…tapi…aku sadar setelah melahirkan Jenny, anak kita…! Aku sebenarnya ingin balikan dengan kamu…tapi kamu malah sudah menikahi Angelina…kamu laki-laki egois Radin…dan asal kamu tahu, semenjak kamu gauli aku dan hamil Jenny, aku tak pernah lagi tidur dengan si Frans. Nahh puas kamu sekarang…terserah kamu percaya atau tidak!”
“Huhh…haruskah aku percaya dengan cerita kamu ini?”
“Aku tak perlu menyakinkan kamu…tuh kamu sudah sadar kalau Jenny anak kandung kamu!”
“Ya…Jenny anak kandungku…tapi apakah aku harus percaya sejak malam itu, kamu benar-benar tak pernah lagi dengan Frans atau malah dengan yang lain?”
‘Tak perlu aku ulang-ulang, emank itulah faktanya! Aku tak pernah selingkuh ataupun tidur dengan pria manapun, termasuk si Frans jahanam itu!” Stella tak kalah ngototnya.
Radin sampai lama menatap wajah Stella, mereka kini sama-sama saling pandang. Kali ini Radin lah yang harus memalingkan wajah ke tempat lain.
“Kalau Stella sudah bersikap begini, biasnya dia tak pernah bohong. Kalau berbohong, biasanya dia membuang muka.” batin Radin.
“Apa sekarang ke inginan kamu Stella…?” Radin mulai melemah.
*****
BERSAMBUNG
__ADS_1