
Kehebatan Ryan menghajar dua begundal ini mengundang decak warga desa Cicalo yang menyaksikan pertarungan itu.
Ryan pun di eluk-elukan, namun di sisi lain, Ryan jadi miris mendengar pengakuan beberapa warga, yang mengaku anak dan istri mereka juga ada yang terjerumus dan tak mampu pulang ke desa, tak sebaik nasib Meni saat ini.
“Baiklah…nanti Ryan akan lapor polisi dan membongkar praktek tercela ini,” janji Ryan, hingga puluhan warga Desa Cicalo senang mendengarnya. Dan pastinya berharap banyak, agar Ryan benar-benar memenuhi janjinya.
“Hee Ryan, ye ini jangan kayak Caleg dan Calon Kepala Daerah yaa…berani bingit main janji-janji segaleee..!” tegur Tomi, setelah warga desa pulang.
“Iya nih coii…bahaya banget!” sela Bambang.
“Udah tenang aja…nanti aku akan minta bantuan papa, beliau banyak kenalan di kepolisian!” sahut Ryan santai.
Malamnya, ketiga remaja kota ini makan malam dengan menu sederhana, tapi bikin Ryan dan Bambang makan dengan lahap. Termasuk Tomi yang awalnya makan dikit, tapi saat mencicipi malah paling duluan nambah.
Lalu Bambang mengajak Ryan dan Tomi, termasuk Meni menyaksian acara dangdutan organ tunggal, karena ada warga di kampung ini yang sedang hajatan.
Mak Ntih dan Pa Jaja mempersilahkan, kali ini keduanya sudah tenang, 3 remaja ini terutama Ryan bukan pemuda sembarangan dan tak macam-macam, bahkan jadi penolong keluarga mereka.
Keduanya juga tak membatasi mau pulang jam berapa. “Si Ryan ini bukan anak orang biasa ya pak, uangnya aje satu tas,” cetus Mak Ntih. Pa Jaja hanya menganguk.
Melihat acara ginian, Bambang dan Tomi sangat antusias. Keduanya tak pernah melihat acara beginian, karena tinggal di kota besar.
Mereka bahkan bilang ke Ryan akan nonton sampai habis acara dangdutan ini. Bambang dan Tomi malah aseek main saweran di atas panggung, uangnya…tentu saja dari kantong Ryan.
Ryan dan Meni yang menyaksikan di belakang warga yang berjubel hanya tertawa melihat polah kedua orang remaja ini.
Warga malah heboh melihat Tomi yang berjoget bak wanita gemulai, riuh menertawakan kelakuan Si Ngondek ini, apalagi kalau ada pemuda ganteng ikut joget, Tomi langsung pasang aksi.
Bambang beda lagi, setiap kali biduan-biduan cantik dan berpakaian agak terbuka tampil, Bambang bak lupa keadaan, joget dan sawer terus.
Tak terasa waktu pun sudah jam hampir jam 10 malam, Ryan lalu mengajak Meni pulang duluan. Bagaimana pun Ryan tak enak hati mengajak Meni hingga lewat jam 10 malam.
“Biarkan saja Bambang dan Tomi, mereka tau kok jalan pulang!” ajak Ryan, sebelumnya Ryan sudah memberi keduanya masing-masing 5 juta pecahan 50 ribu untuk nyawer. Ryan lumayan banyak bawa duit di tas ranselnya.
__ADS_1
“Jadi sampai sekarang, Ryan dan Ranti itu bukan pacaran yaa..?” pancing Meni, saat mereka jalan berdua menuju rumahnya.
“Iya…kami teman dekat sejak SMP…!” sahut Ryan, jalanan desa ini sepi. Karena warga tumplek ke acara dangdutan tadi.
“Masih perjaka tong-tong donkk..?” goda Meni tertawa kecil.
“Jangankan yang itu…ciuman saja nggak pernah,” sahut Ryan jujur.
“Ahh masa sihh…wajah seganteng ini belum pernah ciuman dengan wanita?” Meni sampai kaget mendengarnya.
“Iya…suwer, aku nggak bohong…aku belum pernah pacaran…nggak tahu, belum kepingin saja!” sahut Ryan datar.
Mereka kini sengaja jalan santai, sehingga belum juga sampai ke rumah Meni, padahal jaraknya hanya 600 meteran saja.
“Kalau aku…gimana yaa…pas tamat SMP sudah di lamar, di usia belum 18 tahunan, udah janda…nasib!” keluh Meni.
“Pengalaman donkkk…!” kelakar Ryan spontan, Meni langsung mencubit pinggang Ryan.
Ryan tertawa kecil, kini dia merapatkan jaketnya, hawa makin malam makin dingin.
“Hmmm ajarin apa yahh…?” Ryan tentu saja kaget, dan tak menyangka Meni malah seakan menantangnya.
“Maunya kamu apa…? Tapi janji yaaa…ini rahasia kita…!” bisik Meni. Jantung remaja yang baru dua bulanan 17 tahunan ini jadi dag dig dur serrr…!
Walaupu tinggal di kota besar dan hal-hal yang berbau dewasa bukan hal yang aneh bagi Ryan, tapi melakukan langsung sampai detik ini Ryan belum pernah.
Dia terlalu sibuk dengan kegiatan di uar sekolah, yakni nge-band dan latihan beladiri, sehingga tak pernah terlibat pergaulan bebas.
Di pancing Meni membuat Ryan mulai tak karuan rasa, antara pingin mencoba dan takut-takut bablas.
Meni bukannya mengajak pulang, tapi mereka menyimpang ke arah persawahan, bulan bersinar terang. Sehingga mereka tak takut kejeblos lumpur saat berjalan di pematang sawah ini.
Di sebuah pondok di tengah sawah, keduanya duduk sambil menatap bulan yang bersinar terang, dengan halimun tipis yang berarak di atasnya.
__ADS_1
“Indah banget ya pemandangannya,” cetus Ryan.
Ryan kaget saat Meni memeluknya dan berbisik sangat dingin, langsung saja tubuh Ryan menjadi panas dingin, bak kena demam.
Sebagai wanita yang pernah merasakan belaian seorang pria, walaupun hanya 3 bulan, Meni tahu Ryan ini memang masih perjaka tong-tong.
Terbukti debur jantung Ryan tak beraturan dan Meni rasakan itu, sehingga janda cantik manis ini makin gemas dengan Ryan.
Begitu bibir Meni menyentuh bibir remaja ini, Ryan tersentak kaget, dingin dan kakulah wajah remaja ini.
Tapi pelan dan lembut Meni mulai mengajari Ryan cari bersentuhan di bibir dengan benar. Lama-lama Ryan mulai rileks. Bahkan mulai menikmati sesuatu yang ternyata sangat menyenangkan bagi remaja ini, yang berada di masa puber seperti dirinya sekarang ini.
Ryan mulai membalas sentuhan-sentuhan lembut dan baru pertama kali dia rasakan ini. Ryan boleh jagoan soal berkelahi, tapi soal wanita…’i opa korea ini masih hijau, bak daun yang baru bertunas.
Meni mulai mengajari pelan-pelan cara menyenangkan hati wanita…pelajaran di bibir berlanjut ke pelajaran berikutnya yang tak kalah mengaseekan.
Mendaki bukit yang menjulang dan sangat mendebarkan jantung pemuda ini. Pelan tapi pasti, Meni terus mengajari remaja polos ini bagaimana seharusnya bersikap layaknya lelaki sejati.
Dan akhirnya sampailah pada pelajaran yang sesungguhnya. Ryan menjadi pria dewasa di tangan janda muda nan cantik manis ini.
Meni sempat tertawa kecil, karena Ryan susah sekali melakukan penyatuan, di bantu Meni akhirnya berjalan lancar dan…!
Di sebuah gubuk persawahan yang sepi dan terang bulan, bulan seakan malu hati menyaksikan dua anak manusia di dalam gubuk di tengah sawah ini. Bulan tertutup awan tipis, sehingga cuaca agak gelap.
Jelang tengah malam, dengan bergandeng tangan Meni dan Ryan kembali ke rumah. Bambang dan Tomi aneh sendiri melihat Ryan sangat nyenyak tidur di kamar depan rumah ortu Meni ini, bahkan sampai ngorok saking nyenyaknya hingga pagi.
“Bambang…aneh yaa…kok si Ryan kayak abis olahraga lari, kayak kelelahan begitu, Emank kemana aje dia ni anak sama Meni tadi malam?” bisik Tomi ke Bambang, sambil menatap Ryan yang masih enak-enakan tidur.
“Auuh ahhh gelapppp…!” ceplos Bambang, lalu menarik selimut dan melanjutkan tidurnya.
“Hmmm…jangan-jangann….?” batin Tomi mulai curiga dan dia melihat ada noda di celana Ryan…saat dia mencium noda ini, melongolah si Ngondek ini,
“Anjrittt…!”
__ADS_1
*****
BERSAMBUNG